Sengketa Temuan Vaksin Corona

Berlomba-lomba Menemukan dan Mengklaim Vaksin COVID-19

Ilustrasi Vaksin Corona. FOTO/iStockphoto
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 28 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Upaya penemuan vaksin bukan cuma didasari kepentingan keamanan nasional.
“Kami semua merasa sangat tidak berdaya. Ini adalah kesempatan luar biasa bagi saya untuk melakukan sesuatu,” tutur Jennifer Haller, perempuan berusia 43 tahun asal Seattle, Amerika Serikat, yang menjadi salah satu sukarelawan vaksin COVID-19 kepada Associated Press.

Para ilmuwan AS di Kaiser Permanente Washington Research Institute, Seattle, melakukan suntikan pertama dalam tes eksperimental penemuan vaksin virus corona COVID-19. Percobaan pertama ini merupakan awal dari serangkaian studi yang diperlukan untuk menemukan vaksin virus Corona.

Kandidat vaksin ini diberi nama kode messenger ribonucleic acid atau mRNA-1273. Dikembangkan oleh US National Institutes of Health (NIH) dan perusahaan bioteknologi yang berbasis di Massachusetts, Moderna Inc. Suntikan percobaan vaksin virus corona COVID-19 ini diklaim tidak akan menginfeksi para sukarelawan, karena vaksin tersebut tidak mengandung virus corona itu sendiri.

Suntikan percobaan yang dilakukan para ilmuwan Seattle ini bukan satu-satunya vaksin potensial untuk virus corona COVID-19. Sebab ada lusinan kelompok riset di seluruh dunia yang berlomba untuk membuat vaksin melawan COVID-19.


Cina, Jerman, dan Israel Klaim Temukan Vaksin Covid-19

Sekitar 1.000 ilmuwan Cina telah berupaya mengembangkan vaksin dengan sembilan vaksin potensial yang dikembangkan melalui lima pendekatan berbeda. Eksperimen vaksin potensial yang dikembangkan CanSino dan peneliti militer ini dipimpin oleh Chen Wei yang merupakan ahli virologi.

Satu hari setelah uji coba eksperimental fase I untuk vaksin COVID-19 dilakukan di AS, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Hubei atau Hubei Centre for Disease Control and Prevention (CDC) mengumumkan permintaan pencarian sukarelawan uji klinis. “Vaksin ini tidak mengandung zat-zat yang bisa menginfeksi, sangat aman dan stabil, dan hanya membutuhkan satu inokulasi,” tulis CDC Hubei dalam pengumuman permintaan sukarelawan sebagaimana dilansir South China Morning Post.

Kandidat vaksin teknologi mRNA dikembangkan bersama oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina atau Chinese Centre for Disease Control and Prevention, Universitas Tongji, dan Stermina di Shanghai. Frase uji klinis untuk vaksin diperkirakan berlangsung pada pertengahan April. Wang Junzhi, ahli kontrol kualitas produk biologi dan akademisi di Chinese Academy of Sciences, sembilan vaksin potensial yang seluruhnya dikembangkan Cina akan memasuki uji klinis pada April mendatang.

“Penelitian dan pengembangan vaksin Cina untuk virus corona secara umum adalah yang paling maju di dunia. Kami tidak akan lebih lambat dari negara lain,” ucap Wang dalam sebuah konferensi pers di Beijing masih melansir SCMP.

Sementara itu, 7.219 kilometer dari Cina, ilmuwan Jerman juga tengah mengembangkan vaksin virus corona COVID-19. Perusahaan Jerman BioNTech menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan vaksin di Eropa.


BioNTech berkolaborasi dengan Fosun Pharma di Cina dalam pengembangan vaksin COVID-19 di Cina, serta bekerjasama dengan perusahaan farmasi terbesar di AS, Pfizer, untuk mengembangkan vaksin di luar Cina. Pengujian vaksin baru untuk COVID-19 rencananya berlangsung pada awal April 2020.

“BioNTech memiliki posisi terbaik dalam percobaan vaksin COVID-19 karena platform mRNA yang beragam, informasi pengiriman serta kapasitas produksi,” ucap analis bank Berenberg, seperti dilansir dari CNBC.

Perusahaan biotek Jerman lainnya yaitu CureVac juga mengembangkan mRNA dan berupaya memperluas kapasitas pabrik untuk dapat menyediakan miliaran dosis vaksin COVID-19.

Selain ketiga negara tersebut, Israel juga tengah mengembangkan vaksin COVID-19. Menteri Sains dan Teknologi Israel Ofir Akunis menyatakan vaksin buatan Israel dapat siap dalam beberapa minggu dan tersedia dalam 90 hari. Vaksin COVID-19 di Israel dikembangkan oleh Galilee Research Institute (MIGAL).

Pemimpin kelompok bioteknologi MIGAL, Dr. Chen Katz mengungkapkan pihaknya mengembangkan teknologi vaksin secara luas, tidak hanya vaksin untuk jenis virus corona COVID-19. “Kami memutuskan untuk memilih virus corona sebagai model untuk sistem kami dan sebagai bukti konsep untuk teknologi kami. Dalam beberapa minggu jika semuanya berhasil, kami akan memiliki vaksin untuk mencegah virus corona,” tutur Katz melansir The Jerusalem Post.



Politisasi Vaksin Secara Global

Tiga perusahaan biotek di atas yaitu BioNTech, CureVac dan Moderna, menjadi sorotan atas janji mereka menemukan vaksin COVID-19. Ketiga perusahaan ini memiliki spesialisasi dalam terapi mRNA yang digunakan untuk memancing tubuh agar menghasilkan respon imunnya sendiri untuk melawan berbagai penyakit. Jenis vaksin ini berpotensi dikembangkan dan diproduksi lebih cepat daripada vaksin tradisional.

Kurun waktu tiga bulan sejak virus mematikan ini menyebar, Cina, Eropa dan AS memang berlomba-lomba menjadi yang pertama memproduksi vaksin. Harga diri negara seakan dipertaruhkan untuk menjadi penemu vaksin, hak paten, pendapatan dan keuntungan penjualan vaksin, hingga penghargaan ilmiah di bidang kesehatan. Tapi penemuan vaksin COVID-19 ini juga berkaitan dengan keamanan nasional yang mendesak karena korban jiwa yang besar.

Bahkan Presiden AS Donald Trump telah berbicara dalam pertemuan dengan para pejabat industri farmasi tentang kepastian produksi vaksin di AS sekaligus mengendalikan pasokan vaksin tersebut. Pusaran politik antara Jerman dengan AS melibatkan perusahaan farmasi Jerman, CureVac. Pejabat pemerintah federal Jerman percaya Donald Trump mencoba memikat CureVac untuk melakukan penelitian dan produksi vaksin hanya untuk AS.

Desas-desus ini beredar karena mantan CEO CureVac Daniel Menichella turut menghadiri pertemuan pimpinan perusahaan farmasi dengan Donald Trump di Gedung Putih pada awal Maret lalu. Donald Trump dikabarkan menawarkan dana "jumlah besar $1 miliar dolar" guna mengembangkan vaksin COVID-19 "khusus untuk AS".

Mingguan Jerman Die Welt am Sonntag yang mengutip sejumlah narasumber pemerintah Jerman melaporkan, Trump melakukan segala cara untuk mendapatkan vaksin untuk AS. CureVac merupakan perusahaan biotek swasta, yang bahkan turut menerima ‘dana besar’ dari Bill and Melinda Gates Foundation. Perseroan pun memiliki laboratorium di Boston, AS, selain di Tubingen dan Frankfurt, Jerman.



Pemerintah federal Jerman memang tidak akan memiliki kesulitan untuk melarang penjualan vaksin kapan saja kepada perusahaan BUMN. Namun, dengan status CureVac sebagai perusahaan swasta dan non-listed, larangan penjualan oleh pemerintah federal Jerman hanya dimungkinkan dalam kondisi khusus.

Pemerintah federal Jerman pun mengambil langkah yang berbeda dengan mengutus perwakilan dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Ekonomi untuk bernegosiasi dengan CureVac. Sebab, dari sudut pandang pemerintah federal, hal ini adalah masalah keamanan nasional.

Meningkatnya jumlah kasus positif COVID-19 juga meningkatkan tekanan terhadap pemerintah federal Jerman untuk menjaga CureVac agar tetap berada di bawah naungan negara tersebut. Sebagai respons Uni Eropa terhadap minat AS atas CureVac, Komisi Eropa menawarkan dana hingga 140 juta euro dalam kerangka pendanaan publik dan swasta kepada CureVac untuk mendukung pengembangan penelitian vaksin COVID-19.

“Komisi Eropa mengumumkan telah memilih 17 proyek yang melibatkan 136 tim peneliti untuk menerima dana 47,5 juta euro dari program Horizon 2020, terkait penelitian dan inovasinya,” tulis Komisi Eropa.

Baca juga artikel terkait WABAH VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Windu Jusuf
DarkLight