Menuju konten utama

Berkeringat Dingin Saat Cemas atau Panik? Ketahui Penyebabnya

Berkeringat dingin termasuk reaksi alami tubuh saat merasa di bawah ancaman. Ketahui sebab dan munculnya keringat dingin akibat cemas atau panik.

Berkeringat Dingin Saat Cemas atau Panik? Ketahui Penyebabnya
Ilustrasi cemas. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penahkan Anda merasa cemas dan panik saat berada di depan kelas untuk presentasi? Di saat yang sama jantung berdebar, telapak tangan basah, hingga keluar keringat dingin.

Kondisi ini merupakan reaksi alami tubuh saat merasa di bawah tekanan atau merespons ancaman yang dipersepsikan. Ketika merasa cemas, tubuh bakal mengalami peningkatan hormon adrenalin yang mengaktifkan kelenjar keringat, hingga memunculkan keringat dingin.

Respons alamiah tubuh biasanya hanya bertahan hingga 30 menit kemudian sistem saraf parasimpatik menetralkan respons tubuh agar kembali stabil. Namun demikian jika terjadi keringat dingin yang disertai nyeri dada hingga sesak napas, perlu diwaspadai sebagai tanda penyakit kronis.

Apa yang Terjadi pada Tubuh Ketika Cemas dan Panik?

Cemas merupakan respons alami tubuh terhadap situasi yang dianggap mengancam, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Kecemasan dapat terjadi tanpa adanya bahaya yang nyata dan hanya berada dalam pikiran bahwa bahaya itu ada.

Rasa cemas terjadi sebagai respons terhadap bahaya yang diantisipasi secara realistis, sehingga merupakan naluri untuk bertahan hidup melalui lawan atau lari (fight-or-flight).

Persepsi adanya ancaman mengaktifkan sistem saraf simpatis, memicu respons stres akut yang mempersiapkan tubuh untuk melawan atau melarikan diri. Ketika seseorang mendeteksi bahaya, tubuh melepaskan adrenalin dan memulai serangkaian perubahan yang membantu persiapan untuk bertindak.

Melansir laman cci.health.wa.gov.au, otak mengirimkan pesan ke sistem saraf otonom saat kita merasa cemas. Sistem saraf otonom memiliki 2 bagian, yaitu cabang simpatik dan cabang parasimpatik.

Kedua bagian ini mengendalikan perubahan fisik yang terjadi dalam respons fight or flight. Cabang simpatik bertugas mengaktifkan berbagai area tubuh agar siap bertindak. Saat cabang simpatik diaktifkan, seluruh area tubuh bakal merespons, sehingga memicu perubahan fisik dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Ilustrasi Cemas

Ilustrasi Duck Sindrome. foto/istockphoto

Sistem saraf simpatik melepaskan 2 zat kimia dari kelenjar adrenal di atas ginjal. Zat kimia ini disebut adrenalin dan noradrenalin, yang pada dasarnya berfungsi sebagai pembawa pesan untuk mempertahankan perubahan fisik dalam jangka waktu yang cukup.

Beberapa perubahan fisik tersebut di antaranya peningkatan detak jantung, dan sirkulasi pembuluh darah menuju otot menjadi melebar. Perubahan-perubahan ini meningkatkan ketersediaan oksigen dan energi bagi jantung serta otot rangka, sekaligus mengalihkan aliran darah menuju otot dan otak.

Mengutip laman Psychology Tools, situasi ini juga meningkatkan laju pernapasan dan pelebaran saluran bronkus. Pernapasan yang lebih cepat memungkinkan lebih banyak oksigen masuk, untuk memberi tenaga kepada otot.

Otot di seluruh tubuh juga menegang sebagai bentuk persiapan. Berikutnya, proses pencernaan berhenti sementara karena energi dialihkan ke otot. Aliran darah dialihkan menjauhi sistem pencernaan, yang berpeluang dapat menimbulkan rasa mual.

Peningkatan hormon adrenalin juga dapat mengaktifkan kelenjar keringat, hingga akhirnya menciptakan keringat dingin. Sementara itu, sistem saraf parasimpatik berusaha menjadi penyeimbang dan berfungsi menetralkan respons tubuh agar kembali stabil.

Kenapa Bisa Muncul Keringat Dingin?

Keringat dingin atau diaforesis dapat muncul sebagai respons terhadap rangsangan emosional seperti stres dan kecemasan. Secara umum keringat dingin terjadi di seluruh permukaan tubuh, namun paling nyata terlihat pada telapak tangan, telapak kaki, wajah, dan ketiak.

Kondisi ini tidak dipicu oleh suhu ruangan maupun aktivitas fisik. Kulit yang terasa dingin serta lembap ini menjadi sebuah tanda yang paling sering dipicu oleh adrenalin.

Diaforesis biasanya terjadi akibat lonjakan aktivitas sistem saraf simpatis yang aktif secara serentak. Lonjakan yang sama inilah yang membuat detak jantung meningkat, pupil melebar, dan kelenjar keringat terbuka.

Laman Acibadem International menyebut kulit terasa dingin karena hormon stres menyebabkan pembuluh darah di permukaan kulit menyempit, tepat pada saat kelenjar keringat sedang aktif. Akibatnya, darah hangat mengalir ke bagian dalam tubuh, sementara kelembapan tetap tertahan di permukaan kulit, sehingga saat disentuh kulit terasa lembap dan dingin.

Keringat dingin saat cemas juga erat kaitannya dengan bagian otak yang disebut hipotalamus. Bagian ini menjalankan 2 fungsi sekaligus, yaitu memantau suhu inti tubuh dan mengoordinasikan respons tubuh terhadap stres. Kedua fungsi ini menggunakan jalur saraf yang sama menuju ke kulit.

Ilustrasi Tangan Berkeringat

Hyperhidrosis tangan basah dari sindrom keringat. FOTO/iStockphoto

Kelenjar keringat diaktifkan oleh serabut saraf yang melepaskan pembawa pesan kimia bernama asetilkolin. Saat terpapar panas, pesan yang dikirimkan bersifat terarah dan proporsional. Namun saat menghadapi bahaya mendadak, sistem simpatis bakal aktif secara menyeluruh, lalu adrenalin beserta hormon terkait membanjiri aliran darah.

Adrenalin juga menyebabkan pembuluh darah kecil di kulit menyempit, sehingga aliran darah dialihkan menuju jantung, otak, dan otot-otot besar. Karena berkurangnya darah hangat di dekat permukaan tubuh, kulit pun menjadi dingin sekaligus lembap.

Keringat dingin kerap muncul bersamaan dengan rasa mual, detak jantung yang cepat, dan pusing. Gejala-gejala ini bukanlah hal yang terpisah, melainkan dampak dari lonjakan adrenalin yang sama yang memengaruhi lambung, jantung, dan pembuluh darah secara bersamaan.

Fenomena keringat dingin juga disebabkan oleh tingginya kepadatan kelenjar keringat ekrin. Kelenjar ekrin tersebar di seluruh tubuh dan berfungsi membantu mengatur suhu tubuh.

Selama stres dan cemas, jaringan saraf kolinergik memicu aktivasi kelenjar keringat ekrin. Keringat yang dihasilkan oleh kelenjar ekrin sebagian besar terdiri dari air, yang membantu mendinginkan tubuh.

Kapan Keringat Dingin Perlu Diwaspadai?

Keringat dingin yang muncul karena rasa cemas tidak mengganggu dan tidak membahayakan. Namun jika keringat dingin dibarengi sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, sakit kepala, dan pusing, maka perlu diwaspadai.

Kondisi ini dapat menjadi gejala munculnya penyakit lain yang lebih serius. Salah satunya menjadi tanda peringatan serangan jantung yang merupakan kondisi darurat medis. Serangan jantung terjadi ketika sebagian otot jantung tidak mendapatkan cukup pasokan darah.

Kondisi ini biasanya disebabkan tersumbatnya arteri yang menyuplai darah ke jantung. Beberapa gejala umum serangan jantung yaitu nyeri atau tekanan di dada, jantung berdebar kencang, merasa pusing atau hampir pingsan, hingga berkeringat, termasuk keringat dingin.

Meski beberapa gejala serangan jantung dan serangan panik saling tumpang tindih, hal ini dapat dibedakan dengan cermat mulai dari durasi hingga bagian yang terasa nyeri.

"Pada serangan jantung, nyeri menjalar ke area lain seperti lengan, rahang, atau leher. Jika itu adalah serangan panik, rasa nyeri biasanya hanya akan terasa di area dada,” ujar dokter spesialis jantung, Mistyann-Blue Miller, dikutip dari health.clevelandclinic.org, pada 26 Januari 2024.

Ilustrasi Tangan Berkeringat

Ilustrasi Tangan Berkeringat. FOTO/iStockphoto

Ia juga menjelaskan gejala serangan panik relatif lebih pendek selama beberapa menit hingga satu jam. Setelah itu, gejala akan menghilang dan tubuh merasa lebih baik. Sebaliknya, rasa nyeri dan gejala serangan jantung terus berlanjut atau muncul secara bergelombang, terkadang terasa lebih ringan, lalu memburuk kembali.

Bagi kebanyakan orang, serangan panik biasanya hanya berlangsung sekitar 10 menit. Serangan ini muncul secara tiba-tiba dan cenderung mencapai puncaknya dalam rentang waktu tersebut. Sebagian besar gejala serangan panik akan hilang dalam waktu 30 menit, meskipun terkadang dibutuhkan waktu beberapa jam hingga gejala tersebut benar-benar hilang sepenuhnya.

Sementara serangan jantung biasanya muncul setelah melakukan aktivitas fisik yang berat. Serangan jantung dapat menimbulkan rasa nyeri, mulai dari sensasi tajam hingga rasa tertekan yang hebat. Gejala serangan jantung tidak hilang dalam waktu singkat, melainkan bisa berlangsung selama berjam-jam, seperti dikutip dari laman Healthline.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - GWS
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama