Menuju konten utama

Fenomena Awan Garis Lurus di Langit dan Mitos Pertanda Gempa

Awan garis lurus kerap disebut pertanda gempa. Simak penjelasan ilmiah, penelitian di Italia, dan penjelasan BMKG soal mitos awan gempa.

Fenomena Awan Garis Lurus di Langit dan Mitos Pertanda Gempa
Ilustrasi Awan garis lurus. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Awan berbentuk garis lurus yang membentang di langit kerap menarik perhatian, terutama saat foto fenomena tersebut beredar di media sosial dengan narasi kemunculannya menjadi pertanda gempa bumi. Benarkah demikian?

Kepercayaan ini muncul karena berbagai narasi yang menghubungkan formasi awan tidak biasa dengan gempa yang terjadi beberapa waktu kemudian. Salah satunya yakni soal awan linear di atas Pegunungan Apennine, Italia, sebelum gempa bumi bermagnitudo 6,0 pada Mei 2012. Narasi serupa juga beberapa kali beredar di media sosial di Indonesia.

Namun, kemunculan awan sebelum gempa tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat. Fenomena tersebut bisa dijelaskan melalui proses atmosfer. Sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan kalau bentuk awan bisa dipakai untuk memprediksi gempa.

Awan Garis Lurus, Proses Alam atau Jejak Pesawat?

Awan yang terlihat seperti garis putih panjang bisa terbentuk dari jejak kondensasi pesawat atau contrails. Fenomena ini terjadi saat gas buang mesin pesawat yang panas dan mengandung uap air bercampur dengan udara dingin di atmosfer bagian atas. Uap air lantas mengembun dan membeku jadi kristal es. Kumpulan kristal tersebut membentuk garis putih yang mengikuti lintasan pesawat.

Menurut lembar fakta Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) dan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) yang diterbitkan Juli 2025, jejak kondensasi pesawat mampu bertahan dalam waktu berbeda-beda, tergantung kondisi atmosfer.

Asap pesawat membentuk garis

Ilustrasi Asap pesawat membentuk garis. FOTO/iStockphoto

Ketika udara di sekitarnya kering, jejak tersebut biasanya menghilang dalam hitungan detik sampai menit. Sebaliknya, kelembapan tinggi menunjang kristal es bertahanberjam-jam, bahkan lebih lama dalam kondisi tertentu. Jejak yang bertahan juga bisa melebar dan menyerupai awan tipis.

Selain aktivitas penerbangan, formasi awan linear berpotensi terbentuk secara alami akibat interaksi angin dengan pegunungan. Aliran udara yang membawa uap air memang bisa menghasilkan pola awan memanjang sesuai kondisi angin dan topografi.

Karena itu, bentuk awan yang lurus tidak dengan sendirinya menunjukkan aktivitas tektonik. Penjelasannya perlu mempertimbangkan kondisi atmosfer, lokasi, dan kemungkinan lintasan pesawat.

Benarkah Awan Garis Lurus Menjadi Pertanda Gempa?

Salah satu kasus yang kerap dikaitkan dengan mitos awan gempa adalah peristiwa di Italia pada 2012. Sebuah laporan dari Guangmeng dan Jie (2013) di Jurnal Natural Hazards and Earth System Sciences menghubungkan formasi awan linear di atas Pegunungan Apennine, Italia, dengan gempa bermagnitudo 6,0 di Italia utara pada 20 Mei tahun tersebut.

Naskah Guangmeng dan Jie tersebut diterima redaksi jurnal pada 4 Juni 2012, sesudah gempa Italia 20 Mei 2012, lalu terbit Januari 2013 usai direvisi. Adapun bukti prediksi sebelum kejadian hanya klaim penulis semata.

Klaim itu kemudian diteliti oleh J. N. Thomas, F. Masci, dan J. J. Love dalam jurnal yang sama pada 2015. Mereka coba memeriksa citra satelit Italia selama empat tahun, periode Januari 2010 sampai Desember 2013. Memang ditemukan 24 kejadian formasi awan linear selama periode pengamatan.

Ilustrasi Gempa

Ilustrasi Gempa. FOTO/Istockphoto

Namun, hasil analisis Thomas dan kolega tidak menunjukkan hubungan statistik yang jelas antara munculnya awan tersebut dengan aktivitas gempa. Thomas dan kolega juga menilai, formasi awan yang diperiksa bisa terbentuk akibat interaksi angin dengan pegunungan.

"Kami skeptis terhadap keabsahan klaim Guangmeng dan Jie (2013) bahwa mereka telah berhasil memprediksi gempa bumi apa pun," tulis Thomas dkk.

Merujuk laman Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), sampai sekarang belum ada ilmuwan yang mampu memprediksi gempa secara tepat. Prediksi gempa harus mencakup tiga unsur, yaitu waktu kejadian, lokasi, dan magnitudo.

Adapun ilmuwan bisa memperkirakan probabilitas gempa di suatu wilayah berdasar data seismik dan kajian bahaya. Namun, perkiraan tadi berbeda dari kemampuan menentukan kapan dan di mana gempa tertentu akan terjadi.

Penjelasan BMKG dan Cara Menyikapi Informasi Awan Gempa

Di Indonesia, isu awan sebagai pertanda gempa pernah mencuat di Yogyakarta pada Juni 2018. Foto awan berbentuk garis lurus beredar di media sosial disertai klaim bahwa gempa besar akan terjadi dalam beberapa hari berikutnya.

BMKG menanggapi isu tersebut melalui siaran pers pada 8 Juni 2018. Lembaga tersebut menyatakan bahwa belum ada dasar ilmiah yang memadai untuk memakai bentuk awan sebagai alat prediksi gempa. BMKG juga menilai foto yang beredar punya karakteristik yang sesuai dengan jejak lintasan pesawat.

"Awan garis lurus yang memanjang dari barat ke timur diperkirakan terbentuk oleh lintasan pesawat, hal ini sesuai dengan ciri ketebalan awan dari barat ke arah timur yang semakin tebal sesuai dengan arah jalannya pesawat, waktu kemunculan awan yang singkat, dan panjangnya lintasan," tulis BMKG saat itu.

Ilustrasi Awan garis lurus

Ilustrasi Awan garis lurus. FOTO/iStockphoto

Awan garis lurus bukan satu-satunya "pertanda" yang kerap dikaitkan dengan gempa. Kepercayaan bahwa hewan bisa merasakan gempa sudah dicatat sejak Yunani kuno, ketika tikus, musang, dan ular disebut meninggalkan kota beberapa hari sebelum gempa merusak.

Cerita tentang hewan yang bertingkah aneh sebelum gempa memang banyak, dan USGS tidak membantah hal itu. Namun, perilaku tersebut belum terbukti konsisten, apalagi bisa diandalkan. Belum ada penjelasan ilmiah tentang bagaimana hewan bisa merasakannya.

Selain hewan, mitos lainnya juga menyangkut "cuaca gempa", anggapan bahwa udara panas dan tenang menandai akan datang gempa. Gagasan ini berakar pada teori Aristoteles tentang angin yang terperangkap di dalam gua bawah tanah. Menurut USGS, cuaca gempa tidak ada. Secara statistik, gempa terjadi dalam jumlah yang kurang lebih sama pada cuaca dingin, panas, maupun hujan.

Perubahan tekanan udara akibat badai besar memang diketahui bisa memicu pergeseran lambat pada patahan. Namun, jumlahnya kecil dan tidak signifikan secara statistik. Sama seperti bentuk awan, fenomena-fenomena ini tidak bisa dijadikan dasar untuk memprediksi gempa. Karena itu, rasa waspada lebih tepat disandarkan pada informasi resmi.

Menyangkut informasi resmi gempa di Indonesia, masyarakat bisa memantau kanal resmi BMKG melalui laman Gempa Bumi Terkini.

Anda juga bisa mengikuti media sosial BMKG, seperti @InfoBMKG di Instagram dan Facebook, @InfoHumasBMKG dan @InfoBMKG di X, serta @infoBMKG di YouTube, TikTok, dan Threads.

Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora