tirto.id - Pernahkah kita tersenyum kecil atau tertawa sendiri ketika pengingat hal lucu? Ini merupakan hasil aktivitas otak memanggil ingatan kembali yang memunculkan respons tawa atau senyuman.
Secara neurologis, bagian hipotalamus sebagai pusat pengatur utama di otak dan korteks prefrontal yang berperan memanggil pengalaman humor saling terkoordinasi.
Rangkaian proses ini terjadi hanya dalam hitungan milidetik, menjadikan tawa sebagai salah satu perilaku paling kompleks secara neurologis yang dihasilkan manusia secara spontan.
Bagaimana Memori di Otak Memengaruhi Respons Fisik
Tersenyum sendiri ketika ingat kejadian lucu merupakan contoh bagaimana otak mengolah memori dan unsur emosi, kemudian terhubung dengan ekspresi wajah.
Studi berjudul When Your Face Describes Your Memories: Facial Expressions During Retrieval of Autobiographical memories (2018) karya Mohamad El Haj dan tim, yang dimuat laman National Library of Medicine menjelaskan ekspresi wajah emosional tampak saat seseorang memanggil kembali ingatan autobiografis.
Penelitian ini mengkaji ekspresi wajah selama proses pemanggilan memori atau retrieval autobiografis. Hasil penelitian menunjukkan ekspresi wajah emosional yang khas bergantung pada karakteristik ingatan yang dipanggil.
Selain itu, ingatan yang bermuatan emosional dapat memicu ekspresi wajah emosional yang selaras. Misal, ingatan terhadap momen bahagia akan memicu ekspresi positif, seperti senyum tulus atau tertawa.

Studi ini memperlihatkan variasi ekspresi wajah berdasarkan tingkat spesifikasi, relevansi diri, serta orientasi waktu kejadian. Penelitian ini penting untuk memahami pemrosesan emosi di otak, serta gangguan kognitif dan neurodegeneratif.
Secara teoritis, ingatan digambarkan sebagai proses informasi dari lingkungan disimpan dan dikonsolidasikan di dalam jaringan saraf, kemudian bisa dipanggil kembali.
Kemampuan mengingat akan lebih baik untuk informasi yang memiliki muatan emosional. Sementara peristiwa netral yang tanpa emosi cenderung lebih sering dilupakan atau sulit diingat.
Studi A Review of Neurobiological Factors Underlying the Selective Enhancement of Memory at Encoding, Consolidation, and Retrieval (2019) karya Rebecca Crowley dan tim yang dimuat di Progress in Neurobiology, menjelaskan fase terjadinya memori selektif.
Otak bagian amigdala akan memahami peristiwa-peristiwa yang meilbatkan emosi, penting, dan relevan. Pemrosesan neurobiologis ini cenderung lebih panjang dan intens jika dibandingkan peristiwa netral. Selama proses penyimpanan, amigdala berinteraksi dengan hipokampus untuk merekonstruksi isi detail memori.
Selama proses konsolidasi, memori dikirim dari hipokampus ke neokorteks melalui gelombang tajam atau sharp-wave ripples. Pada fase inilah memori yang mengandung emosional bakal mengalami pemutaran ulang (replay) yang lebih sering, sehingga jejak sinapsisnya makin kuat.
Ketika otak akan melakukan pemanggilan kembali memori yang kuat, neokorteks mereproduksi pola ritme gelombang otak yang serupa ketika fase penyandian. Kemudian peristiwa lucu, menyedihkan, atau tragis dapat kembali teringat.
Keberhasilan otak melakukan pemanggilan kembali memori yang disertai dengan konteks peristiwa emosional dapat memengaruhi respons fisik yang relevan, seperti sedih, marah, atau tertawa lepas.
Ingatan Lucu, Dopamin, dan Refleks Senyum
Saat otak mengingat kembali peristiwa lucu, otak juga memproses emosi gembira yang menyertainya. Terdapat tiga neurotransmiter utama yang dilepaskan otak saat tertawa, yaitu dopamin, serotonin, dan endorfin.
Dopamin dilepaskan secara berlimpah di pusat penghargaan utama otak, ketika otak mengingat kejadian lucu. Lonjakan dopamin inilah yang menjadi alasan lelucon yang bagus terasa memuaskan.
Senyum yang muncul saat mengingat peristiwa lucu sering disebut dengan duchenne smile atau senyum spontan yang tidak dibuat-buat.
Menurut penelitian Mohamad El Haj dan tim, tertawa lepas dapat mengaktifkan otot-otot wajah secara otomatis. Termasuk menarik sudut bibir ke atas, mengernyit, atau kontraksi area sekitar mata.
Dopamin juga mendorong seseorang untuk mencari lebih banyak humor. Inilah sebabnya mengapa ingatan lucu dapat menjadi kebiasaan diri yang berkelanjutan.

Selanjutnya, serotonin dilepaskan saat tertawa berfungsi menstabilkan suasana hati dan mengurangi penanda saraf terkait kecemasan. Sementara, endorfin yang dilepaskan saat tertawa menghasilkan efek analgesik atau pengurang rasa nyeri.
“Saat lelucon mencapai puncaknya (punch line), otak Anda melepaskan neurotransmiter yang memicu perasaan nyaman: dopamin, serotonin, dan berbagai jenis endorfin. Hal ini mengaktifkan pusat emosi dan pusat penghargaan di otak memproses respons emosional serta meningkatkan rasa senang,” ujar Dr. Sian Beilock, seorang ahli saraf dan profesor di Harvard Medical School, dikutip dari laman LaughMD, pada 24 Juli 2026.
Selain ketiga unsur tersebut, tertawa juga memodulasi oksitosin atau hormon ikatan yang dapat memperdalam hubungan sosial serta mengurangi reaktivitas stres.
Sementara itu, otak juga memiliki mekanisme khusus saat seseorang melakukan senyum sosial sebagai bentuk komunikasi atau norma interaksi. Otak bagian korteks motorik hanya akan memberikan informasi untuk menggerakkan otot bibir ketika melakukan senyum sosial.
Apakah Hal Ini Normal dan Punya Manfaat Psikologis?
Ingatan lucu yang mengundang tawa dapat mengurangi rasa nyeri serta memperbaiki suasana hati. Tertawa bersama orang lain secara signifikan meningkatkan ambang batas nyeri. Otak merespons tawa yang tulus maupun tawa yang dibuat-buat dengan cara serupa.
Artinya, manfaat neurokimiawi tetap bisa diperoleh meski humor terasa dipaksakan. Selain itu, tawa juga dapat menular karena mekanisme alami otak.
Laman Neurolaunch menjelaskan aktivitas neuron cermin (mirror neuron) membuat otak secara otomatis meniru respons tertawa hanya dengan mendengar atau melihat orang lain tertawa. Tawa lepas terbukti dapat menurunkan kadar kortisol, epinefrin, dan hormon stres lainnya.
Sementara itu, tawa dalam konteks sosial memicu pelepasan opioid endogen dalam jumlah terukur. Seseorang yang menonton tayangan komedi bersama orang lain melepaskan opioid yang jauh lebih besar ketimbang mereka yang menonton humor sendirian.
Hal ini penting karena opioid bukan sekadar zat kimia pemicu kesenangan. Opioid merupakan mekanisme di balik meningkatnya toleransi terhadap rasa sakit, berkurangnya kecemasan, serta munculnya perasaan tenang yang mendalam usai seseorang tertawa lepas dalam waktu cukup lama.

Tawa yang tidak terkontrol juga dapat menjadi indikasi adanya gangguan saraf, yang disebut dengan pseudobulbar affect (PBA). Penderita PBA cenderung mengalami ledakan tawa tanpa sadar dan terjadi kapanpun tanpa stimulus tertentu, sebagaimana dikutip dari laman Siloam Hospitals.
Gangguan ini terjadi saat seseorang mengalami gangguan pada wilayah otak di sepanjang jalur cerebro-ponto-cerebellar, bagian otak yang merespons emosi sesuai situasi sosial. Selain tertawa yang berbeda dengan orang normal, penderita PBA juga kerap menangis dalam suasana yang sebenarnya tidak menyedihkan.
Pengidap PBA cenderung malu saat berada di depan umum, karena khawatir mengalami kekambuhan gejala. Penderita PBA juga dapat mengalami rasa frustasi dan melampiaskan kemarahan tanpa alasan. Biasanya rasa marah tersebut bakal meledak-ledak dalam waktu singkat. Diagnosis PBA hanya boleh dilakukan oleh dokter profesional.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id




































