tirto.id - Pegunungan es di Swiss tengah dihadapkan kondisi darurat setelah gletser atau lapisan es pada puncak gunungnya menyusut sangat cepat. Lantas, apa saja penyebab penyusutan gletser "ekstrem" tersebut?
Sebagaimana dilaporkan BBC, para peneliti mengungkapkan bahwa sekitar 5,5 persen es gletser yang masih tersisa di pegunungan Swiss, termasuk Gunung Alpen, telah hilang dalam 12 bulan terakhir. Kondisi ini disebut sebagai penyusutan terparah yang mendekati rekor di tahun 2026.
Meski fenomena mencairnya es atau penyusutan gletser bukan lagi sesuatu yang mengejutkan, kondisi ini dikhawatirkan bisa berdampak pada pasokan air untuk pertanian, pembangkit listrik tenaga air, serta transportasi di negara tersebut.
Hilangnya es gletser di pegunungan berpotensi membuat lereng-lereng pegunungannya menjadi tidak stabil. Bahkan, risiko terburuknya bisa memicu bencana seperti longsor di sejumlah wilayah, banjir bandang seperti di Nepal akibat penyusutan gletser, dan lainnya.
Di tahun-tahun sebelumnya, penyusutan es gletser diperkirakan hanya berkisar 2 persen dan dianggap "ekstrem". Sementara di tahun 2026, penyusutannya mencapai 5,5 persen yang disebut para peneliti sebagai "bencana".
Dalam lima tahun terakhir, para peneliti melaporkan juga bahwa Swiss telah kehilangan seperlima esnya atau sekitar 19,45 sejak tahun 2021.
Defisit Salju pada Musim Dingin
Salah satu penyebab utama gletser di pegunungan es di Swiss cepat menyusut yakni karena defisit salju pada musim dingin. Kondisi ini membuat akumulasi es baru tidak sebanding dengan es yang mencair ketika peralihan musim.
Defisit salju tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh pendeknya musim dingin. Rendahnya curah presipitasi, termasuk hujan dan salju, serta suhu yang relatif hangat turut mengurangi akumulasi salju di kawasan gletser.
Salju sendiri menjadi "makanan" bagi gletser. Dalam kondisi yang stabil, tumpukan salju tersebut akan memadat dan berubah menjadi lapisan es.

Menurut laporan The Guardian, akibat minimnya salju selama musim dingin, para peneliti menemukan bahwa ketebalan rata-rata gletser individu turun antara 2,5 meter dan 4 meter di tahun 2026 ini.
Tipisnya lapisan es membuat gletsernya jadi mudah runtuh dari dalam akibat aliran internal di bawah es yang menggali gua.
Selain itu, musim dingin yang cenderung hangat juga menyebabkan jumlah salju di gletser Pegunungan Alpen, Swiss, berada 25% di bawah rata-rata. Akibatnya, lapisan salju yang tipis jadi lebih cepat habis, sehingga es pun terbuka lebih awal dan mengalami pencairan dalam waktu lebih lama.
Gelombang Panas Ekstrem pada Musim Panas
Selain defisit salju ketika musim dingin, mengutip Al Jazeera, cepatnya penyusutan gletser di pegunungan Swiss dipicu oleh gelombang panas ekstrem yang terjadi di musim panas ini.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Jaringan Pemantauan Gletser Swiss (GLAMOS), pada saat para ilmuwan meneliti gletser di beberapa pegunungan, termasuk di Pegunungan Alpen, menemukan bahwa kutub es mengalami pergeseran hingga 3 meter.
“Sekarang, setelah kami kembali ke sini, kami melihat kutub es bergeser sejauh tiga meter [10 kaki]. Jadi, hanya dalam bulan Agustus dan September tahun ini, bahkan tanpa memperhitungkan gelombang panas bulan Juni dan Juli, kita telah kehilangan tiga meter es di ketinggian hampir 3.000 meter (9.843 kaki),” jelas kepala GLAMOS, Matthias Huss, dikutip Al Jazeera.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa penyusutan gletser yang cepat secara besar-besaran disebabkan oleh pemanasan global dan perubahan iklim antropogenik yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti emisi gas rumah kaca, pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi lahan, hingga eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.
Kondisi tersebut berkaitan dengan musim dingin yang cenderung hangat, serta musim panas dengan gelombang panas ekstrem menimpa negara tersebut.

Menurut Matthias Huss, musim panas 2026 menjadi salah satu periode dengan pencairan gletser paling besar dalam sejarah pengukuran di Swiss. Kondisi ini diperparah oleh minimnya salju selama musim dingin 2025–2026, sehingga gletser kehilangan lapisan pelindung ketika gelombang panas mulai melanda.
Musim panas 2026 tercatat sebagai yang terpanas di Swiss sejak pencatatan dimulai. Gelombang panas yang datang sejak Mei dan Juni, kemudian berlanjut hingga September, mempercepat pencairan es di Pegunungan Alpen. Menurut laporan GLAMOS, selama 76 hari batas ketinggian suhu beku berada di atas 4.000 meter, lebih dari dua kali rata-rata biasanya.
Ketika gletser terus menyusut, bagian permukaannya yang sebelumnya tertutup salju dapat terbuka lebih awal. Pada bagian yang mengalami kemunduran, batuan dan material gelap di sekitarnya juga dapat tersingkap.
Material berwarna gelap umumnya menyerap lebih banyak energi matahari dibandingkan salju dan es yang cerah, sehingga dapat memperkuat pemanasan lokal. Meski demikian, pengaruhnya terhadap pencairan bergantung pada kondisi permukaan dan lokasi.
Temuan yang paling mengkhawatirkan para ilmuwan adalah hilangnya lapisan salju pelindung hingga ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut pada September 2026. Tanpa lapisan salju tersebut, permukaan es gletser lebih mudah terpapar energi matahari dan suhu udara yang tinggi.
Kombinasi minimnya salju musim dingin dan gelombang panas berkepanjangan membuat gletser Swiss kehilangan lebih dari 5% volume esnya sepanjang 2026. Peristiwa ini menunjukkan betapa rentannya gletser Alpen terhadap perubahan kondisi iklim dan meningkatnya suhu.
Tak Ada Hujan Salju di Musim Panas
Laporan GLAMOS bertajuk Annual Mass Balance of Swiss glaciers in 2025/2026 juga menemukan faktor cepat menghilangnya gletser di pegunungan Swiss karena tidak adanya hujan salju selama musim panas. Kondisi tersebut bisa terjadi karena suhu udara yang cenderung hangat, pengaruh perubahan iklim, serta paparan gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa.
Dalam beberapa kejadian, pada ketinggian ekstrem seperti di puncak Pegunungan Alpen, salju atau hujan salju kecil yang terisolasi terkadang masih dapat terjadi secara singkat di musim panas. Namun, karena dampak peningkatan suhu udara dan gelombang panas, fenomena tersebut seolah jadi sangat langka terjadi.
Tidak adanya hujan salju selama musim panas ini secara tidak langsung membuat lapisan es yang mencair tidak memperoleh tambahan perlindungan atau cadangan yang menutupinya. Alhasil, saat gletser cepat mencair, lapisan es tersebut tidak memiliki cadangan untuk menahan paparan panas yang menerjang di musim panas.

Tingginya penyusutan gletser di pegunungan Swiss sekaligus jadi alarm yang mengkhawatirkan. Pasalnya, air lelehan dari lapisan es tersebut jadi sumber penting bagi irigasi, pembangkit listrik tenaga air, bahkan lalu lintas pelayaran saat cuaca panas dan kering.
Para peneliti memperkirakan bahwa penyusutan gletser di Swiss melepaskan sekitar 2,2 triliun liter air lelehan antara Juli hingga September tahun ini. Kondisi ini dikhawatirkan karena gletser yang semakin mengecil tidak akan mampu lagi mempertahankan pasokan air dalam jumlah yang sama.
"Setiap tetes air yang mengalir selama gelombang panas ini pada dasarnya adalah air lama yang tersimpan di dalam es gletser selama puluhan hingga ratusan tahun. Itu membantu kita saat ini, tetapi tidak berkelanjutan. Kita tidak akan lagi memiliki cadangan tersebut ketika gelombang panas berikutnya terjadi," ungkap Matthias Huss, dikutip dari BBC News.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































