Menuju konten utama

H1N1, H3N2, H5N1: Apa Arti Kode pada Influenza A?

Kenali jenis-jenis influenza A, meliputi H1N1, H3N2, dan H5N1, beserta gejala dan cara penanganannya.

H1N1, H3N2, H5N1: Apa Arti Kode pada Influenza A?
Ilustrasi influenza. Getty Images/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Virus influenza A merupakan salah satu virus influenza yang menyebabkan pandemi flu. Jenis virus influenza A berbeda dari jenis virus influenza lainnya, yakni influenza B, C, dan D.

Melansir laman U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pandemi bisa terjadi ketika virus influenza A baru dan berbeda muncul menginfeksi manusia. Kemudian, virus ini menyebar secara efisien di antara manusia dengan sedikit atau tanpa kekebalan.

Virus influenza A dibagi menjadi subtipe berdasarkan 2 protein di permukaan virus, yakni hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Ada 18 subtipe hemaglutinin dan 11 subtipe neuraminidase (H1 hingga H18 dan N1 hingga N11).

Terdapat lebih dari 130 kombinasi subtime influenza A telah diidentifikasi di alam, terutama dari burung liar. Namun, kemungkinan ada lebih banyak kombinasi subtipe influenza A, mengingat kecenderungan virus influenza untuk “reassortment”.

Yang dimaksud reassortment adalah ketika virus influenza bertukar segmen gen. Ini bisa terjadi ketika 2 subtipe virus influenza yang berbeda menginfeksi inang pada saat yang sama dan bertukar informasi genetik.

Saat ini, subtipe virus influenza A yang beredar dan menjangkiti manusia mencakup A(H1N1), A(H3N2), dan A(H5N1). Kenali subtipe virus influenza tersebut dan gejala serta cara pengobatannya.

Influenza A(H1N1): Virus di Balik Pandemi Flu Spanyol

Influenza A(H1N1) merupakan penyakit infeksi pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 mutan. Patogen ini merupakan virus baru yang muncul setelah rekombinasi gen virus influenza babi, influenza unggas, dan influenza manusia.

Jenis virus ini umumnya ditularkan melalui tetesan pernapasan dan kontak langsung atau tidak langsung. Secara klinis, melansir artikel Hong Jun Li, dkk. (2015), gejala influenza A(H1N1) ditandai dengan demam, batuk, dan pilek.

Namun, dalam kasus serius yang jarang terjadi, kondisi ini bisa berkembang pesat, dengan munculnya pneumonia virus, gagal napas, dan gagal organ multipel. Bahkan, kematian bisa terjadi pada kasus serius.

Influenza A(H1N1) juga menjadi penyebab pandemi influenza 1918 atau yang lebih dikenal dengan “flu spanyol”. Ini merupakan wabah virus flu yang terjadi dari tahun 1918 hingga 1919, menjelang akhir Perang Dunia I.

Berdasarkan informasi dari laman Cleveland Clinic, sekitar sepertiga populasi dunia terinfeksi dan jutaan orang meninggal. Hal ini menjadi salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah.

Banyak faktor yang berperan dalam tingginya angka kematian akibat pandemi tersebut, seperti kondisi masa perang, pilihan layanan kesehatan yang terbatas, kerusakan paru-paru, hingga faktor imun.

Flu Spanyol

Perawat dari Palang Merah Amerika memeriksa pasien influenza di Auditorium Kotamadya Oakland, yang digunakan sebagai rumah sakit sementara. Saat para ilmuwan menandai peringatan 100 tahun pandemi influenza Spanyol. Edward A. 'Doc' Rogers / Library of Congress via AP

Pada dasarnya, banyak dari gejala flu yang dialami pada 1918 mirip dengan gejala flu musiman yang dialami manusia hari ini. Namun, banyak kasus yang lebih parah.

Gejala flu ini mencakup demam yang tiba-tiba dan terkadang sangat tinggi, batuk kering, sakit kepala dan nyeri badan, sesak napas, sakit tenggorokan, panas dingin, pilek, kehilangan nafsu makan, kelemahan yang ekstrem, kelelahan ekstrem, edema paru, hingga pendarahan internal.

Masa inkubasi influenza A(H1N1) umumnya berlangsung selama 1–7 hari, dengan rata-rata 1–3 hari dalam banyak kasus. Dalam beberapa kasus, muntah dan/atau diare bisa terjadi.

Dalam kasus yang jarang terjadi, hanya gejala saluran pernapasan bagian atas yang ringan tanpa demam. Tanda-tanda yang umum meliputi tenggorokan tersumbat dan amandel yang bengkak.

Jika merujuk pada laman CDC, virus influenza A(H1N1) yang beredar saat ini merupakan keturunan dari virus pandemi H1N1 tahun 2009, yang muncul pada musim semi tahun 2009 dan menyebabkan pandemi flu.

Virus-virus itu, yang secara ilmiah disebut “virus A(H1N1)pdm09” dan lebih umum disebut “H1N1 2009”, terus beredar secara musiman sejak tahun 2009 dan telah mengalami perubahan genetik dan antigenik. H1N1 2009

Influenza A(H3N2): Pemicu Pandemi Flu Hong Kong

Virus influenza A(H3N2) menyebabkan pandemi 1968, seturut keterangan dari laman CDC. Jenis virus ini terdiri dari 2 gen dari virus influenza A unggas, termasuk hemaglutinin H3 baru, tapi juga mengandung neuraminidase N2 dari virus H2N2 tahun 1957.

Merujuk H3N2: A Perspective on Re-emergence of Influenza Pandemic oleh Shakti Rath (2024), influenza A(H3N2) menyebabkan pandemi flu Hong Kong yang muncul pada tahun 1968. Pandemi flu Hong Kong atau flu H3N2 ini merupakan wabah global influenza A(H3N2) yang berasal dari Hong Kong.

Virus yang bertanggung jawab atas pandemi ini adalah strain virus influenza A subtipe H3N2, yang dihasilkan dari rekombinasi genetik antara virus influenza manusia dan unggas.

Pandemi ini merupakan pandemi influenza ketiga abad ke-20, setelah flu Spanyol pada 1918 dan flu Asia pada 1957. Walau tak separah flu Spanyol, pandemi ini tetap memiliki dampak global yang signifikan, menggarisbawahi kemampuan virus untuk bermutasi.

Mengacu keterangan di laman Very Well Health, dari tahun 2003-2013, 3 musim flu yang didominasi oleh strain flu H3N2 memiliki tingkat kematian tertinggi.

Hong Kong’s Skyline

Hong Kong. FOTO/Dok. Hong Kong Tourism Board

Infeksi H3N2 biasanya berlangsung 5–7 hari, tapi dapat menyebabkan batuk parah yang berlangsung hingga 3 minggu. Gejala umumnya mencakup sakit badan, demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, kelelahan, hingga muntah dan diare.

Meski demikian, virus ini dapat menyebabkan komplikasi meliputi pneumonia (infeksi paru-paru), sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), sepsis (reaksi seluruh tubuh terhadap infeksi), meningitis (peradangan pada selaput otak), dan miokarditis (peradangan otot jantung).

Obat antivirus bisa membantu mengurangi keparahan gejala atau durasi penyakit. Selain itu, hal yang perlu dilakukan untuk pulih, yakni mengonsumsi obat bebas (OTC) untuk meredakan gejala, beristirahat yang cukup, serta minum banyak cairan.

Influenza A(H5N1): Virus Flu Burung yang Dapat Menginfeksi Manusia

Influenza A(H5N1) atau juga disebut dengan influenza unggas A(H5N1) merupakan subtipe virus influenza yang menginfeksi burung dan mamalia, termasuk manusia dalam kasus yang jarang terjadi.

Mengutip laman World Health Organization (WHO), virus influenza unggas H51 garis keturunan angsa/Guangdong pertama kali muncul pada 1996 dan telah menyebabkan wabah pada burung sejak saat itu.

Infeksi virus ini pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dengan tingkat kematian tinggi. Kasus pada manusia yang terdeteksi sebagian besar terkait dengan kontak dekat dengan burung dan hewan lain yang terinfeksi serta lingkungan yang terkontaminasi.

Influenza A(H5N1) di Indonesia kemudian dikenal dengan “flu burung”. Kasusnya pertama kali di Indonesia yang menginfeksi manusia dilaporkan pada Juni 2005, seturut informasi dari laman Kementerian Kesehatan.

Sejak pertama kali ditemukan hingga kurang lebih setahun berikutnya, virus ini tersebar di 15 provinsi dan 58 kabupaten/kota. Dalam kurun waktu 1 tahun, tercatat sebanyak 199 kasus dengan 167 kematian.

Melansir Role of Omega-3 PUFA-Derived Mediators, the Protectins, in Influenza Virus Infection oleh Yumiko Imai (2015), meski penularan virus H5N1 dari manusia ke manusia jarang terjadi, penelitian menunjukkan bahwa beberapa strain H5N1 hanya membutuhkan beberapa mutasi untuk memperoleh kemampuan penularan antarmanusia.

Ilustrasi Flu Burung.

Ilustrasi Flu Burung. FOTO/iStockphoto

Melansir laman CDC, gejala pernapasan flu burung muncul sekitar 3 hari atau 2–7 hari. Namun, gejala mata seperti kemerahan dan iritasi bisa terjadi 1-2 hari setelah terpapar.

Gejala flu burung umumnya berupa gejala flu biasa. Namun, pada level sedang hingga berat, seseorang bisa mengalami demam tinggi, sesak napas, kesadaran yang berubah, hingga kejang.

Jika dideteksi sejak dini, flu burung bisa diobati dengan obat antivirus, seperti oseltamivir, peramivir, dan zanamivir. Jika mengalami tanda-tanda atau gejala, segera ke dokter atau ruang gawat darurat (UGD) terdekat.

Baca juga artikel terkait VIRUS INFLUENZA atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - GWS
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora