Menuju konten utama

Mengenal Polidipsia: Kenapa Seseorang Bisa Terus-menerus Haus?

Rasa haus yang terjadi secara terus-menerus bisa menjadi pertanda polidipsia. Kenali penyebabnya dan kapan harus segera ke dokter.

Mengenal Polidipsia: Kenapa Seseorang Bisa Terus-menerus Haus?
Ilustrasi minum air putih. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Cuaca, suhu panas, serta aktivitas berlebih bisa membuat seseorang mudah haus lantaran tubuh membutuhkan cairan. Tapi jika perasaan harus tak kunjung usai meski sudah banyak minum, bisa jadi hal ini menandakan kondisi polidipsia.

Polidipsia atau rasa haus berlebihan berbeda dengan rasa haus normal. Mengacu Klarity, kondisi ini kerap disertai dengan gejala kelelahan, penglihatan kabur, sakit kepala, sering buang air kecil, serta mulut kering.

Rasa haus dapat diredakan dengan minum air. Namun seseorang dengan kondisi pilidipsia bakal mengalami rasa haus yang terus-menerus, hingga butuh minum air lebih banyak.

Kondisi ini justru tak jarang menyebabkan gangguan lanjutan karena kelebihan asupan air, seperti hiponatremia. Lalu bagaimana cara mengetahui rasa haus normal atau pertanda polidipsia?

Mengenal Polidipsia dan Gejalanya

Istilah polidipsia jika merujuk definisi di laman Rush University, merupakan rasa haus berlebihan meski sudah mendapat asupan cairan berlebih. Kondisi ini bisa menjadi idikator sejumlah penyakit, seperti diabetes atau bisa juga dari faktor psikogenik.

Mengacu laman Klarity, polidipsia kerap kali mengakibatkan konsumsi cairan berlebihan, hingga pada gilirannya sering atau berlebihan buang air kecil (poliuria).

Ilustrasi minum air putih

Ilustrasi minum air putih. FOTO/iStockphoto

Melansir laman Halodoc, polidipsia umumnya tidak muncul sendirian. Kondisi ini juga dapat disebabkan oleh kondisi medis lain yang mendasari. Berikut sejumlah gejala yang sering menyertai kondisi polidipsia:

1. Poliuria

Frekuensi buang air kecil meningkat secara signifikan, terutama pada malam hari. Ini disebabkan oleh upaya ginjal untuk mengeluarkan kelebihan gula darah dari tubuh pada penderita diabetes.

2. Polifagia

Rasa lapar berlebihan dan terus-menerus. Tubuh tidak dapat menggunakan glukosa sebagai energi secara efektif sehingga menyebabkan rasa lapar dan haus.

3. Kelelahan

Kurangnya energi karena tubuh tidak mampu mengubah glukosa menjadi tenaga, ditambah dengan dehidrasi yang terjadi.

4. Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab Jelas

Tubuh mulai memecah lemak dan otot sebagai sumber energi alternatif, meskipun nafsu makan meningkat.

5. Penglihatan Kabur

Kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi lensa mata, sehingga menyebabkan perubahan serta gangguan pada penglihatan.

6. Mulut Kering

Kendati sudah minum banyak air, mulut tetap terasa kering, terutama bisa disebabkan efek samping obat atau gangguan kelenjar ludah.

Gejala polidipsia selain konsumsi air berlebihan, biasanya penderita juga mengalami sakit kepala. Pada level ekstrem, terlalu banyak minum air dapat mengakibatkan kondisi hiponatremia.

Hiponatremia disertai dengan gejala utama, seperti mual, muntah, kebingungan, kehilangan kendali otot (ataksia), koma, kejang. Pada tingkat lanjut, kondisi ini dapat menyebabkan kematian, sebagaimana disebutkan di laman Klarity.

Kenapa Rasa Haus Bisa Tak Kunjung Reda?

Secara umum, polidipsia memiliki 2 kondisi menurut penyebab yang berbeda, yakni polidipsia primer dan sekunder. Polidipsia primer merupakan kondisi ketika penderita mengalami rasa haus berlebihan, tapi tidak ada alasan fisik yang menyebabkan.

Polidipsia primer terbagi menjadi 2, yakni polidipsia psikogenik dan polidipsia dipsogenik. Melansir laman WebMD, polidipsia psikogenik umum terjadi pada penderita skizofrenia dan masalah kesehatan mental lainnya.

Berdasarkan artikel ilmiah Kotagiri dan Sridharan (2023), pasien skizofrenia dengan polidipsia psikogenik, hasil MRI otak menunjukkan hipokampus yang lebih kecil jika dibandingkan pasien skizofrenia yang tidak disertai polidipsia psikogenik.

Berikutnya polidipsia dipsogenik, merujuk kebiasaan minum air atau cairan dalam jumlah berlebih, baik karena gangguan fungsi hipotalamus (bagian otak terkait rasa haus) atau karena keyakinan bahwa hal ini menjadi bagian dari gaya hidup sehat.

Di sisi lain, polidipsia sekunder merupakan kondisi polidipsia disertai alasan fisik yang menyebabkan penderita merasa haus. Hal ini biasa terjadi oleh kondisi medis seperti diabetes atau efek konsumsi obat-obatan.

Hiperglikemia atau kadar glukosa (gula) tinggi dalam darah, menjadi salah satu pertanda utama penderita diabetes melitus. Kondisi ini dapat menyebabkan polidipsia.

Ilustrai Prediabetes

Ilustrasi mengukur kadar gula darah dengan alat Glukosa meter. FOTO/iStockphoto

Sementara itu juga ada penyakit diabetes insipidus, yang terjadi karena ginjal dan kelenjar pituitari tidak mampu menahan air dengan normal. Diabetes jenis ini mengakibatkan gangguan poliuria atau kencing berlebih, hingga meningkatkan keinginan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.

Pada penderita diabetes, tubuh tidak memiliki cukup insulin untuk mengolah glukosa. Oleh karenanya tubuh mulai membakar lemak untuk energi, yang kemudian menghasilkan keton. Keton merupakan zat kimia yang dihasilkan tubuh ketika membakar lemak untuk energi. Tubuh lantas menanggapi hal ini dengan sering buang air kecil.

Dijelaskan di laman Klarity, selain antipsikotik, obat-obatan lain juga dapat menyebabkan polidipsia, seperti diuretik dan antidepresan tertentu. Efek obat salah satunya dengan mengurangi jumlah arginin vasopresin atau hormon antidiuretik (ADH).

Fungsi utama ADH adalah menjaga jumlah cairan di dalam tubuh dengan membuat ginjal menahan atau “menyimpan air”. Sebaliknya kadar ADH yang rendah menyebabkan ginjal mengeluarkan sejumlah besar air dalam urin (poliuria).

Kemudian tubuh mengompensasi kehilangan air yang signifikan dengan meningkatkan rasa haus menjadi polidipsia. Alkohol dan kopi juga sama-sama bersifat diuretik, bisa meningkatkan frekuensi buang air kecil dan meningkatkan rasa haus (polidipsia).

Kondisi medis lain, seperti penyakit Addison, gagal ginjal, dan anemia sel sabit, juga bisa menyebabkan rasa haus yang ekstrem (polidipsia). Melansir laman Apollo Hospitals, hiperkalsemia (kadar kalsium tinggi) juga bisa menyebabkan kondisi haus berlebih.

Jangan Sepelekan Polidipsia, Konsultasikan ke Dokter

Konsumsi air berlebihan lantaran terus-menerus merasa haus berisiko menimbulkan komplikasi dan berbahaya bagi tubuh. Salah satunya hiponatremia atau kondisi tubuh dengan kadar natrium dalam darah terlalu rendah.

Jika konsentrasi natrium terlalu encer, penderita dapat mengalami sakit kepala, mual, kram, refleks lambat, ucapan tidak jelas, energi rendah, kebingungan, dan kejang. Melansir laman WebMD, penderita juga bisa mengalami keracunan air yang turut menyebabkan hiponatremia.

Ilustrasi minum air putih

Ilustrasi minum air putih. TIRTO/Andrey Gromico

Orang dengan kondisi polidipsia sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami kondisi sebagai berikut, dikutip dari laman PharmEasy:

  • Rasa haus yang berlebihan bersifat terus-menerus atau tidak bisa dijelaskan.
  • Minum lebih banyak cairan selama beberapa hari tetap tidak membantu.
  • Terlalu sering buang air kecil.
  • Rasa haus disertai gejala, seperti kelelahan, penglihatan kabur, atau penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan.
  • Mengeluarkan urine dalam jumlah yang luar biasa banyak (lebih dari 3 liter per hari).
  • Sedang hamil dan mengalami rasa haus yang berlebihan secara terus-menerus.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - GWS
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Oryza Aditama