tirto.id - Langit yang biasanya tampak biru cerah di siang hari mendadak berubah menjadi kuning, oranye, hingga kemerahan di sejumlah wilayah di Kalimantan.
Fenomena tak biasa ini menarik perhatian masyarakat sekaligus memunculkan kekhawatiran di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Wilayah seperti Palangka Raya, Pontianak, Sampit, hingga Barito Kuala dilaporkan mengalami perubahan warna langit yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Perubahan warna langit tersebut bukan sekadar fenomena visual yang mengundang perhatian. Asap dan partikel hasil pembakaran yang menyebar di atmosfer dapat memengaruhi cara cahaya matahari mencapai permukaan bumi, sekaligus menurunkan kualitas udara.
Lantas, bagaimana karhutla dapat mengubah warna langit di siang hari? Sejauh mana fenomena ini berdampak terhadap kesehatan manusia, ekosistem, dan keberlangsungan siklus kehidupan?
Bagaimana Karhutla Membuat Langit Berubah Menjadi Kuning?
Astronom dan komunikator sains yang berbasis di Virginia, Phil Plait menulis di Scientific American bahwa kebakaran hutan dijelaskan tidak hanya melepaskan karbon dioksida (CO₂) ke atmosfer, tetapi juga merusak ekosistem yang berperan menyerap karbon dari udara.
Selain memperburuk kondisi lingkungan dan meningkatkan emisi gas rumah kaca, kebakaran hutan juga menghasilkan asap yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Sebagai misal, pada fenomena kebakaran hutan dalam skala besar terjadi di Kanada pada 2023. Pembakaran kayu dan kulit pohon melepaskan berbagai senyawa ke atmosfer. Kayu mengandung selulosa, yaitu senyawa yang tersusun atas karbon, hidrogen, dan oksigen.
Ketika terbakar, senyawa tersebut terurai dan bereaksi membentuk berbagai produk pembakaran, termasuk karbon dioksida, uap air, serta partikel-partikel halus.
Salah satu produk pembakaran tersebut adalah karbon hitam (black carbon), yang dikenal sebagai komponen jelaga. Partikel ini mampu menyerap cahaya tampak sehingga asap dalam konsentrasi tinggi dapat terlihat gelap. Selain karbon hitam, asap kebakaran juga mengandung partikel dan senyawa lain yang dapat memengaruhi cara cahaya matahari berinteraksi dengan atmosfer.

Perubahan warna langit pun terjadi ketika cahaya matahari berinteraksi dengan partikel-partikel yang dilepaskan saat kebakaran melalui proses hamburan dan penyerapan. Hamburan membuat cahaya tersebar ke berbagai arah, sedangkan penyerapan mengurangi sebagian energi cahaya yang melintas. Kombinasi kedua proses ini mengubah warna dan intensitas cahaya yang mencapai mata pengamat.
Dalam kondisi atmosfer normal, langit tampak biru karena molekul-molekul udara, terutama nitrogen dan oksigen, menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek lebih kuat daripada cahaya dengan panjang gelombang panjang. Proses ini disebut hamburan Rayleigh.
Sebaliknya, ketika matahari berada dekat cakrawala, cahaya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal. Sebagian besar komponen biru dalam cahaya langsung terhamburkan sehingga warna kuning, oranye, dan merah menjadi lebih dominan.
Keberadaan asap kebakaran dapat mengubah proses tersebut. Partikel-partikel asap memiliki sifat optik yang berbeda dari molekul udara dan dapat menghamburkan maupun menyerap berbagai panjang gelombang cahaya.
Akibatnya, cahaya matahari yang mencapai permukaan bumi mengalami perubahan warna. Bergantung pada konsentrasi, ukuran, dan komposisi partikel, langit dapat terlihat kuning kecokelatan, jingga, merah, atau abu-abu.
Tak hanya pada siang hari, mengutip The Weather Channel, asap karhutla juga dapat memengaruhi warga langit ketika matahari terbit atau terbenam sebab pancaran cahayanya juga akan melewati lebih banyak atmosfer. Sehingga, sebagian besar cahaya biru akan sedikit membias karena panjang gelombang yang lebih panjang. Sehingga, langit pun akan terlihat berwarna oranye atau merah.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, ketika ada kepulan asap di atmosfer yang membawa karbon hitam, warna oranye dan merah dari cahaya matahari akan semakin kuat. Hal itu dapat terjadi karena partikel asap lebih besar daripada molekul udara dan menyebabkan gelombang panjang lebih banyak tersebar.
Dengan begitu, saat matahari terbenam atau di siang hari dengan langit yang dipenuhi asap, warna langit pun akan ikut berubah menjadi merah atau oranye, karena partikel asap tersebut membiaskan cahaya matahari secara langsung.
Dampak Fenomena Langit Kuning terhadap Makhluk Hidup
Mengutip United States Enviromental Protection Agency, asap akibat kebakaran hutan menghasilkan sejumlah bahan kimia tertentu, seperti magnesium, alumunium, dan kalsium. Namun, ada pula yang menghasilkan bahan kimia lainnya, seperti logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, termasuk tembaga, timbal, serta seng.
Asap kebakaran juga dapat mengandung polutan udara berbahaya atau hazardous air pollutants (HAPs). Sejumlah senyawa dalam kelompok ini berpotensi menyebabkan kanker maupun gangguan kesehatan serius lainnya, bergantung pada jenis zat, konsentrasi, dan durasi paparannya.
Beberapa senyawa berbahaya yang dapat ditemukan dalam emisi kebakaran tertentu antara lain formaldehida, asetaldehida, dan akrolein. Namun, komposisi asap tidak selalu sama sehingga keberadaan setiap senyawa perlu dikonfirmasi melalui pengukuran atau penelitian yang relevan.
Di sisi lain, kebakaran hutan juga berkaitan dengan persoalan perubahan iklim. Kenaikan suhu dan kondisi kekeringan dapat meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah, meskipun kejadian karhutla juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia, pengelolaan lahan, vegetasi, dan kondisi cuaca setempat. Ketika kebakaran terjadi, pembakaran biomassa melepaskan gas rumah kaca serta partikel yang dapat memengaruhi kualitas udara dan keseimbangan energi atmosfer.
Salah satu komponen asap tersebut adalah karbon hitam (black carbon), yang juga dikenal sebagai bagian dari jelaga. Karbon hitam mampu menyerap radiasi matahari dan berkontribusi terhadap pemanasan iklim. Partikel ini dapat menjadi bagian dari partikulat halus PM2.5, yakni partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Paparan asap karhutla, terutama PM2.5, dapat menimbulkan iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, sesak napas, serta memperburuk penyakit seperti asma dan gangguan jantung. Dalam kondisi tertentu, paparan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke. Sementara itu, dampak jangka panjang terhadap risiko kanker masih terus diteliti dan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan adanya paparan asap.
Kebakaran menghasilkan aerosol dan berbagai senyawa lain yang dapat memengaruhi atmosfer. Partikel tersebut berpotensi mengubah proses pembentukan awan dan curah hujan, sedangkan abu serta polutan yang mengendap dapat memengaruhi kualitas tanah dan air. Besarnya dampak terhadap ekosistem bergantung pada komposisi polutan, jumlah endapan, dan kondisi lingkungan setempat.
Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dalam lembar fakta mengenai kebakaran hutan dan kesehatan, asap yang dihasilkan oleh kebakaran hutan merupakan sumber utama polutan udara berupa gas dan partikel beracun. Senyawa yang terpapar pada makhluk hidup, terutama manusia, diperkirakan memiliki dampak kesehatan cukup serius.
Jika dikaitkan dengan fenomena langit kuning yang dipicu oleh asap karhutla dan partikel kecil seperti atau jelaga yang menyerap dan membiaskan cahaya matahari, artinya kondisi tersebut berpotensi memiliki dampak serius bagi makhluk hidup, terutama manusia.
Apa yang Harus Dilakukan saat Polutan Akibat Kebakaran Hutan Meningkat?
Merespons soal kondisi darurat akibat Karhutla yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, memberikan imbauan agar masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan, agar menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Menurutnya, imbauan tersebut penting diterapkan mengingat asap akibat kebakaran hutan berpotensi membawa emisi berbahaya seperti partikel halus PM2,5, yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA," kata Budi, dikutip di situs resmi Kementerian Kesehatan.
Menkes Budi menegaskan bahwa masker menjadi garis pertahanan pertama yang paling mudah diakses oleh masyarakat. Masker juga dapat berperan dalam menyaring udara yang terhirup atau masuk pada saluran pernapasan.

Dalam hal ini, Kemenkes juga memberikan imbauan agar masyarakat di wilayah terdampak karhutla tidak menyepelekan gejala pernapasan ringan. Jika warga mulai mengalami gejala seperti sesak napas, batuk menetap, nyeri dada, hingga iritasi mata berat, diimbau untuk segera mencari pertolongan medis.
Sementara menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada saat kondisi asap tebal masih berlangsung, setiap individu disarankan untuk mengurangi paparan polusi partikel dari kebakaran hutan dengan cara mengurangi aktivitas di luar ruangan, melindungi udara dalam ruangan, serta mencari ruang udara yang lebih bersih.
Selain itu, menyadari potensi gejala paparan asap kebakaran hutan juga terbilang penting guna mengantisipasi berbagai risiko fatal yang diakibatkan oleh paparannya.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id







































