Menuju konten utama

Benarkah AI Ramah Lingkungan karena Berbasis Digital?

AI dapat mendukung aktivitas digital secara mudah dan efisien. Namun, penggunaan air oleh AI diperkirakan setara kebutuhan 1,3 miliar orang pada 2030.

Benarkah AI Ramah Lingkungan karena Berbasis Digital?
ilustrasi Agentic AI. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kecanggihan AI terletak pada kemampuan mendeteksi pola dalam data serta memanfaatkan pengetahuan historis. Jumlah pusat data di seluruh dunia melonjak dari 500.000 (pada tahun 2012) menjadi lebih dari 8 juta. Konsumsi energi berlipat ganda setiap empat tahun.

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan berbasis digital mengubah kehidupan manusia secara signifikan. Berbagai informasi mudah ditemukan hanya dalam hitungan menit. Pemanfaatan AI juga digunakan untuk membuat kebijakan.

Namun, di balik kemudahan tersebut, berbagai penelitian menemukan bahwa AI turut menyumbang kerusakan lingkungan. Guna mendukung siklus hidup AI, dibutuhkan pasokan air dan listrik dalam jumlah fantastis.

Selain itu, limbah elektronik dan emisi karbon juga semakin meningkat. Berbagai dampak lingkungan diperkirakan akan membahayakan kehidupan manusia dan planet yang ditempati jika tidak ada mitigasi yang bijak dari berbagai pihak.

Kenapa AI Dinilai Ramah Lingkungan?

Penggunaan AI tak lepas dari kehidupan manusia, terutama berkaitan dengan kelimpahan ketersediaan data. Teknologi buatan dapat mendukung aktivitas digital secara mudah, efisien, serta mampu memproses informasi dan meniru cara berpikir manusia.

Melansir laman United Nations Environment Programme, kecanggihan AI terletak pada kemampuan mendeteksi pola dalam data serta memanfaatkan pengetahuan historis. Keunggulan dapat digunakan untuk pemantauan lingkungan secara real-time, prakiraan polusi dan cuaca, pemodelan iklim, serta pengelolaan energi cerdas, yang pada gilirannya berdampak pada perumusan kebijakan lingkungan, kepatuhan, dan penegakan aturan.

Di negara maju, AI juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi problem lingkungan. Salah satunya mendeteksi kebocoran metana instalasi minyak dan gas. Kemajuan tersebut menumbuhkan harapan bahwa AI dapat membantu dunia mengatasi perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

 ilustrasi Agentic AI

ilustrasi Agentic AI. foto/istockphoto

Namun, kemudahan yang ditawarkan juga meninggalkan kehawatiran terhadap lingkungan. Teknologi pemrosesan informasi yang mengintegrasikan model pengetahuan dan algoritma perlu dipandang sebagai perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) untuk melihat dampak lingkungan secara komprehensif.

AI sebagai perangkat lunak melibatkan pengumpulan dan persiapan data, pengembangan model, pelatihan, validasi, penerapan, inferensi, pemeliharaan, dan penghentian. Sementara, memahami AI sebagai perangkat keras melibatkan produksi cip komputer, pembangunan dan pengoperasian pusat data (data centres), transportasi, hingga pengelolaan limbah elektronik (e-waste).

Dokumen Artificial Intelligence (AI) end-to-end: The Environmental Impact of the Full AI Lifecycle Needs to be Comprehensively Assessed - Issue Note yang diterbitkan oleh United Nations Environment Programme menjelaskan, penggunaan AI menghasilkan perubahan perilaku serta struktural ekonomi dan masyarakat . Hal ini berdampak pad pola konsumsi dan produksi, gaya hidup, kepercayaan sosial, misinformasi, dan tata kelola.

Sebagai contoh, AI bisa digunakan untuk mencari data ilmiah yang rumit bagi pembaca. Di saat yang sama, AI memfasilitasi kampanye misinformasi yang disengaja. Kecanggihan AI juga dapat memicu ketimpangan yang lebih parah, khususnya bagi perempuan, minoritas, dan individu dari latar belakang berpenghasilan rendah.

Ilustrasi Ai

Ilustrasi Ai. foto/istockphoto

Minimnya data kelompok yang kurang terwakili dapat berdampak pada kebijakan dan pengambilan keputusan yang bias dan hanya menguntungkan kelompok superior. Beban lingkungan siklus hidup AI cenderung ditanggung oleh negara-negara berkembang. Sementara, pemanfaatan ekonomi dan inovasi hanya dinikmati oleh negara maju.

Di tengah kemudahan yang ditawarkan AI, United Nations Environment Programme juga menelaah pentingnya memahami siklus hidup AI dari hulu ke hilir. Di tengah ledakan data yang tampak memukau, terdapat potensi dampak lingkungan yang signifikan dan perlu dicermati oleh semua pihak.

Apakah AI Berbahaya untuk Lingkungan?

United Nations Environment Programme mencatat jumlah pusat data di seluruh dunia melonjak dari 500.000 pada tahun 2012 menjadi lebih dari 8 juta, dengan konsumsi energi yang berlipat ganda setiap empat tahun.

Dampak lingkungan siklus hidup perangkat lunak AI cukup signifikan terutama pada fase pelatihan karena beban data dan komputasi yang tinggi. Teknologi AI generatif dan model bahasa besar (Large Language Models / LLMs) juga menyebabkan peningkatan penggunaan energi.

Dokumen resmi ini menyebut satu kueri LLM tunggal membutuhkan 2,9 watt/jam listrik, dibandingkan dengan 0,3 watt/jam untuk pencarian internet biasa. Melatih satu LLM tunggal menghasilkan sekitar 300.000 kg emisi karbon dioksida. Nilai ini setara dengan lima kali emisi seumur hidup rata-rata mobil atau setara dengan 125 penerbangan pulang pergi antara New York dan Beijing.

Ilustrasi Ai

Ilustrasi Ai. foto/istockphoto

Kebutuhan air untuk menyokong siklus hidup AI diperkirakan mencapai 4,2–6,6 miliar meter kubik pada tahun 2027. Jumlah tersebut melampaui total pengambilan air tahunan negara Denmark yang berkisar antara 4–6 miliar meter kubik dan melebihi separuh dari penggunaan air tahunan di Britania Raya.

Studi The cloud’s thirst: Quantifying AI’s water footprint and its impact on the water-energy nexus in Sao Paulo, Brazil (2026) karya Guangda Liang yang dimuat di Cambridge University Pressmenemukan, infrastruktur AI di Sao Paulo, Brasil mengonsumsi sekitar 16,1 juta meter kubik air setiap tahun.

Angka ini setara dengan kebutuhan lebih dari 100.000 rumah tangga. Yang memprihatinkan, separuh dari jumlah air tersebut bersifat virtual, yakni hilang akibat penguapan di waduk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menyuplai jaringan listrik. Sebagian lainnya digunakan untuk pendinginan.

Dengan demikian, siklus hidup AI menuntut lebih banyak energi dan membebani pasokan air di wilayah yang memang sudah rentan terhadap kekeringan dan perubahan iklim. Jika tidak diatur secara bijak dan bertanggungjawab, maka penggunaan air antara pusat data dan kebutuhan manusia bisa saja menjadi masalah serius di kemudian hari.

Ilustrasi Clearview AI

Ilustrasi Clearview AI. FOTO/iStockphoto

Melansir lamanInternational Energy Agency, pusat data AI secara global memerlukan air enam kali lebih banyak daripada jumlah air yang digunakan Denmark, dengan total populasi 6 juta jiwa.

Penggunaan AI mendorong permintaan cip meningkat empat kali lipat pada periode 2001-2022. Jumlah permintaan tersebut juga memengaruhi kebutuhan mineral dan logam yang terus meningkat. Padahal, mineral dan logam tanah jurang ditambang dengan cara merusak lingkungan.

Penggunaan cip dan logam tanah jurang juga menyebabkan dampak lingkungan, seperti kontaminasi air dan udara, degradasi keanekaragaman hayati, dan emisi gas rumah kaca. Jumlah ini menandai peningkatan volume limbah elektronik yang lebih tinggi. Limbah elektronik tersebut tentunya mengandung zat berbahaya: merkuri dan timbal.

Ilustrasi Merkuri

Ilustrasi Merkuri. foto/istockphoto

Ilmuan di United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) memperkirakan, penggunaan air oleh AI pada 2030 setara dengan kebutuhan 1,3 miliar orang. Sementara, konsumsi energi akan mencapai tiga kali lipat dari kebutuhan energi 650 juta orang.

ChatGPT diperkirakan memproses sekitar 2,5 miliar permintaan per hari, yang setara dengan konsumsi listrik sekitar 383 GWh per tahun. Guna mengimbangi emisi karbon yang dihasilkan, diperlukan 2,6 juta bibit pohon yang ditanam selama 10 tahun. Jejak air yang ditimbulkan juga setara dengan kebutuhan air domestik tahunan minimum bagi sekitar 500.000 orang di Afrika Sub-Sahara.

Baca juga artikel terkait ARTIFICIAL INTELLIGENCE atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo