Menuju konten utama

Tabebuya di Indonesia Mekar Mirip Sakura di Jepang, Kok Bisa?

Bunga Tabebuya banyak dikira mirip Sakura Jepang. Padahal, Tabebuya dan Sakura memiliki sejumlah perbedaan, termasuk asal usul bunga. 

Tabebuya di Indonesia Mekar Mirip Sakura di Jepang, Kok Bisa?
Pohon Tabebuya. iStockphoto/GettyImages
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bunga Tabebuya bermekaran setiap musim kemarau, dengan tampilan daun warna pink dan merah muda. Selama ini, Tabebuya dianggap menyerupai Sakura Jepang, kendati memiliki asal usul yang jauh berbeda.

Bunga Tabebuya atau Tabebuia yang bermekaran kerap jadi penanda peralihan musim. Pasalnya, genus tanaman bunga dalam famili Bignoniaceae ini akan mekar setiap musim kemarau. Puncak mekar sering kali terjadi bulan September hingga Oktober.

Di Indonesia, bunga Tabebuya sendiri cukup banyak ditemukan. Dengan karakter dan penampilan yang cantik, Tabebuya dijadikan ornamen hiasan, baik di pinggir jalan maupun area publik. Tujuannya menciptakan keindahan suasana khas musim semi.

pohon tabebuya di Cikini Raya

Suasana pohon tabebuya di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026) siang. tirto.id/Muhammad Naufal

Selain memiliki nilai estetika yang cukup tinggi, alasan utama bunga Tabebuya banyak ditempatkan di ruang publik adalah tipe akar tunggang yang relatif aman bagi infrastruktur, serta menyerap polutan kendaraan dan karbon dioksida. Sehingga, tanaman ini juga dapat berfungsi meminimalisir polusi udara.

Sekilas, banyak yang mengira bahwa bunga Tabebuya mirip bunga Sakura Jepang. Alasannya warna yang cenderung nyaris sama, terutama ketika mekar dengan menampilkan nuansa pink.

Asal Muasal Tabebuya

Tabebuya atau Tabebuia (Handroanthus) merupakan tumbuhan dari famili Bignoniaceae. Sebagaimana dikutip dari Missouri Botanical Garden, genus ini sebagian besar terdiri dari pohon tropis dan subtropis, yang dikenal juga dengan sebutan pohon terompet (Trumpet Tree).

Berbeda dengan bunga Sakura yang berasal dari Jepang, bunga Tabebuya memiliki habitat asli di Meksiko, Argentina di selatan, hingga Kolombia dan Venezuela bagian utara. Adapun keanekaragaman spesies tercatat paling besar di Kuba dan Pulau Hispaniola.

Dari segi penamaan, mengutip Treeworld Wholesale, nama genus Tabebuia berasal dari bahasa Tupi di Amerika Selatan yang berarti pohon semut, atau merujuk pada semut yang tampak menghuni pohon tersebut. Fungsi utama adalah peneduh sekaligus tanaman hias.

Pohon Tabebuya

Pohon Tabebuya. iStockphoto/GettyImages

Selain bertindak sebagai pohon hias, Tabebuia juga kerap difungsikan sebagai upaya pelestarian lingkungan, karena sifatnya yang dapat menyerap polutan. Selain itu, bunga yang berbentuk terompet juga merupakan sumber makanan bagi burung kolibri dan lebah.

Selain banyak digunakan sebagai tanaman hias bernilai estetis tinggi, beberapa spesies tanaman kerap dijadikan sumber kayu yang penting. Pohon memiliki bobot sedang, tahan lama, serta cukup populer untuk pembuatan berbagai kebutuhan rumah tangga.

Ketika mekar, Tabebuya menampilkan warna bunga yang beragam, sesuai kondisi lingkungan, mulai dari ungu, merah muda, pink, kuning, hingga putih. Kehadiran pohon bakal menunjukan perbedaan, karena memiliki warna yang sangat kontras, yang hampir monokromatik.

Berdasarkan sejumlah penelitian, sekitar selusin spesies Tabebuia populer sebagai pohon berbunga hias, memiliki tinggi berkisar 15 hingga lebih dari 100 kaki. Di El Salvador, jenis Tabebuia rosea ditetapkan sebagai pohon nasional.

Pohon tabebuya di Surabaya

Sejumlah pohon tabebuya yang tumbuh di pinggir jalan berbunga di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/9/2025). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/tom.

Perbedaan Tabebuya dan Sakura

Perbedaan paling mencolok antara Bunga Tabebuya dan Sakura adalah asal-usul kedua tanaman. Tabebuya berasal dari Amerika Selatan dan banyak tumbuh di daerah tropis maupun subtropis. Sedangkan Sakura berasal dari Jepang, yang notabene banyak tumbuh di beberapa negara di Asia timur.

Mengutip situs web Telkom University, kedua bunga ini juga bukan berasal dari keluarga atau famili yang sama. Tabebuya berasal dari famili Bignoniaceae dan genus Handroanthus atau Tabebuia, sementara Sakura berasal dari famili Rosaceae (suku mawar-mawaran) dan genus Prunus.

Perbedaan lain adalah bentuk bunga. Tabebuya memiliki bentuk bunga tubular atau menyerupai terompet/corong, dengan ukuran lebih besar (sekitar 3-11 cm). Adapun bunga Sakura cenderung berukuran lebih kecil dengan bentuk mahkota bunganya berlepasan atau tidak menyatu seperti terompet.

Bunga sakura Jepang

seorang warga memotret bunga sakura yang bermekaran di tokyo, jepang, senin (30/3). antara foto/reuters/toru hanai/ox/15.

Kelopak Tabebuya cenderung lebih tebal, bertekstur agak kasar, namun kokoh. Berbeda dengan Sakura yang memiliki lima kelopak utama dengan tekstur yang sangat halus, lembut, juga rapuh.

Warna bunga pun terbilang cukup kontras. Tabebuya dilengkapi warna yang lebih cerah dan mencolok (kuning terang, merah muda/pink, ungu/magenta, putih). Sementara Sakura didominasi warna-warna lembut seperti putih, merah muda pucat, atau sedikit keunguan.

Selain itu, waktu mekar kedua pohon ini juga berbeda. Tabebuya banyak mekar di musim kemarau atau musim panas (di Indonesia biasanya mekar Juli-Agustus dan puncaknya September-Oktober), serta dapat mekar beberapa kali dalam setahun, meski terbilang jarang karena bergantung pada daerah atau wilayahnya.

Pohon tabebuya di Surabaya

Sejumlah pohon tabebuya yang tumbuh di pinggir jalan berbunga di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/9/2025). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/tom.

Adapun bunga Sakura hanya mekar sekali dalam setahun, setiap musim semi atau sekitar akhir Maret hingga pertengahan April di Jepang. Namun, bunga ini cenderung lebih cepat gugur, dibandingkan Tabebuya yang bisa bertahan 1-2 minggu.

Tabebuya banyak tumbuh subur di daerah dengan iklim tropis maupun subtropis. Sementara Sakura hanya bisa tumbuh subur di daerah yang beriklim sedang, seperti Jepang, Korea, hingga Taiwan.

Dari segi karakteristik daun, Tabebuya memiliki daun yang cenderung akan hijau sepanjang tahun, berbeda dengan daun Sakura yang muncul ketika bunga telah berguguran.

Kenapa Tabebuya Bisa Mekar Mirip Sakura?

Tabebuya memiliki karakteristik yang cenderung suka dengan sinar matahari penuh. Pada saat memasuki musim kemarau atau iklim tropis kering, pohon bakal merontokkan daun secara alami, sehingga memicu bunga bermekaran secara serentak.

Tabebuya bisa mekar mirip Sakura karena pohon Tabebuya memiliki mekanisme pertahanan hidup ketika menghadapi musim kemarau atau cuaca panas ekstrem. Pohon berguguran saat peralihan musim dari kemarau ke musim hujan sebagai respons stres alami yang memicu pembuangan secara massal.

Gunung Fuji

Gunung Fuji di Jepang. foto/IStockphoto

Kondisi tersebut dapat terjadi karena pada saat peralihan musim, hormon dalam pohon terpacu untuk merangsang pertumbuhan bunga secara serentak, yang terdorong karena adanya asupan sedikit air atau stimulus cuaca tertentu.

Sebelum mekar, pohon Tabebuya biasanya merontokkan nyaris seluruh daun (Defoliasi), yang membuat ranting hanya menyisakan bunga, seperti fenomena Sakura Blossom.

pohon tabebuya di Cikini Raya

Suasana pohon tabebuya di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026) siang. tirto.id/Muhammad Naufal

Setelah daun-daun berguguran, pohon Tabebuya menampilkan kelompok bunga berbentuk seperti terompet yang padat di ujung ranting, dengan nuansa merah muda atau putih. Secara visual mirip seperti merah muda khas Sakura, namun gradasi lebih mencolok dan terang.

Warna-warna cerah bunga Tabebuya (seperti merah muda/pink, putih, kuning, ungu/magenta) muncul secara alami melalui kandungan pigmen (seperti antosianin dan karotenoid) pada sel mahkota bunga. Proses ini sama seperti mekanisme pembentukan warna bunga pada umumnya.

Baca juga artikel terkait BUNGA atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Edusains
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo