Menuju konten utama

Suara dari Tribun: Saat Chant Suporter Pengaruhi Psikis Tim Tamu

Atmosfer tribun tak cuma menyatukan detak jantung suporter, tapi juga memicu home advantage dan menekan mental tim lawan. Bagaimana penjelasan ilmiahnya?

Suara dari Tribun: Saat Chant Suporter Pengaruhi Psikis Tim Tamu
Penggemar Athletic Bilbao merayakan di akhir Copa del Rey Spanyol, perempat final, pertandingan sepak bola antara Athletic Bilbao dan Barcelona di stadion San Mames di Bilbao, Spanyol, Kamis, 6 Februari 2020. Athletic Bilbao menang 1-0. Alvaro Barrientos/AP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dalam laga Persebaya vs PSS di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (18/10/2026), kelompok Brigata Curva Sud (BCS) tetap mengisi tribun. Mereka hadir tanpa perayaan, mini flag, dan chant sebagai bentuk empati, usai empat suporter PSS meninggal dalam kecelakaan di Tol Ngawi–Kertosono KM 616 saat perjalanan menuju Surabaya.

"Sebagai bentuk penghormatan kepada saudara kita yang telah berpulang, Brigata Curva Sud tetap memasuki stadion tanpa perayaan, tanpa miniflag, dan tanpa nyanyian. Mari jaga sikap, tunjukkan empati, dan hormati saudara kita yang telah mendahului. Duka kita bersama. Al-Fatihah," keterangan di akun Instagram Brigada Curva Sud, @bcsxpss.1976 pada Minggu (18/10) untuk melepas kepergian Novandika Dwi Adi, Fakhri Maulana Al-Zaki, Iyan Fathur Ar-Rozaq, dan Rio Rahman Sahid.

Laga Persebaya kontra PSS berlangsung dalam suasana penuh solidaritas. Sebelum kick-off, kedua tim muncul mengenakan pita hitam di lengan sebagai tanda duka. Mengheningkan cipta selama 1 menit pun dilakukan. Usai partai yang berakhir imbang 2-2 itu, rasa haru pecah ketika para suporter menyanyikan anthem "Sampai Kau Bisa".

Pengalaman di tribun stadion memang tak selalu berpusat pada riuh dukungan untuk meraih kemenangan. Keheningan, gerakan, dan ritual bersama yang dilakukan suporter, seperti yang diperlihatkan oleh fans PSS Sleman, justru menegaskan betapa kuatnya ikatan emosional di antara mereka.

Dalam psikologi, sejumlah penelitian menemukan bahwa aktivitas kolektif semacam ini terkait dengan sinkronisasi respons tubuh, rasa memiliki terhadap kelompok, sampai persepsi tentang kekuatan sebuah komunitas.

Detak Jantung yang Menyatu di Tribun Penonton

Ketika para suporter berkumpul dan berbagi momen bersama di tribun, tubuh mereka mengalami keselarasan respons fisiologis. Misalnya ketika seluruh tribun mengheningkan cipta atau menyanyikan lagu anthem bersama. Saat itulah, detak jantung mereka dapat berdetak dalam irama yang selaras.

Fenomena ini dikenal sebagai physiological synchrony, yaitu kondisi ketika aktivitas fisiologis dari dua individu atau lebih saling terhubung atau terkoordinasi secara serempak.

Hal tersebut dibuktikan dalam penelitian Baranowski-Pinto, dkk. (2022) yang diterbitkan Scientific Reports. Riset yang mengamati 182 penggemar dalam 26 pertandingan basket ini, membandingkan suporter yang hadir langsung di tengah kerumunan stadion berkapasitas rata-rata 8.344 orang dengan penonton layar yang menyaksikan laga dalam kelompok kecil beranggotakan 4 orang.

Hasil analisis menunjukkan bahwa penonton di stadion mengalami tingkat sinkronisasi detak jantung yang signifikan secara statistik dan bertahan lama sepanjang laga dibandingkan mereka yang menyaksikan dari jauh (televisi). Menariknya, keselarasan detak jantung ini tidak dipicu oleh gerakan fisik seperti melompat atau bersorak, melainkan murni oleh pengalaman emosional yang dirasakan bersama.

Suporter Persib Bandung di Stadion GBLA

Arsip- Ribuan suporter Persib Bandung yakni Bobotoh saat memadati area tribun Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Jawa Barat. (ANTARA/Rubby Jovan)

Physiological synchrony di stadion ini terbukti memicu pengalaman transformatif. Pengalaman inilah yang mendorong terbentuknya identity fusion, kondisi ketika identitas pribadi seseorang melebur erat ke dalam kelompoknya.

"Temuan kami menunjukkan bahwa efek sosial dari pertandingan olahraga sangat bergantung pada dinamika antarpribadi yang berkembang di antara para penggemar, ketimbang sekadar dipicu oleh menyaksikan pertandingan itu sendiri," tulis Baranowski-Pinto dkk.

Bentuk keselarasan emosional ini tidak hanya terjadi di dalam tribun (stadion) saat 90 menit laga berjalan, tetapi juga di luar stadion melalui ritual-ritual kolektif. Temuan yang muncul di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2025 mempertegas hal tersebut.

Dalam riset Xgyalatas, dkk. tersebut, peneliti mengamati ritual pralaga Rua de Fogo di Brasil, ketika suporter berkumpul, menyalakan suar, bertepuk tangan, lalu menyanyikan chant untuk menyambut kedatangan bus tim kesayangan mereka. Berbekal sensor elektrokardiografi yang dikenakan, peneliti memantau pola detak jantung 17 suporter selama ritual dan pertandingan.

Ritual tersebut menghasilkan sinkronisasi emosional yang tinggi, bahkan melampaui beberapa momen selama laga berlangsung. Pola serupa juga terdeteksi pada sopir bus rombongan tim yang tidak terlibat secara fisik dalam ritual.

"Hasil penelitian kami menunjukkan pentingnya ritual pra-pertandingan dalam meningkatkan pengalaman emosional bersama, menggarisbawahi daya tarik olahraga yang lebih luas sebagai fenomena budaya," terang Dimitris Xygalatas dkk. "Karya ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana pertemuan kolektif mendorong persatuan dan identitas bersama."

Keselarasan respons tubuh penonton, atau secara spesifik suporter sebuah tim, menjadi kunci utama yang merekatkan ikatan emosional hingga melebur menjadi satu identitas kolektif. Namun, ikatan emosional di antara sesama suporter ini hanyalah satu sisi cerita.

Ketika ikatan tersebut diekspresikan secara masif lewat gemuruh nyanyian di stadion, pertanyaan berikutnya muncul. Sejauh apa dampak atmosfer tribun ini terhadap jalannya pertandingan dan mentalitas para pemain di lapangan hijau?

Chant Suporter: Senjata Tim Kandang & Teror buat Tim Tandang

Jika chant bisa memperkuat ikatan antarsuporter, apakah nyanyian yang menggema di stadion juga bisa meningkatkan semangat tim tuan rumah sekaligus menekan mental lawan?

Salah satu cara untuk memahami pengaruh penonton terhadap pertandingan muncul selama momen pandemi COVID-19. Ketika sejumlah kompetisi sepak bola berlangsung tanpa penonton, peneliti memperoleh kesempatan untuk membandingkan performa tim dalam kondisi stadion yang berbeda.

Sihang Wang dan Yang Qin (2023) melakukan tinjauan terhadap 28 riset ihwal pengaruh penonton terhadap keunggulan kandang atau home advantage selama pandemi. Hasilnya, riset-riset tersebut secara konsisten menemukan bahwa dalam liga elite Eropa (Bundesliga, La Liga, Premier League, Primeira Liga Portugal, dan Serie A), jumlah gol, tembakan, serta tembakan tepat sasaran (shots on target) dari tim tuan rumah mengalami penurunan signifikan setelah pembatasan COVID-19. Temuan ini selaras dengan data lain dari Liga Super China, bahwa keberhasilan operan, tembakan, dan akurasi tembakan tuan rumah pun merosot.

Wang dan Qin menyimpulkan, ketika penonton hadir, sorak-sorai yang antusias dan slogan dapat memotivasi para pemain tim tuan rumah, merangsang kesadaran teritorial serta agresivitas menyerang mereka, sehingga membuat performa mereka menjadi lebih baik. Namun, tiadanya penonton serta hilangnya perhatian dan dorongan semangat dari suporter tuan rumah menyebabkan efek kerumunan hilang untuk tim kandang.

"Wasit tampaknya cenderung lebih adil ketika penonton tidak ada. Oleh karena itu, dukungan penonton jadi faktor penting yang memengaruhi keuntungan kandang, klub setidaknya bisa mencoba untuk memperkuat keuntungan kandang dan meningkatkan kemungkinan menang dengan mendorong penonton masuk stadion atau mengurangi harga tiket," catat mereka pula.

PSS Sleman kalahkan Madura United

Suporter menyalakan flare pada pertandingan Liga 1 antara Madura United melawan PSS Sleman di Stadion Gelora Bangkalan, Bangkalan, Jawa Timur, Sabtu (24/5/2025). PSS Sleman mengalahkan Madura United dengan skor 3-0. ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/foc.

Efek suara penonton tidak hanya bekerja satu arah untuk menyuntikkan motivasi bagi tim tuan rumah. Gemuruh chant yang kompak di tribun juga bekerja ke arah sebaliknya: memancarkan sinyal ancaman dan tekanan psikologis kepada tim tamu.

Salah satu mekanisme psikologis yang membantu menjelaskan pengaruh chant terhadap tim lawan ini adalah persepsi group formidability, yaitu penilaian terhadap kekuatan dan kekompakan suatu kelompok. Penelitian yang diterbitkan dalam Evolution and Human Behaviorpada 2025 melibatkan 771 suporter sepak bola Brasil. Para peneliti meminta peserta mendengarkan chant yang dinyanyikan secara sinkron atau tidak sinkron, lalu mengukur persepsi mereka terhadap kelompok tersebut.

Hasilnya menunjukkan, chant sinkron membuat kelompok terdengar lebih tangguh, baik bagi anggota kelompok sendiri maupun bagi pendukung kelompok lawan. Namun, eksperimen tersebut tidak menemukan bahwa sinkronisasi chant secara langsung meningkatkan perilaku prokelompok atau permusuhan terhadap kelompok lain. Penelitian tersebut juga tidak menguji apakah chant membuat pemain lawan hilang konsentrasi selama pertandingan.

Dalam pertandingan nyata, suara tribun yang kuat berpotensi menambah tekanan psikologis bagi tim tamu. Bagi lawan, suara yang kompak bisa membentuk kesan bahwa mereka menghadapi kelompok suporter solid. Hanya saja, pengaruh psikologis tersebut tidak selalu berhubungan dengan hasil akhir laga.

Baca juga artikel terkait LATEST WP atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus