Menuju konten utama

Alasan Kabut Asap Bisa Bertahan Lama Meski Jauh dari Pusat Api

Asap kebakaran hutan bisa bertahan lama karena dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Alasan Kabut Asap Bisa Bertahan Lama Meski Jauh dari Pusat Api
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Asap kebakaran hutan bisa bertahan lama meskipun jauh dari pusat api atau wilayah sumber kebakaran. Meski hujan bisa meredakan asap itu, keberadaan asap ternyata turut dipengaruhi gerak angin.

Asap ini mengandung senyawa dan partikel yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Melansir laman The Conversation, kebakaran hutan melepaskan sejumlah besar partikel halus atau PM2.5 bersama dengan nitrogen oksida dan senyawa organik volatil atau VOC.

Senyawa dan partikel yang dilepaskan oleh kebakaran hutan bisa membahayakan kesehatan manusia, termasuk paru-paru, jantung, dan organ-organ lainnya. Ini termasuk juga zat karsinogen yang sudah dikenal.

Lebih lanjut, faksi yang disebut PM2,5 itu merupakan partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ini terlalu kecil untuk dilihat dan berada di udara untuk waktu yang lama serta masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Sering kali, asap kebakaran hutan tampak lebih lama bertahan di udara. Setelah hujan mengguyur suatu wilayah terdampak, asap tersebut akan datang lagi.

Kenapa Kabut Asap Bisa Bertahan Lama?

Kabut asap merupakan istilah bagi asap akibat kebakaran hutan. Berbeda dari asap yang sering kali berwarna kehitaman, kabut asap tampak seperti kabut, meski kandungan di dalamnya berupa partikel berbahaya dan bukan uap air.

Perubahan warna asap kebakaran dipengaruhi oleh paparan sinar matahari dan reaksi kimia di atmosfer. Sebagaimana dijelaskan laman The Conversation, proses ini dikenal sebagai pemutihan fotokimia aerosol (photochemical bleaching).

Asap kebakaran mengandung partikel karbon hitam (black carbon) dan karbon cokelat (brown carbon) yang dapat menyerap cahaya. Ketika asap terpapar sinar matahari dan oksidan selama perjalanannya di atmosfer, reaksi kimia dapat menguraikan senyawa penyerap cahaya, terutama sebagian komponen karbon cokelat.

Berkurangnya kemampuan partikel menyerap cahaya dapat membuat asap tampak lebih pucat dan membentuk kabut putih yang menyebar di udara. Namun, perubahan ini bergantung pada komposisi partikel dan kondisi atmosfer. Tidak semua komponen karbon mengalami pemutihan dengan cara yang sama.

Lebih lanjut, ada 3 faktor utama yang mengatur perjalanan asap setelah meninggalkan kobaran api. Ketiga faktor utama tersebut adalah kecepatan angin, suhu atmosfer, dan sinar matahari.

Gerakan horizontal, yang disebut adveksi, akibat gerak angin akan menerbangkan asap. Asap dari kebakaran hutan bisa menghasilkan panas yang sangat besar dan angin kencang yang menerpa ke atas atau memiliki daya apung.

Daya apung tersebut mengangkat gumpalan asap keluar dari lapisan batas planet dan masuk ke troposfer bebas, kira-kira 1,2 mil atau 2 kilometer di atas permukaan tanah. Angin pun kemudian mengangkut asap hingga ribuan mil melintasi benua.

Tak jarang, asap kebakaran hutan bahkan dapat menghasilkan cuaca sendiri. Ia membentuk awan pirokumulonimbus yang sarat asap, yang bisa melepaskan sejumlah besar partikel ke stratosfer.

Di samping itu, laman FilterBuy menjelaskan bahwa lama asap kebakaran hutan bisa bertahan ditentukan berdasarkan jarak dari api. Jika berada di dekat kebakaran aktif atau dalam radius sekitar 20 mil, asap kebakaran hutan bisa bertahan beberapa jam hingga beberapa hari.

Jika berada di arah angin di wilayah yang sama atau puluhan hingga beberapa ratus mil, asap kebakaran hutan bisa bertahan dalam beberapa hari hingga beberapa minggu.

kabut asap di Singapura

(DOKUMENTASI) Seorang pejalan kaki yang mengenakan masker berjalan di sepanjang kawasan Marina Bay, sementara gedung-gedung tampak diselimuti kabut asap di Singapura pada 12 Oktober 2026. (Foto oleh Roslan RAHMAN / AFP)

Adapun jika berada di arah angin atau seribu mil atau lebih, asap kebakaran hutan bertahan beberapa hari per gelombang, datang secara gelombang. Pasalnya, setiap gelombang terpisah sehingga kualitas udara bisa pulih dan memburuk lagi beberapa hari kemudian.

Ketinggian asap juga bisa menentukan lama atau tidaknya kabut asap bertahan di udara. Asap yang tetap berada di ketinggian rendah akan cepat mengendap, berbeda dengan asap yang sudah terangkat tinggi.

Asap yang terangkat tinggi hampir tidak memiliki tempat untuk mengendap sehingga asap menyebar lebih jauh. Semakin tinggi gumpalan asap, semakin lama ia bertahan.

Asap di dekat permukaan bertahan dalam hitungan jam hingga hari. Lapisan inilah yang menentukan kualitas udara di suatu layah.

Asap ini bercampur ke lingkungan sekitar, menyebar ke dalam ruangan, dan menghilang ketika angin bertiup kencang atau hujan membersihkannya.

Sementara itu, asap yang terbawa berada di atmosfer bagian bawah dan bertahan dalam beberapa hari hingga minggu. Asap ini terangkat oleh panas api itu sendiri, lalu terbawa oleh angin di lapisan atau atmosfer.

Adapun aerosol di ketinggian atau kepulan asap yang sangat tinggi bisa bertahan dalam beberapa minggu hingga bulan. Pasalnya, kebakaran paling hebat menghasilkan awan badai sendiri yang melontarkan asap jauh di atas cuaca normal.

Aerosol di ketinggian tersebut bisa beredar selama berbulan-bulan, tapi sebagian besar hanya terlihat sebagai langit berkabut atau seperti langit saat matahari terbenam.

Gabriel Pfister, peneliti di Pusat Penelitian Atmosfer Nasional di Boulder, Colorado, dikutip dari laman NASA, menjelaskan bahwa abu dan asap tebal dari kebakaran hutan bisa memenuhi langit.

Asap tampaknya menghilang seiring jarak dari kebakaran. Namun, gas-gas polutan dan partikel-partikel kecil yang tidak terlihat oleh mata bisa terbawa oleh arus global.

Data satelit mengungkapkan bahwa transportasi polusi sering terjadi dalam jarak ratusan bahkan ribuan mil. Transportasi jarak jauh ini berdampak terhadap kualitas udara di wilayah yang terkena asap.

Apakah Hujan Bisa Atasi Kabut Asap?

Secara umum, mengutip laman Filter Buy, ada empat kondisi cuaca yang turut memengaruhi keberadaan kabut asap. Di antaranya, pertama, inversi suhu. Asap sering terasa paling buruk di pagi hari. Hal ini dipengaruhi oleh inversi suhu yang terbentuk pada malam hari.

Lapisan udara hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan tanah dan bertindak sebagai penutup. Asap tidak bisa naik ke atas. Lembah dan cekungan sangat rentan terhadap hal tersebut.

Kedua, tekanan tinggi yang stagnan. Cuaca tenang, cerah, dan stabil, merupakan kondisi terburuk untuk asap. Ketiadaan angin yang menyebarkan atau hujan yang membersihkan, menyebabkan gumpalan asap hanya berada di tempatnya.

Pola cuaca stagnan ini bisa menahan asap di atas wilayah metropolitan selama seminggu atau lebih.

Ketiga, arah angin dan bukan soal kecepatan angin. Angin kencang bisa membersihkan asap di suatu wilayah dan membawanya ke wilayah lain. Pergeseran aliran udara dari satu derajat saja bisa mengubah kondisi kota dari aman menjadi berbahaya lalu kembali normal pada hari berikutnya.

Terakhir, hujan. Ini merupakan cara paling efektif untuk membersihkan asap. Hujan yang turun mengumpulkan partikel-partikel halus dan menariknya keluar dari udara.

kabut asap di Kuala Lumpur

Kabut asap menyelimuti cakrawala Kuala Lumpur sebagaimana terlihat dari Ampang, di negara bagian Selangor, Malaysia, pada 3 September 2026. (Foto oleh Mohd Rasfan / AFP)

Hujan deras bisa membersihkan asap dalam hitungan jam jika hujan jatuh tepat di atas api. Hal ini bisa mempersingkat waktu pemadaman.

Kendati demikian, hujan ternyata tidak selalu bisa mengatasi kabut asap. Kondisi ini dilaporkan terjadi di Malaysia, dilansir dari laman Malay Mail.

Direktur Jenderal Departemen Meteorologi Malaysia, Mohd Hisham Mohd Anip, menjelaskan bahwa curah hujan hanya bisa memberikan bantuan sementara selama asap terus berdatangan dari Indonesia.

Kemudian, ahli meteorologi Universitas Malaya, Profesor Datuk Azizan Abu Samah, mengatakan bahwa arah angin yang ada adalah alasan utama mengapa kabut asap tetap ada bahkan setelah hujan turun.

Lebih lanjut, Mohd Hisham menjelaskan bahwa curah hujan lebat dan berkepanjangan di area yang luas bisa menghilangkan lebih banyak partikel polutan dari atmosfer daripada gerimis singkat.

Namun, efektivitas curah hujan juga dipengaruhi oleh ukuran dan sifat partikel polutan serta kondisi atmosfer. Inilah mengapa hujan deras tidak serta merta menjamin kabut asap akan hilang sepenuhnya jika asap terus bertiup dari wilayah kebakaran hutan.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN HUTAN atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora