tirto.id - Setelah bekerja seharian di depan laptop dan aktif menggunakan mouse, kita sering meregangkan buku jari dan sendi-sendi tubuh hingga berbunyi. Gerakan ini bertujuan untuk menciptakan sensasi peregangan dan mobilitas sendi.
Sebagian orang juga membunyikan buku jari untuk mengatasi gugup saat presentasi. Cara ini dinilai mampu mengalihkan dan mengurangi tekanan. Secara medis, kebiasaan ini tidak berkaitan dengan penyakit artritis atau peradangan sendi.
Akan tetapi studi menunjukkan kebiasaan membunyikan buku jari secara berlebihan dapat meningkatkan risiko pembengkakan serta melemahkan kekuatan genggaman.
Kenapa Buku Jari Bisa Berbunyi?
Penelitian ilmiah telah mengkaji alasan buku jari bisa berbunyi. Penelitian berjudul Real-Time Visualization of Joint Cavitation (2015) karya Gregory N. Kawchuk dan tim yang dimuat di laman PLOS One, menjelaskan studi pertama tentang asal usul bunyi letupan sendi dilakukan oleh Roston dan Wheeler Haines pada 1947 silam.
Eksperimen ini menggunakan radiografi serial untuk memvisualisasikan letupan sendi ketika gaya distraksi diterapkan pada sendi metakarpofalangeal (MCP). Hasil eksperimen ini merinci urutan peristiwa bunyi letupan sendi.
Proses dimulai dengan fase istirahat, permukaan sendi berada dalam kontak dekat. Pada tahap gaya distraksi ringan hampir tidak dapat memisahkan permukaan sendi. Dengan gaya distraksi yang lebih besar, permukaan menolak pemisahan, hingga titik kritis setelahnya terpisah dengan cepat. Selama fase pemisahan cepat inilah suara letupan yang khas berbunyi.
Setelah distraksi pasca-letupan, ditemukan adanya ruang bersih (clear space) sebagai rongga uap atau gelembung. Teori lama ini menyatakan bahwa bunyi buku jari terjadi akibat gelembung atau rongga uap di dalam sendi pecah. Setelah bunyi letupan, sendi tidak akan lagi berbunyi hingga waktu berlalu sekira 20 menit.
Teori ini diyakini kebenarannya hingga tahun 1971, sebelum diragukan oleh Unsworth dan tim. Secara khusus, Unsworth berspekulasi bahwa pembentukan ruang bersih atau gelembung, bukanlah sumber bunyi letupan sendi, melainkan bunyi letupan disebabkan oleh keruntuhan gelembung selanjutnya.

Setelah itu, Gregory N. Kawchuk dan tim melakukan penelitian serupa dengan metode pemindaian real-time cine Magnetic Resonance Imaging (cine MRI). Hasil penelitian Kawchuk dan tim menemukan bahwa bunyi buku jari berasal dari terbentuknya rongga uap di dalam cairan sinovial, bukan pecahnya gelembung uap.
Penemuan Kawchuk dan tim dijelaskan dengan mekanisme tribonukleasi, yaitu proses ketika 2 permukaan yang saling menempel dipisahkan secara cepat melewati batas tertentu.
Secara khusus, tribonukleasi menjelaskan setiap fase urutan bunyi letupan sendi, yang awalnya dijelaskan oleh Roston dan Wheeler Haines. Permukaan sendi menahan pemisahan karena adanya viskos atau gaya rekat dari cairan sendi. Saat gaya tarik luar melampaui gaya rekat, permukaan sendi terpisah secara mendadak.
Pemisahan mendadak ini menciptakan penurunan tekanan sinovial, menyebabkan gas terlarut keluar dari cairan lalu menciptakan gelembung, rongga, atau kekosongan secara tiba-tiba di dalam sendi. Di titik ini lah tercipta bunyi letupan yang khas.
Temuan Kawchuk juga mengonfirmasi alasan sendi yang baru saja dibunyikan membutuhkan waktu jeda sekitar 20 menit untuk dapat kembali berbunyi. Gas atau rongga yang terbentuk memerlukan waktu untuk larut kembali ke dalam cairan sendi sebelum proses tribonucleation diulang.
Penyakit Radang Sendi & Penyebabnya
Penyakit radang sendi atau artritis kerap dialami oleh banyak orang. Gejala umum artritis yaitu nyeri, kemerahan, rasa panas, dan pembengkakan pada sendi. Dalam dunia kedokteran, ragam sendi terbagi menjadi beberapa macam, dengan unsur penyebab yang berbeda pula.
Melansir laman National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases, penyakit radang sendi di antaranya ankylosing spondylitis, jenis artritis yang memengaruhi tulang belakang. Gejala yang ditimbulkan di antaranya kemerahan, rasa panas, pembengkakan, dan nyeri pada bagian tulang belakang tempat bertemunya tulang panggul.
Kedua, asam urat atau gout. Penderita asam urat merasakan sendi yang terasa nyeri dan kaku. Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat di dalam sendi. Penyakit sendi juga dapat dialami oleh anak-anak yang disebut dengan juvenile arthritis.
Ketiga osteoartritis, jenis artritis yang paling umum dan lebih sering terjadi pada kelompok usia lanjut. Kondisi ini merusak jaringan licin yang melapisi ujung tulang, sehingga tulang bergesekan satu sama lain dan menimbulkan nyeri, pembengkakan, serta hilangnya kemampuan untuk bergerak.
Ada pula penyakit sendi Psoriatic Arthritis. Kondisi ini dapat terjadi pada penderita psoriasis yang memengaruhi sendi serta area tempat jaringan melekat pada tulang. Kemudian ada Reactive Arthritis, infeksi pada sendi yang mengakibatkan nyeri serta pembengkakan pada sendi. Beberapa penderita mengalami mata merah dan bengkak, serta pembengkakan pada saluran kemih.
Selanjutnya artritis reumatoid, penyakit yang menyerang berbagai sendi, sehingga menimbulkan rasa nyeri, pembengkakan, dan kekakuan. Kelelahan dan demam juga bisa terjadi saat mengalami artritis reumatoid.
Terakhir, penyakit autoimun dan lupus yang cenderung menyerang sistem pertahanan dan kekebalan tubuh juga dapat memicu permasalahan sendi.

Di tengah masyarakat, terdapat mitos yang meyakini bahwa kebiasaan membunyikan buku jari menjadi penyebab osteoarthritis (OA). Namun studi berjudul Knuckle Cracking and Hand Osteoarthritis (2011) karya Kevin deWeber dan tim yang dimuat dalam Journal of The American Board of Family Medicine, tidak menunjukkan adanya korelasi antara kebiasaan membunyikan buku jari dengan osteoartritis tangan.
Hasil penelitian ini menemukan prevalensi OA pada orang yang memiliki kebiasaan membunyikan jari (18,1%), hampir sama dengan orang yang tidak membunyikan jari (21,5%).
Jika ditinjau berdasarkan jenis sendi, kebiasaan membunyikan buku jari tidak menjadi faktor risiko untuk terjadinya OA pada sendi tersebut. Total durasi dan volume dari kebiasaan membunyikan buku jari pada setiap jenis sendi juga tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan kejadian OA pada sendi terkait.
Dengan demikian, kebiasaan membunyikan sendi tertentu tidak terbukti memicu OA pada sendi spesifik tersebut. Penelitian ini menjadi bukti bahwa mitos membunyikan jari dapat memicu pengapuran sendi adalah tidak benar.
Apakah Membunyikan Buku Jari Punya Efek Buruk?
Studi Effect of Habitual Knuckle Cracking on Hand Function (1990) karya J Castellanos yang dimuat di National Library of Medicine menemukan adanya efek buruk terhadap kebiasaan membunyikan buku jari. Penelitian ini menyelidiki hubungan antara kebiasaan membunyikan buku jari dan fungsi tangan, terhadap 300 pasien sehat berusia 45 tahun ke atas.
Subjek penelitian terdiri dari 74 orang yang memiliki kebiasaan membunyikan buku jari dan 226 orang yang tidak memiliki kebiasaan tersebut, dengan distribusi usia dan jenis kelamin yang serupa.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan peningkatan prevalensi artritis tangan pada kedua kelompok. Akan tetapi kelompok yang terbiasa membunyikan buku jari cenderung mengalami pembengkakan pada tangan dan memiliki kekuatan genggaman yang lebih lemah.
Kebiasaan membunyikan buku jari juga dikaitkan dengan pekerjaan fisik, kebiasaan menggigit kuku, merokok, serta konsumsi alkohol. Dengan demikian, kebiasaan membunyikan buku jari mengakibatkan gangguan fungsi pada tangan, berupa pembengkakan dan kekuatan genggaman yang lebih lemah.

Jika Anda masih memiliki kebiasaan membunyikan buku jari, lebih baik kurangi kebiasaan tersebut. Jangan memaksa sendi berbunyi, terutama jika menimbulkan nyeri, terasa tersangkut, atau membutuhkan tarikan kuat. Hal ini dapat memicu masalah persendian yang lebih parah dari hanya mendapat sensasi letupan.
Jangan bunyikan buku jari terhadap sendi yang tengah cedera atau bengkak, tanpa pengawasan tenaga medis. Sebagian orang menggunakan aktivitas membunyikan jari untuk mengatasi kecemasan. Jika memungkinkan, pilihlah cara lain untuk meredakan stres melalui metode grounding atau latihan pernafasan yang tepat.
Jika terjadi rasa nyeri menetap, pembengkakan berulang, keterbatasan gerak, atau genggaman melemah akibat terlalu sering membunyikan buku jari, segera periksa ke dokter untuk mendeteksi penyakit lebih lanjut.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id


































