Menuju konten utama

Mengapa Orang Percaya Takhayul? Sains Bisa Jelaskan

Di era modern, kenapa masih banyak yang percaya takhayul? Bagaimana sains menjelaskannya? Simak selengkapnya di sini.

Mengapa Orang Percaya Takhayul? Sains Bisa Jelaskan
Ilustrasi ritual. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, takhayul masih menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Mulai dari menghindari hari tertentu hingga percaya pada pertanda buruk, keyakinan ini bertahan meski sulit dibuktikan secara ilmiah. Lantas, mengapa orang masih mempercayainya?

Salah satu alasannya adalah kecenderungan manusia mencari penjelasan atas hal-hal yang tidak pasti. Ketika menghadapi kejadian yang sulit dipahami, takhayul dapat memberi rasa aman sekaligus kesan bahwa keadaan bisa dikendalikan.

Selain itu, kepercayaan terhadap takhayul juga diwariskan melalui keluarga, budaya, dan lingkungan sosial. Artinya, takhayul bukan sekadar soal percaya pada hal gaib, tetapi juga berkaitan dengan cara manusia berpikir dan memahami dunia.

Apa Itu Superstition atau Takhayul?

Mengutip Cleveland Clinic, secara definisi, superstition atau takhayul adalah kepercayaan atau ritual yang menghubungkan tindakan, benda, maupun peristiwa tertentu dengan keberuntungan atau kesialan, meskipun hubungan tersebut tidak didukung bukti ilmiah.

Dalam sudut pandang yang berkembang, takhayul menjadi suatu kepercayaan atau ritual yang menghubungkan tindakan, benda, atau peristiwa tertentu dengan keberuntungan baik atau buruk.

Menurut seorang psikolog Dr. Susan Albers, PsyD, menyebut bahwa takhayul diciptakan untuk membantu otak merasa lebih terkontrol. Bahkan, meskipun seseorang tersebut mengetahui bahwa sesuatu itu tidak nyata, mereka cenderung tetap bertindak seolah-olah itu nyata.

“Banyak orang dewasa yang cerdas dan logis mengatakan mereka tidak percaya pada takhayul, sementara pada saat yang sama merasa tidak nyaman pada hari Jumat tanggal 13 atau menolak untuk berjalan di bawah tangga,” jelas Dr. Albers, dikutip dari Cleveland Clinic.

Ilustrasi tanggal 13

Ilustrasi tanggal 13. FOTO/iStockphoto

Sementara itu, takhayul juga berkaitan dengan konsep keberuntungan baik dan buruk, yang mendorong pada penganutnya melakukan tindakan tertentu yang diyakini bisa memberikan hasil menguntungkan atau tidak.

Kebanyakan takhayul dapat memanifestasikan beberapa tindakan lanjutan, seperti ritual, jimat, hingga penafsiran pertanda terhadap kemungkinan yang akan terjadi. Namun, keyakinan tersebut biasanya berakar pada tradisi budaya yang berkembang.

Dalam perspektif psikologis, takhayul dapat berkaitan dengan ketakutan terhadap hal yang tidak diketahui dan keinginan untuk mengendalikan situasi yang tidak pasti. Ritual tertentu juga dapat memberikan rasa aman atau mengurangi kecemasan.

Namun, perilaku ritualistik tidak serta-merta menunjukkan gangguan obsesif-kompulsif (OCD), dan efek psikologis yang dirasakan seseorang tidak membuktikan bahwa takhayul benar-benar memengaruhi keberuntungan.

Dalam hal ini, beberapa contoh dari takhayul banyak merujuk pada angka-angka tertentu yang dianggap dapat mengubah keberuntungan ataupun bisa jadi kesialan.

Seperti di Jepang, angka 4 diyakini memiliki kaitan dengan nasib buruk karena saat diucapkan terdengar seperti kata untuk "Kematian". Contoh lainnya ada pada angka 13 yang disebut-sebut bisa mengundang kesialan.

Saat Hidup Tak Pasti, Takhayul Memberi Rasa Kendali

Takhayul banyak dikaitkan dengan keinginan untuk mengontrol sesuatu yang berada di luar kendali. Tak jarang, ketika manusia dihadapkan pada situasi ketidakpastian, seperti menghadapi ujian, pertandingan, atau keputusan besar, ritual tertentu dapat membuat seseorang merasa lebih tenang, bahkan siap menghadapinya.

Contoh lainnya seperti ritual yang biasa dilakukan sebelum menjalani kegiatan tertentu, atau mengenakan aksesori keberuntungan. Meski tidak ada bukti kuat bahwa ritual tersebut memiliki kekuatan magis untuk mengubah hasil, melakukannya dapat memberikan rasa aman dan membantu seseorang menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.

Dalam jurnal Understanding the Use of Superstitious Rituals in Sports People, perilaku takhayul mencakup gagasan mendasar mengenai sebab-akibat magis, di mana tindakan tertentu diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan seseorang atau melindungi dari hasil buruk.

Di dunia olahraga, keyakinan tersebut dapat muncul ketika hasil suatu pertandingan sulit diprediksi. Hasil yang sebenarnya tidak dapat dikendalikan itu tak jarang menimbulkan kecemasan dan rasa takut akan kegagalan. Alhasil, guna meredakan kecemasan, beberapa ritual takhayul kerap diyakini sebagai solusi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan akibat sesuatu yang berada di luar kendali.

Ritual takhayul yang dilakukan sejumlah atlet kerap dikaitkan dengan kesuksesan. Ritual tersebut kerap dikaitkan dengan rasa percaya diri, motivasi, dan penurunan kecemasan. Kondisi psikologis ini dapat membantu atlet mempersiapkan diri menghadapi pertandingan, meskipun tidak menjamin hasil yang lebih baik.

Ilustrasi ritual

Ilustrasi ritual. FOTO/iStockphoto

Dalam kondisi tertentu, ritual takhayul juga dapat bekerja menyerupai efek plasebo. Keyakinan bahwa suatu ritual akan membantu dapat membuat atlet merasa lebih percaya diri atau tenang, meskipun ritual itu sendiri belum tentu memiliki pengaruh langsung terhadap hasil pertandingan.

Secara psikologis, efek tersebut bakal menyebabkan ketekunan yang lebih besar, sekaligus meningkatkan efikasi diri dalam menjalankan tugas kinerja.

Psikolog Sosial dan Lektor Kepala di New York University, Emily Balcetis menjelaskan bahwa takhayul dapat menjadi salah satu cara untuk mengelola kecemasan. Ketika menghadapi situasi yang menakutkan, seseorang cenderung mencari cara untuk meredakan respons stres yang muncul.

Emily juga menjelaskan bahwa takhayul dapat membantu seseorang menghadapi ketidakpastian. Ritual tertentu bisa memberikan rasa kendali sementara ketika seseorang berhadapan dengan situasi yang menimbulkan ketakutan.

Selaras dengan pandangannya, Profesor Ilmu Perilaku di University of Chicago Booth School of Business, Jane Risen, menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih mudah terlibat dalam pemikiran magis ketika menghadapi situasi yang terasa kritis atau berada di luar kendali mereka.

Kenapa Takhayul Sulit Hilang Meski Zaman Sudah Modern?

Di era modern, beberapa kepercayaan tidak semata-mata otomatis tergerus, termasuk takhayul. Salah satu faktor yang membuat takhayul bertahan di era modern adalah pengaruh lingkungan. Kepercayaan yang diwariskan melalui keluarga, tradisi, dan cerita masyarakat dapat terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika orang-orang di sekitarnya meyakini hal serupa, seseorang cenderung lebih mudah menerima dan mempertahankan kepercayaan tersebut. Pengalaman pribadi yang dianggap sesuai dengan suatu takhayul juga dapat memperkuat keyakinan, meskipun belum membuktikan bahwa keduanya memiliki hubungan sebab-akibat.

Dalam tulisan Why Do Superstitions Persist among Seemingly Rational People?, salah satu alasan takhayul tetap bertahan di masyarakat modern adalah manfaat psikologis yang dirasakan penganutnya. Keyakinan atau ritual tertentu dapat memberikan rasa nyaman dan membantu meredakan stres, meskipun tidak memiliki kekuatan magis yang terbukti secara ilmiah.

Ilustrasi ritual

Ilustrasi ritual. FOTO/iStockphoto

Pada tahun 2010 silam, Lysann Damisch dan koleganya dalam tulisan Keep Your Fingers Crossed!: How Superstition Improves Performance menemukan bahwa aktivasi kepercayaan terhadap keberuntungan, seperti menggunakan jimat atau melakukan gestur tertentu, dapat meningkatkan performa dalam sejumlah tugas.

Penelitian ini mengaitkan efek tersebut dengan meningkatnya keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri (self-efficacy). Bagi sebagian orang, jimat keberuntungan dapat menjadi sumber kepercayaan diri sebelum menghadapi situasi yang menantang.

Dalam penelitian Damisch, peningkatan performa setelah aktivasi takhayul berkaitan dengan meningkatnya efikasi diri, yakni keyakinan seseorang terhadap kemampuannya menyelesaikan tugas. Namun, temuan tersebut tidak berarti jimat memiliki kekuatan magis atau selalu menghasilkan kinerja yang lebih baik.

Meski dapat memberikan kenyamanan psikologis, takhayul juga memiliki konsekuensi. Sebagian orang, misalnya, sengaja menghindari berjalan di bawah tangga, mengetuk kayu untuk mengharapkan keberuntungan, atau melemparkan garam ke bahu untuk mengusir kesialan. Ritual semacam ini dapat menyita waktu dan tenaga, terutama ketika dilakukan berulang kali tanpa manfaat yang jelas.

Namun, takhayul diklaim akan sangat lambat memudar jika perilaku tersebut terus memberikan kenyamanan, mengurangi stres dan kecemasan, meskipun secara logis tidak memberikan manfaat yang jelas.

Baca juga artikel terkait SAINS POPULER atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Edusains
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora