tirto.id - Bystander Effect kerap terjadi dalam situasi darurat. Seseorang dimungkinkan menghadapi kondisi dilematis antara mengambil tindakan atau tidak alias diam saja. Potensi memberikan pertolongan terhadap korban bisa semakin kecil ketika banyak orang yang melihat suatu kejadian darurat.
Pengertian Bystander Effect atau Efek Pengamat merupakan fenomena psikologis yang menunjukkan kehadiran orang lain dapat menghalangi atau membuat seseorang untuk tidak ikut turun tangan dalam situasi darurat.
Sebagaimana dikutip Psychology Today, semakin banyak orang yang melihat suatu insiden, semakin kecil pula kemungkinan untuk memberikan bantuan kepada orang yang sedang kesulitan.
Kondisi tersebut dapat terjadi karena banyak orang yang cenderung bertindak dalam krisis, ketika hanya ada sedikit atau tidak ada orang lain yang melihat kejadian darurat.

Dalam beberapa kasus,Bystander Effect cukup sering terjadi. Misalnya ketika ada kecelakaan di jalanan, perundungan, atau penyerangan. Pada momen tersebut, kebanyakan orang tidak langsung memberikan respons pertolongan, apalagi jika banyak saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Lantas, kenapa Bystander Effect bisa dialami mayoritas orang? Apa saja solusi untuk menangani Efek Pengamat? Simak penjelasan lengkapnya.
Kenapa Bystander Effect Bisa Terjadi?
Menurut sebuah analisa di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya dengan judul "Bystander Effect dan Tantangan Kepedulian Sosial di Ruang Publik", Bystander Effect memberikan gambaran kecenderungan seseorang yang tidak langsung memberikan respons atau pertolongan ketika berada dalam situasi darurat karena melibatkan banyak orang.
Semakin banyak saksi yang hadir di lokasi kejadian, semakin besar pula individu untuk lebih memilih diam dengan asumsi bahwa orang lain akan bertindak.
Fenomena tersebut sebenarnya cukup sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misal, ketika seseorang terjatuh di stasiun atau pusat perbelanjaan yang ramai. Tak jarang orang-orang di sekitarnya justru hanya merespons dengan menoleh sebentar, kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya.
Pada momen tersebut, Bystander Effect menunjukkan bahwa orang-orang cenderung akan langsung berpikir bahwa ada petugas keamanan, tenaga medis, atau orang lain yang dianggap lebih berwenang untuk membantu.
Kondisi ini bisa disebut sebagai difusi tanggung jawab atau pembagian tanggung jawab secara tidak sadar kepada individu lain yang berada di sekitar.

Sejumlah pakar menilai bahwa Bystander Effect termasuk fenomena negatif, yang secara tidak langsung seolah menggambarkan bahwa orang-orang cenderung sudah kehilangan rasa empati.
Istilah Bystander Effect sendiri dicetuskan oleh psikolog sosial Bibb latane bersama rekan kerjanya John Darley pada 1968. Berdasarkan jurnal yang dirilis di Psychology University of Miami dengan judul "When Will People Help in a Crisis?", fenomena tersebut dapat terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor psikologis.
Penyebab pertama adalah difusi tanggung jawab (Diffusion of Responsibility). Kondisi ini dapat terjadi ketika banyak orang yang menyaksikan insiden darurat, rasa tanggung jawab individu justru seolah terbagi. Bahkan, situasi ini memungkinkan orang-orang berasumsi bahwa "akan ada orang lain yang menolong".
Selain itu, ketidaktahuan pluralistik (Pluralistic Ignorance) juga membuat saat kejadian, orang-orang cenderung akan melihat ke arah kerumunan lebih dulu untuk menilai situasi. Jika orang lain terlihat tenang dan tidak merespons dengan memberikan bantuan, individu lainnya mengira bahwa situasi tersebut bukan kondisi darurat.

Lebih jauh lagi, dalam jurnal berjudul From Empathy to Apathy: The Bystander Effect Revisited yang diterbitkan National Center for Biotechnology Information, penyebab lain Efek Pengamat adalah kekhawatiran terhadap evaluasi respons yang diberikan dapat memberikan rasa takut dinilai negatif, terlihat bodoh, atau bahkan salah mengambil tindakan di depan umum.
Pada fenomena ini, Bibb Latane memaparkan seseorang akan memberikan respons atau menolong secara otomatis setelah melewati lima tahapan kritis. Di antaranya menyadari kejadian dan menginterprestasikan sebagai situasi darurat. Lalu merasa memiliki tanggung jawab pribadi, mengetahui cara memberikan bantuan, serta mendorong untuk mengambil tindakan.
Dampak Bystander Effect sebenarnya bisa berakibat fatal. Pasalnya, saat kondisi darurat, korban yang tidak segera memperoleh pertolongan, berisiko mendapatkan konsekuensi yang lebih parah, seperti dalam kasus kecelakaan, pembulian, atau penyerangan.
Jurnal lain dengan judul Bystandar Effect: Literatur Review Respon Pengamat dalam Situasi Darurat yang ditulis oleh Farah Balqis Firdaus dan Oki Mardiawan dari Prodi Psikologi Universitas Islam Bandung menjelaskan, stereotip gender juga dapat jadi penyebab orang-orang memutuskan untuk memberikan pertolongan atau tidak dalam situasi darurat.
Efek maskuilinitas memungkinkan timbul pemikiran bahwa laki-laki yang dianggap maskulin sering diharapkan membantu orang lain, terutama dalam situasi berbahaya, sebagai bentuk pembuktian kejantanan pria. Alhasil, pada saat terjadi situasi darurat, orang-orang, terutama perempuan, cenderung mengalihkan tanggung jawab kepada laki-laki yang berada di lokasi kejadian.
Feminimitas juga bisa sewaktu-waktu jadi hambatan bagi perempuan untuk memberikan pertolongan. Pasalnya, sifat feminim, seperti rasa malu dan kerendahan hati, memungkinkan mereka untuk mengurungkan niat dalam mengambil tindakan.
Solusi Penanganan Bystander Effect
Bystander Effect dapat diatasi dengan menerapkan beberapa solusi. Menurut studi berjudul "Bystander Effect Explained: How Your Brain and Personality Play a Role" yang dirilis Department of Risk Assessment NC State Univeristy, berikut beberapa tips untuk memutus Efek Pengamat pasif:
Memanggil Nama Seseorang
Solusi pertama yang dapat dilakukan yaitu dengan menyebutkan nama seseorang secara langsung dan meminta untuk bertindak, seperti "Anda yang memakai kemeja merah - hubungi 911!". Dengan begitu, pengalihan tanggung jawab pada individu lainnya tidak akan terjadi.
Waspadai Ambiguitas
Ketika merasa tidak yakin apakah seseorang membutuhkan bantuan dalam kondisi darurat, solusi terbaik adalah menanyakan langsung, seperti "Apakah semua baik-baik saja?". Setidaknya, tindakan ini akan membuat orang-orang juga memahami bahwa seseorang benar-benar membutuhkan pertolongan atau tidak.

Mempercayai Insting
Pada dasarnya, otak akan merespons terhadap sesuatu yang tampak tidak beres. Respons tersebut biasanya memunculkan insting yang merujuk pada kesimpulan soal apa yang sebenarnya terjadi. Dengan mempercayai insting, orang-orang cenderung otomatis merespons, sekalipun situasi yang terjadi tidak begitu darurat.
Selain itu, inisiatif memberikan bantuan juga cenderung memicu individu lain untuk melakukan tindakan serupa. Dengan kata lain, tidak mengharapkan orang lain jadi orang pertama yang bertindak adalah solusi terbaik untuk memutus Efek Pengamat pasif.

Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































