Mengapa Kanker Nasofaring & Kelenjar Getah Bening Bisa Berbarengan?

Infografik Kanker nasofaring
Ustadz arifin ilham. FOTO/ANTARA/Rosa Panggabean
Oleh: Aditya Widya Putri - 9 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kelenjar getah bening bisa menjadi titik mula kanker, tapi lebih umum terpengaruh oleh jenis kanker lain.
tirto.id - Arifin Ilham masih mengenakan sorban putih kebesaran seperti biasa. Ia duduk diapit istri dan kedua anaknya, terlihat santai dengan setelan sarung dan sandal jepit. Potret kebahagiaannya terlihat kontras dengan kondisi fisik yang terlihat lebih kurus dan layu. Pada Desember tahun lalu, ustaz kenamaan ini sempat mengafirmasi dirinya sebagai penyintas nasopharyngeal carcinoma (NPC) dan kelenjar getah bening stadium IVA.

Unggahan sang anak, Muhammad Alvin Faiz langsung diserbu warganet, dari yang sekadar bertanya perihal penyakit hingga mendoakan kesembuhan ayahnya. Dalam potret tertanggal 7 Januari 2018 itu, Arifin nampak duduk di pinggiran ranjang rumah sakit, tersenyum sembari dirangkul oleh Anies Baswedan. Tiang infus yang mengulur ke tangan kanan Arifin dipegang erat oleh Gubernur DKI Jakarta itu.

“Tapi ini bukan sakit kanker lagi, beda,” jawab Alvin, merespons pertanyaan seorang warganet soal alasan ayahnya dirawat, tapi pria berumur 19 tahun itu tak menyebut detail penyakitnya.

Dua bulan penghabisan tahun 2018, Arifin sempat dibuat bolak-balik rumah sakit untuk melakukan kemoterapi. Ia didiagnosa NPC dan kelenjar getah bening dengan gejala utama kesulitan bernapas, berbicara, dan mendengar. Beberapa gejala lainnya juga meliputi hidung tersumbat, mimisan, dan sakit kepala. Saat mengumumkan kesembuhannya di akhir tahun, suara Arifin juga belum sepenuhnya pulih.


NPC terjadi karena sel-sel ganas terbentuk di jaringan nasofaring, bagian atas faring (tenggorokan) di belakang hidung. Faring berbentuk tabung berlubang berukuran 5 inci yang berpangkal di belakang hidung dan berakhir di bagian atas trakea (batang tenggorokan) serta esofagus (tabung yang mengalir dari tenggorokan ke perut).

Udara dan makanan melewati faring menuju trakea atau kerongkongan. Sementara di nasofaring, terdapat lubang yang masing-masing menarah ke telinga dan hidung. Itulah sebabnya NPC membikin aktivitas yang berhubungan dengan telinga, mulut, dan hidung menjadi sulit. Laman National Cancer Institute menyebut NPC merupakan jenis kanker yang menyerang tenggorokan dan kepala.

Lazimnya, ketika seseorang didiagnosis NPC, tim medis akan melakukan pementasan, alias penilaian kanker. Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan tata laksana pengobatan dan menetapkan peluang kelangsungan hidup. Semakin kecil tingkatan kankernya, semakin besar peluang kesembuhan pasien.


American Cancer Society menyebut empat tahapan NPC yang dimulai dari stadium 0, atau disebut juga kondisi karsinoma in situ (CIS). Pada tahapan ini, sel abnormal mulai muncul, menjadi cikal bakal kanker. Tahap selanjutnya stadium I, sel abnormal di nasofaring mulai berubah menjadi kanker dan menyebar ke jaringan di dekatnya.

Pada stadium II hingga stadium III, kanker semakin ganas, menyerang lebih ke satu jaringan sekitar nasofaring, seperti kelenjar getah bening, tulang, dan organ sinus terdekat. Pada stadium IV, kanker mulai menggerogoti jaringan yang jauh dari nasofaring.

“Semakin rendah angkanya, semakin sedikit kanker menyebar,” tulis laman tersebut.

Penyebaran NPC


NPC merupakan jenis kanker yang jamak terdiagnosis di Asia Tenggara. Insiden tahunannya bisa mencapai 30-80 per 100 orang di daerah endemis. Pada tahun 2012, sebuah penelitian dari Francis CH, dkk merangkung 2920 kasus NPC pada 411 artikel dan 13 studi. Penelitian berjudul "Patterns of regional lymph node metastasis of nasopharyngeal carcinoma: A meta-analysis of clinical evidence" itu mencari jaringan yang paling umum terkena dampak NPC.

“Kejadian paling sering adalah penimbunan nanah pada kelenjar getah bening di bagian belakang tenggorokan (retrofaringeal) sebanyak 69 persen dan kelenjar getah bening tingkat II sebanyak 70 persen,” rangkum peneliti.


Artinya, diagnosis NPC sangat berkaitan dengan penyakit kelenjar getah bening. Hal ini pula yang sempat dialami Arifin Ilham sehingga ia harus menjalani perawatan kedua penyakit ini pada akhir tahun lalu. Cancer Treatment Centers of America menjabarkan kelenjar getah bening sebagai organ kecil menyerupai kacang yang berfungsi untuk produksi dan menyimpan sel darah putih. Jaringan ini merupakan bagian dari sistem limfatik yang terletak di seluruh tubuh, termasuk leher, ketiak, perut, dan selangkangan.



Pembengkakan kelenjar getah bening lebih umum disebabkan pengaruh kanker lain termasuk NPC dibanding bermula dari kelenjar getah bening sendiri. Kanker yang dimulai dari bagian tubuh lain dan menyebar ke kelenjar getah bening disebut metastasis. Kelenjar getah bening memiliki peran penting dalam menentukan tingkat kanker dalam tubuh.

Tim medis akan menggunakan sistem TNM yang didasarkan pada tingkat tumor (T), tingkat penyebaran ke kelenjar getah bening (N), dan adanya metastasis (M). Jika kanker nihil di kelenjar getah bening di dekat kanker, N diberi nilai 0. Jika noda terdekat menunjukkan kanker, N diberi nomor mulai dari I, II, III, dst tergantung jumlah noda yang terpengaruh, jumlah, ukuran, dan lokasi kanker.

“Beberapa kanker metastasis yang menyebar ke kelenjar getah bening bisa diobati dengan pembedahan, atau kemoterapi, transplantasi sel induk, dan terapi kanker lainnya,” tulis Cancer Treatment Center of America.

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight