tirto.id - Menjaga kondisi rumah untuk tidak terlalu lembap dapat menjadi langkah penting menjaga kesehatan keluarga. Rumah lembab dapat menimbulkan bau apek di lemari dan kasur, dinding berbintik, serta udara yang tidak nyaman.
Kondisi lembapan tinggi di dalam ruangan juga dapat meningkatkan risiko peradangan, alergi, hingga penyakit asma. Secara umum jamur dan mikroba berkembang biak dengan cepat ketika terdapat air dan kelembapan yang mendukung pertumbuhannya.
Untuk meminimalisir jamur dan mikroba, pastikan menjaga kadar kelembapan normal di dalam rumah, termasuk menggunakan alat bantu seperti dehumidifier. Selain memberi kenyamanan, hal ini juga untuk menjaga kesehatan penghuni rumah.
Ruangan Lembap Jadi Surga Bagi Jamur & Polusi Udara Indoor
Jamur nyaris selalu ada di lingkungan sekitar kita. Spora jamur bisa masuk ke dalam rumah lewat jendela, pintu, ventilasi, juga dapat terbawa dari pakaian, sepatu, tas, serta hewan peliharaan dari luar.
Pada ruangan yang lembab, jamur cenderung tumbuh lebih baik. Beberapa lokasi yang dapat memicu tumbuhnya jamur ada di area sekitar kebocoran atap, pipa, maupun area yang pernah terkena banjir. Tak hanya itu, jamur dapat tumbuh pada kertas, kardus, ubin plafon, kertas dinding, dinding gipsum (drywall), karpet, kain, hingga pelapis furnitur.
Kelembapan udara dan jamur termasuk salah satu masalah dalam ruangan yang kemunculannya paling signifikan secara global serta erat akitannya dengan iklim.
Sebuah penelitian Residential Dampness and Molds and the Risk of Developing Asthma: A Systematic Review and Meta-Analysis (2012) karya Reginald Quansah dan tim, yang dimuat di laman PLOS One, mencatat prevalensi kerusakan tempat tinggal akibat air dan masalah kelembapan berkisar antara 5 persen hingga 30 persen di wilayah beriklim dingin.
Sementara di wilayah iklim sedang dan hangat, kerusakan akibat air dan kelembapan cenderung lebih tinggi, yakni mencapai 10 persen hingga 60 persen.
Tak hanya itu, prevalensi jamur di dalam ruangan tercatat sebesar 5–10 persen di wilayah beriklim dingin, serta 10–30 persen di wilayah beriklim sedang maupun hangat. Sebagian besar populasi dunia terpapar masalah yang berkaitan dengan kelembapan.
Ruangan yang dibiarkan lembap juga dapat memicu sejumlah persoalan baru, seperti polusi udara indoor serta pertumbuhan tungau.

Studi Reducing Relative Humidity to Control the House Dust Mite Dermatophagoides Farinae (1999) karya Larry G. Arlian dan tim yang dimuat The Journal of Allergy and Clinical Immunology, menjelaskan kelembapan relatif (RH) di dalam ruangan merupakan faktor kunci yang menentukan perkembangan populasi tungau di rumah.
Penelitian menemukan bahwa populasi tungau mencapai puncak pada bulan-bulan musim panas yang lembap, atau saat kelembapan rata-rata harian di dalam ruangan berada di atas 50 persen.
Pada musim dingin yang kering, jumlah tungau cenderung menurun ketika kelembapan berada di bawah 50 persen. Meski demikian tungau masih hidup dan dapat ditemukan dalam sampel debu.
Kelembapan tinggi dalam ruangan menyebabkan pertumbuhan mikroba, termasuk kapang, jamur, dan bakteri. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menciptakan polusi mikroba yang menyebarkan spora, sel, fragmen, dan senyawa organik yang mudah menyebar ke udara.
Kenapa Rumah Lembap Memicu Alergi dan Asma?
Penelitian Reginald Quansah dan tim menemukan bahwa pertumbuhan mikroba di dalam ruangan turut mempengaruhi serta memicu asma. Paparan kelembapan serta jamur mempengaruhi peningkatan signifikan sebesar 37–56 persen terhadap risiko asma, maupun riwayat diagnosis asma.
Studi tersebut juga menjelaskan bau jamur merupakan paparan yang paling spesifik terkait dengan asma, karena bau juga merujuk kontaminasi mikroba di udara dalam ruangan.
Bau jamur erat kaitannya dengan paparan kelembapan jangka panjang. Dibutuhkan waktu tertentu hingga pertumbuhan mikroba cukup banyak hingga menghasilkan senyawa kimia yang dapat terdeteksi sebagai bau.
Seiring masalah kelembapan yang berkepanjangan, muncul potensi masalah lain dari mikroba, tungau debu rumah, dan emisi bahan kimia. Oleh karenanya perlu diatasi sumber kelembapan dan kebocoran secara menyeluruh. Membersihkan benda-benda yang berjamur juga efektif mengurangi risiko kesehatan bagi penghuni rumah.
Paparan jamur dalam rumah bisa berdampak pada kesehatan penghuni, mulai dari tingkat sedang hingga membahayakan. Orang yang menderita asma atau memiliki alergi terhadap jamur dapat mengalami reaksi parah.

Individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah atau penyakit paru kronis berisiko mengalami infeksi paru-paru akibat jamur. Paparan jamur pada orang yang sensitif dapat memicu gejala seperti hidung berair, serta mata atau kulit yang memerah dan gatal.
Sebagian orang akan mengalami sakit tenggorokan, batuk atau mengi, serta ruam kulit saat kelembapan dan jamur meningkat. Pada tingkat tertentu, paparan jamur dalam jumlah besar dapat menyebabkan demam atau sesak napas, seperti dikutip dari laman Centers for Disease Control and Prevention.
Dokumen berjudul WHO Guidelines for Indoor Air Quality : Dampness and Mould menyebutkan kelembapan berlebih pada material dalam ruangan menyebabkan pertumbuhan mikroba. Mikroba berkembang biak dengan cepat saat terdapat air. Debu dan kotoran yang ada dalam ruangan menyediakan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan mikroba.
Saat mikroba terhirup oleh tubuh, terjadi beragam respons inflamasi atau peradangan. Terdapat bukti klinis bahwa paparan kapang dan agen mikroba terkait kelembapan meningkatkan risiko kondisi langka, seperti hypersensitivity pneumonitis, allergic alveolitis, rinosinusitis kronis, serta allergic fungal sinusitis.
Cara Menjaga Rumah Tetap Kering, Bersih, dan Sehat
Sejumlah cara dapat dilakukan untuk menjaga rumah tetap kering terhindar dari kondisi lembap. Laman Centers for Disease Control and Prevention menyarankan sejumlah cara untuk mencegah tumbuhnya jamur akibat ruangan lembap.
Pertama, pastikan kelembapan di rumah tidak lebih dari 50 persen sepanjang waktu. Jika memungkinkan, gunakan pendingin ruangan (AC) atau alat pengurang kelembapan (dehumidifier). Hal ini membantu menjaga tingkat kelembapan tetap rendah.
Dehumidifier bekerja dengan menyerap uap air di udara untuk menjaga kualitas udara. Alat ini juga berfungsi mengurangi bau apek, melindungi furnitur dari kelembapan berlebih, serta membantu menjaga barang elektronik dan pakaian agar tidak mudah rusak akibat jamur.
Kedua, sirkulasi udara di rumah mesti berjalan dengan baik. Apabila terjadi kebocoran pada atap, dinding, atau sistem pipa di rumah, segera perbaiki agar jamur tidak mendapatkan kelembapan yang dibutuhkan untuk tumbuh.

Ketiga, segera ganti karpet dan pelapis furnitur yang sudah terendam air dan tidak dapat segera dikeringkan. Hindari penggunaan karpet di area yang cenderung lembap, seperti kamar mandi atau ruang bawah tanah.
Kementerian Kesehatan RI juga menyarankan tingkat kelembapan ruangan berada di angka antara 40 sampai 60 persen, untuk menjaga kenyamanan sekaligus mencegah perkembangan mikroorganisme di rumah.
Kondisi ruangan yang lebih kering mempengaruhi penguapan cairan tubuh yang lebih cepat, sehingga memicu kulit kering, bibir pecah-pecah, mata gatal, serta iritasi pada membran mukosa di saluran pernapasan.
Sebaliknya, kelembapan udara melebihi 60 persen memicu pertumbuhan jamur, tungau debu, dan bakteri yang dapat memperburuk gejala alergi maupun infeksi paru-paru.
Terakhir, pastikan rumah selalu bersih untuk mengurangi debu, jamur, dan polutan mikroba lainnya. Jika ada keluarga yang merokok, sediakan ruangan khusus di area teras agar asap rokok tidak masuk ke rumah.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id
































