tirto.id - Sensasi gemetar atau menggigil secara mendadak saat atau setelah buang air kecil dikenal sebagai post-micturition convulsion syndrome atau Pee Shivers. Kondisi ini wajar dan umum dialami oleh laki-laki dibanding perempuan.
Secara ilmiah, belum banyak penelitian yang mengkaji tentang Pee Shivers. Namun, terdapat dua anggapan yang melatarbelakangi terjadinya Pee Shivers. Pertama adalah sensasi penurunan suhu. Dan yang kedua, keterlibatan antara sistem saraf otonom.
Meski wajar terjadi, menggigil saat buang air kecil yang disertai sensasi terbakar dan nyeri hebat mengindikasi adanya permasalahan di saluran kemih. Hal ini perlu penanganan khusus oleh tenaga medis agar mendapat pertolongan yang tepat sebelum terlambat.
Apa Itu Pee Shivers, Gejala, & Penyebabnya?
Pee Shivers dapat terjadi setelah maupun saat sedang mengeluarkan urine. Secara akademis, fenomena ini masih jarang dikaji dan belum ada penyebab pasti. Namun, ada beberapa teori yang menjelaskan terjadinya Pee Shivers.
Secara umum, menggigil saat buang air kecil bisa dialami oleh siapa saja, bahkan sejak usia bayi. Fenomena ini lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Terdapat dua kemungikinan penyebab yang menjelaskan Pee Shivers, yaitu sensasi penurunan suhu serta keterlibatan antara sistem saraf otonom dan sistem saraf tepi saat kencing.
Perubahan suhu di area selangkangan dianggap memicu sensasi menggigil pada sebagian orang. Saat buang air kecil, kita akan melepaskan pakaian yang menyebabkan bagian tubuh yang tadinya hangat menjadi terpapar suhu ruangan yang lebih rendah. Kondisi ini membuat seseorang merasa lebih dingin, sehingga tubuh merespons dengan cara menggigil untuk mengembalikan kehangatan dan suhu tubuh.

Penjelasan lain menyebut keluarnya urine yang hangat dari dalam tubuh menyebabkan sedikit penurunan suhu tubuh. Dalam kondisi ini, tubuh secara alami akan merespons dengan menggigil untuk menghasilkan panas dan menghangatkan diri.
Penjelasan kedua berkaitan dengan persilangan sinyal di dalam sistem saraf. Saat membuang, sistem saraf otonom (SSO) memegang kendali otot-otot yang bekerja secara tidak sadar (involunter), seperti detak jantung, laju pernapasan, pencernaan, pengaturan suhu tubuh, dan buang air kecil.
Dalam anatomi tubuh, SSO terbagi menjadi dua bagian, yaitu sistem simpatis dan sistem parasimpatis. Sistem simpatis adalah sistem darurat yang mengatur respons "lawan atau lari" (fight-or-flight). Sementara itu, sistem parasimpatis berfungsi merilekskan tubuh dan mengembalikannya ke kondisi istirahat.
"Saat kandung kemih penuh, saraf-saraf di sumsum tulang belakang yang disebut saraf sakral akan teraktivasi. Hal ini memicu sistem saraf parasimpatis untuk bekerja, sehingga dinding kandung kemih bersiap mendorong urine keluar dari tubuh," jelas Caleb Backe, pakar kesehatan dan kebugaran di Maple Holistics, dikutip dari Healthline, 8 April 2019.
"Ketika urine keluar dari tubuh, tekanan darah akan turun, yang kemudian memicu respons reaktif dari sistem saraf simpatis," lanjutnya.
Sistem saraf simpatis kemudian membanjiri tubuh dengan neurotransmiter yang disebut katekolamin, sebagai upaya memulihkan tekanan darah. Proses yang melibatkan kedua komponen sistem saraf ini, menurut Backe, memicu respons menggigil secara tidak sadar saat buang air kecil.

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Matt Barton, peneliti di Griffiths University. Ia menjelaskan sistem saraf otonom dalam merespons keinginan untuk kencing. Saat kandung kemih terisi cairan, dindingnya meregang dan mengirimkan sinyal ke otak.
Pusat kendali buang air kecil di otak kemudian mengirimkan sinyal balik melalui sistem parasimpatis dan saraf panggul untuk memicu kontraksi otot kandung kemih, yang meningkatkan tekanan di dalamnya.
"Keputusan untuk buang air kecil atau tidak biasanya bersifat sadar (volunter), namun proses buang air kecil itu sendiri dikendalikan oleh sistem saraf otonom, khususnya komponen parasimpatis, yang biasanya menangani fungsi-fungsi tubuh saat beristirahat, seperti pencernaan. Dalam hal ini, sistem parasimpatis bekerja memicu otot kandung kemih untuk berkontraksi, sehingga urine dikeluarkan," ujar Dr. Matt Barton, dikutip dari Men's Health pada 24 Maret 2021.

Saat urin dikeluarkan, sinyal peredam dikirim dari pusat miksi (pusat pengaturan buang air kecil) ke saraf simpatis. Hal ini menciptakan relaksasi uretra bagian dalam dan leher kandung kemih, sehingga urine dapat mengalir keluar. Sinyal tambahan juga dikirim melalui sumsum tulang belakang untuk membuka otot sfingter eksternal.
"Saat urine keluar dari tubuh, secara aneh terjadi penurunan tekanan darah. Kondisi ini memicu aktivasi sistem saraf simpatis untuk meningkatkan detak jantung dan tonus vaskular, yang kemudian memulihkan tekanan darah tersebut," lanjutnya.
Proses ini menghasilkan sinyal campuran antara dua komponen sistem saraf otonom, yang diduga memicu respons menggigil secara tidak sadar. Proses inilah yang mungkin melatarbelakangi laki-laki lebih sering mengalami sensasi menggigil saat buang air kecil dibandingkan wanita.
Sebab, laki-laki cenderung buang air kecil dengan posisi berdiri. Akibatnya, mereka lebih rentan mengalami penurunan tekanan darah, yang kemudian memicu respons menggigil tersebut.

Pee Shivers Apakah Termasuk Berbahaya?
Pee shivers atau sensasi menggigil saat buang air kecil mungkin disebabkan oleh penurunan suhu tubuh secara tiba-tiba atau adanya sinyal yang bercampur di dalam sistem saraf. Secara umum, kondisi ini tidak berbahaya dan wajar.
Menggigil paling sering terjadi saat seseorang merasa kedinginan. Otot bergerak dan menghasilkan panas. Oleh karena itu, saat seseorang merasa kedinginan, otot-ototnya mulai menegang dan mengendur dengan cepat secara berulang untuk memproduksi panas. Kondisi ini biasanya bersifat sementara dan akan berhenti setelah suhu tubuh seseorang kembali hangat
Melansir laman National Health Service Inggris, tidak semua menggigil dianggap wajar. Menggigil juga bisa menjadi gejala dari penyakit fisik maupun kondisi kesehatan mental. Penyebab menggigil yang paling umum adalah demam.

Suhu tubuh rata-rata manusia adalah sekitar 98,6° F (37° C). Dokter biasanya mendefinisikan demam sebagai kondisi ketika suhu tubuh berada di atas 100,4° F (38° C). Demam umumnya terjadi akibat infeksi, peradangan atau reaksi alergi.
Menggigil, atau lebih tepatnya gemetar juga dapat disebabkan karena stres atau faktor kesehatan mental lainnya. Kondisi ini biasanya terjadi akibat gangguan gerak psikogenik, yang dapat memengaruhi bagian tubuh mana pun.
Menggigil juga dapat terjadi saat sadar kembali setelah menerima anestesi umum. Kondisi ini dikenal sebagai menggigil pasca-anestesi. Suhu tubuh seseorang dapat menurun selama prosedur pembedahan, yang menyebabkan mereka menggigil saat terbangun setelah operasi selesai. Anestesi juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur suhu, sehingga tubuh kesulitan untuk kembali hangat dengan cepat setelah operasi.
Jika mengalami pusing saat buang air kecil, sensasi terbakar saat buang air kecil, atau terdapat darah dalam urine, disarankan segera datang ke dokter guna menjalani pemeriksaan. Sebagaimana dikutip dari Medical News Today,hal ini mengindikasi adanya permasalahan saluran kemih.

Saluran kemih terdiri dari uretra, kandung kemih, ureter, dan ginjal. Ureter adalah saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih. Peradangan pada salah satu organ tersebut dapat menyebabkan rasa nyeri saat buang air kecil.
Buang air kecil yang terasa nyeri dapat disebabkan oleh infeksi, iritasi akibat produk kebersihan, batu ginjal, atau kondisi medis lainnya, termasuk peradangan pada uretra atau prostat.
Salah satu penyebab buang air kecil yang terasa nyeri adalah infeksi saluran kemih (ISK). Penyakit ini disertai dengan kedinginan, menggigil serta suhu tubuh sangat rendah di bawah 36°C.
Nyeri yang parah saat buang air kecil pada laki-laki juga dapat terjadi karena peradangan kelenjar prostat atau prostatitis. Peradangan bisa menyebar ke area di sekitar prostat dan menimbulkan gejala lain, seperti nyeri punggung bagian bawah, demam, dan kesulitan untuk mulai buang air kecil. Dalam kasus lain, peradangan disebabkan oleh infeksi bakteri, yang dapat ditangani oleh dokter dengan pemberian antibiotik.

Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































