Menuju konten utama

Mencari Jejak Kehidupan di Planet Venus

Venus Life Finder, ambisi ilmuwan dalam mengungkap potensi kehidupan di planet Venus. 

Mencari Jejak Kehidupan di Planet Venus
Planet Venus. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rocket Lab bersama MIT menjalankan proyek ambisius bertajuk misi Venus Life Finder, menindaklanjuti temuan ilmuwan di tahun 2020 yang mendeteksi fosfin di awan planet tersebut.

Misi swasta pertama ke Venus ini diperkirakan akan dilaksanakan paling cepat tahun 2026, dengan tujuan untuk memindai senyawa organik pada atmosfer yang dapat menunjukan soal kemungkinan adanya kehidupan.

Sebagaimana dikutip The Planetary Society, perusahaan kendaraan peluncur Rocket Lab menjalin kerja sama dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) untuk mengadakan misi swasta pertama ke planet Venus bertajuk "Venus Life Finder". Misi tersebut terdiri dari sebuah wahana kecil berbentuk kerucut dengan kubah di atasnya, yang dapat diangkat oleh satu orang saja.

Dalam perencanaannya, wahana sebesar 20 kilogram dengan lebar sekitar 40 sentimeter tersebut diproyeksikan akan dibawa ke planet Venus menggunakan pesawat ruang angkasa Photon, serta diluncurkan oleh roket Electron milik Rocket Lab.

Nantinya, wahana tersebut akan dijatuhkan ke atmosfer dari ketinggian 60 hingga 45 kilometer, yang disinyalir berpotensi adanya kehidupan karena mengandung fosfin seperti di Bumi.

Selain itu, misi Venus Life Finder ini disebut-sebut menjadi respons dari sebuah studi terbaru yang menggemparkan soal planet Venus. Dalam sebuah jurnal yang dirilis di Science Daily, memperkirakan bahwa hantaman asteroid besar di Bumi miliaran tahun lalu berpotensi melemparkan batuan berisi mikroba ke luar angkasa, hingga terperangkap di lapisan awan Venus.

Hipotesis tersebut kemudian diasumsikan jika teori yang berkembang benar adanya seiring penelitian masif ke Venus, ada kemungkinan kehidupan yang terdeteksi di planet tersebut sebenarnya berasal dari Bumi. Alhasil, sudut pandang mengenai planet Venus tampaknya akan mulai bergeser.

Mengapa Para Ilmuwan Melirik Venus?

Mengutip Science Direct, Venus menjadi salah satu planet yang banyak dilirik para ilmuwan soal kemungkinan adanya kehidupan di planet lain selain Bumi. Meskipun pada permukaan dasarnya memiliki suhu ekstrem, tetapi lapisan atmosfer pada ketinggian sekitar 50-60 kilometer menawarkan kondisi suhu dan tekanan yang lebih moderat atau cenderung aman.

Venus sendiri termasuk salah satu planet yang cukup dekat dengan Bumi di tata surya, dengan massa dan ukuran yang cukup mirip pula. Berkat kemiripannya itu, Venus dikenal sebagai "planet saudara" Bumi. Dalam sebuah studi, Venus juga disebut memiliki lautan magma, yang secara bertahap mendingin selama beberapa ratusan juta tahun.

Akan tetapi, karena jaraknya yang lebih dekat dengan Matahari, kondisi tersebut menyebabkan efek rumah kaca yang tak terkendali di Venus. Sehingga, membuat kondisi iklimnya menjadi tidak layak huni. Terlebih, kondisi permukaannya yang keras juga membuat bentuk kehidupan diklasifikasikan tidak mungkin bertahan hidup.

Namun, wilayah atmosfernya, terutama pada ketinggian 50 hingga 70 kilometer di atas permukaan, memiliki suhu dan tekanan yang diperkirakan mirip dengan bumi.

Misi eksplorasi ruang angkasa sendiri mulai masif sejak awal tahun 1950-an. Kala itu, para ilmuwan memanfaatkan teleskop, wahana antariksa robotik yang melakukan penerbangan lintas untuk pengambilan gambar dan pengumpulan data, pendaratan lunak wahana pendarat, serta penjelajah di Bulan dan Mars. Sementara eksplorasi terhadap Venus mulai gencar dilakukan pada dekade 1960-an hingga 1980-an oleh Uni Soviet melalui Program Venera.

Ilustrasi Planet Mars

Ilustrasi Planet Mars. foto/istockphoto

Seorang Profesor Ilmu Planet Kelas 1941 di Departemen Ilmu Bumi, Atmosfer, dan Planet (EAPS) MIT sekaligus peneliti utama untuk Misi Pencari Kehidupan Venus, Sara Seager, menyebut bahwa tujuan mulai digencarkannya penelitian ke Venus karena planet tersebut disebut sebagai "saudara yang terabaikan" dalam astrobiologi. Selain itu, ia juga menyinggung soal misteri yang masih belum terpecahkan di Venus.

"Ada misteri-misteri yang masih belum terpecahkan di Venus yang tidak bisa kita selesaikan kecuali kita kembali ke sana secara langsung. Anomali kimia yang masih ada yang membuka kemungkinan adanya kehidupan," ungkap Sara Seager, dikutip MIT News.

Selain itu, banyak ilmuwan yang tertarik melirik Venus karena planet tersebut dipenuhi oleh gunung berapi yang memuat magma dalam skala cukup besar. Kondisi tersebut membuat peneliti ingin memahami bagaimana interior Venus bekerja serta membandingkannya dengan aktivitas vulkanik maupun pergerakan lempeng tektoniknya dengan Bumi.

Terlebih, dalam beberapa laporan lainnya menyebut bahwa Venus memiliki perilaku rotasi yang sangat aneh, seolah berputar terbalik dibandingkan mayoritas planet lainnnya. Selain memiliki rotasi lambat dibanding Bumi, kondisi tersebut memungkinkan Matahari terbit berlawanan dari barat.

Selain itu, para peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh soal planet Venus karena pada tahun 2020 lalu, sekelompok ilmuwan mengumumkan bahwa mereka mendeteksi adanya fosfin di awan planet tersebut, yang menunjukan soal kemungkinan adanya kehidupan, seperti halnya di Bumi.

Temuan Fosfin dan Indikasi Kehidupan di Venus

Mengutip National Geographic, pada 2020 lalu, para ilmuwan mengungkapkan sebuah informasi yang memicu dugaan adanya kemungkinan aktivitas biologis. Kala itu, peneliti mengidentifikasi sesuatu yang mematikan di antara awan yang menyelimuti Venus, yaitu Fosfin, sebuah gas berbau menyengat yang mudah terbakar.

Temuan Fosfin pada awan Venus kemudian disebut sebagai salah satu bukti mengenai kemungkinan adanya kehidupan planet tersebut. Namun, pernyataan tersebut masih banyak diperdebatkan hingga kini dan belum dapat diklasifikasikan sebagai bukti kehidupan mutlak.

Di samping itu, dugaan soal kemungkinan adanya kehidupan itu tetap mengacu pada fosfin yang hanya bisa diproduksi oleh kehidupan, baik oleh manusia maupun mikroba yang hidup di rawa-rawa. Bahkan, unsur tersebut juga pernah digunakan sebagai senjata kimia selama Perang Dunia I.

Indikasi soal kemungkinan adanya kehidupan bisa saja terbilang terlalu dini. Pasalnya, Venus dikenal sebagai salah satu planet yang sangat berbahaya dan dapat membunuh penduduk Bumi karena permukaannya dapat mencapai suhu yang sangat panas, yaitu sekitar 900 derajat Fahrenheit, atau 90 kali lipat lebih besar tekanannya dibanding di permukaan Bumi.

“Meskipun kondisi permukaan Venus membuat hipotesis adanya kehidupan di sana tidak masuk akal, awan Venus adalah cerita yang sama sekali berbeda,” tulis Carl Sagan dan Harold Morowitz dalam jurnal Nature pada tahun 1967, dikutip National Geographic.

Planet Venus

Planet Venus. foto/istockphoto

Sebagian ilmuwan lainnya menyoroti sebagian atmosfer Venus menyerap lebih banyak sinar ultraviolet daripada yang diperkirakan. Hal itu diduga disebabkan oleh keberadaan mikroba di udara, serta kemungkinan adanya organisme di Venus yang hidup di udara.

Pada Juni 2017, Jane Greaves dari Universitas Cardiff dan rekan-rekannya melakukan pengamatan terhadap langit Venus menggunakan Teleskop James Clerk Maxwell. Hasilnya, mereka menemukan beberapa tanda yang merujuk pada gas fosfin, molekul piramidal yang terdiri dari tiga atom hidrogen yang bergabung dengan satu atom fosfor. Temuannya itu membuat Greaves menyimpulkan bahwa fosfin dapat jadi salah satu penanda kehidupan.

Selaras dengan temuannya, tim dari MIT, Janusz Petkowski, ilmuwan dari Riset EAPS, menyimpulkan juga bahwa tidak ada penjelasan fosfin yang terdeteksi di awan Venus, selain keberadaan kehidupan.

"Berarti bahwa ini adalah kehidupan, atau ini adalah semacam proses fisik atau kimia yang tidak kita harapkan terjadi di planet berbatu," ungkap Janusz Petkowski, dikutip MIT.

Terlepas dari hal itu, para ilmuwan juga tetap memberikan peringatan bahwa deteksi soal dugaan adanya kehidupan di Venus karena fosfin perlu diverifikasi lebih lanjut. Atas dasar itu pula misi mengeksplorasi planet tersebut mulai gencar, termasuk program Venus Life Finder yang digagas oleh Rocket Lab dan MIT, yang direncanakan akan dijalankan paling cepat tahun 2026 ini.

Misi Venus Life Finder

Rocket Lab bersama MIT menginisiasi eksplorasi antariksa lanjutan ke planet Venus bertajuk "Venus Life Finder". Misi tersebut dirancang khusus untuk menyelidiki komposisi kimia awan pada planet, sekaligus mencari kemungkinan soal tanda-tanda kehidupan.

Mengutip Rocket Lab, misi swasta pertama ke Venus ini akan menggunakan kendaraan peluncur Electron dan pesawat ruang angkasa milik perusahaan tersebut. Dengan wahana yang dirancang khusus, nantinya para ilmuwan bakal mengirimkan wahana ke ketinggian sekitar 30 mil, di mana kondisi atmosfer Venus lebih mendekati kondisi Bumi.

Sebuah studi di Institut Studi Antariksa Goddard NASA pada 2019 sempat membeberkan bahwa para ilmuwan menemukan bahwa Venus mungkin pernah menjadi planet yag layak huni seperti Bumi, dengan memiliki lautan dangkal di permukaannya selama dua hingga tiga miliar tahun.

Akan tetapi, sekitar 700 juta tahun lalu, peristiwa pembentukan kembali permukaan melepaskan karbon dioksida ke atmosfer, yang mengubah Venus jadi planet berbahaya karena memiliki suhu atmosfer mencapai 1.000 derajat Fahrenheit.

Tata Surya

Ilustrasi Tata Surya. Foto/Istock

Lewat misi Venus Life Finder, Rocket Lab dan MIT akan menjatuhkan sebuah wahana kecil ke atmosfer Venus untuk memindai molekul organik, yang diperkirakan dapat jadi penanda kemungkinan soal adanya kehidupan. Wahana tersebut dilengkapi dengan satu instrumen sains yang dapat jadi perantara untuk mempelajari wilayah spesifik atmosfer Venus dengan biaya yang jauh lebih rendah.

Setelah dijatuhkan, wahana seberat 20 kilogram dengan lebar sekitar 40 sentimeter tersebut akan mengumpulkan data selama tiga hingga lima menit ketika jatuh dari ketinggian 60 hingga 45 kilometer. Saat melintasi titik tersebut, instrumen Nefelometer Autofluoresensi (AFN), akan memancarkan laser melalui jendela kecil, yang dapat mendeteksi molekul-molekul yang ada di awan Venus.

Dalam laporan The Planetary Society, selanjutnya setelah wahana menyebarkan cahaya yang dapat ditangkap oleh instrumen, alat tersebut bakal mengukur konsentrasi, ukuran, serta bentuk molekul. Sehingga, wawasan mengenai komposisi pada molekul yang ada dalam awan-awan tersebut kemungkinan dapat terdeteksi.

Wahana ini diklaim akan mengirimkan hasilnya kembali ke Photon, kemudian diteruskan ke Bumi. Setelah beroperasi, wahana tersebut akan terus jatuh menuju permukaan Venus hingga hancur.

Akan tetapi, wahana yang dibawa oleh pesawat Photon ini disebut tidak akan mencari fosfin, melainkan hasil pengamatannya diharapkan bisa membantu para ilmuwan untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai apa yang sebenarnya yang ada di awan Venus.

Lewat misi tersebut, Rocket Lab berencana jika berhasil mendeteksi senyawa organik di atmosfer Venus, kemungkinan hasilnya akan memberikan sudut pandang berbeda soal planet tersebut, yang diklaimnya dapat menunjukkan bahwa Venus, yang sejak lama dianggap sebagai planet yang tidak layak huni, ternyata memiliki aktivitas pada atmosfernya, bahkan memperkuat soal kemungkinan adanya kehidupan.

Baca juga artikel terkait PLANET atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Byte
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora