tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah hingga Jumat (16/10/2026). Mengacu data terbaru Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (SiPongi Kemenhut) pukul 10.00 WIB, tercatat ada sebanyak 669 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional yang terpantau melalui satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Kondisi tersebut mengakibatkan asap pekat masih menyelimuti berbagai wilayah terdampak, termasuk Kalimantan dan Sumatra. Guna mengurai ketebalan asap karhutla, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan uji coba penyemaian dry ice di sekitar wilayah Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.
Penyemaian dry ice merupakan teknik modifikasi atmosfer khusus yang dirancang mengurangi konsentrasi polusi dan asap pekat tanpa bergantung pada ketersediaan awan hujan.
Dry Ice, Teknik yang Sudah Ada Sejak 1947
Dry ice atau es kering adalah karbon dioksida yang telah dipadatkan dan akan berubah dari wujud padat menjadi gas melalui proses sublimasi. Zat ini tidak beracun, tidak mudah terbakar, dan bebas limbah dibandingkan metode pendinginan konvensional.
Dry ice memiliki suhu yang sangat rendah, yaitu -78,5°C, dan akan menyublim pada suhu ruangan. Adapun proses pembuatan dry ice menggunakan karbon dioksida yang telah dimurnikan, dicairkan, dan disimpan dalam tangki bertekanan tinggi.
Dalam pembuatan tersebut, diperlukan peralatan khusus. Di antaranya unit pencairan yang berfungsi mendinginkan dan menekan gas CO2 hingga menjadi cair. Berikutnya, menyediakan ruang ekspansi yang memungkinkan CO2 cair mengembang.
Pada proses inilah terjadi pendinginan cepat dan mengubah sebagian CO2 menjadi kristal es kering. Terakhir, dibutuhkan alat pengepresan blok atau mesin pelet untuk memadatkan kristal es kering di bawah tekanan tinggi, sehingga membentuk balok atau pelet padat, sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
Selama proses pembuatan, para pekerja perlu menggunakan alat pelindung diri dan memastikan dry ice tidak terkena kulit. Apabila dry ice terkena kulit, dapat menyebabkan radang dingin atau luka bakar akibat suhu dingin.

Dry ice bukanlah hal baru. Es kering ini ditemukan oleh kimiawan Prancis, Charles Thilorier, pada tahun 1835. Namun, penggunaan dry ice untuk urusan cuaca baru dilakukan pada 1946 oleh Vincent Schaefer yang bekerja di laboratorium General Electric (GE).
Menurut laporan Atlantik Oceanographic & Meteorologi Laboratory, Vincent menemukan bahwa dengan memasukkan dry ice ke dalam lingkungan yang berisi air dalam kondisi sangat dingin (air yang suhunya di bawah 32°F [0°C] namun belum membeku), ia dapat memicu air tersebut untuk membeku menjadi es.
Ia menyadari bahwa proses ini dapat dilakukan di atmosfer terbuka dan mampu memicu reaksi mikrofisika yang dapat mengubah awan serta curah hujan. Temuan awal itu mendorong laboratorium GE menjalin kesepakatan dengan Naval Research Laboratory dan Army Signal Corps dalam sebuah inisiatif yang disebut Project Cirrus.
Projek ini merupakan uji coba untuk mengetahui reaksi dry ice jika disemaikan di awan badai. Mereka memulai uji coba ini pada 13 Oktober 1947 menggunakan dua pesawat B-17 dan satu pesawat B-29 yang lepas landas dari Alabama, lalu terbang ke arah timur untuk mencegat badai yang diberi nama King, awan stratus yang sangat dingin.
Pesawat pembawa dry ice terbang di ketinggian puncak awan dan melakukan penyemaian. Bongkahan-bongkahan es kering dijatuhkan dari bagian perut pesawat ke dalam awan di bawahnya sekitar 36 kg. Dalam waktu lima menit setelah es kering ditebarkan, tetesan air di dalam awan berubah menjadi kristal es.
Salju yang terbentuk dari kristal-kristal es tersebut sempat jatuh sekitar dua ribu kaki (sekitar 600 meter) di bawah lapisan awan, sebelum akhirnya mencair akibat panas dan penguapan. Eksperimen penyemaian awan Vincent Joseph Schaefer ini menandai dimulainya modifikasi cuaca secara ilmiah.
Cara ini juga dilakukan BNPB untuk mengurai asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan. Melalui penyemaian es kering, diharapkan dapat mendinginkan udara di sekitarnya dengan cepat, sehingga memecah lapisan inversi tersebut dan memungkinkan polusi untuk menyebar atau terurai.
Cara Kerja Dry Ice Atasi Kabut Asap Karhutla
Pada situasi karhutla, asap pekat terperangkap di lapisan atmosfer akibat adanya lapisan inversi. Dalam kondisi normal, suhu udara cenderung semakin rendah di lapisan atmosfer yang semakin tinggi. Namun pada lapisan inversi, kondisi tersebut berubah sehingga atmosfer menjadi relatif stabil dan asap sulit bergerak naik.
Dalam kondisi ini, penyemaian awan menggunakan dry ice bertujuan untuk melabilkan atmosfer sehingga asap karhutla yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar. Cara ini diharapkan dapat memicu konsentrasi asap yang pekat menjadi berkurang dan visibility meningkat.

Pada tahap awal, dua sorti penerbangan ditugaskan melakukan penyemaian pada ketinggian sekitar 4.500 kaki. Masing-masing sorti membawa dry ice seberat 800 kilogram. Adapun lokasi penyemaian berlangsung di wilayah sekitar ring satu Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II.
Metode ini berbeda dengan modifikasi cuaca yang menggunakan bahan garam atau Natrium Klorida (NaCl) yang umumnya berbentuk serbuk halus dan biasa untuk memicu curah hujan dengan bantuan awan hujan.
Metode dry ice tidak memerlukan keberadaan awan hujan. Dengan demikian, uji coba ini tidak perlu menunggu ketersediaan awan hujan untuk menebar dry ice.
"Dengan dry ice, diharapkan dapat menghilangkan penghambat tumbuhnya awan sekaligus agar asap yang terjebak bisa bergerak ke luar mengikuti angin. Secara konsep agak berbeda dengan teknik penyemaian awan," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis, dikutip dari ANTARA, Selasa (13/10).
Apakah Dry Ice Efektif Atasi Asap Karhutla?
Metode dry ice mulai berjalan pada Kamis, 15 Oktober 2026 dengan menyasar lokasi di sekitar wilayah Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Modifikasi ini diharapkan dapat mengurai mobilitas penerbangan di wilayah Sumatra Selatan.
Dengan adanya jarak pandang yang lebih baik, diharapkan dapat memungkinkan pesawat untuk melakukan penyiraman air dan penyemaian awan kembali beroperasi. Sesuai agenda, uji dry ice akan berlangsung hingga Minggu, 18 Oktober 2026.
"Rangkaian uji coba OMC menggunakan dry ice ini dijadwalkan berlangsung hingga 18 Oktober 2026," ungkap Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, dikutip dari Antaranews, Kamis (15/10).
Berdasarkan pengamatan BNPB per 15 Oktober 2026, telah terjadi peningkatan visibility di sekitar wilayah penyemaian, yang semula terpantau dikisaran 650 meter menjadi 2.800 meter.

Namun, laporan tersebut belum membuktikan bahwa dry ice adalah penyebab tunggal peningkatan jarak pandang. Perubahan angin, turbulensi, dan kondisi atmosfer lainnya juga perlu diperhitungkan.
Pihak BNPB akan melakukan evaluasi menyeluruh serta koordinasi lanjutan bersama otoritas terkait untuk mempertimbangkan efektivitas dry ice dan potensi penerapan metode serupa di wilayah terdampak karhutla lainnya.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id


































