tirto.id - Kondisi tubuh tiba-tiba ambruk bisa mengakibatkan kehilangan kesadaran, pingsan, atau tidak mampu berdiri dan berjalan sendiri. Seorang pelari maraton pun perlu menjaga keamanan dan keselamatan dengan memperhatikan indikator yang bisa menyebabkan kram, pusing, hingga kehilangan kesadaran.
Yoo Ji-won, influencer lari asal Korea Selatan, meninggal dunia setelah mengalami kolaps saat mengikuti ajang Seoul Race 2026 pada 11 Oktober. Kabar kematian Yoo Ji-won pun turut membuat heboh publik.
Sebagaimana diwartakan Koreaboo, mahasiswi pascasarjana di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) itu tak sadarkan diri ketika mengikuti ajang lari kategori Half Marathon di Seoul Race 2026.
Berdasarkan pemberitahuan pihak penyelenggara, peristiwa terjadi pada 11 Oktober 2026 pagi hari. Influencer lari itu tiba-tiba mengalami kolaps atau kehilangan kesadaran mendadak sesaat sebelum mencapai garis finis.

Kejadian yang dialami Yoo Ji-won sebenarnya bukan peristiwa baru di dunia olahraga. Kondisi kolaps atau kehilangan kesadaran mendadak juga terbilang menjadi salah satu hal yang dapat menghantui atlet, karena bisa menyerang kapan saja ketika beraktivitas olahraga.
Lantas, apa penyebab utama para atlet, termasuk pelari maraton, bisa mendadak kehilangan kesadaran hingga berisiko menyebabkan kematian? Simak penjelasan lengkap secara medis.
Kronologi Insiden Yoo Ji-won Saat Lari Maraton
Mengutip unggahan di akun Instagram resmi @seoulrace, kabar kepergian influencer lari Yoo Ji-won terjadi pada 11 Oktober 2026. Ketika itu, ia mengikuti ajang lari Half Marathon di Seoul Race 2026. Kategori ini dimulai pada pukul 07.30 KST waktu setempat di Seoul Plaza.
Akan tetapi, setelah berlari selama hampir satu jam, Yoo Ji-won mendadak pingsan di kilometer ke-20,6 pukul 08.49 KST. Ji-won kehilangan kesadaran, hanya berjarak sekitar 500 meter sebelum mencapai garis finis.
Petugas medis sempat memberikan perawatan darurat dan melakukan tindakan pertolongan pertama. Akan tetapi, sang influencer tak kunjung sadar kembali. Panitia memutuskan membawa ke rumah sakit. Kondisi Yoo Ji-won tak tertolong dan dilaporkan meninggal dunia.
“Kami menyampaikan kabar duka kepada seluruh peserta Seoul Race 2026. Sekitar pukul 08.49 pada tanggal 11 Oktober, terjadi keadaan darurat ketika seorang peserta lomba setengah jarak pingsan di kilometer ke-20,6. Setelah pertolongan pertama segera diberikan di tempat kejadian, peserta tersebut dibawa ke fasilitas medis dengan ambulans 119 untuk perawatan, namun sayangnya, meninggal dunia,” tulis panitia penyelenggara melalui unggahan resminya.
Yoo Ji-won sendiri cukup banyak dikenal. Perempuan berusia 25 tahun itu sedang meneliti semikonduktor AI dan seorang pelari amatir. Sebelum mengikuti Seoul Race, Ji-won sebenarnya sempat berhasil menyelesaikan Maraton Seoul 2026 pada 15 Maret lalu dalam waktu 2 jam 56 menit 32 detik, atau mencapai waktu finis di bawah 3 jam.

Mengapa Pelari Maraton Bisa Mendadak Hilang Kesadaran?
Secara medis, kolaps merupakan kondisi ketika tubuh atau salah satu organ penting (seperti jantung atau sirkulasi darah) tiba-tiba ambruk, runtuh, atau gagal berfungsi. Akhirnya mengakibatkan kehilangan kesadaran, pingsan, atau tidak mampu berdiri dan berjalan sendiri.
Menurut jurnal berjudul "Exercise-associated collapse: an evidence-based review and primer for clinicians" yang diterbitkan National Library of Medicine, kondisi kolaps cukup umum terjadi dalam konteks olahraga. Atlet biasanya mengalami pusing, lemas, hingga vertigo, baik saat menjalankan aktivitas olahraga atau sesudahnya.
Beberapa penelitian menganalisis bahwa kolaps atau hilang kesadaran disebabkan hipotensi postural sementara yang dipicu penumpukan darah di ekstremitas bawah. Setelah atlet berhenti berlari, menghasilkan gangguan barorefleks jantung.

Menurut kacamata medis, kondisi hilangnya kesadaran saat berolahraga kebanyakan disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi sirkulasi darah, cairan tubuh, serta jantung.
Berdasarkan sebuah studi di Health Care University of Utah, pingsan setelah lari atau aktivitas fisik yang intens bisa saja terjadi. Hal ini karena penurunan tekanan darah yang tiba-tiba dan meningkat drastis oleh penumpukan darah di pembuluh darah kaki yang melebar setelah aktivitas olahraga berhenti.
“Saat mengerahkan upaya maksimal, detak jantung dan tekanan darah akan mencapai puncak pada tingkat yang sangat tinggi. Saat perlombaan berakhir, terjadi penurunan tekanan darah yang cepat. Penurunan mendadak ini dapat menyebabkan pusing, kepala terasa ringan, dan dalam beberapa kasus, menyebabkan pingsan,” kata Laura LaMarche, DPT, terapis fisik di Klinik Pelari Universitas Utah.
Kondisi kehilangan kesadaran saat atau setelah aktivitas fisik intens seperti lari maraton kerap disebabkan faktor lain. Misalnya kram otot karena kelelahan akibat penggunaan berulang.
Selain itu, Hiponatremia atau kehilangan terlalu banyak natrium selama aktivitas fisik juga dapat menyebabkan pingsan seketika. Begitupun Hipoglikmia atau gula darah rendah, yang bisa mengakibatkan kehilangan kesadaran mendadak.

Sementara itu dalam studi di Sudden Cardiac Arrest Foundation dengan judul "Why Do Healthy Peopule Die Running Marathons?", henti jantung mendadak banyak jadi penyebab utama atlet yang melakukan aktivitas fisik intens seperti lari maraton, secara tiba-tiba pingsan, lalu meninggal dunia. Kebanyakan kondisi tersebut disebabkan penyakit kardiovaskular yang sudah ada sebelumnya.
Pada individu yang lebih tua, penyebab umum dipicu aterosklerosis atau penyakit arteri koroner. Sementara di kalangan remaja berkisar usia 20-30-an, banyak disebabkan oleh kardiomiopati obstruktif hiper trofic.
“Ini adalah kelainan genetik pada protein yang digunakan oleh sel otot jantung. Jantung menjadi menebal secara tidak normal di satu area dan ketika jantung memompa, jantung kesulitan memompa darah melewati titik yang menebal tersebut. Jantung menjadi sangat, sangat tebal – dua hingga tiga kali lebih tebal dari normal,” kata Dr. eter A. McCullough, MD, MPH, ahli jantung Baylor University Medical Center di Dallas.
McCullough menuturkan bahwa penurunan volume darah bisa jadi indikator paling utama. Pasalnya, kondisi tersebut turut memicu irama jantung abnormal yang berulang serta dapat berkembang sendiri atau disebut aritmia re-entrant. Hal ini diklaim dapat memperburuk hingga memicu henti jantung sepenuhnya. Ujungnya adalah kematian.
Panduan Keselamatan Sebelum Maraton
Kasus kematian saat menjalankan aktivitas fisik intens seperti lari maraton bukanlah insiden baru. Selain menimpa Yoo Ji-won, influencer asal Korea Selatan yang meninggal setelah mengikuti ajang lari Seoul Race, kejadian serupa beberapa kali pernah terjadi, meskipun tidak terlalu masif.
Sebelumnya, dua pelari pria yang mengikuti Great North Run 2026 (Inggris) pada September tiba-tiba mengalami kolaps yang berujung kematian. Di Indonesia, kasus serupa pernah terjadi di ajang BTN Jakarta International Marathon 2026, bulan Juni. Pelari Agus Putrana mendadak ambruk dan kehilangan kesadaran di kilometer 14 rute lomba karena komplikasi jantung dan dehidrasi.
Jika meninjau beberapa kasus tersebut, penting bagi para atlet, terutama pelari maraton, untuk memahami panduan keselamatan guna mengantisipasi atau meminimalisir risiko cedera fatal.

Mengutip CDC, langkah pertama yang perlu diperhatikan untuk menjaga keamanan dan keselamatan saat lari maraton adalah memperhatikan indikator risiko panas yang dapat menyebabkan kram, pusing, hingga kehilangan kesadaran.
Selain itu, menjaga agar tubuh tetap terhidrasi juga terbilang sangat penting agar aliran darah tetap dalam kondisi baik. Tindakan pencegahan juga sangat penting dengan melakukan skrining terhadap perkiraan penyakit sendiri.
Pasalnya, penyakit bawaan bisa jadi pemicu risiko yang lebih tinggi jika diabaikan, seperti asma dan penyakit jantung yang cukup rentan jika tubuh melakukan aktivitas fisik intens. Pemeriksaan atau Medical Check-Up (MCU) dan konsultasi dokter turut berperan penting.
Sebelum mengikuti ajang lari maraton, pelari dianjurkan menerapkan strategi latihan ringan, agar memberikan kesempatan bagi otot-otot dan membiasakan sebelum dipacu lebih intens.

Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id

































