tirto.id - Pada suatu malam, dalam lelah yang mendera selepas kerja, kamu menghadap layar gawai untuk menelusuri katalog streaming dengan ribuan judul. Ada film kriminal populer, drama kaum papa yang dipuji kritikus, hingga serial penuh intrik dengan janji kejutan di setiap episodenya. Namun, setelah belasan menit mencari, kamu justru memutar kembali episode The Office atau Friends yang sudah dihafal di luar kepala.
Mengapa seseorang memilih menonton ulang film lama saat begitu banyak cerita baru tersedia? Apakah kebiasaan ini menandakan kemalasan? Ataukah justru jadi cara bagi manusia untuk mengelola tekanan?
Russell dan Levy diJournal of Consumer Research(2012) mendefinisikan fenomena tersebut sebagai volitional reconsumption, istilah yang mengacu pada "pengalaman aktif dan sadar yang dicari oleh konsumen untuk mereka alami kembali."
Kebutuhan emosional penonton menikmati pengalaman lama ini tampak sederhana. Naun, ternyata memicu nilai ekonomi yang besar.
Pada 2018, Netflix membayar 100 juta dolar AS untuk menayangkan serial komedi lawas Friends selama setahun. HBO Max kemudian mengambil alih hak siarnya melalui kontrak lima tahun senilai 425 juta dolar AS.
MerujukNielsen, Friends mendulang 25 miliar menit waktu tonton lintas platform di Amerika Serikat sepanjang 2023.
Fenomena mengulang tontonan favorit ini makin kentara pada serial Suits, yang meski sudah tamat pada 2019, justru mencetak 57,7 miliar menit waktu tonton pada 2023. Angka fantastis ini bahkan melampaui rekor The Office sebesar 57,1 miliar menit yang diraih saat puncak pandemi pada 2020.
Fakta soal jumlah menit Friends, Suits, hingga The Office ini membuktikan bahwa perilaku menonton ulang bukan sekadar kebiasaan iseng sesaat. Lantas, apa motif seseorang menonton ulang film atau serial berkali-kali?

Mengapa Otak Kita Menyukai Cerita Lama yang Diulang?
Shackleford dkk. dalam JurnalSocial and Personality Psychology Compass (2026) mengungkap bahwa perilaku mengonsumsi ulang narasi lama merupakan salah satu mekanisme pertahanan psikologis paling rasional yang dilakukan manusia modern di tengah dunia yang kian kacau.
Kebiasaan ini bersifat universal, sebab dalam penelitian tersebut, lebih dari 95 persen responden melaporkan mereka secara aktif memilih untuk nonton ulang film atau serial yang sudah pernah mereka tamatkan.
Untuk memahami mengapa fenomena ini begitu merajalela, kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi di kepala saat memilih tontonan yang sudah familiar.
Kehidupan modern menuntut kapasitas mental besar setiap harinya. Saat seseorang memutuskan untuk menonton serial yang benar-benar baru, otaknya dipaksa bekerja aktif mengevaluasi informasi dari nol. Ia harus mengenali deretan karakter baru, memahami dinamika hubungan antartokoh, mencerna latar belakang cerita, dan membentengi diri dari kemungkinan plot twist yang mengecewakan atau terlalu menekan emosi. Proses mencerna ketidakpastian ini butuh energi kognitif yang tidak sedikit.
Sebaliknya, ketika memilih untuk melempar pandangan ke tayangan yang sudah akrab, seseorang memberi ruang bagi otaknya untuk beristirahat. "Begitu sebuah narasi menjadi akrab, pikiran tidak perlu lagi bekerja terlalu keras untuk mencari tahu apa yang akan terjadi selanjutnya; pikiran mulai mengantisipasinya," tulis Shackleford dkk.

Pencarian rasa aman melalui kepastian narasi ini disebut sebagai upaya meraih "kenyamanan ontologis” (ontological comfort). Ketika realitas di luar sana terasa penuh tekanan, berubah terlalu cepat, atau tidak bisa diprediksi, menyaksikan perjalanan hidup karakter fiksi yang konsisten memberi jangkar emosional yang kokoh.
Riset eksperimental Jaye L. Derrick dan kolega di Jurnal Social Psychological and Personality Science (2012) menemukan bahwa menonton kembali tayangan favorit setelah menyelesaikan tugas mental yang berat, terbukti efektif memulihkan suasana hati sekaligus mengisi kembali daya kendali diri (self-control). Aktivitas ini bekerja layaknya "teman bisu" yang memberi rasa nyaman tanpa menuntut usaha ekstra.
Menariknya, rasa nyaman tersebut ternyata sejalan dengan bagaimana otak kita merespons cerita yang familiar. Sebagaimana tersirat dalam temuan Lee, dkk. di Jurnal eLife (2021), semakin kita mengenali alur sebuah film, semakin aktif pula otak dalam memprediksi adegan demi adegan hingga 15 detik sebelum momen itu muncul di layar.
Tebakan demi tebakan otak yang selalu tepat ini membuat pikiran kita bekerja tanpa beban. Alhasil, muncul sensasi nyaman, yang datang bukan dari rasa penasaran akan kelanjutan cerita, melainkan dari kepuasan saat setiap tebakan di kepala kita terbukti benar secara presisi.
Nikmat Tersendiri Nonton Ulang: Filmnya Sama, Kamu yang Beda
Keindahan dari memutar kembali film favorit tidak hanya urusan efisiensi otak. Keindahan lain muncul dari sebuah paradoks: jalan cerita film tersebut memang tidak pernah berubah, tetapi kita yang menontonnya terus saja menjadi orang yang berbeda.
Kebiasaan menonton ulang film yang sama bertumpu pada dimensi emosional yang mendalam, mulai dari ikatan dengan karakter fiksi, ruang untuk berefleksi, hingga kenikmatan nostalgia.
Ketika hubungan sosial di dunia nyata terasa rumit, jauh, atau melelahkan, karakter-karakter fiksi dalam serial favorit bertransformasi menjadi teman pengganti (social surrogacy) sebagaimana dijelaskan oleh Jaye L. Derrick dkk.
Hubungan satu arah namun bermakna ini membuat penonton merasakan kedekatan emosional dengan figur yang tepercaya dan tidak akan pernah mengecewakan.
Menariknya, meski film atau serial yang diputar tidak pernah berubah satu adegan pun, cara penonton memaknai cerita tersebut selalu berkembang seiring jalannya waktu dan bertambahnya usia.
Shackleford dan kolega menyebut bahwa elemen nostalgia bertindak sebagai mekanisme yang menghubungkan sosok seseorang pada masa kini dengan sosok dirinya pada masa lalu (past-present self-continuity).

Menonton kembali tayangan yang biasa dinikmati di masa-masa tertentu dalam hidup bisa membangkitkan kembali memori berharga, memperkuat rasa kesinambungan identitas diri. Pengalaman ini meyakinkan penonton bahwa di tengah segala perubahan hidup yang membingungkan, ada inti dalam diri yang tetap bertahan utuh.
Meski memberi manfaat terapeutik yang nyata, para pengamat budaya dan akademisi juga mengingatkan soal potensi dampak negatif dari kebiasaan ini.
Ketergantungan berlebihan pada tayangan yang akrab berisiko mengurung kita dalam jebakan nostalgia masa lalu. Ketika algoritma platform streaming terus-menerus menyuguhkan konten yang aman dan mudah ditebak, ruang untuk menjelajahi cerita baru dan melatih daya kritis kita justru kian menyempit.
Studi perbandingan oleh Emanuele Castano di JurnalHumanities and Social Sciences Communications(2021) menunjukkan bahwa narasi yang kurang terprediksi dan penuh nuansa, seperti pada film-film seni, menuntut penonton aktif menyimpulkan sendiri motivasi dan emosi para karakter. Proses ini pada akhirnya mengasah kecerdasan emosional dan kognitif sosial, seperti empati serta kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Sebaliknya, tayangan yang terlalu mudah ditebak dan diputar berulang kali tidak memberikan stimulasi mental yang serupa. Lama-kelamaan, kebiasaan ini berpotensi menumpulkan rasa ingin tahu, sekaligus menurunkan keterbukaan kita terhadap sudut pandang dan cerita baru.
Menonton ulang film favorit adalah bentuk kompromi yang wajar dengan hidup yang makin melelahkan. Kita tidak sedang membuang waktu. Kita hanya sedang menumpang teduh pada cerita yang sudah pasti aman ujungnya. Namun, memelihara empati dan ketajaman berpikir memang butuh sedikit keberanian untuk melangkah keluar dari layar-layar yang akrab di mata dan ingatan.
Tidak ada salahnya sesekali kembali ke tontonan lama untuk mengisi energi, asalkan kita ingat bahwa dunia di luar sana masih punya banyak cerita baru yang menanti untuk dipahami.
Penulis: Rofi Ali Majid
Masuk tirto.id





































