Menuju konten utama

Apakah Penyakit Lambung Bisa Menyebabkan Kematian Mendadak?

Penyakit lambung tidak menyebabkan kematian mendadak. Pengelolaan yang buruk ditambah komplikasi yang memperbesar risiko. Simak gejala dan penjelasannya.

Apakah Penyakit Lambung Bisa Menyebabkan Kematian Mendadak?
Header Diajeng Asam lambung. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) disebut bisa memicu kematian mendadak. Ini tengah ramai diperbincangkan, menyusul seorang ibu di Ponorogo, Jawa Timur, yang meninggal mendadak karena penyakit lambung di tengah perjalanan menggunakan motor, Sabtu (17/10/2026) pekan lalu

Lambung merupakan salah satu organ tubuh dalam sistem pencernaan manusia. Organ ini dapat terganggu atau mengalami kondisi yang memengaruhi fungsinya, hingga seseorang dianggap mengalami penyakit lambung.

Jenis penyakit lambung, mengutip Halodoc, mencakup gastritis atau maag, GERD, serta tukak lambung. Setiap penyakit tersebut memiliki karakteristik dan tingkat keparahan yang berbeda.

Masyarakat perlu mengetahui jenis penyakit lambung beserta gejala yang menyertainya. Pemahaman ini berguna agar penderita penyakit lambung tertentu bisa ditangani dengan tepat.

Mengenal Jenis Penyakit Lambung dan Gejalanya

Penyakit lambung biasa terjadi di seluruh dunia, termasuk GERD. Artikel di laman Bali International Hospital mencatat bahwa sekira 274.396 orang diperkirakan menderita penyakit GERD pada kurun 2021.

Namun demikian belum ada statistik nasional yang komprehensif menggambarkan kematian langsung disebabkan oleh GERD. Angka kematian yang tercatat terkait penyakit ini sekira 0,02–0,20 per 100.000 orang.

Selain GERD, masyarakat juga perlu memahami beberapa jenis penyakit lambung lain beserta gejalanya, seperti tukak lambung atau gastric ulcer.

ilustrasi organ lambung

ilustrasi organ lambung. FOTO/iStockphoto

Tukak Lambung (Gastric Ulcer)

Lambung memiliki lapisan mukus yang berfungsi melindungi jaringan lambung dari cairan asam lambung. Tukak lambung terjadi jika lapisan mukus tersebut terkikis. Kemudian asam lambung secara langsung mengenai jaringan lambung.

Penyakit tukak lambung bisa diartikan luka pada lambung. Seseorang dengan penyakit ini akan mengalami keluhan menyerupai sakit maag, seperti nyeri ulu hati, kembung, dan mual.

Berdasarkan informasi di laman Alodokter, luka di lambung terbentuk ketika lapisan mukus lambung terkikis. Pengikisan biasa disebabkan oleh infeksi bakteri atau konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid yang berlebih dan dalam jangka panjang.

Penderita tukak lambung biasanya mengalami sakit maag atau nyeri ulu hati. Nyeri tersebut umumnya berlangsung dalam hitungan menit hingga jam. Rasa nyeri hilang-timbul selama beberapa hari, pekan, bahkan bulan.

Nyeri dapat memburuk di antara waktu makan, saat malam hari, atau pagi. Kemudian nyeri bisa makin parah ketika perut kosong atau lambung tidak terisi. Nyeri bisa reda jika perut diisi makanan atau setelah minum obat sakit maag, tapi dapat muncul kembali.

Gejala lain yang bisa muncul pada penderita tukak lambung, adalah mual dan muntah, perut kembung, sering bersendawa, lalu dada terasa seperti terbakar. Umumnya, penderita juga mengalami hilang nafsu makan atau mudah kenyang, berat badan turun, hingga sulit menarik napas dan lemas.

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

GERD memiliki gejala yang cenderung serupa seperti penyakit jantung, dikutip dari Halodoc, yakni nyeri dada dan sensasi terbakar. Kondisi ini disebabkan asam lambung naik ke kerongkongan.

Gejala GERD muncul setidaknya 2 kali dalam sepekan. Umumnya, gejala yang dialami penderita GERD mencakup sensasi terbakar di dada (heartburn), sering bersendawa, mual dan muntah, muncul gejala maag, kemudian sesak napas. Penderita juga bisa merasakan mulut terasa asam.

Asam lambung bisa naik ke kerongkongan karena melemahnya otot. Dalam kondisi normal, otot kerongkongan bagian bawah bakal berkontraksi, kemudian menutup saluran ke kerongkongan setelah makanan turun atau masuk ke lambung.

Akan tetapi otot tersebut dapat melemah dan tetap terbuka. Inilah yang mengakibatkan asam lambung bisa naik kembali ke kerongkongan.

Seseorang berisiko lebih tinggi untuk mengalami GERD pada kelompok lansia, penderita obesitas, perokok aktif, dan hamil. Kebiasaan sering langsung berbaring atau tidur setelah makan juga dapat memicu gangguan GERD.

Apakah Penyakit Lambung Bisa Menyebabkan Kematian?

Penyakit lambung atau GERD sering disalahartikan sebagai penyakit jantung karena letak organ ini hampir berdekatan serta memiliki gejala yang mirip, yakni nyeri dada dan sensasi terbakar. Padahal kedua jenis penyakit ini memiliki penyebab yang berbeda.

Secara umum penyakit GERD merupakan jenis gangguan kesehatan umum dan bukan kondisi darurat, seperti dijelaskan di laman Medisearch. Selama dikelola dengan baik, risiko penyakit ini dapat ditekan hingga tidak mengancam nyawa.

Tapi sebaliknya, jika penyakit GERD tidak ditangani dengan tepat berpeluang memunculkan berbagai komplikasi, yang membuat kondisi penderita makin parah hingga menyebabkan kematian.

ilustrasi sakit lambung. - istockphoto

ilustrasi asam lambung naik (GERD) saat puasa. (FOTO/iStockphoto)

Jika berlangsung dalam tempo panjang, melansir laman Mayo Clinic, peradangan di kerongkongan bisa menyebabkan kondisi komplikasi.

Terjadi peradangan di jaringan kerongkongan atau dikenal dengan sebutan esofagitis. Cairan asam lambung dapat merusak jaringan kerongkongan. Hal ini dapat menyebabkan peradangan, pendarahan, terkadang juga luka terbuka atau ulkus. Kondisi esofagitis dapat menyebabkan nyeri, hingga membuat penderita susah menelan.

Komplikasi dapat menyebabkan penyempitan kerongkongan atau striktur esofagus. Kerusakan parah pada bagian bawah kerongkongan akibat asam lambung menyebabkan terbentuknya jaringan parut. Jaringan ini dapat menyempitkan jalur makanan sehingga menimbulkan masalah menelan.

Kerusakan jangka panjang akibat asam lambung pada jaringan bagian bawah kerongkongan dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker kerongkongan.

Mencegah Penyakit Lambung

Penyakit GERD bisa diatasi dengan mengubah gaya hidup ditambah pengobatan yang tepat. Alternatif lain adalah dengan melakukan pembedahan atau endoskopi.

Namun demikian bagi orang yang tidak mengalami penyakit ini bisa menerapkan sejumlah langkah pencegahan, untuk menghindari atau meminimalisir risiko. Mengacu laman Harvard Health Publishing sejumlah perubahan gaya hidup bisa dipraktikkan:

Pertama, tinggikan bagian kepala ketika posisi tidur setidaknya 6 inci. Langkah ini berguna untuk mengurangi efek refluks asam. Selain itu tidur berbaring ke arah kiri juga dapat membantu.

Kedua, hindari konsumsi makanan yang menyebabkan sfingter esofagus mengendur selama proses pencernaan. Makanan dan minuman yang perlu dihindari antara lain: kopi, cokelat, makanan berlemak, susu muni, dan permen.

Ketiga, batasi makanan yang mengandung asam, seperti jeruk, tomat, lemon. Makanan asam berpeluang memperburuk iritasi ketika muntah.

Header Diajeng Asam lambung

Header Diajeng Asam lambung. FOTO/iStockphoto

Keempat hindari minuman berkarbonasi. Efek sendawa dari minuman berkarbonasi dapat memaksa sfingter esofagus membuka, lalu memperbesar risiko refluks. Hindari rokok dan minuman beralkohol.

Kelima, perbaiki pola makan. Biasakan makan dalam porsi kecil tapi lebih sering. Jangan berbaring setelah makan. Atur jarak waktu makan 3-4 jam sebelum tidur.

Atur berat badan ideal. Kondisi obesitas pada seseorang turut menjadi faktor menyulitkan sfingter esofagus untuk tetap tertutup. Hindari mengenakan pakaian ketat untuk menghindari tekanan di perut. Kunyah permen karet berfungsi menjaga produksi air liur yang dapat mengurangi efek asam.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - GWS
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Oryza Aditama