Menuju konten utama

Harapan Drone dan Teknologi Mengubah Nasib Petani

Penggunaan teknologi drone dalam pertanian modern dapat membantu agar pekerjaan lebih cepat, efektif, hemat biaya, dan presisi.

Harapan Drone dan Teknologi Mengubah Nasib Petani
Operator dari Maxxi Tani menerbangkan pesawat tanpa awak atau drone untuk menyemprotkan pestisida di area persawahan Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten, Rabu (1/10/2025).. ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Drone alias unmanned aerial vehicle (UAV) ternyata punya andil penting dalam kegiatan pertanian. Penggunaan teknologi drone dalam pertanian modern dapat membantu petani agar bekerja lebih cepat, hemat biaya, hingga presisi pengelolaan lahan.

Mengutip laman FAO atau Food and Agriculture Organization of the United Nations, terdapat perkiraan bahwa jumlah populasi dunia akan mencapai 9,6 miliar jiwa pada 2050. Oleh karena itu, jawaban atas kebutuhan pangan penduduk dunia di generasi mendatang jadi tantangan tersendiri.

Para petani maupun penyedia layanan teknologi drone pertanian pun mulai memutar otak untuk mempertahankan tingkat hasil panen atau bahkan meningkatkan jumlah produksi. Di antaranya menggunakan drone sebagai alat penanam, analisis dan penilaian kesehatan lahan, irigasi dan penyiraman, memantau, atau menyemprot tanaman secara otomatis.

Kegunaan dan Keunggulan Drone untuk Pertanian

Harapan drone sebagai teknologi yang mengubah nasib petani dapat dipantau dari berbagai fungsinya. Melansir laman Ace Core Technologies, kegunaan drone ini terbagi atas fungsi pemantauan, fungsi langsung atau mekanis, dan kombinasi keduanya.

Beberapa drone pertanian ada yang secara khusus dipakai untuk memantau, seperti tindakan pengambilan citra udara, data multispektral, dan pembacaan termal lahan. Kemudian fungsi mekanis meliputi penyemprotan cairan dan pestisida, penebaran benih, serta lainnya.

Drone sebagai alat semprot atau penyiraman air, pestisida untuk membasmi hama, atau pupuk cair untuk menyuburkan lahan akan memastikan takaran yang tepat. Sementara cakupan semprot bisa mencapai 3-5 hektar dalam waktu 1 jam, tergantung jenis alat dan pengaturan oleh petani atau penyedia layanan.

Adapun drone pertanian untuk penebaran benih tanaman dan pupuk padat biasanya memanfaatkan fitur tambahan tangki khusus. Alat terbang membawa tangki, kemudian menebarkan benih dan penyubur lahan di sepanjang area yang dilintasinya.

Proses menuangkan larutan pestisida ke dalam tangki drone sebelum penyemprotan di area persawahan

Proses menuangkan larutan pestisida ke dalam tangki drone sebelum penyemprotan di area persawahan. ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/foc.

Selain itu, drone juga berfungsi untuk memantau lahan (mapping dan monitoring) untuk beberapa hal. Dengan memanfaatkan citra foto udara maupun citra multispektral, petani bisa melihat kondisi kesehatan tanaman, kadar kurang atau lebihnya air, dan serangan hama.

Berdasarkan fungsi-fungsi ini, teknologi drone dalam industri pertanian memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya hemat waktu, tenaga, bahan kimia, biaya produksi, dan lebih aman untuk keselamatan.

Drone merupakan alat yang aman karena petani tidak perlu bersentuhan masif dengan bahan kimia berbahaya. Pengendalian drone dari jarak jauh pun menghindari para petani dari lokasi berbahaya, bahkan sampai ke lahan-lahan di daerah terpencil yang sulit dikelola manual.

Dalam edisi AgriTech Observer FAO yang mengkaji penggunaan drone pertanian bagi petani kecil di Eropa dan Asia Tengah, alat ini disebut bisa meningkatkan performa tanaman. Bahkan, drone berguna untuk mengurangi kerusakan tanaman akibat penggunaan alat-alat berat.

Cara Kerja Drone untuk Kegiatan Pertanian

Mengutip tulisan Vlad Nicolae Arsenoaia dan kawan-kawan bertajuk "From Sensing to Intervention: A Critical Review of Agricultural Drones for Precision Agriculture, Data-Driven Decision Making, and Sustainable Intensification" (2026), drone menjadi pilihan untuk pemantauan dan pengelolaan lahan pertanian dengan resolusi tinggi meskipun praktiknya masih belum konsisten.

Lantas, bagaimana cara kerja drone dalam kegiatan pertanian? Teknologi maupun fitur drone ini bekerja selaras dengan fungsi-fungsi atau tujuan penggunaan, baik itu demi pemantauan maupun olah lahan.

Pada tahapan awal, drone dapat menjadi analis tanah dan lahan agar tumbuhan yang nantinya ditanam dapat berkembang. Teknologi ini akan menggunakan kamera atau citra udara khusus untuk menghasilkan peta tiga dimensi lahan.

Adapun cara kerja drone dalam sistem penanaman modern ini akan menjatuhkan kapsul yang berisi benih ke lahan pertanian. Setiap benih itu sudah dilengkapi nutrisi-nutrisi tambahannya.

Dilansir MIT Technology Review, ada juga tahapan untuk kebutuhan penyemprotan tanaman yang memanfaatkan sensor pengukur jarak. Sensor menentukan tinggi rendahnya drone sesuai topografi dan menghindari adanya tabrakan, sambil memastikan penyemprotan merata.

Drone bersiap menebarkan benih padi saat tanam.

Drone bersiap menebarkan benih padi saat tanam. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU

Guna menyempurnakan hasil pengairan, ada juga drone yang menggunakan sensor hiperspektral, multispektral, dan termal. Fitur dari teknologi ini membantu petani dalam mengidentifikasi lahan yang kering, perlu ditambahkan air, atau harus diperbaiki.

Pemantauan mengenai kondisi tanaman terbaru juga bisa dilakukan menggunakan drone pertanian. Dengan berbagai sensor maupun citra foto udara di atas, drone akan menampilkan kondisi terkini tanah garapan.

Selain itu, ada pula sensor inframerah yang bisa memindai setiap tanaman di lahan. Menurut sumber serupa, sensor ini berguna untuk melacak perubahan kondisi kesehatan tanaman sehingga bisa meminimalisasi timbulnya penyakit.

Seiring waktu, drone sekarang sudah terintegrasi Artificial Intelligence (AI) guna mendukung kinerjanya. Muhammad Towfiqur Rahman dkk. dalam artikel "The Role of AI-Integrated Drone Systems in Agricultural Productivity and Sustainable Pest Management", drone yang dilengkapi AI sudah berhasil mengubah teknik pengendali hama, produktivitas, dan menghasilkan solusi yang inovatif bagi para petani modern.

Drone terintegrasi algoritma AI dan berbagai sensor bawaannya bisa mencegah lahan pertanian diserang hama serangga, memantau kondisi tanah, serta kesehatan setiap tanaman. Adapun kombinasi kecerdasan buatan dan drone diklaim dapat meningkatkan sumber daya, mengupayakan keberlanjutan, serta menekan biaya-biaya operasional.

Tantangan Drone untuk Revolusi Pertanian di Indonesia

Kendati drone bisa membantu kegiatan pertanian, tetapi jumlah penggunaannya masih terbilang sedikit. Menurut survei Joint Research Centre, di negara-negara UE terpilih, hanya sekitar 3 persen petani yang menggunakan drone untuk pemantauan dan penyemprotan.

Survei yang menjadi bahan observasi FAO AgriTech Observatory ini juga menyebutkan bahwa pemakaian drone menurun di pertanian-pertanian skala kecil, yaitu sekitar 1 persen. Terdapat kisaran dua dari tiga petani yang menganggap biaya barangnya mahal.

Adapun penggunaan drone untuk revolusi pertanian di Indonesia kurang lebih menghadapi tantangan yang sama. Petani kesulitan menjangkau teknologi drone karena harga alat tersebut mahal, sebagaimana dikutip dari laman resmi proyek UPLAND PSP Pertanian.

Petugas menyaksikan drone yang menebarkan benih padi saat tanam.
Petugas menyaksikan drone yang menebarkan benih padi saat tanam. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU

Tantangan penggunaan drone bagi para petani di Indonesia lainnya adalah biaya barang dan pelatihan yang mahal, regulasi dan izin, keterbatasan daya terbang, serta keamanan data.

Selain barang, biaya untuk melatih operator drone bagi para petani juga terbilang mahal. Terlebih, apabila rencana penggunaan UAV atau pesawat nirawak ini dilakukan di daerah yang akses teknologinya terbatas.

Petani yang ingin menggunakan teknologi tersebut juga perlu memahami regulasi guna mendapatkan izin legal. Kemudian, batas daya terbang dan kemampuan membawa muatan bisa menjadi masalah lain ketika ingin digunakan di lahan yang lebih luas.

Hal terkait keamanan data juga menjadi tantangan bagi para petani di Indonesia. Pasalnya, drone yang menyimpan data secara digital perlu mendapatkan penjagaan masif agar tidak disalahgunakan orang lain.

Baca juga artikel terkait DRONE atau tulisan lainnya dari Yuda Prinada

tirto.id - Byte
Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya