tirto.id - Kulit ujung jari kerap kali berubah berkerut usai berendam di air atau berenang beberapa menit. Fenomena ini sering dianggap terjadi karena kulit menyerap air hingga mengembang.
Namun demikian, hasil penelitian justru menunjukkan bahwa sistem saraf serta perubahan pada pembuluh darah di ujung jari turut mengambil peran terhadap terjadinya kerutan tersebut. Lantas mengapa hanya ujung jari yang terlihat berkerut, serta kapan kondisi seperti ini perlu diwaspadai?
Mitos Jari Berkerut Saat Lama Berendam
Mitos kulit jari berkerut lantaran menyerap air sudah lama beredar di masyarakat. Penjelasan awalnya mengacu pada osmosis, yaitu proses perpindahan air melalui membran semipermeabel akibat perbedaan konsentrasi zat terlarut. Menurut anggapan tersebut air masuk ke lapisan kulit, kemudian membuat jaringan mengembang hingga membentuk kerutan.
Pada penyataannya air memang dapat memengaruhi lapisan terluar kulit. Akan tetapi penyerapan air saja tidak cukup menjelaskan pola kerutan yang muncul selepas seseorang berendam. Jika pembengkakan akibat penyerapan air menjadi penyebab utamanya, lalu kenapa mekanisme kerutan hanya terlihat lebih jelas pada ujung jari tangan dan kaki saja?
Untuk membantah masalah ini, pada 2003 silam seorang ahli saraf Einar Wilder-Smith menunjukkan bahwa kerutan di kulit setelah berendam justru terkait langsung dengan vasokonstriksi, yakni proses penyempitan pembuluh darah.

Dalam Water-immersion wrinkling is due to vasoconstriction (Muscle Nerve 27: 307-311), Wilder-Smith mengukur aliran darah pada subjek sehat di bagian arteri ulnaris, arteri digital, serta pembuluh darah kulit jari, sebelum dan selama kulit mulai berkerut.
Hasilnya, kecepatan aliran darah menurun signifikan dengan penurunan terbesar pada pembuluh darah digital. Pembuluh darah digital adalah pembuluh darah yang bertugas mengalirkan darah ke jari tangan dan kaki. Istilah digital berasal dari kata Latin digitus, yang berarti jari.
Hasil serupa terlihat saat jari diberi krim anestesi EMLA, sebagaimana Wilder-Smith publikasikan di Jurnal Microvascular pada 2003. Pemberian krim tersebut diketahui memicu kerutan dan penyempitan pembuluh darah yang mirip dengan saat seseorang berendam di air.
Adapun respons kerutan pada kulit setelah berendam ini juga dipengaruhi oleh saraf. Sebelumnya, sejak 1979, kerutan akibat air diketahui berkurang atau tidak muncul pada jari seseorang dengan kerusakan saraf. Akhirnya temuan Wilder-Smith kelak dikembangkan sebagai uji untuk neuropati serabut kecil.
Oleh karenanya kerutan di ujung jari selepas berendam di air lebih tepat dipahami sebagai respons aktif tubuh, alih-alih kulit yang menyerap air.
Mengapa Jari Bisa Berkerut Ketika Berendam?
Ketika jari terendam air selama beberapa waktu, sistem saraf otonom berperan mengatur perubahan pada pembuluh darah di ujung jari. Sistem ini mengendalikan berbagai fungsi tubuh yang berlangsung tanpa kendali sadar, termasuk pengaturan diameter pembuluh darah.
Salah satu respons yang muncul yaitu vasokonstriksi. Pembuluh darah kecil di bawah kulit ujung jari bakal menyempit, sehingga volume jaringan di sekitarnya berubah.
Menurut ulasan Wilder-Smith di Jurnal Clinical Autonomic Research (2004), berkurangnya volume bantalan ujung jari menimbulkan tekanan negatif yang menarik kulit di atasnya menuju ke bawah. Hal ini membuat kulit berlipat lalu membentuk kerutan tidak merata.
Lalu, berapa lama seseorang harus berendam hingga jari mulai berkerut?
Dalam studi di Jurnal Skin Pharmacol Physiol (2025), Bruno D. Martimiano dan kolega melakukan percobaan terhadap 24 orang dewasa sehat. Tim peneliti mengamati waktu yang dibutuhkan ujung jari peserta untuk mencapai tingkat kerutan tertentu setelah mendapat berbagai jenis rangsangan.

Hasilnya, kerutan jari akibat berendam di air tidak muncul dengan kecepatan yang sama pada setiap kondisi. Air hangat, larutan asam, tekanan air, dan konsumsi kopi mempercepat terbentuknya kerutan dibanding air biasa pada suhu ruang.
Sebaliknya, para peneliti tidak menemukan kerutan setelah jari peserta direndam selama 30 menit dalam minyak kedelai, air es, larutan basa, atau larutan garam berkonsentrasi tinggi. Mereka juga tidak mengamati ada kerutan saat aliran darah dipengaruhi oleh kondisi iskemia, yakni berkurangnya pasokan darah ke jaringan.
Singkatnya, pembentukan kerutan pada jari dipengaruhi oleh sejumlah faktor fisik, kimia, dan fisiologis. Pada umumnya, kerutan akan berangsur menghilang usai seseorang mengangkat tangan dari air lalu kulit kembali kering.
Kapan Jari Berkerut Perlu Diwaspadai?
Jika perubahan kulit jari berkerut hanya muncul setelah berenang, mandi, atau mencuci dalam waktu lama, kondisi ini biasanya tidak perlu dikhawatirkan.
Sementara itu merujuk Healthline, kerutan yang muncul tanpa paparan air atau tidak kunjung menghilang setelah kulit mengering berpeluang terkait dengan kondisi medis tertentu.
Salah satu kemungkinan penyebabnya yaitu dehidrasi. Saat tubuh kekurangan cairan, kulit berisiko kehilangan sebagian elastisitasnya, sehingga tampak lebih kering dan berkerut. Kondisi tersebut biasanya disertai gejala lain, seperti rasa haus berlebih, mulut kering, kelelahan, urine berwarna kuning gelap, atau pusing.
Diabetes juga bisa memengaruhi kondisi kulit. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang bisa merusak kelenjar keringat, sehingga produksi keringat berkurang lalu kulit menjadi kering. Meski demikian, jari berkerut saja tidak cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang mengalami diabetes.
Selanjutnya, gangguan pada kelenjar tiroid diketahui juga bisa memengaruhi kulit. Pasalnya hormon tiroid berperan untuk mengatur metabolisme tubuh. Pada hipotiroidisme, misalnya, seseorang berisiko mengalami kulit kering, kelelahan, sembelit, dan peningkatan berat badan. Sementara itu, hipertiroidisme bisa menyebabkan keringat berlebih, penurunan berat badan, serta rambut menjadi lebih halus atau rapuh.
Adapun kerutan pada jari juga dapat muncul bersamaan dengan limfedema, yakni penumpukan cairan limfa akibat gangguan pada sistem limfatik. Kondisi ini menyebabkan pembengkakan, rasa berat pada anggota tubuh, serta perubahan tekstur kulit. Jika pembengkakan terjadi pada tangan, jari juga bisa terlihat berkerut.

Lupus, penyakit autoimun yang memicu peradangan, juga bisa menimbulkan perubahan pada kulit, termasuk kemerahan dan pembengkakan di sekitar jari. Kekurangan vitamin B-12 dapat memengaruhi fungsi saraf dan pembentukan sel darah. Kondisi ini bisa disertai kelelahan, gangguan keseimbangan, anemia, atau sensasi kesemutan pada kaki.
Meski demikian, berbagai kondisi medis tersebut memiliki mekanisme dan gejala yang berbeda. Kerutan pada jari bukan gejala khusus yang bisa dengan mudah dipakai untuk memastikan diagnosis penyakit tertentu. Dokter perlu mengetahui keluhan lain, riwayat kesehatan, serta hasil pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya.
Lalu bagaimana penanganannya? Terkait jari berkerut, tergantung pada penyebabnya. Jika kerutan muncul setelah berendam di air, seseorang cukup mentas dari air lalu membiarkan kulit mengering. Kerutan biasanya bakal hilang dengan sendirinya.
Namun demikian, segera konsultasi dengan dokter apabila jari berkerut tanpa paparan air, terutama jika perubahannya menetap atau disertai keluhan lain. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan jika kerutan muncul bersama pembengkakan, perubahan warna kulit, nyeri, atau gangguan sensasi.
Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan dan diagnosis oleh dokter.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id

































