Menuju konten utama

Bagaimana Longsor Ecopark Badung Bali Bisa Terjadi?

Longsor bisa terjadi bersamaan curah hujan tinggi. Infiltrasi air hujan meningkatkan kadar air matriks tanah. 

Bagaimana Longsor Ecopark Badung Bali Bisa Terjadi?
Terlihat tanah longsor di Petang, Kabupaten Badung, Bali. Foto/istimewa/warga
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tanah longsor termasuk fenomena yang terjadi ketika lereng tidak stabil dan berkaitan dengan geologi, tanah, topografi, dan vegetasi. Bencana longsor kerap mengiringi curah hujan yang tinggi. Tak hanya berdampak pada infrastruktur dan bangunan, tapi juga manusia di sekitarnya.

Longsor terjadi di area penginapan Pelaga Eco Park, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, Bali, Minggu, 1 November 2026 pukul 23.00 WITA. Hujan deras mengguyur area tersebut sejak pukul 15.00 WITA, Minggu, 1 November, hingga hari Senin, 1 November, dini hari.

Peristiwa ini menyebabkan satu bangunan glamping hanyut terbawa arus sungai di bawahnya dan 3 bangunan lain roboh. Menurut Kepala Pelaksanaan BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja, 3 unit vila tergerus akibat tanah longsor dan 2 orang hilang.

Satu di antara korban hilang adalah warga negara asing (WNA). Sedangkan satu lainnya warga negara Indonesia (WNI) bernama Bangkit Mubarok.

Faktor Pemicu Terjadinya Longsor

Longsor bisa terjadi tanpa peringatan dan sangat sulit untuk memprediksi lokasi dan waktunya. Maka, penting untuk mengetahui apa saja yang menjadi faktor pemicu terjadi longsor.

Jurnal Modeling Earth Systems an Environment berjudul “Laboratory-based Physical Modeling of Rainfall-induced Landslides: A Systematic Review” karya Rababa, dkk. (2025) turut menjelaskan peristiwa ini.

Biasanya, longsor terjadi bersamaan dengan curah hujan yang tinggi. Fenomena longsor melalui proses geoteknik dan hidrologi yang kompleks, lalu dapat dipengaruhi kondisi lereng alami, seperti geometri lereng dan sifat hidromekanik tanah.

Faktor utama pemicu terjadi tanah longsor adalah infiltrasi air hujan yang meningkatkan kadar air matriks tanah. Hal ini menyebabkan penurunan isapan matriks dan parameter kekuatan geser tanah.

Ilustrasi Tanah Longsor

Pembersihan material tanah longsor yang menimbun sejumlah ruas jalan. FOTO/iStockphoto

Tak hanya itu, interaksi antara deformasi tanah dan indikator hidrologi (seperti isapan, kadar air, dan tekanan air pori) juga memengaruhi perkembangan tanah longsor.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa kandungan air volumetrik bisa menjadi kriteria langsung untuk memicu tanah longsor yang disebabkan curah hujan.

Namun, sebagian peneliti lainnya mengatakan bahwa tanah longsor di lereng curam bisa terjadi, bahkan jika kandungan kelembapan volumetrik tidak mencapai keadaan jenuh sebab penurunan isapan matriks tanah.

Tanah longsor yang dipicu curah hujan biasanya dimulai melalui variasi sementara tekanan air pori di dalam lereng selama proses infiltrasi didorong curah hujan. Kondisi ini mengubah lintasan tegangan tanah dan mengubah keadaan tegangan efektif yang mengatur resistensi geser.

Di samping itu, tanah longsor merupakan fenomena yang terjadi ketika lereng tidak stabil dan berkaitan dengan geologi, tanah, topografi, dan vegetasi. Ini disertai agen eksternal lain yang dikenal sebagai faktor pemicu dinamis, seperti hujan, salju, gempa bumi, dan intervensi manusia.

Hal ini turut dijelaskan dalam sebuah penelitian Gonzales, dkk. (2023) yang dirilis melalui jurnal berjudul “A Systematic Review on Rainfall Thresholds for Landslides Occurrence”.

Ilustrasi hujan

Ilustrasi hujan. foto/istockphoto

Mineral, tekstur, kepadatan, riwayat, tegangan, permeabilitas, dan kurva karakteristik memengaruhi parameter kekuatan geser, tekanan pori, dan berat jenis tanah. Selain itu, geometri kemiringan juga memengaruhi komponen tegangan geser dan tegangan normal.

Adapun keberadaan dan karakteristik struktur geologi memengaruhi tanah longsor. Retakan bisa menjadi saluran aliran air tanah dari lokasi pengisian ulang ke tempat eksfiltrasi lapisan batuan permeabel.

Hal itu memengaruhi tekanan pori massa tanah di atas massa tanah serta di dalam retakan batuan. Inilah yang menyebabkan tanah longsor dangkal.

Tanah Longsor Bali

Terlihat tanah longsor di Desa Petang, Kabupaten Badung, Bali. Foto/istimewa/warga

Ketebalan lapisan tanah di atas batuan juga berpengaruh. Tanah longsor terjadi ketika ada hujan lebat yang berlangsung singkat atau hujan yang kurang lebat tapi berlangsung lebih lama.

Keberadaan vegetasi turut memengaruhi kekuatan geser tanah dengan berbagai cara. Ini terjadi, misalnya, dalam efek penguatan dan penahan yang diberikan oleh akar, peningkatan atau penurunan kelembapan tanah, kelebihan beban, dan juga transmisi gaya angin ke lapisan tanah.

Tak hanya itu, tindakan antropogenik bertanggung jawab atas perubahan signifikan pada kondisi alami suatu lereng. Penggalian, pemotongan, tanggul, beban berlebih, dan modifikasi aliran air secara signifikan bisa mengurangi stabilitas lereng dengan meningkatkan tegangan geser dan/atau mengurangi kekuatan geser.

Bagaimana Proses Terjadinya Tanah Longsor?

Sebuah penelitian dilakukan Iverson, dkk. dalam jurnal Annual Review of Earth and Planetary Sciences berjudul “Debris-flow Mobilization from Landslides” dengan pengamatan lapangan, eksperimen laboratorium, dan analisis teoretris.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah longsor bergerak membentuk aliran puing melalui 3 proses. Proses pertama, kegagalan Coulomb yang meluas di dalam massa tanah, batuan, atau sedimen yang miring.

Proses kedua adalah pencairan sebagian atau seluruh massa akibat tekanan fluida pori yang tinggi. Selanjutnya, proses ketiga ialah konversi energi translasi tanah longsor menjadi energi getaran internal.

Ketiga proses tersebut bisa beroperasi secara independen. Namun, dalam banyak keadaan, proses-proses itu bisa beroperasi secara simultan dan sinergis.

Tanah Longsor Bali

Terlihat tanah longsor di Desa Petang, Kabupaten Badung, Bali. Foto/istimewa/warga

Berdasarkan buku saku yang diterbitkan United States Geological Survey (USGS) berjudul "The Landslide Handbook—A Guide to Understanding Landslides", tanah longsor didefinisikan sebagai pergerakan batuan dan/atau tanah ke bawah lereng yang terjadi pada permukaan patahan.

Sebagian besar material sering bergerak sebagai massa yang koheren atau semi-koheren dengan sedikit deformasi internal. Tanah longsor juga bisa melibatkan jenis pergerakan lain jika sifat-sifatnya berubah saat material yang berpindah bergerak ke bawah lereng.

Adapun material dalam massa tanah longsor adalah batuan dan/atau tanah, atau partikel berukuran pasir atau lebih halus dan puing jika terdiri dari fragmen yang lebih kasar.

Lembar Fakta (Fact Sheet) mengenai tanah longsor diterbitkan Washington Geological Survey menjelaskan, proses pembentukan longsor turut dipengaruhi air, gravitasi, dan gesekan.

Penambahan air pada material di lereng bisa membuat tanah longsor sering terjadi, sebagaimana disebabkan oleh curah air hujan. Ini terjadi karena air menambah berat yang signifikan pada lereng saat meresap ke tanah, menjadi air tanah, serta menambah gaya gravitasi.

Dampak longsor di Ciamis

Foto udara material tanah longsor yang menggerus jalan di Desa Selacai, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (3/10/2026). Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis mengungkapkan longsoran diduga dipicu resapan air dari saluran irigasi Nanggela yang mengakibatkan jalan kabupaten penghubung Kawali-Cisaga amblas terbawa longsoran sehingga tidak dapat dilalui kendaraan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/agr

Air menurunkan kekuatan material yang bisa membuat kemampuan menahan gaya gravitasi semakin berkurang. Selain itu, air juga bisa mengurangi gesekan sehingga memudahkan pergerakan material ke bawah lereng.

Lereng yang lebih curam memiliki gesekan yang lebih sedikit sehingga tanah longsor lebih sering terjadi. Pasalnya, setiap perubahan permukaan Bumi yang meningkatkan kemiringan atau yang mengurangi gesekan lereng bisa meningkatkan kemungkinan terjadi longsor.

Sesuai hukum gaya gravitasi, tanah longsor bergerak hampir selalu menuruni lereng. Biasanya, ini diimbangi oleh 2 hal, yakni kekuatan internal material dan gesekan material pada lereng.

Tanah longsor terjadi karena gaya gravitasi menjadi lebih besar daripada gesekan atau kekuatan internal batuan, tanah, atau sedimen. Kondisi ini semakin parah jika berada di lereng yang lebih curam.

LERENG WILIS LONGSOR

Sejumlah orang melihat longsoran material di kawasan lereng Gunung Wilis, Desa Kepel, Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (15/4). ANTARA FOTO/Siswowidodo/ama/17

Update Kondisi Terkini & Jumlah Korban

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali masih mencari 2 korban tanah longsor di area Pelaga Eco Park, Badung, Bali. Dalam proses pencarian itu, petugas menutup sebagian pintu air bendungan di hulu agar aliran air ke sungai berkurang sehingga memudahkan pencarian.

Tim di lapangan juga melakukan penyemprotan air pada timbunan tanah di lokasi tenda. Mereka juga menyusuri sungai sampai ke Bendungan Batulantang sejauh 500 meter.

Tanah Longsor di Desa Karang Tengah

Warga menunjukkan kondisi jalan putus akibat tanah longsor di lokasi pembangunan tandon perumahan Vila Rizki Insaani, Pagedangan. (Foto: Rhomi Ramdani)

Proses pencarian turut mengerahkan bantuan anjing pelacak K9 Polda Bali. Menurut laporan Antaranews, Senin, 2 November 2026, para korban masih belum ditemukan.

Cuaca ekstrem di wilayah Bali hingga menimbulkan tanah longsor juga menyebabkan pohon tumbang dan jalan amblas. Setidaknya dampak bencana tersebar di Gianyar (sebanyak 15 titik), Karangasem (12 titik), Bangli (11 titik), Klungkung (10 titik), Badung (6 titik), dan Buleleng serta Tabanan (masing-masing 5 titik).

Baca juga artikel terkait TANAH LONGSOR atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo