Menuju konten utama

Air Biasa atau Coolant untuk Radiator Mobil, Lebih Baik Mana?

Radiator dapat berfungsi dengan baik jika memiliki asupan cairan khusus yang cukup. Penggunaan cairan yang tepat bisa menjaga kesehatan mesin.

Air Biasa atau Coolant untuk Radiator Mobil, Lebih Baik Mana?
Ilustrasi air radiator. FOTO/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perawatan radiator mobil sangat penting untuk mencegah kerusakan mesin akibat overheat (panas berlebih). Perawatan komponen ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya menggunakan cairan khusus.

Radiator merupakan komponen utama sistem pendingin mobil. Fungsi utamanya menstabilkan suhu mesin dengan menjaga temperatur kerja mesin tetap ideal, serta mencegah overheat dengan cara membuang panas berlebih dari mesin akibat proses pembakaran dan gesekan antar komponen.

Unsur paling penting untuk menjaga fungsi radiator mesin agar tetap berjalan baik adalah memberikan cairan khusus. Cairan habis atau kering bisa memicu kerusakan mesin secara mekanis, termasuk kelelehan komponen mesin akibat panas ekstrem yang tak terbuang.

Ilustrasi Pendingin Mobil

Ilustrasi Pendingin Mobil. foto/istockphoto

Maka itu, penting bagi pemilik kendaraan untuk memberikan perawatan berkala terhadap radiator mobil, termasuk pemberian cairan khusus guna mencegah berbagai resiko kerusakan.

Berkaitan dengan penggunaan cairan khusus, lantas apakah cairan yang dimaksud dapat berupa air biasa atau coolant khusus untuk radiator mobil? Simak penjelasan lengkapnya.

Air Biasa atau Coolant, Mana yang Lebih Baik?

Sistem pendingin mobil atau radiator dapat berfungsi dengan baik jika memiliki asupan cairan khusus yang cukup. Sebagaimana dikutip via laman Carmend, para teknisi menyarankan penggunaan cairan yang tepat untuk kesehatan mesin dalam jangka panjang.

Cairan itu berupa coolant atau cairan pendingin yang kerap disebut sebagai cairan radiator. Berbeda dengan cairan pada umumnya, coolant merupakan cairan penghantar panas yang terbuat dari air dan senyawa antibeku, seperti etilen glilokal atau propilen glikol.

Cairan pendingin ini nantinya akan bersirkulasi di dalam blok mesin, menyerap panas, serta membawa ke radiator. Pada saat mesin hidup, cairan akan melepaskan panas ke udara dan mengulangi proses tersebut secara berkala, dan menjaga suhu kerja mesin tetap ideal berkisar 80-90 derajat Celcius.

Ilustrasi Mobil Auto Pilot

Ilustrasi Mobil. foto/istockphoto

Sedangkan air biasa tidak memiliki sifat menyerap panas yang berisiko dapat memicu kerusakan pada komponen mesin. Sehingga, para teknisi banyak yang menganjurkan bahwa coolant atau cairan pendingin lebih aman untuk kesehatan radiator dan mesin dibandingkan air biasa.

Selain dapat mencegah mesin terlalu panas dan membeku, coolant juga memiliki beberapa manfaat lain untuk mesin. Di antaranya melindungi radiator dan komponen mesin dari korosi karena kandungan aditif khusus anti-korosi (corrosion inhibitor), meningkatkan efisiensi perpindahan panas, melumasi pompa air, serta memperpanjang umur mesin, termasuk radiator.

Radiator coolant juga memiliki keunggulan cukup signifikan. Titik didih bisa mencapai 110-130 derajat Celcius. Kondisi tersebut memungkinkan cairan pendingin tidak mudah menguap. Sedangkan air biasa hanya pada kisaran 100 derajat Celcius saja.

Selain itu, coolant termasuk cairan bebas dari mineral, kalsium, maupun magnesium. Sehingga, cairan ini tidak akan meninggalkan endapan atau kerak ketika dihadapkan pada suhu panas.

Ditambah lagi, cairan pendingin ini mengandung zat anti-foam yang mencegah terbentuknya buih di dalam cairan yang dapat mengurangi efektivitas penyerapan panas.

Ilustrasi Air Radiator

Ilustrasi pengisian air radiator. (FOTO/iStockphoto)

Coolant dirancang menggunakan zat warna khusus, seperti hijau, merah, oranye, atau biru, agar memudahkan dalam identifikasi jenis aditif, selain memudahkan para teknisi maupun pemilik kendaraan mengetahui adanya kebocoran.

Menurut laporan Van Horn, Metz & Co., kandungan glikol coolant membikin titik beku yang lebih tinggi dibandingkan air biasa, yakni bisa mencapai 0 hingga -37 derajat Celcius tergantung konsentrasi dan campuran yang digunakannya (Borat, Fosfat, Silikat, Nitrit, Glikol).

Dengan begitu, coolant dapat mencegah cairan membeku di lingkungan bersuhu dingin ekstrem yang berisiko bisa merusak komponen mesin.

Sedangkan ketika panas, cairan pendingin dapat meningkatkan titik didih cairan hingga mencapai 113 derajat Celcius. Sehingga menjaga mesin tetap dingin dan beroperasi secara efisien.

Header JEDA

Ilustrasi Mobil. FOTO/iStockphoto

Apakah Air Biasa Aman untuk Isi Radiator Mobil?

Air biasa tetap bisa digunakan untuk menggantikan cairan pendingin radiator. Hanya saja, air biasa boleh digunakan saat kondisi darurat saja, atau perjalanan jarak dekat dan singkat.

Bukan tanpa alasan, penggunaan air biasa cukup berisiko, karena sifat yang tidak mengandung zat anti-korosi atau kurang menyerap panas seperti coolant. Alhasil, penggunaan dalam jangka panjang berpotensi merusak pendingin mobil dan meninggalkan kerak.

Air sebenarnya dapat mendinginkan mesin, namun kondisi tersebut hanya berlaku sementara. Apalagi dalam suhu yang sangat panas, air biasa bisa cepat mendidih hingga meningkatkan risiko mesin terlalu panas (overheat).

Kebanyakan masalah yang timbul akibat penggunaan air biasa dalam jangka panjang untuk radiator adalah menyebabkan karat dan korosi di dalam radiator, ikut membeku pada suhu dingin, hingga memicu penyumbatan saluran pendingin karena penumpukan kerak.

Ilustrasi Air Radiator

Ilustrasi air radiator. Getty Images/iStockphoto

Maka itu, banyak teknisi yang menyarankan agar penggunaan air biasa sebagai solusi sementara. Sebagaimana dikutip melalui laman Carwow, pada saat cairan pendingin habis dan pengendara terjebak di suatu empat tanpa adanya coolant, menambahkan air biasa lebih baik ketimbang tetap mengemudi dengan reservoir cairan pendingin yang kosong.

Meskipun tak sekuat coolant, setidaknya air biasa membantu menjaga suhu mesin tetap terkendali dalam beberapa waktu, sebelum mengganti kembali dengan cairan pendingin.

Meskipun demikian, air biasa tidak bisa dijadikan sebagai solusi permanen. Terlebih, sifat yang cukup lemah dan berisiko tinggi terhadap kesehatan mesin, jika dibandingkan cairan pendingin.

Umumnya, air biasa dapat cepat mendidih di suhu 100 derajat C. Meskipun bisa menyerap panas, air biasa tetap tidak bisa menahan tekanan tinggi. Ketika sistem pendingin terlalu panas, air dapat berubah jadi uap dan menjadi kurang efektif untuk mentransfer panas.

Kondisi tersebut kebanyakan kerap jadi pemicu utama timbulnya masalah pada mesin, termasuk meningkatkan risiko overheat.

Tak hanya itu, air biasa juga dapat membeku pada suhu 0 derajat C. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat memberikan potensi merusak bagian-bagian sistem pendingin.

Ilustrasi air bersih PDAM

Ilustrasi air. FOTO/iStockphoto

Air biasa juga tidak mengandung zat aditif tertentu, seperti layaknya coolant yang dapat membantu melindungi komponen-komponen logam dari korosi. Jika korosi terjadi, hal tersebut dapat memicu kebocoran dan masalah lain pada mesin, terutama sistem pendingin.

Ketika keadaan darurat dan cairan pendingin sangat rendah, air biasa dapat digunakan sebagai campuran sementara, agar memastikan cairan penahan mesin radiator masih tersedia.

Namun, campuran tersebut bukan berarti dapat digunakan dalam jangka panjang. Sejumlah teknisi menyarankan agar penggunaan campuran air biasa dengan coolant tidak melebihi 1 atau 2 hari.

Setelah kondisi darurat selesai, maka air campuran harus segera dikuras dan diganti dengan cairan pendingin yang baru. Gunanya mencegah timbul korosi atau penumpukan kerak mesin akibat kandungan air biasa yang mengandung mineral, seperti kalsium dan magnesium.

Tips Perawatan Radiator Mobil

Perawatan radiator mobil dapat dilakukan dengan beberapa cara demi menjaga agar tetap "sehat". Berikut tips-tipsnya sebagaimana mengutip laman K-Seal:

Periksa Cairan Pendingin Secara Berkala

Tips pertama yang dapat dilakukan untuk merawat radiator mobil adalah memeriksa ketersediaan cairan pendingin pada komponen tersebut secara berkala.

Umumnya, inspeksi level dan warna cairan pendingin dilakukan setiap bulan. Jika cairan radiator menunjukkan warna yang keruh atau berkarat, maka waktunya untuk segera mengganti cairan pendingin.

Bersihkan Bagian Luar Radiator

Membersihkan bagian luar radiator termasuk perawatan yang cukup penting. Pasalnya, debu, serangga, atau puing-puing yang menempel dapat menghalangi aliran udara melalui sirip komponen.

Pembersihan bagian luar radiator dapat dilakukan menggunakan sikat lembut atau semprotan lembut untuk menghilangkan penumpukan kotoran.

Radiator

Radiator kondenser mobil. (FOTO/iStockphoto)

Periksa Selang dan Klem

Memeriksa retakan, kebocoran, atau sambungan yang longgar juga terbilang penting. Pasalnya, jika dilakukan inspeksi terhadap beberapa bagian, hal tersebut berisiko memicu kerusakan karena adanya kebocoran yang tak terdeteksi.

Gunakan Cairan Pendingin Khusus (Radiator Coolant)

Salah satu komponen paling penting dalam menjaga kesehatan radiator ialah menggunakan cairan pendingin atau coolant radiator berkualitas. Cairan yang resmi dapat melindungi dari korosi dan penumpukan mineral yang menjadi masalah utama radiator.

Menghindari Campuran Cairan Pendingin

Meskipun air biasa dapat digunakan sebagai campuran, hal tersebut tetap bersifat hanya sementara. Bukan tanpa alasan, campuran dengan air yang tidak kompatibel berpotensi menyebabkan pembentukan gel atau penyumbatan internal.

Sehingga, kondisi tersebut juga bisa mengurangi perpindahan panas dan merusak segel atau gasket komponen.

Selain itu, pemilik kendaraan juga dianjurkan mewaspadai beberapa peringatan dini terkait potensi kerusakan radiator. Seperti cairan pendingin yang berubah warna jadi cokelat atau kental seperti lumpur.

Bau amis atau uap yang keluar dari bawah kap mesin juga dapat jadi tanda adanya kerusakan atau masalah radiator. Jika radiator mengalami kebocoran terus-menerus, korosi parah, atau panas berlebih berulang kali, solusi terbaik adalah mengganti komponen dengan radiator baru.

Header Rupa Rupa

Ilustrasi Mobil. foto/Rupa Rupa

Baca juga artikel terkait RADIATOR atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo