tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah kawasan pegunungan di Indonesia sepanjang 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat pada periode 17-18 Oktober 2026, sejumlah kebakaran terjadi di lereng gunung dan kawasan hutan.
Di Jawa Timur, kebakaran dilaporkan melanda kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Semeru, Gunung Wilis, dan Gunung Ungup-Ungup.
Kebakaran juga terjadi di lereng Gunung Lawu di Jawa Tengah, Gunung Sumbing yang melintasi wilayah Jawa Tengah, kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat, dan beberapa gunung lainnya.
Deretan Gunung yang Mengalami Kebakaran Hutan
Berikut daftar gunung di Indonesia yang mengalami kebakaran hutan selama 2026:
1. Gunung Lawu, Jawa Tengah
Kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Api pertama kali diketahui sekitar pukul 10.00 WIB dan membakar vegetasi berupa rumput alang-alang kering serta tanaman pinus.Berdasarkan laporan sementara BPBD Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu (17/10), luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 200 hektare. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD Kabupaten Karanganyar, TNI, Polri, Perhutani, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat dikerahkan untuk melakukan pemadaman.
Petugas membagi personel menjadi empat regu untuk menangani empat titik pemadaman. Namun, proses penanganan terkendala angin yang cukup kencang, akses menuju lokasi yang sulit, serta vegetasi kering yang mudah terbakar. Tim juga membuat sekat bakar atau ilaran untuk mencegah api merambat ke kawasan lain.
2. Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur
Kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang menjadi salah satu kejadian karhutla yang mendapat perhatian pada Oktober 2026 karena api meluas ke beberapa wilayah di Jawa Timur. Kebakaran awalnya dilaporkan pada Kamis, 15 Oktober, di wilayah Pasuruan, kemudian merambat ke Kabupaten Malang, Mojokerto, hingga Kota Batu.
Di Kabupaten Pasuruan, kebakaran terjadi di Desa Ledug, Kecamatan Prigen. Sedangkandi Kabupaten Malang, titik kebakaran dilaporkan di Desa Singosari, Kecamatan Singosari. Penanganan di kedua wilayah menghadapi kendala medan yang sulit dijangkau dan terbatasnya sumber air.
Hingga Sabtu (17/10), api di sejumlah titik masih belum padam. Tim gabungan dari Polisi Kehutanan, pengelola Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Manggala Agni, BPBD, TNI-Polri, relawan, dan masyarakat melakukan pemadaman melalui jalur darat.
Pada Selasa (20/10), Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini dikutip detik Jatim, menyampaikan bahwa jumlah titik api yang terpantau pada pagi hari berada di kisaran 70 titik. Angka tersebut masih fluktuatif karena kondisi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu.
Petugas melakukan pemadaman secara manual menggunakan alat pemukul api atau gepyok, sekaligus membuat sekat bakar untuk mencegah perambatan api. Meski banyak personel dan relawan ingin membantu, jumlah petugas yang diizinkan masuk ke lokasi tertentu dibatasi dengan mempertimbangkan keterampilan, keselamatan, dan kondisi medan.
Kebakaran di kawasan Arjuno–Welirang juga berdampak pada kebutuhan masyarakat di sekitar lereng. Pemerintah Kabupaten Pasuruan menyiapkan anggaran belanja tidak terduga untuk memperbaiki jaringan pipa air bersih sepanjang sekitar 5,2 kilometer yang rusak akibat kebakaran di lereng Gunung Arjuno dan Gunung Ringgit. Perbaikan ditujukan untuk memulihkan distribusi air, terutama bagi warga Desa Jatiarjo dan Dayurejo, Kecamatan Prigen.
3. Gunung Semeru, Jawa Timur
Kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di kawasan Gunung Bromo, tepatnya di Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Peristiwa pada Kamis, 15 Oktober 2026, tersebut menimbulkan korban jiwa dari kalangan petugas dan relawan yang berupaya memadamkan api.
Kepala BPBD Probolinggo Oemar Sjarief menjelaskan, titik api pertama kali terpantau pada pukul 09.00 WIB di lereng Pusung Lingker. Sekitar pukul 10.20 WIB, personel gabungan dari TNBTS bersama relawan yang merupakan karyawan hotel setempat berangkat menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.
Situasi memburuk pada pukul 13.30 WIB ketika api semakin membesar akibat tiupan angin kencang. Kondisi tersebut membuat sejumlah personel gabungan terjebak di area kebakaran. Beberapa petugas dan relawan sempat meminta pertolongan karena terkepung api serta asap pekat.
Pada pukul 14.29 WIB, sejumlah petugas berupaya menerobos kobaran api dan asap untuk menjangkau lokasi. Mereka kemudian menemukan enam korban, terdiri atas tiga orang yang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka bakar.
Tiga korban luka dievakuasi menuju Puskesmas Sukapura pada pukul 14.35 WIB. Sementara itu, Tim Inafis Polres Probolinggo tiba di lokasi pada pukul 16.17 WIB untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.
Pada pukul 17.00 WIB, tiga jenazah korban yang meninggal di lokasi dievakuasi menuju Bukit Mentigen, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura. Selanjutnya, jenazah dibawa ke RSUD Tongas, Kabupaten Probolinggo, untuk menjalani autopsi.
Namun, jumlah korban meninggal bertambah setelah seorang korban luka bakar dinyatakan meninggal dunia di RSUD Tongas pada pukul 18.59 WIB. Dua korban lainnya yang mengalami luka bakar serius kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, untuk mendapatkan perawatan intensif.
Korban meninggal di lokasi kejadian diketahui bernama Sefril dan Wisnu, yang merupakan relawan dari kalangan karyawan hotel setempat, serta Sukaris, petugas TNBTS. Sementara itu, Hendra Roni, yang juga merupakan petugas TNBTS, meninggal dunia setelah dibawa ke RSUD Tongas.
Adapun dua korban dengan luka bakar serius yang dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo adalah Munawi, petugas TNBTS, dan Suraji, relawan dari kalangan karyawan hotel setempat.
Kebakaran di kawasan Bromo juga berdampak terhadap aktivitas wisata. Balai Besar TNBTS membatasi akses menuju kawasan Penanjakan dari sisi Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, karena kebakaran di lokasi tersebut belum berhasil dikendalikan.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyampaikan bahwa pembatasan berlaku sejak Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 21.30 WIB hingga waktu yang belum ditentukan. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Pengumuman Nomor PG.29/T.8/TU/KSA.04.01/B/10/2026 tentang Pembatasan Akses ke Penanjakan.
"Mengingat kondisi kebakaran di area Penanjakan belum dapat dikendalikan maka aktivitas kunjungan wisata hanya diperbolehkan sampai dengan area Lemah Pasar," kata Rudi dikutip Antara (18/10/2026).
4. Gunung Wilis, Jawa Timur
Kebakaran hutan di kawasan Gunung Wilis dilaporkan sejak Minggu, 30 Agustus 2026. Area terdampak berada di sejumlah petak kawasan hutan, termasuk Petak 109 RPH Parang dan Petak 144 RPH Kanyoran, yang mencakup wilayah Kabupaten Nganjuk dan Kediri.Luas area terbakar hingga Kamis (17/9), mencapai lebih dari 465 hektare. Vegetasi yang terdampak meliputi serasah, ranting, rumput, ilalang, dan tanaman lainnya.
Tim gabungan melakukan penyisiran dan penanganan pada titik api yang dapat dijangkau. BPBD setempat bersama unsur terkait juga melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan situasi serta mengantisipasi kemungkinan api merambat ke area hutan lainnya.
5. Gunung Ungup-Ungup, Jawa Timur
Kebakaran di kawasan Gunung Ungup-Ungup, Kabupaten Banyuwangi, dilaporkan pada Kamis, 3 September 2026. Sehari kemudian, api terpantau meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Bondowoso. Luas area yang terbakar saat itu diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare.
Tim gabungan dari BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Banyuwangi, BPBD Kabupaten Bondowoso, BKSDA wilayah Banyuwangi, dan Perhutani melakukan penanganan melalui jalur darat di lokasi yang memungkinkan untuk dijangkau.
Medan yang terjal, licin, dan berbahaya menjadi kendala bagi petugas untuk mencapai sejumlah titik api. Untuk mengantisipasi risiko terhadap pengunjung, kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen ditutup sementara mulai 4 September 2026 hingga waktu yang belum ditentukan.
Petugas juga memantau jalur pendakian Kawah Ijen guna mengantisipasi kemungkinan pergerakan api menuju kawasan wisata maupun jalur pendakian. Penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan sambil menunggu kondisi kawasan dinilai aman.
6. Kawasan Hutan Kota Batu, Jawa Timur
Selain di lereng Arjuno–Welirang, kebakaran juga melanda kawasan hutan produksi di Kota Batu, Jawa Timur. Lokasi yang terdampak meliputi Petak 75B RPH Junggo di Desa Giripurno, Kecamatan Batu, serta kawasan Bon 12 RPH Oro-oro Ombo di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, dan Desa Punten serta Desa Gunungsari di Kecamatan Bumiaji.Tim gabungan dari BPBD Kota Batu, Perhutani, Polri, perangkat desa, relawan, dan warga setempat melakukan pemadaman. Berdasarkan pendataan otoritas setempat, total lahan hutan produksi yang terbakar mencapai sekitar 14,3 hektare.
Rinciannya, kebakaran melanda sekitar 9,25 hektare di Desa Giripurno, 1,5 hektare di Desa Tlekung, 0,35 hektare di Desa Punten, dan 3,2 hektare di Desa Gunungsari. Api dilaporkan berhasil dipadamkan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
7. Gunung Sumbing, Jawa Tengah
Kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di kawasan Gunung Sumbing, yang berada di wilayah Jawa Tengah dan mencakup area sekitar Kabupaten Wonosobo, Temanggung, dan Magelang. Dalam laporan yang tersedia, kebakaran masih belum padam ketika petugas melakukan evakuasi terhadap para pendaki.Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja memastikan sebanyak 152 pendaki yang terdaftar telah berhasil turun dengan selamat. Kepastian itu disampaikan setelah tim gabungan menerima laporan dari Basecamp Gajah Mungkur di Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar, pada pukul 23.30 WIB. Data pendaki yang turun kemudian dicocokkan dengan daftar registrasi untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Polres Wonosobo bersama Basarnas, BPBD, Puskesmas Kalikajar, pengelola basecamp, PMI, dan unsur terkait memprioritaskan keselamatan para pendaki. Jalur pendakian ditutup melalui sejumlah basecamp, sementara koordinasi dilakukan dengan Polres Temanggung dan Polresta Magelang karena kawasan pendakian melintasi beberapa wilayah hukum.
Tim gabungan juga mendirikan posko kendali di Basecamp Gajah Mungkur dan mengerahkan 40 personel ranger untuk menjemput pendaki hingga Pos III. Proses penjemputan membutuhkan waktu dan tenaga ekstra karena perjalanan dari Pos III menuju basecamp diperkirakan memakan waktu sekitar enam jam, dengan jalur yang licin.
Seluruh pendaki dilaporkan turun dalam keadaan sehat dan tidak mengalami luka-luka. Meski demikian, kebakaran di kawasan Gunung Sumbing masih membutuhkan penanganan lanjutan dan koordinasi antarlembaga.
8. Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Rinjani, tepatnya di Bukit Setampol, Resor Torean, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, sejak Selasa, 22 September 2026. Kebakaran tersebut melahap vegetasi di kawasan taman nasional dan meluas hingga lebih dari 1.000 hektare berdasarkan pemantauan pada akhir September.Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, mengatakan titik api pertama kali muncul sekitar pukul 18.50 Wita. Api kemudian membakar vegetasi di kawasan tersebut dan belum dapat dipadamkan sepenuhnya ketika laporan disampaikan pada akhir September.
Pada 24 September 2026, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat luas sementara area terdampak kebakaran mencapai 589,23 hektare. Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiarsito, menjelaskan bahwa vegetasi yang terbakar didominasi rumput, ilalang, semak, dan tumbuhan bawah lainnya.

Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, mulai dari angin kencang, vegetasi kering yang mudah terbakar, hingga medan terjal dan berbatu. Lokasi kebakaran juga sulit dijangkau personel. Waktu tempuh menuju titik kebakaran diperkirakan mencapai delapan jam perjalanan, sementara kabut dan angin turut memengaruhi efektivitas pemadaman.
Tim gabungan dikerahkan untuk menangani kebakaran, melibatkan Balai TNGR, Manggala Agni, TNI, Polri, polisi hutan, Masyarakat Peduli Api (MPA), porter, serta unsur terkait lainnya. BPBD NTB juga berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lombok Utara dan pengelola taman nasional.
Sebagai langkah pengamanan, Balai TNGR menutup sementara jalur pendakian Torean sejak 23 September 2026. Penutupan dilakukan untuk melindungi pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi petugas dalam melaksanakan pemadaman, pemantauan, dan pengendalian kebakaran.
Setelah proses pemadaman, evaluasi, dan asesmen bersama sejumlah pemangku kepentingan, Balai TNGR kembali membuka jalur pendakian Senaru pada 3 Oktober 2026.
9. Pegunungan Kawi, Jawa Timur
Kebakaran hutan juga melanda kawasan Pegunungan Kawi, Jawa Timur, pada September 2026. Tim PROFAUNA Indonesia yang sedang melakukan patroli hutan menemukan kebakaran di kawasan hutan pinus pada 29 September 2026. Vegetasi bawah yang kering membuat api cepat meluas hingga membakar pepohonan dan semak-semak di sekitarnya.Petugas Perhutani bersama masyarakat setempat bekerja sama dengan tim PROFAUNA untuk memadamkan api menggunakan peralatan sederhana. Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.00 WIB pada hari yang sama.
Kebakaran di Pegunungan Kawi tidak hanya terjadi di hutan pinus, tetapi juga dilaporkan melanda kawasan hutan lindung. Berdasarkan keterangan Administratur Perum Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko, pada 16 September 2026 luas area terdampak kebakaran tercatat sekitar 1.050 hektare.
Kompleks Pegunungan Kawi, yang juga dikenal sebagai Pegunungan Putri Tidur, terdiri atas sejumlah gunung, yakni Gunung Panderman, Gunung Buthak, Gunung Kawinajang, Gunung Pitrang, dan Gunung Kawi. Kawasan kaki dan lereng pegunungan tersebut mencakup tiga wilayah administratif, yaitu Kabupaten Blitar di sisi barat, Kabupaten Malang di sisi timur, dan Kota Batu di sisi utara.
10. Gunung Limas, Jawa Timur
Kebakaran hutan terjadi di kawasan hutan lindung Petak 64B, Gunung Limas, tepatnya di Dukuh Pamongan, Desa Caluk, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, pada Kamis, 24 September 2026. Kebakaran yang diketahui sekitar pukul 10.50 WIB itu menghanguskan sekitar dua hektare lahan yang ditumbuhi pohon pinus, serasah atau guguran daun kering, rumput, dan semak.Informasi mengenai titik api diterima Posko BPBD Ponorogo pada pukul 11.00 WIB. Tim BPBD tiba di lokasi sekitar pukul 12.00 WIB dan mendapati api telah membesar karena banyaknya material kering di kawasan tersebut.
Lokasi kebakaran berada di puncak Gunung Limas dan cukup jauh dari permukiman warga, sehingga petugas harus melakukan pemantauan dan upaya pemadaman dengan mempertimbangkan kondisi medan.
Api sempat dinyatakan padam pada sore hari, namun, sekitar pukul 18.30 WIB, kebakaran kembali terjadi akibat kondisi angin yang cukup kencang sehingga api dengan cepat merambat ke vegetasi di sekitarnya.
Tim kembali menuju lokasi untuk melakukan pemadaman menggunakan peralatan manual berupa gepyok, yakni alat pemukul api yang digunakan untuk memadamkan kobaran pada vegetasi rendah.
Penanganan kebakaran melibatkan BPBD Kabupaten Ponorogo, Perhutani, dan relawan. Tim gabungan juga melakukan kaji cepat, asesmen, koordinasi dengan pihak terkait, serta pemantauan kondisi di sekitar lokasi. Setelah upaya penanganan bersama, api akhirnya berhasil dipadamkan pada pukul 23.10 WIB.
11. Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat, pada Agustus 2026. Salah satu titik kebakaran berada di sekitar Kawah Wadon, kawasan yang termasuk zona inti taman nasional. Kebakaran tersebut memicu kekhawatiran warga karena api dan asap terlihat dari permukiman di kaki gunung.
Salah satu warga Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, pertama kali melihat cahaya merah dari belakang rumahnya pada Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 04.00 WIB. Sejumlah warga kemudian berinisiatif mendatangi lokasi untuk memeriksa sumber api sekaligus membantu pemadaman.
Namun, upaya pemadaman terkendala keterbatasan sumber air. Warga harus berjalan kaki hingga sekitar satu jam menuju Kandang Badak untuk mengambil air. Mereka menggunakan wadah bekas botol air mineral berkapasitas lima liter dan bergantian membawa air menuju titik kebakaran.
Api sempat padam setelah warga melakukan pemadaman selama berjam-jam. Namun, kobaran kembali muncul sekitar pukul 02.00 WIB dan dilaporkan semakin besar. Sejumlah warga akhirnya bermalam di sekitar lokasi untuk melanjutkan pemadaman. Kondisi tersebut membuat sebagian warga kelelahan, bahkan ada yang membutuhkan bantuan oksigen.
Kepala Balai Besar TNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta dikutip Mongabay menyebut selain di Kawah Wadon, kebakaran juga terjadi di Alun-Alun Barat Suryakencana pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Kawasan tersebut merupakan salah satu lokasi yang biasa digunakan pendaki untuk mendirikan tenda ketika melakukan perjalanan ke Gunung Gede.
Besar TNGGP mencatat area terdampak di Kawah Wadon sekitar 5,8 hektare sedangkan di Alun-Alun Barat Suryakencana Sadtata memperkirakan area yang terbakar mencapai sekitar satu hektare.
12. Gunung Batur, Bali
Kebakaran hutan melanda kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang, Kabupaten Bangli, Bali, pada Selasa, 6 Oktober 2026. Kebakaran yang terjadi di Blok Perlindungan Yeh Mampeh tersebut berdampak pada area seluas 22,77 hektare. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali bersama petugas gabungan dan masyarakat setempat berhasil memadamkan api pada sore hari.Informasi kebakaran diterima sekitar pukul 11.26 WITA dari seorang warga Batur Selatan bernama I Komang Suarta Yoga. Menindaklanjuti laporan tersebut, sekitar 60 personel dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Mereka berasal dari Balai KSDA Bali, Manggala Agni, Polsek Kintamani, Koramil Kintamani, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bangli, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta masyarakat sekitar kawasan.
Proses pemadaman menghadapi tantangan berupa angin kencang yang membuat api cepat menjalar. Rumput dan serasah atau guguran daun di lantai hutan juga berada dalam kondisi sangat kering sehingga mudah terbakar. Akibatnya, api dapat menyebar dengan cepat mengikuti arah angin dan ketersediaan bahan bakar di sekitarnya.
Untuk mengendalikan penjalaran api, tim melakukan pemadaman di beberapa titik secara bersamaan menggunakan peralatan seperti jet shooter, gepyok, cangkul, dan sekop. Upaya tersebut juga didukung satu unit mobil tangki pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten Bangli serta satu unit mobil tangki swadaya masyarakat.
Api dinyatakan padam sekitar pukul 16.40 WITA. Kegiatan mop-up, yakni pemeriksaan dan pemadaman sisa bara, dilanjutkan hingga sekitar pukul 18.00 WITA untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































