tirto.id - AAV-M35 atau Assault Amphibious Vehicle (AAV)-M35 menjadi kendaraan tempur (ranpur) amfibi terbaru yang dimiliki Indonesia. AAV-M35, ranpur amfibi buatan AS, diklaim mampu menembus ombak ganas di laut lepas hingga level Sea State 5.
Sebanyak 12 ranpur amfibi varian AAV-M35 sudah tiba di Indonesia pada hari Senin, 28 September 2026. Spesifikasi dan sistem persenjataan AAV-M35 apakah menjadi kendaraan amfibi tercanggih milik Korps Marinir?
Kedatangan selusin unit ranpur AAV-M35 tersebut menjadi bagian dari total 35 ranpur yang sudah dipesan. Sisa unit datang menyusul pada akhir bulan November 2026. Unit ranpur AAV-M35 buatan AS akan digunakan untuk memperkuat Korps Marinir dalam melakukan operasi pertahanan laut dan pantai.
“Akan hadir lagi 23 (ranpur) di akhir bulan November 2026,” kata Kepala Staf TNI AL (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, dikutip dari Antara (28/9/2026).

Spesifikasi Ranpur Amfibi AAV-M35 & Makna Kode M35
AAV-M35 merupakan ranpur amfibi pengangkut personel varian AAV-7A1 yang berasal dari Amerika Serikat. Melansir laman Kementerian Pertahanan RI (28/9/2026), jenis ranpur ini menggunakan sistem penggerak roda rantai.
Ranpur AAV-M35 memiliki kemampuan beroperasi di wilayah perairan ataupun daratan. Tak hanya itu, kendaraan yang sama juga mendukung pergerakan pasukan dari laut menuju pantai hingga melanjutkan pergerakan menuju sasaran di darat.
Efektivitas dimaksudkan untuk memperkuat armada pendarat Korps Marinir setelah penerimaan 15 unit Landing Vehicle Tracked (LVT)-7A1 dari Korea Selatan pada Desember 2009 lalu.
Mengutip laman Indonesia Defense (25/9/2026), Assault Amphibious Vehicle (AAV)-M35 datang untuk menguatkan daya gempur pasukan Marinir dari laut menuju darat.
Tank lapis baja buatan Amerika Serikat tersebut mengusung dapur pacu mesin diesel turbo cummins V903 berdaya 525 tenaga kuda. Mesin ini diklaim sanggup memacu AAV-M35 yang berbobot 23 ton hingga mencapai kecepatan 75 km per jam di daratan.
Ketika bergerak di perairan, AAV-M35 mengandalkan sistem pendorong jet air (water jet propulsion), sistem yang membuat ranpur melaju hingga 15 km per jam di laut. Tak hanya itu, jet air juga mampu menerjang gelombang laut kategori Sea State 5 atau ombak setinggi 4 meter.
AAV-M35 dilengkapi sistem suspensi, rantai, dan komponen transmisi dari kendaraan tempur infanteri Bradley (M2/M3). Kombinasi mesin setara 525 tenaga kuda dan kaki-kaki Bradley membuat ranpur ini sanggup melaju hingga 75 km per jam di darat dan 15 km per jam di permukaan air.
Bagian badan/bodi tank AAV-M35 memiliki panjang 7,49 meter, lebar 3,27 meter, dan tinggi 3,26 meter. Dibutuhkan 3 personel untuk mengawaki tank lapis baja ini, mencakup komandan, pengemudi, dan penembak.

Kabin belakang AAV-M35 sanggup menampung 21 prajurit infanteri Marinir dan perlengkapan tempur. Seluruh bodi ranpur dilapisi baja berbahan aloi aluminium militer, guna melindungi pasukan dari tembakan proyektil musuh.
Di sisi lain, dalam penamaan ranpur terbaru, kode "AAV-M35", menyimpan arti teknis. Kode “M” dalam “M-35” berarti Marinir. Angka “3” menunjukkan 3 awak kendaraan, yakni komandan, pengemudi, dan penembak. Adapun angka “5” menandakan kemampuan menerjang gelombang laut tinggi (Sea State 5).
Sistem Persenjataan Ranpur Amfibi AAV-M35
Ranpur AAV-M35 yang baru tiba dari Amerika Serikat masih polos tanpa persenjataan bawaan. Untuk masalah sistem persenjataan, TNI AL akan melengkapi sendiri dan menyesuaikan alat komunikasi ranpur.
“Persenjataan akan dilengkapi. Saat ini belum ada senjatanya, nanti akan dilengkapi dengan senjata kita. Kemudian alat komunikasinya juga yang disesuaikan dengan seluruh ranpur yang ada, jadi bisa match (cocok) hubungannya,” papar Muhammad Ali, dikutip dari Indonesia Defense (28/9/2026).

AAV-M35 memang merupakan jenis kendaraan tempur yang tidak hanya cepat. Ranpur ini bisa dilengkapi dengan senjata mesin 12,7 mm dan pelontar granat otomatis 40 mm.
Bobot AAV-M35 memang cukup berat, mencapai 23 ton. Namun, ranpur yang dioperasikan oleh 3 awak kendaraan tersebut sanggup mengangkut 21 prajurit pendarat, lengkap dengan senjata dan perlengkapan tempur dari kapal menuju garis pantai.
Perbandingan AAV-M35 & BTR-50
Bentuk lambung dan sistem pendorong air AAV-M35 dirancang khusus untuk menembus ombak ganas di laut lepas hingga level Sea State 5. Jika dibandingkan dengan pendahulunya, LVT-7A1 buatan Korea, ranpur lama itu umumnya beroperasi pada kondisi laut sedang (Sea State 3-4).
Selain itu, AAV-M35 mengusung dapur pacu Cummins V903 berdaya 525 tenaga kuda di sektor mesin. Sedangkan, LVT-7A1 hanya memakai mesin setara 400 tenaga kuda. Lalu, bagaimana perbandingan AAV-M35 jika dibandingkan dengan ranpur amfibi lainnya seperti BTR-50?
Pada dasarnya, BTR-50 merupakan kendaraan pengangkut personel lapis baja amfibi dan beroda rantai pertama buatan Soviet. Ranpur ini mampu mengimbangi tank di medan yang sulit dan mampu beroperasi di medan yang berat di Eropa timur dan tengah.

Melansir laman Inetres, kendaraan amfibi ini sepenuhnya digerakkan melalui air oleh pancaran air yang dipasang di bagian belakang lambung. Pengemudi dan komandan duduk di depan dan kompartemen personel berada di belakang mereka. Adapun pengemudi duduk di tengah dengan komandan kendaraan di sebelah kirinya.
Ranpur BTR-50 diproduksi sejak 1952, membutuhkan 2 awak kendaraan (komandan dan pengemudi), serta mengangkut 20 penumpang. Jika dibandingkan dengan AAV-M35, ranpur ini memiliki berat dan ukuran bodi yang lebih kecil.
Berat BTR-50 saat bertarung hanya 15,7 ton. Sementara itu, ranpur ini hanya berukuran panjang 7,32 meter, lebar 3,14 meter, dan tinggi 1,85 meter.
Ranpur ini tidak memiliki persenjataan dan sangat rentan terhadap tembakan musuh. Mengutip laman Tank Encyclopedia, BTR-50 digunakan dalam jangka waktu yang lama di angkatan bersenjata Soviet, kemudian Rusia, serta di banyak negara lain, termasuk Indonesia.
Adapun BTR-50P merupakan versi produk pertama yang diterima untuk digunakan pada 1952. Kendaraan ini tidak memiliki lubang tembak untuk mengangkut pasukan di medan perang.

Ranpur BTR-50P juga tidak memiliki atap di atas kompartemen awak. Dengan begitu, kendaraan ini sama sekali tidak memiliki perlindungan nuklir, biologi, dan kimia, yang merupakan masalah besar terkait lingkungan militer dan politik pada era 1950-an dan 1960-an.
Tercatat, Indonesia pada 1997 membeli 34 unit BTR-50 dari Ukraina, dengan pesanan selanjutnya di tahun-tahun berikutnya. Kendaraan ini ditingkatkan dengan mesin, rem, radio, dan lain-lain yang baru.
Versi lain yang digunakan oleh Marinir Indonesia adalah PAL-AFV, bentuk modernisasi lokal dari BTR-50. Setelah menggunakan ranpur ini, setidaknya ada 2 masalah besar yang diidentifikasi Marinir Indonesia pada BTR-50.
Pertama, persoalan masuknya air ke radiator. Pompa air yang bertugas membuang air dapat gagal dalam arus yang kuat.
Masalah kedua adalah dek mesin terlalu rendah sehingga bisa menjadi masalah di perairan bergelombang dan kuat. Untuk mengatasi, seluruh dek mesin pun perlu ditinggikan.

Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id

































