tirto.id - Tertawa termasuk salah satu vokalisasi sosial paling awal bagi manusia. Salah satu stimulus yang mempengaruhi yaitu peristiwa lucu, baik secara visual maupun verbal.
Berbagai penelitian neurosains mengungkapkan bahwa humor secara sistematis mengaktifkan sistem imbalan dopamin di otak. Studi kognitif menunjukkan bahwa dopamin berperan penting, baik untuk motivasi yang berorientasi pada tujuan maupun untuk memori jangka panjang.
Kerja otak yang saling berkaitan untuk memproses peristiwa lucu ini menjadi kunci bahwa lelucon lebih mudah diingat ketimbang rumus Matematika. Keterlibatan emosi dan efek keterkejutan dalam humor kerap kali tak diduga oleh otak.
Apa yang Terjadi di Otak Ketika Kita Tertawa?
Sebuah penelitian berjudul The Neural Basis of Humour Processing (2013) karya Pascal Vrtičkadan dan tim yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Neuroscience, menelisik kerangka kerja neurobiologis terhadap humor.
Dalam kajian tersebut, pemrosesan humor merupakan kombinasi antara kognisi yaitu memecahkan teka-teki logika lelucon dan emosi, yakni merasakan imbalan atau kesenangan dari tawa. Pemrosesan tersebut melibatkan interaksi kompleks antara area kortikal otak (area luar) dan subkortikal otak (area dalam).
Pemrosesan humor kognitif melibatkan jaringan inti dari struktur kortikal dan subkortikal termasuk area yang menjadi titik temu antarbagian otak.
Otak merespons informasi dengan perasaan senang, geli, bahkan melahirkan tawa. Pada proses apresiasi emosional inilah, area otak dopaminergik mesokortikolimbik dan amigdala menjadi struktur kunci untuk pemrosesan imbalan, kesenangan, dan penilaian emosional.

Menurut penelitian Involvement of The Amygdala in Memory Storage: Interaction with Other Brain Systems karya James L McGaugh, yang dimuat di National Center for Biotechnology Information. Amigdala mengatur penyimpanan atau konsolidasi informasi di wilayah otak lainnya. Rangsangan emosional mengaktifkan amigdala.
Berdasarkan kajian ini, amigdala merupakan bagian dari sistem yang juga berfungsi mengatur kekuatan memori yang berhubungan dengan signifikansi emosional. Dengan kata lain, amigdala tidak terlibat dalam memori secara umum, melainkan memainkan peran selektif termasuk peristiwa lucu.
Studi berjudul Functional Anatomy of Humor: Positive Affect and Chronic Mental Illness (2007) karya Katherine H. Taber di Jurnal Neuropsychiatry and Clinical Neurosciences, menyebutkan bahwa tertawa dapat memicu pengalaman afek positif secara instan.
Dalam kajian ini, tertawa atau humor bekerja sebagai pemicu neurobiologis alami yang mengaktifkan kembali sirkuit imbalan otak dan meningkatkan pelepasan neurotransmiter seperti dopamin dan endorfin.
Akan tetapi pada penderita depresi mayor, skizofrenia, atau gangguan kecemasan, sirkuit emosi positif dan pemrosesan imbalan sering kali mengalami disfungsi.
Kenapa Hal Lucu Lebih Mudah Bertahan di Ingatan?
Hal lucu sering kali bertahan lebih lama di ingatan. Secara kognitif, memahami lelucon membutuhkan lebih banyak usaha otak jika dibanding informasi standar. Akibat waktu pemrosesan yang lebih lama, informasi tersebut mendapatkan koneksi yang lebih kuat di otak.
Humor pada dasarnya memiliki rangsangan emosional yang dapat memberikan memori koneksi lain di otak, yaitu ke pusat emosi atau amigdala. Aktivasi tersebut menghasilkan modulasi terhadap penyimpanan memori yang terjadi di wilayah otak lainnya.
Merujuk penelitian Beyond Fear Emotional Memory Mechanisms in the Human Brain (2008) karya Kevin S LaBar di National Center for Biotechnology Information, amigdala pada manusia juga berinteraksi dengan wilayah kortikal untuk memediasi aspek-aspek lain dalam memori emosional.
Aspek-aspek ini mencakup kode dan konsolidasi peristiwa yang menggugah emosi ke dalam memori jangka panjang, termasuk lelucon.

Saat terjadi peristiwa lucu, amigdala akan memberi tanda kepada otak bahwa peristiwa tersebut menyenangkan. Pada fase inilah rasa menyenangkan atau emosi berfungsi menjaga kestabilan ingatan. Selain itu, otak manusia juga cenderung lebih mudah mengingat cerita-cerita lucu.
Peristiwa yang dianggap lucu bekerja dengan inkongruitas, pengalaman ketidakcocokan, atau inkonsistensi dalam pikiran atau persepsi. Inkongruitas ini memaksa otak melakukan reorganisasi pemikiran sekejap, yang membuat momen tersebut sangat berbekas di ingatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa lucu kerap kali dibicarakan berulang-ulang di lingkungan pertemanan. Pengulangan yang tak sengaja ini dapat memperkuat jalur saraf sehingga kelucuan lebih mudah diingat.
Pusat imbalan atau reward center di otak jauh lebih aktif saat merespons lelucon dan permainan kata, dibandingkan saat memproses bahasa sehari-hari. Semakin lucu lelucon tersebut, semakin kuat pula respons yang terekam melalui functional magnetic resonance imaging (fMRI). Para peneliti juga menemukan bahwa permainan kata memicu aktivitas yang lebih besar dari lelucon biasa.
"Kita tahu bahwa ada bagian-bagian tertentu di otak yang menjadi lebih aktif saat seseorang merasakan emosi; bagian-bagian yang sama ini ternyata juga aktif saat seseorang menangkap humor. Penilaian subjektif terhadap tingkat kelucuan juga berkorelasi dengan tingkat aktivitas otak di area-area tersebut, yang mengindikasikan adanya kemungkinan hubungan antara humor dan emosi," jelas Dr. Kieth Carlson, seorang profesor psikologi di Universitas Valparaiso, dikutip dari laman memorise.org (28/12/2011).
Sementara itu, informasi yang masuk dalam otak saat belajar Matematika cenderung netral dan abstrak. Artinya tidak ada muatan emosi positif atau berkesan, sehingga cenderung tidak disimpan jangka panjang oleh otak.
Dalam pelajaran Matematika, rumus, angka, atau simbol yang mucul tidak memiliki alur naratif atau elemen visual alami. Selain itu, pelajaran Matematika lebih banyak memuat aturan yang kaku, logis, dan konsisten. Tidak ada unsur punchline atau kejutan di dalamnya.
Memanfaatkan Humor untuk Proses Pembelajaran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, mengombinasikan pembelajaran dengan humor lucu berpeluang membuat siswa lebih mudah memahami isi pelajaran. Mengemas pembelajaran dengan humor dapat meningkatkan ketertarikan siswa. Namun demikian pastikan humor yang digunakan dalam pembelajaran tepat dan sehat.
Menukil laman Edutopia, humor dapat mengaktifkan ingin tahu siswa, modal awal dari sebuah proses pembelajaran. Penelitian di bidang pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan humor yang tepat dapat menjadi intervensi efektif untuk meningkatkan retensi siswa, mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Pastikan penggunaan humor relevan dengan topik yang dibahas. Dengan menyertakan humor yang relevan dengan materi, dengan demikian siswa bakal cenderung merasa lebih menikmati pengalaman belajar.

Sesuaikan juga pembelajaran menggunakan humor dengan usia pesertqa didik. Pasalnya remaja cenderung melepaskan lebih banyak dopamin dan memiliki lebih banyak reseptor dopamin jika dibanding orang dewasa. Berkat sistem imbalan dopamin yang sangat responsif, remaja mungkin memiliki kecenderungan unik untuk merespons secara positif humor dalam konteks pendidikan.
Tak hanya itu, mengilustrasikan konsep yang baru saja diajarkan juga dapat meningkatkan pembelajaran dan daya ingat terhadap materi pelajaran. Dengan cara ini, humor membantu siswa mengingat materi, dan materi tidak mungkin dapat dipelajari jika tidak diingat.
Di dalam kelas, humor mampu membangun kohesi kelompok. Kehadiran humor membuat orang merespons satu sama lain dengan lebih positif, sehingga mempererat hubungan di antara mereka. Humor dapat memfasilitasi kohesi dengan cara melunakkan kritik, sebagaimana dikutip dalam laman facultyfocus.com.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id







































