Periksa Fakta

Disinformasi: Ichsanuddin Noorsy & Thermal Gun yang Merusak Otak

Oleh: Irma Garnesia - 22 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Termometer Thermal Gun tidak menembakkan sinar laser, melainkan sinar inframerah. Terdapat beberapa jenis Thermal Gun berdasarkan peruntukkannya.
tirto.id - Dalam beberapa pekan terakhir, beredar informasi yang menyebut bahwa termometer berbentuk thermal gun dapat merusak otak karena mengandung radioaktif. Informasi tersebut, salah satunya, berasal dari cuplikan video wawancara Helmy Yahya dengan Ichsanuddin Noorsy.

Dalam cuplikan video tersebut, ekonom Ichsanuddin Noorsy menyebutkan kepada Helmy Yahya bahwa ia menolak untuk diukur temperatur tubuhnya dengan thermal gun jika alat tersebut 'ditembakan' ke dahinya. Noorsy beralasan, "laser" dari thermal gun tersebut diperuntukkan untuk mengukur "kabel panas," bukan untuk manusia.

Cuplikan video tersebut sendiri berasal dari video wawancara panjang Helmy dengan Noorsy berjudul "Obrolan Dengan Ichsanuddin Noorsy ini Paling Bergizi Selain Obrolan dengan Bossman Sontoloyo" di kanal YouTube milik Helmy. Video tersebut tayang pada tanggal 13 Juli 2020 dan berdurasi sekitar 1 jam 3 menit.

Dalam video tersebut, keduanya membicarakan berbagai macam isu, mulai dari ekonomi hingga politik. Perbincangan terkait thermal gun itu sendiri dapat ditemukan pada menit 8:36.

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto sendiri telah menepis informasi terkait bahaya thermal gun tersebut. Yurianto mengatakan, termometer tersebut tidak berpengaruh negatif terhadap otak. Fungsi thermal gun adalah untuk mengukur suhu tubuh dengan paparan sinar inframerah atau infrared.

"[Thermal gun] tidak menggunakan sinar laser, radioaktif semacam X-ray, hanya [menggunakan] infrared. Berbagai informasi mengatakan thermal gun merusak otak ini adalah statement yang salah," katanya di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (20/7/2020).

Memang, terlepas dari informasi yang dilebih-lebihkan mengenai jenis termometer ini, terdapat kekhawatiran secara umum terkait pancaran inframerah dari termometer. Lantas, apa saja yang harus diperhatikan ketika menggunakan termometer thermal gun?

Mengenal Thermal Gun

Selama berminggu-minggu terakhir, termometer thermal gun dapat ditemui di berbagai tempat umum: komplek apartemen, rumah sakit, supermarket, hotel, hingga stasiun kereta. Kadang, alat ini juga disebut “pistol termometer” karena dilengkapi sensor inframerah yang dapat dengan cepat mengukur suhu permukaan dengan mendekatkan alat ke permukaan atau dahi, tanpa kontak secara langsung.

Beberapa tahun belakangan, alat ini banyak digunakan di negara yang terkena wabah, seperti di China ketika wabah SARS pada awal 2000-an, atau di Afrika Barat ketika wabah Ebola satu dekade kemudian.

Seperti ditulis New York Times, termometer ini menentukan suhu dengan mengukur panas permukaan tubuh seseorang. Dr. James Lawler, ahli medis di Universitas Nebraska mengemukakan bahwa thermal gun kurang akurat. Berdasarkan pengalamannya ketika berada di Afrika selama wabah Ebola, termometer inframerah ini sering tidak tepat menunjukkan suhu tubuhnya. Alat tersebut mendeteksi suhu tubuhnya 35 derajat Celcius atau lebih rendah. Catatan singkat, suhu tubuh 35 derajat Celcius ke bawah merupakan suhu tubuh seseorang yang terkena hipotermia.

Perlu diperhatikan, alat ini didekatkan ke dahi objek agar dapat menghasilkan informasi suhu yang akurat. Jika thermal gun terlalu jauh dari dahi, maka suhu yang terdeteksi kemungkinan dapat lebih rendah dari biasanya. Di sisi lain, jika alat tersebut 'ditembakkan' terlalu dekat dengan dahi, maka kemungkinan dapat menghasilkan suhu tubuh yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, termometer inframerah ini memang tidak hanya digunakan di bidang kesehatan. Termometer ini terdiri dari beberapa jenis. Ada yang diperuntukkan bagi kepentingan medis, ada pula yang tidak.

Beberapa tipe termometer ini digunakan mulai dari memantau suhu peralatan listrik atau mekanik, mengecek suhu oven, dalam penggunaan yang lebih luas untuk memonitor titik panas area tertentu (digunakan pemadam kebakaran), memantau aktivitas gunung berapi, sistem ventilasi mesin kapal, dan masih banyak lagi.

Namun, perlu diketahui bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), misalnya, telah mengatur terkait penggunaan termometer inframerah pada bidang kesehatan, terlebih ketika pandemi COVID-19. Termometer inframerah untuk alat kesehatan dibedakan pelabelannya dari termometer inframerah untuk tujuan industri.


Termometer inframerah yang diaplikasikan pada alat industri digunakan untuk mengukur suhu antara -60 hingga lebih dari 500 derajat Celcius. Termometer industri/lingkungan memiliki faktor kesalahan rata-rata antara 1 hingga 1,5 derajat Celcius.

Sementara termometer medis digunakan untuk mengukur suhu antara 32 hingga 42,5 derajat Celcius, tingkat akurasinya pun berkisar antara 0,1 derajat Celcius.

Pengukuran suhu tubuh tidak dianjurkan dengan termometer industri, karena hasilnya tidak akan sesuai. Untuk mengukur suhu tubuh manusia, diperlukan instrumen yang telah dikalibrasi secara akurat.

Mengutip periksa fakta Kompas dan juga instruksi manual termometer tembak, thermal gun bekerja dengan sensor inframerah pasif yang menyerap radiasi elektromagnetik (sinar inframerah) yang dipancarkan atau dipantulkan oleh objek yang dibidik, dalam hal ini dahi manusia. Sinar inframerah ini selanjutnya akan menembus lensa termometer dan dihantarkan ke thermopile, atau alat pendeteksi suhu.

Thermopile kemudian mengubah pancaran radiasi menjadi energi panas untuk kemudian dikonversikan menjadi energi listrik. Energi listrik inilah yang akan mengeluarkan hasil berupa besaran suhu yang ditampilkan di layar termometer.

Perangkat termometer ini memang memancarkan sinar inframerah. Namun, sinar tersebut hanya berfungsi sebagai panduan untuk membidik objek yang ingin dideteksi suhunya, tak serta merta membahayakan penggunanya.


Tersebar di Banyak Tempat

Misinformasi terkait termometer thermal gun rupanya tak hanya tersebar di Indonesia. Lembaga non-profit Poynter merekam beberapa kabar menyesatkan terkait alat ini di Lithuania, Meksiko, dan Argentina. Sekitar bulan Mei 2020, kabar yang tersebar terkait termometer inframerah ini adalah alat ini berbahaya terhadap mata ketiga, mitos yang dipercayai dalam Hinduisme.

Mata ketiga, berdasarkan kepercayaan, terletak di atas persimpangan alis dan terkait dengan chakra seseorang. Dalam Taoisme dan agama tradisional Tiongkok, “latihan mata ketiga” dilakukan dengan memusatkan perhatian pada titik di antara alis ini, dengan menutup mata, untuk mencapai tingkat tertentu dalam meditasi. Namun, pemeriksa fakta Lithuania mengatakan tidak ada bukti ilmiah bahwa termometer inframerah ini mampu menyebabkan sejumlah hal buruk pada mata ketiga.

Setelah kejadian tersebut, hoaks terkait termometer makin banyak berkembang di YouTube dan Whatsapp. Beragam klaim itu menyatakan termometer dapat membahayakan.

Pada 24 Juni, lembaga pemeriksa fakta Animal Político di Meksiko menuliskan bahwa termometer inframerah tidak membahayakan retina. Antonio Estay, akademisi di Departemen Teknologi Medis, masih dari Animal Político, menyampaikan bahwa sinyal inframerah yang digunakan pada teknologi ini tidak memengaruhi penglihatan manusia karena termometer pada dasarnya tidak mengeluarkan energi.

Sensor pada termometer hanya mengukur radiasi elektromagnetik, dan tidak menghasilkan energi tertentu. Termometer thermal juga tidak menggunakan laser, melainkan sensor jarak, fitur yang membuat alat ini menjadi lebih efisien dalam melakukan pengukuran.

Kemudian, pemeriksa fakta dari Argentina, Chequeado, menyatakan bahwa informasi terkait “termometer yang berbahaya terhadap sistem saraf” sebagai informasi yang salah. Mereka menjelaskan bahwa termometer inframerah tidak memancarkan radiasi yang mirip dengan sinar-X. Oleh karena itu, alat ini tidak memengaruhi sistem saraf.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa termometer pistol atau thermal gun tidak berbahaya terhadap tubuh; mata, otak, dan bagian tubuh lainnya. Sejauh ini, penggunaan termometer inframerah dianggap aman karena tidak memancarkan radiasi.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight