tirto.id - Dua badak Sumatra, Ratu dan Delilah, dilaporkan sedang hamil di Suaka Rhino Sumatera (SRS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Di tengah ancaman kepunahan, kabar ini seolah menjadi berkah sains berkat penerapan metode semi in situ.
Kabar kehamilan dua induk badak Sumatra disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Badak Sedunia 2026, Sabtu (3/10/2026), di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Jawa Barat.
Sebagaimana dikutip di situs resmi Kementerian Kehutanan RI, Ratu, salah satu induk badak, tercatat tengah menjalani kebuntingan untuk calon anak keempat bersama pejantan Andalas.
Sementara Delilah tengah hamil untuk calon anak kedua bersama pejantan Harapan. Kondisi kesehatan dua induk badak Sumatra bakal terus dipantau terus secara intensif guna memastikan kelancaran kelahiran.

Kehamilan dua induk badak Sumatra adalah simbol perkembangan penting bagi konservasi hewan. Program pengembangan sains yang diterapkan menunjukan hasil signifikan untuk mempertahankan populasi badak Sumatra yang terancam punah.
Metode semi in situ yang diterapkan di TNWK disebut-sebut memiliki andil cukup besar dalam memperpanjang harapan konservasi, terutama badak Sumatra.
Harapan Baru Pelestarian Populasi Badak Sumatra
Badak Sumatra Ratu dinyatakan tengah menjalani usia kebuntingan 238 hari atau sekitar 7,9 bulan. Sementara Dalilah di usia 251 hari atau sekitar 8,3 bulan. Rata-rata, masa kehamilan hewan mamalia famili Rhinocerotidae berkisar 15 hingga 16 bulan (atau sekitar 460 hari). Kemungkinan melahirkan adalah 1 ekor anak dalam sekali proses kelahiran.
Kebuntingan terbaru dua induk badak Sumatra menunjukkan bahwa program pengembangbiakan Suaka Rhino Sumatera (SRS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), berjalan efektif.
Bahkan, berkah sains yang diterapkan selama ini turut melahirkan lima ekor badak Sumatra dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Di antaranya adalah Andatu (2012), Delilah (2016), Sedah Mirah (2022), Anggi (2023), serta Indra (2023).
Program pengembanbiakan di SRS TNWK dikelola secara kolaborasi oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Way Kambas dan mitranya, Yayasan Badak Indonesia (YABI). Dalam praktiknya, pihak terkait menerapkan metode semi in situ, yang menempatkan badak di habitat alami dengan sangat meminimalisir interaksi dengan manusia.
Tak hanya itu, metode sains juga didukung dengan tindakan perawatan medis, serta pemantauan reproduksi secara intensif, guna memastikan keberlangsungan populasi hewan yang terancam punah tersebut tetap terjaga.

Menurut data IUCN Red List, badak Sumatra berstatus kritis (Critically Endangered). Populasi hewan mamalia ini diperkirakan berjumlah tidak lebih dari 80 ekor di alam satwa Indonesia, tersebar di Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), serta Kalimantan Timur.
Saat ini, terdapat lima jenis badak yang masih hidup di dunia. Indonesia termasuk habitat alami bagi dua jenis: badak Sumatra (Sumatran Rhinoceros) dan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Dua jenis ini sama-sama terancam punah.
Kehamilan hewan yang terancam punah, termasuk badak Sumatra, tidak semata-mata hanya akan menambah individu baru saja, tetapi juga memperkuat peluang dan harapan dalam menjaga keragaman genetik, serta membangun populasi untuk konservasi jangka panjang.
Semi In Situ, Solusi Sains Agar Badak Sumatra Tak Punah
Semi in situ merupakan sebuah pendekatan sains dan konservasi terpadu yang memadukan dua metode antara in situ (di dalam habitat asli) dan ex situ (di luar habitat asli).
Metode pelestarian keanekaragaman semi in situ dilakukan di luar habitat asli, namun masih berada di dalam kawasan atau lingkungan yang mirip seperti habitat alami hewan atau tumbuhan tertentu.
Sebagaimana dikutip di The Wild Animal Health Fund, konservasi dengan metode in situ biasanya ditujukan untuk melestarikan habitat alami hewan, terutama spesies yang terancam punah. Pendekatan ini memungkinkan hewan bisa bebas berkeliaran, seperti yang banyak diterapkan di sejumlah Taman Nasional.
Di lain sisi, metode ex situ juga terbilang penting dalam upaya pelestarian spesies, terutama hewan atau tumbuhan yang berstatus terancam punah. Pendekatan ini biasanya memindahkan satwa liar dari habitat alami ke tempat atau lokasi yang menyerupai habitat asli, seperti di kebun binatang, taman safari, dan taman hutan raya.
Dengan menggunakan metode semi in situ, hewan yang dikonservasi akan tetap hidup di habitat asli, minim interaksi langsung dengan manusia, terutama pemburu liar yang dapat mengancam populasi hewan.

Metode semi in situ untuk pelestarian populasi badak Sumatra menempatkan hewan mamalia tersebut di lokasi dalam kawasan hutan alami yang dipagari dan dijaga ketat.
Mengutip situs resmi Yayasan Badak Indonesia (YABI), penerapan metode semi in situ pada badak Sumatra dilakukan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), yang terletak di Provinsi Lampung, dan berbatasan langsung dengan pantai bagian selatan Pulau Sumatra dan menghadap ke Pulau Jawa.
Konservasi terhadap badak Sumatra sendiri telah berlangsung sejak 1996. Pusat Pengembangbiakan Badak Sumatra itu dinamakan sebagai "Suaka Rhino Sumatera (SRS)" di TNWK. SRS menyediakan kawasan yang sangat luas dan lebih alami, membuat badak Sumatra berstatus kritis bisa berkembang biak.
Melalui metode semi in situ pula, badak Sumatra tetap dipelihara sealami mungkin dengan kebutuhan yang jauh lebih alami, meskipun ditempatkan di lokasi yang dibatasi, dibandingkan jika berada di Kebun Binatang.
Di lokasi tersebut, badak Sumatra dibiarkan hidup sendiri di areal masing-masing yang saling berhubungan ke pusat area sebagai lokasi masa kawin. Pendekatan ini diklaim meniru perilaku hewan di alam yang dikenal sebagai satwa soliter.

Meskipun campur tangan manusia sangat dibatasi, pada praktiknya hewan tersebut tetap dalam pengawasan yang intensif. Kesehatan dan keberlangsungan reproduksi jadi prioritas pihak konservasi, dengan pemeliharaan diterapkan sealam mungkin.
Berkat penerapan metode semi in situ di TNWK, terdapat setidaknya sepuluh ekor badak Sumatra yang menempati SRS Way Kambas hingga Desember 2023, dengan komposisi empat jantan dan enam betina.
Kesepuluh badak tersebut mencakup Bina (1979), Ratu (2000), Rosa (2001), dan Andalas (2001). Lalu Harapan (2007), Andatu (2012), Delilah (2016), serta Sedah Mirah (2022). Kemudian Anggi (2023) dan Indra (2023).
Tahun 2026, dua induk badak Sumatra, Ratu dan Dalilah, dilaporkan tengah bunting. Kabar tersebut secara tidak langsung menunjukkan buah sains lewat penerapan metode semi in situ cukup berdampak signifikan terhadap keberlangsungan populasi hewan yang terancam punah, terutama badak Sumatra.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































