tirto.id - Seseorang tengah duduk di ruang tamu ketika tiba-tiba mencium bau asap gosong. Ia memeriksa dapur, membuka jendela, bahkan melihat ke luar rumah untuk memastikan tidak ada yang terbakar. Namun, tidak ditemukan sumber bau apa pun. Saat orang lain di sekitar tidak mencium hal serupa, ia mulai bertanya, apakah ada yang salah dengan indra penciumannya?
Pengalaman semacam ini bisa terkait dengan gejala phantosmia, gangguan penciuman yang membuat seseorang mencium bau tanpa adanya sumber aroma di lingkungan sekitar. Dalam kasus ini, persepsi aroma muncul tanpa rangsangan pemicu. Sensasi phantosmia bisa datang sesekali atau bertahan dalam waktu lama, dengan jenis bau yang berbeda pada setiap orang.
Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut mungkin hanya menimbulkan bingung sesaat. Namun, ketika bau palsu terus muncul, aktivitas sehari-hari bisa ikut terganggu. Aroma tidak sedap yang menetap, misalnya, berpotensi mengurangi selera makan atau membuat seseorang enggan berada di tempat tertentu.
Memahami karakteristik phantosmia membantu seseorang membedakannya dari gangguan indra penciuman lain, sekaligus mengenali kapan keluhan tersebut perlu diperiksa. Lantas, apa saja gejala phantosmia, mengapa bau palsu bisa muncul, dan bagaimana dokter menentukan penanganannya?
Apa Itu Phantosmia dan Gejalanya?
Diterangkan oleh Benjamin Gillette dan sejawat dalam ulasan klinis di NCBI, phantosmia adalah gangguan penciuman kualitatif berupa persepsi suatu bau tanpa adanya rangsangan yang bisa diidentifikasi. Istilah lain untuk kondisi ini ialah halusinasi penciuman.
Phantosmia perlu dibedakan dari parosmia, yakni persepsi keliru terhadap bau yang nyata, misalnya aroma kopi tercium seperti karet terbakar.
Phantosmia juga berbeda dengan kakosmia (bau tidak sedap tanpa sumber), hiposmia (bau tercium akurat tetapi lebih lemah), dan anosmia (hilangnya penciuman secara total).

Bau gosong merupakan keluhan paling sering yang terjadi. Penderita juga melaporkan bau feses, gas, busuk, apek, manis, logam, bahkan buah. Bau bisa muncul pada satu atau kedua lubang hidung, namun tidak selalu tidak sedap. Gejala bisa hilang timbul, tetapi pada sebagian orang menetap.
Sebuah studi dari Bainbridge dkk. pada 2018 terhadap 7.417 orang dewasa berusia 40 tahun ke atas di Amerika Serikat, menemukan prevalensi persepsi bau palsu sebesar 6,5 persen. Angka itu lebih tinggi pada perempuan, kelompok usia lebih muda, dan kelompok ekonomi lebih rendah. Adapun penelitian terhadap lansia Swedia berusia 60 tahun ke atas mencatat prevalensi 4,9 persen.
Hanya saja, Gillette dan kolega mengingatkan bahwa prevalensi tersebut sejatinya belum bisa menjadi patokan pasti, karena data masih bergantung pada laporan mandiri.
Dari sisi dampak, indra penciuman berperan dalam pergaulan dan rasa waspada terhadap bahaya. Gejala phantosmia berkepanjangan bisa memicu isolasi sosial dan hilangnya rasa senang, bahkan depresi atau kecemasan pada sebagian pasien.
Penyebab dan Risiko di Balik Bau Palsu
Penyebab phantosmia belum diketahui atau bersifat idiopatik. Baik Gillette dan sejawat maupun lembar informasi NHS sama-sama menyebut ketidakpastian penyebab gangguan indra penciuman ini. Meski demikian, dokter bisa menelusuri kemungkinan gangguan pada sistem penciuman di hidung maupun proses pengolahan sinyal di otak.
Secara umum, sampai saat ini penyebab phantosmia bisa dibagi menjadi 2 kelompok besar.
Kelompok pertama mencakup gangguan pada hidung dan saraf penciuman. Infeksi saluran pernapasan atas, termasuk COVID-19, bisa mengganggu fungsi sistem penciuman. Ketika jaringan dan saraf pulih, proses pengiriman sinyal kadang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pilek, alergi, polip hidung, dan masalah gigi juga bisa terkait dengan gangguan penciuman, demikian menurut Cleveland Clinic.
Kelompok kedua berkaitan dengan sistem saraf pusat. Karena otak mengolah informasi penciuman melalui sejumlah area, gangguan pada bagian tertentu bisa memengaruhi persepsi bau. Kondisi yang pernah dikaitkan dengan phantosmia karena otak antara lain cedera kepala, epilepsi atau kejang lobus temporal, migrain, tumor otak, penyakit parkinson, dan multipel sklerosis.

Merujuk Ehab Hanna, dokter bedah kepala dan leher di MD Anderson Cancer Center, penyebab panthosmia yang perlu dipertimbangkan termasuk infeksi virus, kejang, cedera kepala, dan migrain. Adapun skizofrenia, penggunaan obat tertentu, dan hipotiroid juga pernah dilaporkan terkait dengan gangguan ini. Namun kemunculan phantosmia tidak dengan sendirinya membuktikan seseorang mengalami salah satu penyakit tersebut.
Sejumlah laporan kasus memberi gambaran mengenai pemicu yang lebih jarang. Laporan di jurnal Cureus pada 2025 mencatat seorang perempuan pertengahan 60-an tanpa riwayat psikosis. Ia mengalami phantosmia 11 hari usai berhenti mengonsumsi klonazepam, obat yang dikonsumsinya selama 5 tahun untuk mengatasi kecemasan.
Gejala itu kemungkinan besar akibat putus obat, dan gejala hilang setelah dia kembali mengonsumsi klonazepam. Karena berasal dari satu kasus, temuan ini belum cukup untuk menetapkan hubungan sebab-akibat secara umum. Pasien juga tidak boleh menghentikan atau mengubah penggunaan obat tanpa arahan dokter.
Laporan lain di jurnal BioMedicine pada 2025 mencatat perempuan 60 tahun dengan kanker payudara metastatik, yang mengalami phantosmia akut. CT otak menemukan beberapa metastasis, termasuk jaringan rusak di korteks orbitofrontal kanan yang dinilai sesuai dengan gejala. Kasus semacam ini langka, lembar informasi NHS menegaskan phantosmia hampir selalu bersifat jinak.
Cara Mengatasi Phantosmia dan Kapan Harus ke Dokter?
Sebelum menganggap bau yang muncul sebagai gangguan penciuman, pastikan tidak ada sumber bau nyata di sekitar. Periksa kemungkinan kebocoran gas, asap, atau bahan kimia. Jika orang lain juga mencium bau tersebut, penyebabnya mungkin berasal dari lingkungan, bukan phantosmia.
Hingga kini, belum ada pengobatan standar untuk semua kasus phantosmia. Gillette dan sejawat mencatat belum ada uji acak terkontrol maupun uji perbandingan langsung antarterapi. Karena itu, dokter menyesuaikan penanganan dengan mengacu penyebab dan kondisi pasien.
Jika keluhan terkait dengan pilek, alergi, atau infeksi, sensasi bau palsu bisa mereda seiring pemulihan. Membilas hidung dengan larutan saline atau neti pot menjadi salah satu langkah yang bisa membantu mengatasi. Semprotan hidung seperti oksimetazolin juga dapat dipakai untuk hidung tersumbat, tetapi pemakaiannya perlu mengikuti petunjuk produk atau arahan tenaga kesehatan.
Sementara penanganan penyebab neurologis butuh pendekatan berbeda. Pasien epilepsi butuh obat antikejang atau operasi, sementara tumor otak ditangani sesuai jenis dan karakteristiknya. Dokter bisa mempertimbangkan obat migrain atau obat lain apabila diagnosis mendukung penggunaannya.

Peluang pemulihan phantosmia berbeda-beda pada tiap pasien. Lembar informasi NHS merujuk penelitian terhadap 44 pasien yang diikuti selama 6 tahun, hasilnya 30 persen sembuh, 25 persen membaik, dan 40 persen tidak berubah. Phantosmia bisa pulih spontan dan dalam sejumlah laporan, membaik lebih cepat daripada parosmia.
Kapan seseorang perlu menemui dokter? Pemeriksaan disarankan jika bau palsu berlangsung terus-menerus, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Dokter biasanya menggali riwayat gejala dan kesehatan pasien, kemudian menentukan pemeriksaan yang diperlukan.
Meski banyak kasus phantosmia membaik seiring waktu, gejala yang menetap atau disertai tanda bahaya tetap perlu mendapat perhatian medis. Perlu diketahui, informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan dan diagnosis oleh dokter.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id


































