tirto.id - Sistem pertahanan udara tidak selalu bisa mencegat setiap rudal yang mengarah ke suatu wilayah. Tingkat keberhasilan dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya kemampuan sensor dalam mendeteksi ancaman, kecepatan respons, karakteristik rudal penyerang, serta ketersediaan amunisi pencegat.
Persoalan ini jadi perhatian setelah peristiwa serangan di sekitar Bandara Internasional Raja Khalid, Riyadh, Arab Saudi. Menurut laporan Reuters, sistem pertahanan Saudi mencegat sebuah rudal jelajah di sekitar bandara pada 11 Oktober 2026. Namun, sebuah proyektil yang menarget Terminal 4 memicu kebakaran, menewaskan satu orang, dan melukai 11 orang.
Laporan tersebut memang tidak memastikan rudal yang dicegat merupakan proyektil penyebab kebakaran. Hanya saja, insiden itu memperlihatkan tantangan yang dihadapi sistem pertahanan udara ketika harus melindungi objek strategis dari serangan rudal.
Sehari sebelumnya, serangan ke bandara yang sama juga menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300. Kelompok Houthi asal Yaman mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Kenapa Sistem Pertahanan Udara Sangat Penting?
Sistem pertahanan udara berfungsi mendeteksi, melacak, dan menghadapi ancaman via udara, termasuk drone, rudal jelajah, rudal balistik, dan pesawat. Kemampuan ini penting karena rudal biasa dipakai oleh suatu negara atau kelompok bersenjata untuk menyerang sasaran strategis dari jarak jauh.
Setiap jenis rudal memiliki karakteristik berbeda-beda. Rudal jelajah umumnya terbang di atmosfer dan bisa mengikuti lintasan menuju sasaran. Sementara itu, rudal balistik memakai tenaga roket pada fase awal penerbangan, lalu mengikuti lintasan balistik selama sebagian besar perjalanan. Sejumlah rudal balistik juga mampu bermanuver.
Perbedaan tersebut memengaruhi cara sistem pertahanan mendeteksi dan mencegat ancaman. Sistem yang dirancang menghadapi rudal balistik belum tentu memberi perlindungan optimal terhadap rudal jelajah yang terbang rendah.

Menurut Arms Control Association dalam penjelasannya tentang sistem pertahanan rudal, pertahanan rudal melibatkan sejumlah komponen, seperti radar, sensor, sistem komando, dan rudal pencegat. Seluruh komponen bekerja sama untuk mendeteksi ancaman, memprediksi lintasan, dan menentukan waktu intersepsi.
Sebagai contoh, Missile Defense Agency (MDA) Amerika Serikat menjelaskan sistem Patriot PAC-3 sebagai salah satu sistem yang dirancang menghadapi ancaman, termasuk rudal balistik dan rudal jelajah. Sistem ini bisa jadi bagian dari sistem pertahanan berlapis untuk melindungi wilayah atau objek strategis.
Namun, keberadaan beberapa lapisan pertahanan ternyata tidak menjamin semua serangan bisa disetop. Setiap sistem memiliki batas jangkauan, kemampuan deteksi, dan jenis ancaman yang dapat ditangani.

Kendala Sistem Pertahanan Udara saat Cegat Rudal
Sistem pertahanan udara bisa saja menghadapi sejumlah kendala saat berusaha mencegat rudal. Keterbatasan dapat memengaruhi keberhasilan intersepsi dalam setiap tahap sistem pertahanan udara, mulai fase deteksi ancaman sampai meluncurkan pencegat.
1. Waktu mencegat sangat terbatas
Rudal yang bergerak cepat mempersempit waktu bagi sistem pertahanan untuk mengambil keputusan. Setelah sensor mendeteksi ancaman, sistem harus melacak lintasan, mengidentifikasi sasaran, dan mengarahkan rudal pencegat.Fase terminal jadi kesempatan terakhir untuk mencegat rudal sebelum mencapai sasaran. Intersepsi di fase ini terbilang sulit, karena ruang kesalahan sangat kecil dan pencegatan berlangsung dekat dengan objek yang dilindungi.
2. Sensor tidak selalu bisa mengidentifikasi ancaman dengan mudah
Radar berperan penting dalam menentukan posisi dan pergerakan rudal. Namun, sistem pertahanan juga harus bisa membedakan hulu ledak yang mengancam dari puing-puing atau umpan yang menyertai.Dalam serangan rudal balistik, misal, penyerang bisa saja memakai umpan untuk mengelabui sensor. Jika sistem keliru mengidentifikasi objek atau telat menentukan sasaran, peluang mencegat hulu ledak jadi berkurang.

3. Karakteristik rudal penyerang berbeda-beda
Kecepatan, ketinggian terbang, dan kemampuan bermanuver memengaruhi metode pencegatan. Tantangan mencegat rudal jelajah yang terbang rendah berbeda dari rudal balistik yang melintas jauh lebih tinggi.Sistem pertahanan rudal butuh sejumlah komponen yang terintegrasi, termasuk sensor, sistem komando, dan rudal pencegat. Sistem pertahanan berlapis menunjang berbagai perangkat dalam rangka menghadapi ancaman pada fase penerbangan yang berbeda. Namun, kemampuan setiap sistem tetap tergantung jenis ancaman yang dirancang untuk ditangani.
4. Persediaan amunisi pencegat terbatas
Setiap peluncuran mengurangi jumlah amunisi yang tersedia untuk menghadapi serangan berikutnya. Ketika serangan berlangsung berulang kali atau melibatkan banyak proyektil, operator harus menimbang prioritas sasaran dan kapasitas sistem yang tersedia.Persediaan tersebut juga tergantung kemampuan produksi industri pertahanan. Laporan Government Accountability Office (GAO) Amerika Serikat mengenai pengadaan sistem pertahanan rudal mencatat bahwa kegagalan dalam pengujian pernah memaksa pengurangan atau penundaan produksi tiga dari empat jenis pencegat yang sedang dibuat saat laporan diterbitkan. Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana masalah teknis dan produksi bisa memengaruhi ketersediaan perangkat pertahanan.

5. Biaya pencegatan relatif tinggi
Pengadaan dan pemeliharaan sistem pertahanan rudal butuh anggaran besar. Ketika pihak penyerang memakai drone atau rudal berbiaya rendah, pihak yang bertahan harus mengerahkan pencegat yang jauh lebih mahal untuk melindungi objek strategis.Ketimpangan biaya memang tidak otomatis menyebabkan intersepsi gagal. Namun, serangan berkepanjangan bisa menambah tekanan terhadap anggaran dan persediaan amunisi.
6. Intersepsi tidak menghilangkan seluruh risiko
Rudal yang berhasil dicegat masih bisa menimbulkan bahaya apabila pecahan proyektil jatuh di kawasan berpenduduk. Besarnya risiko tergantung pada lokasi intersepsi, karakteristik senjata, dan kondisi ketika proyektil hancur.Karena itu, keberhasilan pertahanan udara, selain ditentukan oleh kemampuan menghancurkan rudal, sistem juga harus mendeteksi ancaman tepat waktu, mengidentifikasi sasaran secara akurat, memilih metode pencegatan yang sesuai, dan mempertahankan persediaan amunisi untuk serangan berikutnya.

Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































