tirto.id - Topan Super Champi disebut-sebut jadi salah satu siklon tropis paling kuat di Samudra Pasifik Barat tahun 2026 ini. Memiliki kecepatan melebihi 227-296 km/jam dengan gelombang ekstrem hingga belasan meter, badai ini diperkirakan memiliki dampak dahsyat yang bisa memicu curah hujan meningkat pesat hingga gelombang tinggi.
Sebagaimana dikutip di The Weather Network, Topan Champi berpotensi berkembang menjadi siklon tropis terkuat di Bumi. Dengan kecepatan angin bisa mencapai 240 km/jam dan bisa melebihi angka tersebut membuat Champi masuk ke dalam badai kategori 5 pada skala Saffir-Simpson.
Badai dengan kekuatan besar itu diperkirakan telah terbentuk di sebagian Samudra Pasifik Barat dan Timur. Bahkan, di pekan lalu, Topan Champi di sebut telah mendekati pulau kecil Guam di Pasifik, wilayah AS, yang berpotensi mengalami peningkatan kecepatan angin hingga memicu banjir bandang.
Bahkan di wilayah Polo, badai Topan Super Champi kecepatan anginnya diperkirakan mencapai puncaknya yaitu berkisar 285 km/jam dan tekanan pusat minimum 892 mb. Ini menjadikannya sebagai siklon tropis terkuat di dunia pada tahun 2026.
Fenomena siklon tropis ini kemudian dikhawatirkan turut berdampak ke wilayah yang cukup berdekatan dengan Samudra Pasifik. Lantas, apakah Indonesia akan ikut terimbas badai Topan Super Champi ini?
Apa Itu Topan Super Champi dan Bagaimana Bisa Terjadi?
Topan Super Champi merupakan badai tropis atau siklon yang sangat kuat yang terbentuk di wilayah Samudra Pasifik, tepatnya di bagian Barat dan Timur. Adapun istilah penamaannya didasarkan pada kecepatan angin berkelanjutan yang bisa mencapai 240 hingga 295 km/jam, dengan tekanan udara di pusatnya turun sangat rendah (sekitar 890-931 hPa).
Menurut laporan RainViewer, Topan Super Champi dapat terbentuk oleh beberapa faktor, salah satunya karena suhu permukaan laut yang hangat. Dalam hal ini, fenomena global seperti Super El Nino memiliki andil dalam memanaskan perairan di Samudra Pasifik.
Proses tersebut kemudian memperkuat suplai energi bagi pembentukan badai ekstrem, karena pada dasarnya badai yang tercipta membutuhkan energi panas dari air laut yang hangat untuk bahan bakar uap airnya.
Pada saat air laut menjadi hangat, kondisi ini akan membuat proses penguapan dan kondensasi yang masif. Alhasil, proses tersebut jadi alasan utama terbentuknya awan-awan tebal serta hujan lebat.
Terbentuknya Topan Super Champi juga tidak terlepas dari adanya bibit siklon tropis 96W yang mulai muncul pada awal Oktober 2026. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh kondisi atmosfer yang mendukung penguatan badai karena tingginya kelembapan udara dan suhu laut.
Berdasarkan laporan pergerakan, Champi mulanya terdeteksi mulai menunjukkan perkembangan pada 11-12 Oktober 2026. Hanya saja, pada periode ini terbilang masih normal dengan kecepatan anginnya hanya berkisar 7 hingga 12 km/jam saja.
Akan tetapi, pada 15 Oktober atau tiga hari berselang, pergerakannya mulai berubah. Kecepatan angin Champi meningkat pesat ke angka 65 km/jam yang membuatnya dikategorikan sebagai badai tropis.

Sehari berselang, Champi kembali meningkat dua kali lipat menjadi 139 km/jam dengan embusan 160 km/jam dan tekanan pusat 984 mb. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Champi bergerak menjadi topan, disusul jadi topan super pada 17 Oktober karena kecepatannya menjadi 222 km/jam.
Puncaknya terjadi pada 19 Oktober 2026 ketika Champi kembali menguat jadi topan super dengan kecepatan angin mencapai 250 km/jam dan tekanan 926 mb. Bahkan, dalam pembacaan pada 20 Oktober, kecepatannya mencapai 296 km/jam dengan tekanan 895 mb.
Pada 23 Oktober 2026 dini hari, Topan Champi tercatat berada di sekitar 175 kilometer lepas pantai Jepang di Laut Filipina dan bergerak ke barat laut. Namun, kecepatan anginnya tampak melemah dengan perkiraan 167 km/jam, hembusan 192 km/jam, serta tekanan pusat di angka 956 mb.
Sementara menurut pantauan AccuWeather, Topan Champi yang menerjang Samudera Pasifik bagian barat diperkirakan terus bergerak menuju Taiwan, Tiongkok, serta Jepang.
Akibat pergerakan itu, Champi disebut akan membawa hujan lebat ke Taiwan pada 22-24 Oktober, disusul menuju Tiongkok pada 23-25 Oktober 2026. Curah hujan total yang bisa mencapai 12 inci (300 mm) ini berpotensi bisa menyebabkan banjir, tanah longsor, hingga kerusakan struktural di beberapa daerah.
Selanjutnya, Champi juga akan mulai bergerak menuju Korea Selatan dan Jepang selatan pada 25 Oktober. Di Taiwan, Champi diperkirakan bisa memicu banjir akibat curah hujan yang besar.
Perkiraan Seberapa Dahsyat Efek Topan Super Champi
Topan Super Champi disebut sebagai badai terkuat di Bumi tahun ini yang masuk ke dalam badai kategori 5. Memiliki kecepatan angin maksimum mencapai 296 km/jam, kondisi ini memicu ancaman cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, gelombang laut yang merusak, hingga kelumpuhan massal yang bisa berdampak pada sektor penerbangan.
Berdasarkan laporan Europa Union, Filipina menjadi wilayah pertama yang merasakan dampak langsung dari Topan Champi atau disebut sebagai Rosal. Dengan kecepatan angin mencapai angka maksimum 296 km/jam, memicu gelombang laut raksasa dengan ketinggian bisa mencapai 10 hingga 16,8 meter.
Selain itu, dampak dari Champi ini juga terasa di kawasan Filipina Utara, yang menyebabkan peningkatan curah hujan ekstrem melebihi 200 mm yang memicu banjir bandang dan ancaman tanah longsor.
Berkaitan dengan fenomena pergerakan berbeloknya Champi, Taiwan yang diperkirakan akan dilewati badai tersebut telah memberlakukan status siaga, termasuk membatalkan seluruh penerbangan domestik maupun internasional.
Pihak keamanan juga telah melakukan evakuasi darurat terhadap warga di wilayah pegunungan dan pesisir timur laut, serta memberikan imbauan agar menjauhi pantai.
Badan Meteorologi Taiwan juga telah mengeluarkan peringatan embusan angin kencang yang diperkirakan bisa mencapai 191 km/jam, dan potensi hujan ekstrem hingga 1.000 mm (1 meter) di daerah pegunungan.

Menurut laporan Channel News Asia, Badai Champi telah menerjang beberapa wilayah Taiwan pada Jumat waktu setempat (23/10). Akibat badai tersebut, satu orang dilaporkan tewas dan 171 lainnya mengalami luka-luka.
Pemerintah menyatakan bahwa 2.639 orang telah dievakuasi dari wilayah pegunungan. Taipower melaporkan bahwa lebih dari 77.000 rumah sempat mengalami pemadaman listrik, meskipun aliran listrik di sebagian besar rumah tersebut kini telah pulih kembali.
Badai tersebut berada sekitar 220 km di sebelah timur Taiwan, ungkap Administrasi Cuaca Pusat (CWA) Taiwan. Prakiraan lintasan badai menunjukkan bahwa badai ini akan melintas tepat di lepas pantai timur laut Taiwan, berbelok ke utara menuju pesisir Tiongkok, dan pada akhirnya bergerak ke wilayah Jepang bagian selatan.
Melansir Reuters, Jepang juga turut meningkatkan kewaspadaannya seiring proyeksi pergerakan Topan Champi yang diperkirakan mulai mendekat. Negara ini menerapkan pula pembatalan lebih dari 100 penerbangan domestik, termasuk di wilayah selatan seperti Miyako, Ishigaki, dan Naha.
Akibat potensi dampak dari Champi ini juga memaksa militer Amerika Serikat dan Jepang harus menyesuaikan taktis pada latihan militer gabungan berskala besar mereka yang melibatkan setidaknya 56.000 personel.
Apakah Indonesia Bakal Terdampak Topan Super Champi?
Diwartakan ANTARA, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), memberikan imbauan waspada terkait potensi angin kencang di beberapa wilayah di Indonesia yang dipicu oleh dampak tidak langsung dari Topan Super Champi.
BMKG menyebut bahwa pada 15 Oktober 2026, Siklon Tropis Champi terdeteksi di Laut Filipina sebelah utara Papua. Dampak tidak langsung dari pergerakan siklon Champi ini diperkirakan bisa berdampak pada sektor pelayaran di sebagian kawasan utara dan timur, khususnya di Sulawesi Utara, Maluku, Papua, serta wilayah sekitarnya.
Analisis BMKG menunjukkan bahwa dampak dari Siklon Tropis Champi ini dapat memicu gelombang tinggi dengan kategori 1,25 hingga 2,5 meter di perairan utara Papua Barat Daya hingga Papua.

Sementara di Perairan Kepulauan Talaud, Laut Maluku, serta Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua Barat Daya, gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter diperkirakan bisa terjadi.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, BMKG memberikan imbauan, terutama masyarakat pesisir dan pelaku pelayaran di wilayah terdampak agar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi akibat pergerakan tidak langsung Topan Super Champi.
Per hari ini 23 Oktober 2026, tak ada peringatan siklon tropis di laman BMKG. Bagi Anda yang ingin mengetahui update terkini terkait siklon tropis di Indonesia maupun yang berada dekat wilayah Indonesia, silahkan mengakses laman BMKG di tropicalcyclone.bmkg.go.id.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































