tirto.id - Kesemutan atau kebas atau istilah medis disebut parestesia biasanya dialami setiap orang di bagian tubuh tertentu. Umumnya, kondisi ini terjadi jika anggota tubuh berada di posisi yang sama dalam jangka waktu lama.
Sensasi mati rasa hingga seperti ditusuk jarum ini bisa jadi merupakan tanda tidak berbahaya. Namun, melansir laman Cleveland Clinic (26/4/2023), jika kesemutan tidak kunjung hilang atau sering terjadi, dapat menjadi gejala medis yang cukup penting.
Kesemutan juga bisa disebabkan oleh dehidrasi, hiperventilasi, migrain, serangan panik, kejang, hingga cedera leher akibat benturan. Di samping itu, ada pula penyebab lain, yakni sindrom kompresi saraf seperti sindrom terowongan karpal atau carpal tunnel syndrome (CTS) dan sindrom terowongan kubital.
Carpal tunnel syndrome menunjukkan gejala sensasi rasa kesemutan. Selain itu, penderita juga bisa mengalami kondisi ibu jari melemah dan muncul rasa sakit pada lengan.
Carpal Tunnel Syndrome & Penyebab di Malam Hari
Gejala carpal tunnel syndrome biasanya berkembang secara perlahan. Pada malam hari, seperti dikutip Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (28/3/2023), gejala tersebut akan bertambah parah.
Carpal tunnel sendiri merupakan jalur pergelangan tangan yang terdapat saraf median dan 9 tendon, yang berguna dalam pergerakan jari-jari tangan. Carpal tunnel syndrome muncul ketika terjadi pembengkakan pada bagian saraf, tendon, atau keduanya, sehingga saraf median tertekan.
Jika saraf median tertekan, terhimpit, atau terjepit, hal ini akan menimbulkan sensasi kesemutan, kebas, atau mati rasa. Terkadang juga muncul rasa sakit di bagian-bagian yang dipengaruhi saraf ini.
Saraf median membentang dari lengan bawah melalui lorong di pergelangan tangan ke tangan. Melansir laman Mayo Clinic, lorong ini dikenal sebagai terowongan karpal atau carpal tunnel.

Saraf median memberikan sensasi pada sisi telapak ibu jari dan semua jari kecuali jari kelingking. Saraf ini juga memberikan sinyal untuk menggerakkan otot-otot di sekitar pangkal ibu jari.
Sering kali, carpal tunnel syndrome tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Bahkan, penyebabnya mungkin saja tidak diketahui.
Pergelangan tangan yang patah bisa mempersempit terowongan karpal dan mengiritasi saraf. Selain itu, artritis reumatoid atau penyakit lain juga bisa menyebabkan pembengkakan yang memberi tekanan pada saraf.
Maka, sebaiknya kenali terlebih dulu faktor-faktor risiko carpal tunnel syndrome sebagai berikut:
Faktor Fisik
Pergelangan tangan yang patah atau terkilir bisa mengubah ruang di dalam terowongan karpal. Hal ini juga terjadi pada perubahan terkait artritis pada tulang-tulang kecil di pergelangan tangan.Perubahan dapat memberi tekanan pada saraf median. Orang yang memiliki terowongan karpal yang lebih kecil, kemungkinan lebih besar bisa mengalami carpal tunnel syndrome.

Jenis Kelamin
Carpal tunnel syndrome lebih banyak dialami perempuan. Ini mungkin saja disebabkan oleh area terowongan karpal yang cenderung lebih kecil daripada laki-laki. Selain itu, mungkin hal tersebut disebabkan oleh pengaruh hormon lapisan tendon di terowongan karpal.Kondisi yang Merusak Saraf
Ada beberapa kondisi atau penyakit kronis. Salah satunya diabetes, yang dapat meningkatkan risiko kerusakan saraf, termasuk kerusakan saraf median.Sebagaimana dijelaskan dalam artikel ilmiah Joshi, dkk. berjudul “Carpal Tunnel Syndrome: Pathophysiology and Comprehensive Guidelines for Clinical Evaluation and Treatment” (2022), kondisi hiperglikemia yang berhubungan dengan penyakit diabetes menyebabkan glikosilasi dan peradangan tendon.
Hal tersebut mencegah tendon bergeser satu sama lain seperti biasanya. Sebaliknya, kondisi yang sama mendorong peregangan tendon.
Kondisi Peradangan
Artitis reumatoid, asam urat, dan kondisi peradangan lain bisa menyebabkan pembengkakan tendon di pergelangan tangan sehingga menekan saraf median.Obat-obatan
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara carpal tunnel syndrome dan anastrozol (Arimidex), yakni obat yang digunakan untuk mengobati kanker payudara.
Obesitas
Kondisi obesitas atau berat badan berlebih bisa menjadi faktor risiko carpal tunnel syndrome.Retensi Cairan
Saat tubuh menahan cairan berlebih, cairan itu bisa meningkatkan tekanan di dalam terowongan karpal dan mengiritasi saraf median. Ini umum terjadi selama kehamilan dan menopause.Kondisi Medis Lainnya
Kondisi tertentu, seperti gangguan tiroid dan gagal ginjal, bisa meningkatkan kemungkinan terkena sindrom terowongan karpal. Selain itu, artikel ilmiah Joshi, dkk. juga menyebut bahwa hipertensi turut menjadi faktor risiko jangka panjang.Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan arteri. Maka, hilangnya aliran darah akibat kompresi dapat diatasi sementara oleh efek hipertensi.
Namun, efek ini hanya sementara, karena efek jangka panjang hipertensi bisa menyebabkan penyakit pembuluh darah kecil. Pada akhirnya, pembuluh darah akan terganggu dan efek kompensasi awal hipertensi tidak akan cukup.

Orang dengan faktor-faktor risiko tersebut kemungkinan akan mengalami carpal tunnel syndrome. Ini bisa dikenali melalui gejala atau tanda-tanda yang paling umum, seperti kesemutan atau mati rasa di jari atau tangan.
Health Direct menjelaskan, penderita juga bisa mengalami nyeri saraf di pergelangan tangan atau tangan. Ini bisa menyebar ke lengan atau jari-jari tangan.
Kemudian, penderita akan mengalami kelemahan tangan sehingga sulit untuk menggenggam benda. Selain itu, jari-jari juga terasa bengkak.
Gejala ini biasanya muncul dan terasa lebih parah saat malam hari. Adapun sensasi kesemutan di tangan dan jari juga bisa terasa seperti ditusuk jarum. Ini biasanya terjadi di telapak tangan, ibu jari, dan 2 jari di sebelah ibu jari (jari telunjuk dan jari tengah).
Langkah-Langkah Mencegah Kesemutan & Kapan Harus ke Dokter
Merujuk pada penjelasan di laman Mayo Clinic, tidak ada cara yang terbukti bisa mencegah carpal tunnel syndrome. Namun, tekanan tangan dan pergelangan tangan bisa dikurangi dengan berbagai metode.
Untuk mengurangi tekanan tangan dan pergelangan tangan, pada umumnya yang perlu dilakukan hanya istirahat agar lebih rileks dan memperbaiki postur tubuh. Keduanya sangat berpengaruh terhadap tekanan pada saraf.
Berikut ini metode yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan agar tidak mengalami carpal tunnel syndrome:
Kurangi Tekanan dan Rilekskan Genggaman
Jika pekerjaan melibatkan mesin kasir atau papan ketik (keyboard), tekan tombolnya dengan lembut.Istirahat Sejenak secara Teratur
Regangkan dan tekuk tangan serta pergelangan tangan secara perlahan dalam waktu tertentu.
Perhatikan dan Perbaiki Postur Tubuh
Jaga posisi tubuh misalnya dengan memosisikan keyboard berada setinggi siku atau sedikit lebih rendah. Kemudian, sesuaikan ketinggian dan jarak layar agar selaras dengan postur yang benar.Jika sudah mengalami gejala-gejala carpal tunnel syndrome, seperti kelemahan pada tangan, kesemutan, hingga nyeri yang semakin memburuk atau parah, segera temui dokter. Dokter akan memberikan perawatan untuk meredakan gejala dan mencegah agar tidak semakin memburuk.

Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































