Menuju konten utama

Sistem Pertahanan Udara Bisa Saja Gagal Cegat Rudal, Kenapa?

Sistem pertahanan udara bisa gagal mencegat rudal karena keterbatasan waktu, sensor, karakteristik ancaman, persediaan amunisi, dan biaya pencegatan.

Sistem Pertahanan Udara Bisa Saja Gagal Cegat Rudal, Kenapa?
Pandangan dari apa yang dilaporkan kantor berita negara KCNA sebagai uji coba penembakan rudal hipersonik di lokasi yang dirahasiakan di Korea Utara, Rabu (5/1/2022), dalam foto yang dirilis Kantor Berita Sentral Korea Utara (KCNA), Kamis (6/1/2022). ANTARA FOTO/KCNA via REUTERS /WSJ/djo
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sistem pertahanan udara tidak selalu bisa mencegat setiap rudal yang mengarah ke suatu wilayah. Tingkat keberhasilan dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya kemampuan sensor dalam mendeteksi ancaman, kecepatan respons, karakteristik rudal penyerang, serta ketersediaan amunisi pencegat.

Persoalan ini jadi perhatian setelah peristiwa serangan di sekitar Bandara Internasional Raja Khalid, Riyadh, Arab Saudi. Menurut laporan Reuters, sistem pertahanan Saudi mencegat sebuah rudal jelajah di sekitar bandara pada 11 Oktober 2026. Namun, sebuah proyektil yang menarget Terminal 4 memicu kebakaran, menewaskan satu orang, dan melukai 11 orang.

Laporan tersebut memang tidak memastikan rudal yang dicegat merupakan proyektil penyebab kebakaran. Hanya saja, insiden itu memperlihatkan tantangan yang dihadapi sistem pertahanan udara ketika harus melindungi objek strategis dari serangan rudal.

Sehari sebelumnya, serangan ke bandara yang sama juga menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300. Kelompok Houthi asal Yaman mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Rudal Scud-B

R-17 Elbrus atau SS-1 Scud-B mulai beroperasi pada tahun 1962. (FOTO/missiledefenseadvocacy.org)

Kenapa Sistem Pertahanan Udara Sangat Penting?

Sistem pertahanan udara berfungsi mendeteksi, melacak, dan menghadapi ancaman via udara, termasuk drone, rudal jelajah, rudal balistik, dan pesawat. Kemampuan ini penting karena rudal biasa dipakai oleh suatu negara atau kelompok bersenjata untuk menyerang sasaran strategis dari jarak jauh.

Setiap jenis rudal memiliki karakteristik berbeda-beda. Rudal jelajah umumnya terbang di atmosfer dan bisa mengikuti lintasan menuju sasaran. Sementara itu, rudal balistik memakai tenaga roket pada fase awal penerbangan, lalu mengikuti lintasan balistik selama sebagian besar perjalanan. Sejumlah rudal balistik juga mampu bermanuver.

Perbedaan tersebut memengaruhi cara sistem pertahanan mendeteksi dan mencegat ancaman. Sistem yang dirancang menghadapi rudal balistik belum tentu memberi perlindungan optimal terhadap rudal jelajah yang terbang rendah.

Rudal Sejjil Iran

Rudal Sejjil Iran. (Tangkapan Layar Video IRGC via Viory)

Menurut Arms Control Association dalam penjelasannya tentang sistem pertahanan rudal, pertahanan rudal melibatkan sejumlah komponen, seperti radar, sensor, sistem komando, dan rudal pencegat. Seluruh komponen bekerja sama untuk mendeteksi ancaman, memprediksi lintasan, dan menentukan waktu intersepsi.

Sebagai contoh, Missile Defense Agency (MDA) Amerika Serikat menjelaskan sistem Patriot PAC-3 sebagai salah satu sistem yang dirancang menghadapi ancaman, termasuk rudal balistik dan rudal jelajah. Sistem ini bisa jadi bagian dari sistem pertahanan berlapis untuk melindungi wilayah atau objek strategis.

Namun, keberadaan beberapa lapisan pertahanan ternyata tidak menjamin semua serangan bisa disetop. Setiap sistem memiliki batas jangkauan, kemampuan deteksi, dan jenis ancaman yang dapat ditangani.

Rudal China DF 61

Kendaraan militer mengangkut rudal DF-61 melewati Lapangan Tiananmen dalam parade militer untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Rudal Dongfeng digunakan oleh Tiongkok sebagai rudal jarak jauh dan menengah. foto/Reuters

Kendala Sistem Pertahanan Udara saat Cegat Rudal

Sistem pertahanan udara bisa saja menghadapi sejumlah kendala saat berusaha mencegat rudal. Keterbatasan dapat memengaruhi keberhasilan intersepsi dalam setiap tahap sistem pertahanan udara, mulai fase deteksi ancaman sampai meluncurkan pencegat.

1. Waktu mencegat sangat terbatas

Rudal yang bergerak cepat mempersempit waktu bagi sistem pertahanan untuk mengambil keputusan. Setelah sensor mendeteksi ancaman, sistem harus melacak lintasan, mengidentifikasi sasaran, dan mengarahkan rudal pencegat.

Fase terminal jadi kesempatan terakhir untuk mencegat rudal sebelum mencapai sasaran. Intersepsi di fase ini terbilang sulit, karena ruang kesalahan sangat kecil dan pencegatan berlangsung dekat dengan objek yang dilindungi.

2. Sensor tidak selalu bisa mengidentifikasi ancaman dengan mudah

Radar berperan penting dalam menentukan posisi dan pergerakan rudal. Namun, sistem pertahanan juga harus bisa membedakan hulu ledak yang mengancam dari puing-puing atau umpan yang menyertai.

Dalam serangan rudal balistik, misal, penyerang bisa saja memakai umpan untuk mengelabui sensor. Jika sistem keliru mengidentifikasi objek atau telat menentukan sasaran, peluang mencegat hulu ledak jadi berkurang.

uji coba rudal korea utara (KCNA via KNS)

uji coba 'motor bahan bakar padat dengan daya dorong tinggi' di Tempat Peluncuran Satelit Sohae di Korea Utara Minggu, 18 Desember 2022 (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)

3. Karakteristik rudal penyerang berbeda-beda

Kecepatan, ketinggian terbang, dan kemampuan bermanuver memengaruhi metode pencegatan. Tantangan mencegat rudal jelajah yang terbang rendah berbeda dari rudal balistik yang melintas jauh lebih tinggi.

Sistem pertahanan rudal butuh sejumlah komponen yang terintegrasi, termasuk sensor, sistem komando, dan rudal pencegat. Sistem pertahanan berlapis menunjang berbagai perangkat dalam rangka menghadapi ancaman pada fase penerbangan yang berbeda. Namun, kemampuan setiap sistem tetap tergantung jenis ancaman yang dirancang untuk ditangani.

4. Persediaan amunisi pencegat terbatas

Setiap peluncuran mengurangi jumlah amunisi yang tersedia untuk menghadapi serangan berikutnya. Ketika serangan berlangsung berulang kali atau melibatkan banyak proyektil, operator harus menimbang prioritas sasaran dan kapasitas sistem yang tersedia.

Persediaan tersebut juga tergantung kemampuan produksi industri pertahanan. Laporan Government Accountability Office (GAO) Amerika Serikat mengenai pengadaan sistem pertahanan rudal mencatat bahwa kegagalan dalam pengujian pernah memaksa pengurangan atau penundaan produksi tiga dari empat jenis pencegat yang sedang dibuat saat laporan diterbitkan. Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana masalah teknis dan produksi bisa memengaruhi ketersediaan perangkat pertahanan.

Rudal Sarmat

Dalam foto yang dirilis oleh Roscosmos Space Agency Press Service pada hari Rabu, 20 April 2022, rudal balistik antarbenua Sarmat diluncurkan dari Plesetsk di barat laut Rusia. (Layanan Pers Badan Antariksa Roscosmos via AP)

5. Biaya pencegatan relatif tinggi

Pengadaan dan pemeliharaan sistem pertahanan rudal butuh anggaran besar. Ketika pihak penyerang memakai drone atau rudal berbiaya rendah, pihak yang bertahan harus mengerahkan pencegat yang jauh lebih mahal untuk melindungi objek strategis.

Ketimpangan biaya memang tidak otomatis menyebabkan intersepsi gagal. Namun, serangan berkepanjangan bisa menambah tekanan terhadap anggaran dan persediaan amunisi.

6. Intersepsi tidak menghilangkan seluruh risiko

Rudal yang berhasil dicegat masih bisa menimbulkan bahaya apabila pecahan proyektil jatuh di kawasan berpenduduk. Besarnya risiko tergantung pada lokasi intersepsi, karakteristik senjata, dan kondisi ketika proyektil hancur.

Karena itu, keberhasilan pertahanan udara, selain ditentukan oleh kemampuan menghancurkan rudal, sistem juga harus mendeteksi ancaman tepat waktu, mengidentifikasi sasaran secara akurat, memilih metode pencegatan yang sesuai, dan mempertahankan persediaan amunisi untuk serangan berikutnya.

Rudal hipersonik

Rudal hipersonik yang baru dikembangkan Hwasong-8 diuji coba oleh Akademi Ilmu Pertahanan DPRK di Toyang-ri, Ryongrim County provinsi Jagang, Korea Utara, dalam foto tak bertanggal yang dirilis pada Rabu (29/9/2021) diambil oleh North Korea's Korean Central News Agency (KCNA). ANTARA FOTO/KCNA via REUTERS/FOC/sa.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Byte
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Beni Jo