Menuju konten utama

Misi Antariksa Jepang Menuju Planet Mars

Misi MMX Jepang berencana mengambil minimal 10 gram sampel Phobos guna mengungkap asal-usul bulan Mars dan evolusi Tata Surya.

Misi Antariksa Jepang Menuju Planet Mars
Ilustrasi Planet Mars. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah roket bakal bertolak dari Pusat Antariksa Tanegashima Jepang pada 20 Oktober 2026 pukul 04.41 waktu Jepang atau 02.41 WIB. Menurut Badan Antariksa Jepang (JAXA), muatan roket adalah wahana Martian Moons eXploration (MMX).

Wahana tersebut bakal berusaha mengambil setidaknya 10 gram tanah dari Phobos, bulan terbesar Mars. Angka itu kecil, tapi belum pernah ada sampel dari wilayah Mars yang bisa sampai ke Bumi.

Merujuk laman resmi Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), perjalanan wahana MMX diproyeksi memakan waktu lima tahun. NASA menjelaskan MMX dijadwalkan tiba di Mars pada Agustus 2027 untuk memulai survei di dua bulan planet merah tersebut, Phobos dan Deimos.

Usai mempelajari Phobos secara detail, MMX akan mengambil sampel material dari permukaan paling cepat pada Desember 2028. Wahana ini kemudian bakal membawa sampel tersebut balik ke Bumi pada 2031.

Tata Surya

Ilustrasi Tata Surya. Foto/Istock

Alasan Misi MMX Jepang ke Mars

Misi MMX dirancang untuk menjawab pertanyaan mendasar tentang asal-usul Phobos dan Deimos. Berdasarkan keterangan via laman resmi JAXA, para ilmuwan masih berdebat apakah kedua bulan Mars itu terbentuk dari puing-puing akibat tumbukan besar dengan Mars pada masa awal pembentukan planet.

Atau justru merupakan asteroid yang tertangkap oleh gravitasi Mars dari wilayah luar Tata Surya. Pengamatan wahana MMX selama mengorbit dan mempelajari dua bulan milik Mars bakal memberi gambaran awal seputar karakteristik permukaan.

Adapun analisis sampel yang dibawa balik ke Bumi diharapkan bisa memberi info lebih rinci tentang komposisi material Phobos. Data itu disebut bisa membantu para ilmuwan menguji dua teori utama mengenai pembentukan kedua bulan Mars.

Phobos dan Deimos

Phobos dan Deimos. foto/istockphoto

Selain meneliti asal-usul Phobos dan Deimos, MMX juga bakal mengamati atmosfer Mars serta lingkungan ruang angkasa di sekitar Phobos dan Deimos.

Pengamatan ini, menurut JAXA, diharapkan mampu menjelaskan bagaimana material atmosfer Mars bergerak dan terlepas ke ruang angkasa, sekaligus memperluas pemahaman menyangkut proses evolusi planet tersebut dalam jangka panjang.

Adapun temuan misi MMX juga berpotensi menjawab pertanyaan yang lebih luas tentang sejarah Tata Surya, terutama bagaimana kondisi yang memungkinkan proses kimiawi pemicu munculnya kehidupan dapat terbentuk dan bertahan sampai sekarang.

Phobos dan Deimos, Dua Bulan Milik Mars

Phobos berdiameter sekitar 23 km, sementara Deimos sekitar 12 km. Kalau tidak mengorbit Mars, keduanya mungkin hanya akan dianggap asteroid. Masing-masing ditemukan pada abad ke-19, tetapi belum pernah dijelajahi langsung. JAXA menyebutnya sebagai "puncak yang belum terjamah" di Tata Surya.

Asal-usulnya masih diperdebatkan. Hipotesis pertama menyebut keduanya adalah asteroid dari bagian luar Tata Surya yang tertangkap gravitasi Mars.

Di lain sisi, hipotesis kedua menyebut bahwa tumbukan raksasa di Mars muda melontarkan puing ke orbit, kemudian puing itu menggumpal jadi bulan. JAXA mengakui secara teoretis belum ada dasar untuk memilih salah satu.

Planet Mars

Gambaran elemen permukaan Planet Mars yang rilis oleh NASA [Foto/Shutterstock]

Phobos dipilih sebagai target ketimbang Deimos karena beberapa alasan, salah satunya karena data pengamatan jauh lebih banyak. Di samping itu, permukaan Phobos memiliki wilayah "merah" dan "biru" yang berbeda spektrum, sementara Deimos hanya merah, sehingga sampel Deimos saja sulit menjelaskan asal-usul Phobos.

Adapun material Mars yang terlontar akibat tumbukan juga diperkirakan lebih dari dua orde magnitudo lebih banyak di Phobos karena orbitnya lebih dekat. Singkatnya, sampel Phobos bisa memuat "oleh-oleh" dari Mars.

Sebagaimana tercatat dalam studi Hyodo dan kolega di Jurnal Nature berjudul "Transport of impact ejecta from Mars to its moons as a means to reveal Martian history" (2019), jumlah material Mars yang sampai ke Phobos diprediksi 100 kali lebih banyak dari dugaan sebelumnya.

Tujuan Misi Jepang ke Planet Mars

Dalam menjalankan misi pertama, MMX nantinya bakal menelusuri asal-usul satelit-satelit Mars dan mengungkap sejarah evolusi sistem Mars. Selanjutnya, misi kedua adalah membangun fondasi untuk eksplorasi antariksa masa depan.

MMX juga mengusung misi pengembangan teknologi yang memungkinkan untuk misi pulang-pergi ke orbit Mars dan akses ke satelit-satelit planet tersebut.

Sekitar setahun setelah diluncurkan nanti, MMX bakal tiba di Mars, lalu masuk orbit di sekitar Phobos. Sebelum pulang, MMX melintas dekat Deimos untuk membandingkan.

Planet-planet tata surya

Planet-planet tata surya. Matahari, Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus. Galaksi, nebula, bintang. Format lebar. FOTO/iStockphoto

Keberangkatan dari sistem Mars dijadwalkan pada 2030, kapsul kembali ke Bumi pada 2031, dan bakal dipungut di Australia. Kawakatsu Yasuhiro selaku Manajer Proyek MMX JAXA menyebut timnya sudah mulai merintis misi ini sekitar sepuluh tahun lalu.

"Ini adalah rencana yang ambisius. Misi ini sudah mendapat banyak perhatian internasional. Dengan para peneliti dan insinyur dari Jepang dan luar negeri yang bekerja sama untuk mengatasi berbagai tantangan, kami akhirnya mendekati peluncuran pada 2026," tulis Yasuhiro.

"Kami akan sangat berterima kasih atas dukungan Anda selama lima tahun nanti, sejak wahana meluncur sampai kepulangan kami ke Bumi," lanjutnya.

Jika kapsul tiba di Australia sesuai jadwal, sampel akan dianalisis ilmuan Jepang dan dunia. Selain bisa menjawab asal-usul dua bulan kecil milk Mars, sampel juga diharapkan bisa membantu untuk mengetahui mekanisme yang membawa air dan materi organik ke planet-planet berbatu.

Baca juga artikel terkait MISI LUAR ANGKASA atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Byte
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid