Periksa Fakta

Misinformasi Suara Azan Dapat Melemahkan Virus Corona

Oleh: Irma Garnesia - 16 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Warga Muslim di Spanyol berinisiatif mengumandangkan azan sebagai bentuk dukungan mereka kepada semua yang berjuang melawan virus tersebut.
tirto.id - Seiring dengan pandemi COVID-19 yang disebabkan virus corona baru SARS-CoV-2 di Indonesia, misinformasi terkait virus ini juga berkembang secara cepat dan luas. Salah satunya adalah SARS-CoV-2 akan melemah bila didengarkan suara azan.

Informasi ini salah satunya disebarkan akun Facebook Steven Haryanto (arsip). Steven mengunggah sebuah video berdurasi 8:24 menit disertai keterangan, "Penemuan ilmuwan d Eropa.. Virus covid19 akan melemah bila didengarkan suara azan... pembuktian dengan teknologi.. Allahu Akbar.. Boleh percaya Boleh g..."

Diunggah pada 12 April 2020, video ini telah disebarkan sebanyak 33 ribu kali dan ditonton oleh lebih dari 492 ribu orang.

Periksa Fakta Adzan Lemahkan Corona
Periksa Fakta Adzan Lemahkan Corona. Screnshoot/Facebook/Steven Haryanto

Belum Ada Obat

Dalam video berdurasi sekitar 8 menit tersebut, terdapat klaim bahwa ketika diperdengarkan suara azan, virus corona yang dipantau jadi lebih kecil dan lemah. Namun, ketika diperdengarkan suara lainnya, seperti suara musik, virus ini semakin membesar. Menurut mereka, hal ini didasarkan pada sebuah penelitian di Eropa.

Karena penemuan tersebut pula, narasi video ini mengklaim otoritas negara-negara di Eropa menganjurkan agar Umat Muslim mengumandangkan azan dari rumah masing-masing. Beberapa negara yang disebutkan itu adalah Belgia, Perancis, hingga Jerman.


Perlu diketahui bahwa video ini memiliki resolusi rendah, sehingga tidak mudah ditemukan bentuk lainnya di mesin pencarian Google atau pun dengan mencari potongan-potongan gambar dari video yang di-pause.

Selain itu, video ini dirangkai dari potongan-potongan video berita dari luar negeri, atau gambar yang sekiranya dapat mendukung narasi video. Gambar-gambar tersebut seperti jalanan yang sepi, orang-orang berjalan dan beraktivitas, serta potongan aktivitas warga di tengah lockdown.

Salah satu potongan gambar dalam video tersebut yang dapat ditelusuri adalah potongan gambar sejumlah Muslim di Spanyol yang mengumandangkan azan di balkon. Melalui penelusuran gambar via Source, terdapat dua media massa besar melaporkan potongan video yang sama, yakni Anadolu Agency dan Hurriyet.

Video tersebut memang berlokasi di Spanyol, namun narasi yang sebenarnya terjadi berbeda. Alih-alih pemerintah menggalakkan warga Muslim untuk mengumandangkan azan untuk melemahkan virus SARS-CoV-2, warga Muslim di Spanyol berinisiatif mengumandangkan azan sebagai bentuk dukungan mereka kepada semua yang berjuang melawan virus tersebut.

Anadolu Agency juga melaporkan bahwa pengumandangan azan di sejumlah masjid di Berlin, Jerman, juga dilakukan untuk mempromosikan solidaritas dalam melawan SARS-CoV-2.


Sementara terkait klaim penelitian dari Eropa, dalam video itu tidak disebutkan sumber penelitian atau ilmuwan yang dapat dirujuk. Hanya ada bagian dua orang berbicara dalam bahasa Inggris sambil menunjuk monitor dengan piano elektrik di bawahnya dan objek yang berubah ukuran ketika diberi stimulasi suara tertentu. Software atau perangkat lunak yang tampak di monitor tersebut juga lebih menyerupai perangkat lunak untuk mengolah musik atau suara seperti Ableton.

Memang terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa metode ultrasound dapat digunakan untuk mengobati pasien dari infeksi patogen. Metode ini dilakukan dengan menggunakan USG, lalu menyetel frekuensi resonansi tertentu yang sesuai dengan target patogen untuk dapat menghancurkannya. Resonansi tersebut akan menghancurkan patogen tanpa memberi efek buruk pada tubuh manusia.

Namun, perlu dicatat bahwa frekuensi resonansi tubuh manusia harus jauh berbeda dari frekuensi resonansi yang disetel untuk menghancurkan patogen. Metode ini dikembangkan oleh David E. Heckerman, et.al pada 2008. Yang lebih penting, hingga kini belum ada metode sejenis yang dikembangkan untuk mengatasi SARS-CoV-2. Selain itu, metode yang dikembangkan Heckerman menggunakan frekuensi resonansi suara yang jauh berbeda dari yang dapat didengar manusia, sehingga suara azan tidak termasuk di dalamnya.


Hingga tulisan ini dimuat, ilmuwan di berbagai belahan dunia masih berlomba-lomba menemukan obat dan vaksin dari virus ini. Di Cina, misalnya, sekitar 1.000 ilmuwan telah berupaya mengembangkan sembilan vaksin potensial melalui lima pendekatan berbeda. Eksperimen vaksin potensial yang dikembangkan CanSino dan peneliti militer ini dipimpin ahli virologi, Chen Wei.

Ilmuwan di Jerman juga tengah berupaya. Perusahaan Jerman BioNTech menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan vaksin di Eropa. Pengujian vaksin baru untuk COVID-19 rencananya berlangsung pada awal April 2020 ini.

Selain kedua negara tersebut, Israel juga tengah mengembangkan vaksin COVID-19. Menteri Sains dan Teknologi Israel Ofir Akunis mengklaim vaksin buatan Israel dapat siap dalam beberapa minggu dan tersedia dalam 90 hari. Vaksin COVID-19 di Israel dikembangkan oleh Galilee Research Institute (MIGAL).

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa klaim di video dalam unggahan akun Steven Haryanto bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading). Hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa SARS-CoV-2 dapat dilemahkan menggunakan suara azan.


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight