Menuju konten utama

Kenali Mirror Neurons, Ketika Menguap Ternyata Bisa "Menular"

Menguap menular terjadi pada manusia dan hewan. Fenomena ini melibatkan mekanisme saraf, korteks motorik, dan respons sosial.

Kenali Mirror Neurons, Ketika Menguap Ternyata Bisa
Ilustrasi manusia sedang menguap . FOTO/iSTockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menguap saat melihat orang lain melakukan dikenal sebagai contagious yawning. Fenomena ini melibatkan mekanisme saraf yang kompleks, dinamika aliran darah di otak, hingga respons sosial yang unik. Salah satu penyebab menguap menular adalah terkait teori mirror neurons.

Studi laboratorium menunjukkan sekitar 40 hingga 60 persen orang dewasa rentan tertular menguap. Sejumlah penelitian mencatat fenomena ini mulai muncul pada anak usia 4-5 tahun, lalu cenderung menurun seiring usia bertambah.

Tak hanya manusia, contagious yawning juga ditemukan pada hewan, seperti simpanse, anjing, gajah, hingga spesies vertebrata seperti ikan zebra.

simpanse

simpanse. FOTO/iStockphoto

Fenomena Menguap dan Jenis-Jenisnya

Ilmuwan membedakan dua jenis menguap. Pertama, spontaneous yawning, yaitu menguap spontan karena kantuk, kebosanan, atau perubahan suhu otak. Kedua, contagious yawning, yaitu menguap yang dipicu oleh melihat, mendengar, atau bahkan memikirkan orang lain menguap, sebagaimana diuraikan Boiangiu dan Peleg dalam Frontiers in Psychiatry (2026).

Studi laboratorium menunjukkan bahwa sekitar 40-60 persen orang dewasa ikut menguap setelah melihat video orang menguap. Angka ini dilaporkan Platek dan rekan dalam Cognitive Brain Research (2003) lalu dirujuk oleh Chan dan Tseng dalam i-Perception (2017).

Anak-anak di bawah sekitar empat hingga lima tahun hampir tidak menunjukkan fenomena ini. Anderson dan Meno dalam Current Psychology Letters (2003) mendapati respons yang konsisten baru muncul pada anak berusia lima tahun ke atas.

Sementara Senju dan rekan dalam Biology Letters (2007) menyebut anak di atas empat tahun baru bisa tertular menguap. Kerentanannya pun cenderung menurun seiring bertambahnya usia, seperti ditemukan Bartholomew dan Cirulli dalamPLOS ONE(2014).

Adapun menguap menular juga dilaporkan pada sejumlah hewan, termasuk simpanse, anjing, serigala, gajah, dan ikan zebra. Pada gajah, Rossman dan rekan mencatatnya dalam Frontiers in Veterinary Science (2020). Temuan pada ikan zebra dilaporkan Galotti bersama rekan dalam Communications Biology(2025), sehingga memperluas pemahaman tentang fenomena ini di dunia hewan.

Kemunculan fenomena menguap menular pada berbagai spesies memunculkan pertanyaan, apakah mekanismenya diwariskan dari leluhur bersama atau muncul berulang secara terpisah. Sejarah evolusinya belum sepenuhnya dipahami.

Merawat dan melatih gajah jinak PLG Saree

Pawang (mahout) Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree merawat dan melatih gajah sumatra (elephas maximus sumatranus) jinak di Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (27/7/2026). PLG Saree memiliki 27 ekor gajah jinak untuk menangani konflik satwa dan menggiring gajah liar yang memasuki kawasan pemukiman serta perkebunan warga di Provinsi Aceh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nz.

Apa Itu Mirror Neurons & Bagaimana Cara Kerjanya?

Salah satu penjelasan yang populer adalah keterlibatan mirror neurons atau neuron cermin. Tim peneliti yang dipimpin Giacomo Rizzolatti menemukan neuron ini pada awal 1990-an ketika merekam aktivitas otak monyet, seperti dilaporkan Di Pellegrino dan rekan dalam Experimental Brain Research (1992).

Sel-sel tersebut aktif ketika monyet melakukan gerakan tertentu maupun ketika mengamati gerakan serupa yang dilakukan pihak lain. Para ilmuwan kemudian mengaitkan neuron cermin dengan pemahaman tindakan, imitasi, dan kemungkinan keterlibatan dalam proses sosial.

Berdasarkan teori ini, melihat orang menguap dapat mengaktifkan sistem saraf yang berkaitan dengan pengamatan dan pelaksanaan gerakan. Otak kemudian memicu respons serupa pada tubuh pengamat. Namun, penelitian belum membuktikan bahwa neuron cermin merupakan penyebab utama menguap menular.

Sejumlah studi menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) dan elektroensefalografi (EEG). Hasilnya menemukan aktivitas di area otak yang berkaitan dengan sistem cermin.

Ilustrasi Otak manuasia

Ilustrasi Otak manuasia. foto/istockphoto

Haker dan rekan dalam Brain Imaging and Behavior(2013) mencatat aktivasi di inferior frontal gyrus, sementara Cooper dan rekan dalam Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience(2012) melaporkan perubahan gelombang yang dianggap berhubungan dengan aktivitas sistem tersebut. Penelitian lain tidak menemukan aktivasi spesifik pada bagian inti sistem cermin.

Sebaliknya, sejumlah temuan menunjukkan keterlibatan area otak yang memproses informasi sosial, perhatian terhadap wajah, dan pemikiran tentang diri sendiri.

Platek dan rekan dalamCognitive Brain Research (2005) menemukan aktivitas di precuneus dan posterior cingulate, sementara Nahab dan rekan dalam Human Brain Mapping (2009) mencatat keterlibatan korteks prefrontal ventromedial.

Tinjauan sistematis atas 23 studi oleh Boiangiu dan Peleg dalam Frontiers in Psychiatry (2026) berfokus pada berkurangnya menguap menular pada autisme, sifat psikopati, dan spektrum skizofrenia. Isinya menyimpulkan bahwa peran spesifik sistem neuron cermin masih belum dapat dipastikan.

Penelitian dari University of Nottingham menawarkan penjelasan lain melalui fungsi korteks motorik. Brown dan rekan dalam Current Biology(2017) menggunakan stimulasi magnetik transkranial (TMS), menemukan bahwa tingkat excitability (kesiapan sel saraf untuk merespons) serta hambatan fisiologis di korteks motorik primer bisa memprediksi kecenderungan seseorang tertular menguap, dengan menjelaskan sekitar separuh variasi. Area ini mengendalikan gerakan tubuh.

Semakin tinggi excitability korteks motorik seseorang, semakin besar kecenderungann untuk tertular menguap. Upaya menahan menguap juga bisa memperkuat dorongan untuk melakukan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa menguap yang menular melibatkan mekanisme motorik yang sulit dikendalikan secara sadar.

Ilustrasi menguap

Ilustrasi manusia sedang menguap . FOTO/iSTockphoto

Faktor sosial turut memengaruhi respons tersebut. Norscia dan Palagi dalam PLoS ONE (2011) menemukan bahwa orang lebih mudah tertular menguap dari keluarga atau teman dekat dibanding orang asing.

Namun, penelitian pada anjing polanya tidak serupa. Karena itu, hubungan antara menguap menular, kedekatan sosial, dan empati masih menjadi bahan perdebatan, sebagaimana ditinjau Massen dan Gallup dalam Neuroscience & Biobehavioral Reviews(2017).

Para ilmuwan mengajukan beberapa hipotesis untuk menjelaskan manfaat evolusioner fenomena ini. Menguap menular diduga membantu menyinkronkan tingkat kewaspadaan anggota kelompok atau meningkatkan kesiagaan terhadap ancaman.

Ada pula hipotesis bahwa mekanisme fisiologis menguap kemudian terhubung dengan sistem sosial. Belum ada satu penjelasan yang sepenuhnya menjawab mengapa respons ini berkembang lintas spesies, tak hanya manusia saja.

Apa Fungsi Menguap?

Selain mekanisme saraf dan perilaku sosial, para ilmuwan meneliti fungsi fisiologis menguap. Salah satu hipotesis yang berkembang adalah brain cooling, gagasan menguap turut membantu pengaturan suhu otak.

Otak menghasilkan panas melalui aktivitas metabolisme. Menurut hipotesis pendinginan otak, menguap membantu mengubah aliran udara dan sirkulasi darah di sekitar kepala sehingga tubuh dapat membuang panas.

Teori ini menghasilkan prediksi bahwa frekuensi menguap akan mengikuti rentang suhu tertentu: lebih sering pada suhu lingkungan sedang dan berkurang ketika udara terlalu panas atau terlalu dingin.

Sejumlah penelitian lapangan menemukan pola yang mendukung prediksi tersebut. Gallup dan Eldakar dalam Frontiers in Evolutionary Neuroscience (2011) mendapati bahwa di Arizona, 45 persen pejalan kaki menguap setelah melihat gambar orang menguap saat musim dingin, dibanding 24 persen saat musim panas.

Studi serupa di Wina oleh Massen dan rekan dalam Physiology & Behavior(2014) menemukan pola sebaliknya. Menguap menular ternyata menurun, baik pada suhu sekitar 37 derajat celcius maupun mendekati titik beku.

ILUSTRASI FOTO ORANG MENGUAP

Ilustrasi orang menguap. Foto/Getty Images/iStockphoto

Penelitian menggunakan MRI waktu nyata memberi gambaran lebih terperinci tentang perubahan fisiologis selama menguap. Martinac dan rekan dalamRespiratory Physiology & Neurobiology (2026), tim dari University of New South Wales dan Neuroscience Research Australia, memindai kepala dan leher 22 partisipan ketika mereka menguap, bernapas dalam, dan bernapas secara normal. Para peneliti memicu menguap melalui paparan menguap orang lain untuk mengamati respons tubuh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat menguap, cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid atau CSF) dan darah vena bergerak keluar dari tengkorak bersamaan, sementara pada napas dalam CSF mengalir masuk. Aliran darah di arteri karotis internal juga meningkat hingga 43 persen pada fase mulut terbuka lebar dan awal embusan napas, sesuatu yang tidak tampak pada napas dalam maupun napas normal.

Cairan serebrospinal merupakan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Cairan ini membantu melindungi sistem saraf pusat dan berperan dalam menjaga lingkungan tempat jaringan saraf bekerja. Perubahan aliran selama menguap memberi petunjuk bahwa gerakan tersebut memiliki fungsi fisiologis yang lebih kompleks daripada yang terlihat dari luar.

Para peneliti juga menemukan bahwa setiap partisipan memiliki pola menguap yang relatif konsisten, terutama pada gerakan lidah. Perbedaan tersebut menyerupai tanda tangan pribadi dan mengindikasikan keterlibatan mekanisme pengendali gerakan di batang otak, yang dikenal sebagai central pattern generator. Mekanisme ini membantu menghasilkan rangkaian gerakan otomatis dengan pola tertentu.

Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa menguap merupakan respons fisiologis tersendiri. Meski demikian, perubahan aliran darah dan CSF selama menguap belum dengan sendirinya membuktikan bahwa fungsi utama gerakan ini adalah mendinginkan otak.

Ilustrasi Otak manuasia

Ilustrasi Otak manuasia. foto/istockphoto

Di laman resmi UNSW, para peneliti menyebut bahwa menguap membantu membersihkan cairan otak, tetapi sifatnya masih bersifat spekulatif. "Menguap tetap jadi hal yang sangat misterius, meski itu adalah proses purba yang sudah dilestarikan sepanjang evolusi. Kita tahu bahwa buaya menguap, jadi kita berpikir dinosaurus juga menguap,” kata Adam Martinac.

"Kemungkinan besar buaya dan dinosaurus menguap bukan karena respons sosial, seperti bosan dengan buaya atau dinosaurus lain!" lanjutnya.

Kenapa Menguap Bisa "Menular" & Apakah Berbahaya?

Menguap menular memperlihatkan hubungan antara mekanisme tubuh dan respons terhadap lingkungan sosial. Ketika seseorang melihat orang lain menguap, otak memproses rangsangan visual atau sosial, sementara sistem motorik berperan menghasilkan gerakan serupa.

Pada saat bersamaan, menguap melibatkan perubahan fisiologis yang memengaruhi aliran darah dan cairan di dalam kepala.

Namun, tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama. Sebagian orang mudah tertular menguap hanya dengan melihat orang lain melakukan, sebagian lainnya jarang mengalami respons tersebut. Perbedaan ini tergolong normal dan tidak dapat digunakan sebagai ukuran tunggal untuk menilai empati seseorang.

Ilustrasi Sosiologi

Ilustrasi interaksi sosial. foto/IStockphoto

Hubungan antara menguap menular dan empati memang menarik perhatian peneliti karena fenomena tersebut sering muncul dalam interaksi sosial. Akan tetapi, kecenderungan tertular menguap juga dipengaruhi faktor lain, termasuk usia dan karakteristik sistem saraf.

Karena itu, seseorang yang jarang tertular menguap tidak otomatis memiliki kemampuan empati yang lebih rendah, simpul Massen dan Gallup dalamNeuroscience & Biobehavioral Reviews (2017).

Menguap juga bisa muncul karena kantuk, kebosanan, perubahan kondisi lingkungan, atau faktor fisiologis lainnya. Frekuensi dapat berbeda-beda sesuai keadaan seseorang.

Jika menguap berlebihan muncul secara tiba-tiba, berlangsung terus-menerus, atau disertai gejala lain, pemeriksaan medis bisa membantu mencari penyebabnya. Krestel dan rekan dalam Progress in Neurobiology(2018) mencatat bahwa menguap yang abnormal atau berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan tidur, efek obat, atau masalah kesehatan tertentu.

Ilustrasi Mengantuk

Ilustrasi Mengantuk. foto.istockphoto

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Beni Jo