tirto.id - Efektivitas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara alami oleh hujan bergantung pada volume air yang benar-benar tiba di titik api, intensitas dan durasi hujan, kondisi vegetasi, serta karakteristik lahan yang terbakar.
Turunnya hujan sering disambut sebagai kabar baik lantaran dianggap bisa padamkan api dalam penanganan karhutla. Namun, guyuran air dari langit tidak menjamin api langsung padam seketika.
Secara fisika, air memadamkan api dengan menyerap energi panas. Untuk menaikkan suhu air dari awal menuju titik didih sampai menjadi uap, dibutuhkan energi.
Energi diambil dari bahan bakar ketika air mengenai material yang terbakar, seperti kayu, serasah, atau gambut. Api baru akan padam saat suhu material yang terbakar turun di bawah suhu minimum yang diperlukan untuk mempertahankan pembakaran.

Hal ini selaras dengan konsep segitiga api. Proses pembakaran butuh tiga unsur utama, yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen. Jika salah satu unsur hilang, pembakaran akan berhenti. Dalam konteks karhutla, air hujan bekerja menyerap panas, sekaligus menambah kelembapan material yang terbakar.
Ketika air hujan membasahi material terbakar, energi panas berpindah dari material ke air. Proses pendinginan akhirnya menurunkan suhu sampai pembakaran tidak lagi bisa dipertahankan. Selanjutnya, api akan padam.
Alasan Hujan Tidak Selalu Memadamkan Karhutla
Hujan tidak selalu bisa memadamkan karhutla, terutama di lahan gambut. Hal ini diulas oleh Shaorun Lin dan kolega dalam riset bertajuk Can rain suppress smoldering peat fire? (2020).
Di kawasan hutan tropis lebat, tajuk pepohonan yang rapat jadi penghalang utama pertukaran air dari atmosfer ke tanah. Fenomena intersepsi membuat 20-40 persen air hujan tertahan di dedaunan, lalu menguap kembali sebelum sempat menyentuh muka tanah.
Akibatnya, volume air yang sampai di bawah sering kali tidak memadai untuk menembus serasah tipis maupun lapisan bahan organik yang kering.
Tantangan pemadaman karhutla paling kompleks terjadi pada lahan gambut. Kebakaran gambut didominasi pembakaran lambat tanpa nyala terbuka (smoldering fire) yang menjalar di dalam tanah. Bara api bisa bertahan aktif di kedalaman puluhan sentimeter dengan suhu mencapai ratusan derajat Celsius.

Karena tanah gambut yang mengering memiliki sifat menolak air (hydrophobic), maka air hujan di permukaan sulit meresap ke lapisan dalam, dan justru mudah menguap karena suhu ekstrem dari bara gambut di bawahnya.
Secara kuantitatif, disebutkan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga sedang (di bawah 4 mm/jam) tidak cukup kuat untuk memadamkan bara gambut yang sudah mengakar di lapisan dalam tanah gambut. Air hujan pada intensitas tersebut akan menguap sebelum berhasil menjangkau zona reaksi aktif di bawah muka tanah.
Hal ini selaras dengan temuan studi lapangan di Sumatra oleh Muhammad A. Santoso dan kolega yang terpublikasi di International Journal of Wildland Fire(2022). Hujan dengan intensitas 5-8 mm/jam dalam beberapa jam masih belum bisa mematikan bara di dalam tanah.
"Peristiwa curah hujan yang tidak berhasil memadamkan kebakaran gambut berada di bawah ambang batas kritis laju aliran dan durasi pemadaman, yang menegaskan bahwa intensitas dan durasi curah hujan terlalu rendah dan terlalu singkat," tulis Santoso dkk.

Berdasar riset Lin, pemadaman total pada lapisan tanah gambut dangkal umumnya butuh hujan deras konsisten dengan intensitas tinggi dan kedalaman curah hujan kumulatif setidaknya 13 mm. Tujuannya agar aliran air mampu meresap secara menyeluruh dan mendinginkan matriks organik gambut secara konduktif.
Selama air hujan gagal membasahi bagian dalam atau tertahan oleh lebatnya kanopi hutan, potensi pembakaran di bawah tanah akan terus berlangsung meski kondisi permukaan tampak sudah basah.
Di sisi lain, riset Malinda Budi Oktaviani dan tim soal sebaran hotspot di Kalimantan sepanjang 2019-2023 menemukan bahwa kelembapan tanah jadi variabel paling signifikan yang memengaruhi munculnya hotspot, baru diikuti oleh variabel curah hujan. Hotspot cenderung terkonsentrasi pada lahan gambut dengan kelembapan tanah 10-30 persen, juga di area curah hujan bulanan di bawah 100 mm.
Adapun hasil analisis di Kabupaten Bengkalis, Riau, oleh Eko Widayanti dan kolega dalam riset yang terpublikasi di Jurnal Geodesi UNDIP (2023), menunjukkan bahwa curah hujan rendah berkorelasi kuat dengan perluasan area terbakar.
"Semakin rendah curah hujan di suatu wilayah maka semakin besar luas area kebakaran yang dihasilkan, begitu pula sebaliknya," tulis Widiyanti dkk.

Kapan Hujan Efektif Memadamkan Karhutla?
Hujan baru efektif memadamkan karhutla jika air yang mencapai bahan bakar mampu menurunkan suhu di zona pembakaran hingga proses pembakaran tak lagi bisa bertahan. Keberhasilan ini tergantung pada sejumlah faktor yang saling terkait.
Pertama, intensitas dan durasi hujan menentukan jumlah air yang jatuh selama periode tertentu. Hujan berdurasi lama memberi kesempatan bagi air untuk membasahi area terbakar dan meresap ke dalam tanah.
Namun, durasi yang panjang tidak otomatis menjamin karhutla padam, terutama jika intensitasnya tidak lebat, atau banyak air tertahan di tajuk, sehingga tidak mencapai lapisan yang terbakar.
Kedua, kondisi vegetasi memengaruhi jumlah air yang mencapai tanah. Tajuk yang rapat berisiko menahan sebagian air hujan, sementara karakter bahan bakar juga menentukan seberapa mudah material menyerap air dan melepas panas.

Ketiga, jenis dan kondisi lahan menentukan seberapa jauh air bisa meresap. Pada lahan gambut kering, air perlu mencapai lapisan bahan organik yang menyimpan bara. Kelembapan tanah sebelum hujan juga memengaruhi kondisi bahan bakar dan kerentanannya terhadap proses pembakaran.
Karena itu, curah hujan yang tercatat di suatu wilayah tidak selalu menggambarkan jumlah air yang benar-benar mencapai sumber api. Muka lahan yang basah belum cukup untuk memastikan bahwa kebakaran sudah padam.
Ketika karhutla terjadi di lahan gambut, pemadaman baru tercapai ketika air berhasil mendinginkan lapisan yang terbakar sampai proses pembakaran berhenti. Selama bara di bawah permukaan lahan gambut masih aktif, kebakaran bisa terus terjadi meski hujan sudah membasahi tanah di atasnya.

Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id







































