Menuju konten utama
Hari Kanker Anak Sedunia

Upaya Membahagiakan Anak-Anak Penderita Kanker

Kanker, selain menguras banyak biaya dan membikin kondisi ekonomi merosot, juga membikin layu anak-anak.

Upaya Membahagiakan Anak-Anak Penderita Kanker
Anggota komunitas Sahabat Anak Kanker berkostum Spiderman ketika menghibur pasien anak-anak di Bangsal Anak, Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang, Sabtu (28/4/2018).ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

tirto.id - Di Indonesia, Hari Kanker Anak Sedunia yang diperingati setiap 15 Februari masih ditandai banyaknya masalah. Angka pengidap kanker anak bertambah sebanyak 7 persen per tahun, plus, banyak di antaranya berasal dari keluarga pra-sejahtera. Meski perawatan medis ditanggung BPJS Kesehatan, umumnya mereka mengalami kendala dalam membiayai aspek penunjang lain.

Infodatin Departemen Kesehatan 2013 menyebutkan hampir semua kelompok umur penduduk memiliki prevalensi penyakit kanker cukup tinggi. Prevalensi kanker tertinggi berada pada kelompok umur 75 tahun ke atas, yaitu sebesar 5 permil. Tapi peningkatan prevalensi cukup tinggi terdapat di kelompok umur 25-34 tahun yakni 0,9 permil, 35-44 tahun sebanyak 2,1 permil, dan 45-54 tahun sebesar 3,5 permil.

Sementara prevalensi terendah ada pada kelompok umur 1-4 tahun dan 5-14 tahun sebesar 0,1 permil. Meski terlihat sedikit, pada 2017 lalu, Antara memberitakan ada 4.100 pengidap kanker anak di Indonesia. Penyakit ini menjadi penyebab kematian kedua pada anak dalam rentang umur 5-14 tahun.

Kanker pada anak umumnya dibagi dua kelompok: cair dan padat. Kanker cair biasa disebut kanker darah atau leukemia. Orangtua perlu waspada karena ciri-ciri leukemia sering menyerupai penyakit lain. Misalnya, pucat, sering demam, pendarahan (mimisan, gusi berdarah, pendarahan di kulit), pembengkakan di leher atau gusi, perut buncit, dan nyeri saat berjalan. Kanker jenis inilah yang paling banyak berkembang dalam tubuh anak.

Ciri kanker padat pada anak lebih mudah dikenali daripada jenis kanker cair. Jamaknya, anak memiliki benjolan yang terlihat atau teraba. Namun, ciri ini tak selalu muncul, misalnya pada kanker otak. Anak akan lebih sering mengeluh sakit kepala, lalu tiba-tiba oleng, lumpuh, atau daya penglihatannya menurun.

Pendamping Keluarga

Ponsel saya berdering dua kali, menandakan sebuah pesan masuk pada aplikasi WhatsApp.

“Akmal meninggal.”

Kalimat singkat dari Ning Triranto Mahayu, Development Program Consultant di Pita Kuning, membuat pagi saya dipenuhi kelebatan kenangan tentang bocah 14 tahun yang pernah saya sambangi tahun lalu. M. Akmal Putama adalah salah satu anak yang pernah mendapat pendampingan dari Yayasan Pita Kuning, lembaga filantropi bagi anak dengan kanker.

Saat itu kanker nasofaring, jenis kanker padat yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut Akmal, sudah mencapai stadium IV. Yang saya ingat, perjumpaan kami dihiasi senyum dan guyonan Akmal yang tak sudah-sudah sepanjang dua jam obrolan kami, selain potret kesenjangan di wilayah tempat tinggalnya.

“Sebenernya pengin sekolah lagi, sih, Kak,” kata Akmal. Sambil mencatat berbagai keperluan bulanan keluarga Akmal seperti beras dan iuran kontrakan, Rizki, pendampingnya dari Pita Kuning, berjanji mempertimbangkan permintaan si bocah. Kala itu, ia juga tengah mempersiapkan kejutan untuk mendatangkan pemain sepakbola idola Akmal.

Meski berada di daerah yang penuh bangunan mewah bertingkat di daerah Kemayoran, Akmal dan keluarganya hanya mendiami rumah kontrakan berukuran 3x4 meter. Perjumpaan saya dengan Akmal ditutup dengan pelukan hangatnya di ujung gang.

Rizki memastikan Akmal berbahagia dan merasa seperti anak normal umumnya, selain bertanggung jawab agar semua kebutuhan primer Akmal dan keluarga terpenuhi. Sebagai pekerja sosial, ia ditugaskan mendampingi keluarga anak dengan kanker mulai dari berobat, sampai pendampingan setelah sang anak meninggal.

Pita Kuning adalah salah satu lembaga yang menyediakan perawatan paliatif bagi anak dengan kanker. Para pekerja sosialnya, seperti Rizki, bertugas mengomunikasikan bahasa medis dokter menjadi lebih mudah dicerna keluarga, menjadi teman bermain anak, merinci kebutuhan pokok, transportasi, medis, hingga mengurus jenazah saat meninggal dunia.

“Saat anak masih berjuang, mereka harus menghibur agar anak beraktivitas normal,” kata Ning. Setelah meninggal, akan ada pendampingan ke keluarga, maksimal selama 6 bulan setelah kepergian anak. “Tiga bulan pertama, didatangi sebulan sekali, sisanya lewat telepon.”

Infografik HL Terapi Paliatif

Infografik HL Terapi Paliatif

Jatuh Miskin

“Keluarga yang anaknya terkena kanker mayoritas mengalami penurunan ekonomi,” ungkap Ning, Head of Program Service and Community di Pita Kuning.

Tak banyak yang tahu, Yayasan Pita Kuning digagas oleh seorang pelawak tunggal Indonesia, Pandji Pragiwaksono, karena sebuah pengalaman pribadi pada 2006. Seorang anak pejuang kanker yang mengidolakan Pandji memintanya datang ke RS Kanker Dharmais.

Melalui bantuan sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Community for Children with Cancer (C3), anak tersebut berhasil bertemu dengan Pandji. Singkat cerita, ia prihatin karena sisa biaya medis kanker anak kebanyakan ditanggung oleh perkumpulan ibu-ibu arisan ekspat dari berbagai negara seperti Inggris, Belanda, Amerika, dll.

Selama sebulan siaran radio, Pandji menggalang dana bantuan sebesar Rp30 juta. Pada 2007, komunitas ini berubah nama menjadi Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (YPKAI) dan Pandji diminta bergabung sebagai pembina YPKAI. Semua anak dengan jenis kanker apa pun berhak didampingi dan mendapat bantuan operasional dari Pita Kuning. Syaratnya cukup surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, KTP orangtua, dan rekam medis.

“BPJS Kesehatan kelas 3. Kalau tidak punya, kita bantu urus,” kata Ning.

Fokus Pita Kuning adalah membantu agar kebutuhan dasar keluarga dengan anak penderita kanker bisa terpenuhi. Kanker adalah penyakit yang begitu menguras ekonomi, perawatan kanker anak bisa mencapai bulanan bahkan tahunan. Dalam jangka waktu tersebut, ada biaya transportasi, makan, dan hiburan yang perlu dikeluarkan agar anak merasa nyaman.

Pita Kuning juga membantu obat-obatan yang tidak masuk dalam plafon biaya BPJS Kesehatan dan alat perawatan serta pendukung kondisi anak, seperti kacamata atau mata palsu bagi anak dengan kanker mata. Ning lalu mengisahkan cerita seorang anak Pita Kuning yang menderita kanker tulang.

Sebelum mendapat pendampingan, sang anak harus digendong orangtuanya ke stasiun kereta sebelum meneruskan naik transportasi umum menuju rumah sakit. Rutinitas itu harus dilakukan sebanyak tiga kali dalam seminggu. Namun, setelah mendapat pendampingan, mereka menuju tempat pemeriksaan dengan lebih nyaman menggunakan transportasi online.

Layanan bantuan dana umum yang diberikan Pita Kuning mencakup empat item, yakni bantuan bulanan habis pakai termasuk susu, diaper, tisu, underpad, dan madu. Ada pula biaya transportasi dari dan ke rumah sakit, bantuan obat dan perawatan yang tidak ditanggung BPJS, serta bantuan pengurusan jenazah.

Selain itu, keluarga juga boleh memilih dua jenis layanan pilihan antara subsidi biaya pendidikan, biaya sewa tempat tinggal, kebutuhan rumah tangga, biaya pendukung perawatan seperti terapi, subsidi hiburan, atau pembayaran premi BPJS maksimal 4 orang anggota keluarga.

“Yang penting, prinsipnya membuat anak bahagia.”

Harapannya tak muluk-muluk, meringankan beban keluarga dan mengembalikan keceriaan anak-anak pejuang kanker yang mendadak tercerabut karena harus menjalani proses panjang pengobatan.

Baca juga artikel terkait HARI KANKER ANAK SEDUNIA atau tulisan lainnya dari Aditya Widya Putri

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani