tirto.id - Perubahan iklim berpeluang memperluas wilayah penularan penyakit akibat nyamuk, termasuk malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Kenaikan suhu mengubah kondisi lingkungan, sehingga mendukung kehidupan nyamuk serta memengaruhi kecepatan virus dan parasit yang berkembang dalam tubuh serangga tersebut.
Dalam World Malaria Report 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat 282 juta kasus malaria, dengan 610.000 kasus kematian di seluruh dunia sepanjang 2024. Jumlah tersebut naik sekitar 9 juta kasus dibanding tahun sebelumnya.
"Kawasan Afrika terus menanggung beban terbesar, 11 negara menyumbang sekitar dua pertiga dari jumlah kasus dan kematian global. Kemajuan dalam mengurangi angka kematian akibat malaria masih jauh dari target," jelas WHO.
"Seiring meningkatnya suhu di dataran yang lebih tinggi akibat perubahan iklim dan perubahan lingkungan, nyamuk bisa bertahan hidup lebih tinggi di pegunungan," ujar Manisha Kulkarni, profesor dan peneliti yang mempelajari malaria di sub-Sahara Afrika di Universitas Ottawa, dikutip dari Associated Press pada 2023.
Adapun pada 2014 Peneliti Universitas Michigan, Mercedes Pascual, yang menelaah data malaria dataran tinggi Ethiopia dan Kolombia, juga sudah menemukan bahwa sebaran kasus malaria bergeser ke daerah dengan ketinggian lebih tinggi pada tahun-tahun yang lebih hangat. Ia mengingatkan, jika pemanasan global terus berlanjut, "malaria bakal merayap naik ke pegunungan."
Pemanasan Global Memperluas Wilayah yang Cocok bagi Nyamuk
Suhu lingkungan menjadi salah satu faktor yang membatasi persebaran nyamuk. Di daerah yang terlalu dingin, nyamuk cenderung kesulitan bertahan hidup, berkembang biak, atau mendukung perkembangan patogen yang dibawanya. Akan tetapi ketika suhu berubah lebih hangat, sebagian wilayah yang sebelumnya kurang sesuai bisa menjadi lebih mendukung penularan.
Laporan Lancet Countdown 2025 mencatat peningkatan potensi perubahan iklim untuk penularan dengue secara global. Dibanding periode 1951-1960, kans penularan terkait Aedes albopictus naik 48,5 persen pada periode 2015-2024. Untuk Aedes aegypti, peningkatannya mencapai 17 persen.
Risiko serupa juga terlihat pada penyakit malaria, yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Data Lancet Countdown menunjukkan kesesuaian iklim bagi penularan malaria di wilayah dataran tinggi makin meningkat antara periode 1951-1960 dan 2015-2024. Peningkatan mencapai 13,9 persen untuk Plasmodium falciparum dan 13 persen untuk Plasmodium vivax, keduanya parasit penyebab malaria.
Angka-angka dari Lancet Countdown tersebut mengukur perubahan kesesuaian kondisi iklim bagi penularan, bukan kenaikan jumlah kasus dengue.

Risiko ini penting bagi daerah pegunungan yang sebelumnya memiliki suhu kurang mendukung bagi nyamuk. Ketika kondisi menjadi lebih sesuai, nyamuk dan patogen berpotensi menjangkau wilayah yang sebelumnya menghadapi risiko lebih rendah.
Perubahan itu terlihat di Cochabamba, Bolivia. Merujuk riset terbaru di Jurnal Virology (2026), kota yang berada di ketinggian sekitar 2.550 meter di atas permukaan laut tersebut mengalami wabah dengue terbesar dalam catatan wilayahnya pada 2024 lalu. Peneliti mendapati 5.923 kasus dengue terkonfirmasi di laboratorium, dari 9.576 kasus suspek yang dianalisis sepanjang periode Januari-Juli 2024.
Sebelumnya, penularan dengue di Bolivia lebih banyak ditemukan di dataran rendah tropis. Peneliti menduga perluasan sebaran nyamuk Aedes aegypti berpeluang turut dipengaruhi oleh perubahan iklim.
Perubahan kesesuaian iklim tidak otomatis berarti nyamuk bakal menetap atau kasus penyakit langsung meningkat. Temuan lain terkait analisis genetik virus dalam penelitian tersebut mengindikasikan ada beberapa introduksi virus dari wilayah Brasil. Konsekuensinya, perubahan lingkungan juga perlu dibaca bersama dengan karakter pergerakan manusia dan penyebaran virus.
Perubahan Suhu Memengaruhi Siklus Penularan
Pengaruh suhu tidak berhenti pada kemampuan nyamuk bertahan hidup. Suhu juga memengaruhi perkembangan jentik, umur nyamuk dewasa, frekuensi menggigit, dan kecepatan patogen berkembang di dalam tubuh nyamuk.
Setelah nyamuk mengisap darah manusia yang terinfeksi, virus atau parasit perlu melewati tahap tertentu sebelum nyamuk menularkannya kepada manusia lain. Masa ini disebut extrinsic incubation period (EIP), atau masa inkubasi ekstrinsik.
Dalam rentang suhu yang sesuai, kenaikan suhu bisa mempercepat perkembangan patogen sehingga masa inkubasinya menjadi lebih pendek. Nyamuk yang terinfeksi berpotensi mulai menularkan penyakit dalam waktu lebih singkat. Tapi hubungan tersebut tidak berlangsung tanpa batas.

Di sisi lain, beberapa riset juga menunjukkan suhu terlalu tinggi dapat mengganggu kelangsungan hidup nyamuk dan perkembangan patogen. Karena itu, kenaikan suhu tidak selalu meningkatkan penularan. Dampaknya bergantung pada suhu awal, tingkat pemanasan, spesies nyamuk, jenis patogen, serta kondisi lingkungan setempat.
Curah hujan turut menentukan ketersediaan tempat perkembangbiakan nyamuk. Hujan bisa menyebabkan genangan, sementara kekeringan mendorong sebagian warga menyimpan air dalam wadah terbuka. Keduanya membuka peluang tempat nyamuk bertelur. Akan tetapi, hujan yang terlalu deras juga bisa menghanyutkan jentik dari habitat tertentu.
Mengurangi Risiko Penyakit Akibat Nyamuk
Pencegahan tetap perlu berfokus pada pengendalian nyamuk dan perlindungan dari gigitan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mendorong pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus untuk menekan risiko penyakit dengue.
Langkah utamanya meliputi menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan barang bekas yang berpotensi menampung air.
Masyarakat juga diimbau membersihkan lingkungan secara berkala, memakai larvasida sesuai petunjuk, menghindari genangan yang bisa jadi sarang nyamuk, juga penyemprotan atau fogging.

Perlindungan dari gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan memakai obat antinyamuk sesuai petunjuk, mengenakan pakaian yang menutupi kulit, memakai kelambu bila diperlukan, serta memasang kasa pada jendela dan ventilasi.
Pola hidup bersih dan mengonsumsi makanan sehat juga dapat meningkatkan imun tubuh, sehingga relatif mengurangi risiko tertular penyakit.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id

































