tirto.id - Operasi dry ice diklaim mampu mengurai asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palembang hingga lima jam. Agar hasil optimal, penyemaian dilakukan dua kali sortie setiap hari.
Operasi dry ice pertama kali diuji coba di Palembang dengan target mengurangi kabut asap pada 15 Oktober 2026. Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), melanjutkan OMC dry ice hingga 25 Oktober 2026 karena dinilai efektif.
Kapala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan OMC dry ice menunjukkan hasil cukup memuaskan dibuktikan dengan peningkatan kualitas udara dan jarak pandang di Palembang. BMKG telah mencatat pantauan pergerakan asap sebelum dan setelah dry ice dioperasikan.
"Dari pengamatan BMKG, hasil dry ice cukup signifikan, itu dilihat dari grafik per jam harian," ungkap Wandayantolis, Selasa (20/10/2026).
Dia menjelaskan, efek dry ice terhadap pengurangan kabut asap selama 3-5 jam. Namun kondisi udara kembali memburuk setelah waktu tersebut.
"Efeknya berlangsung sekitar 3 sampai 5 jam," kata Wandayantolis.
Agar kualitas udara membaik dalam waktu lama, OMC dry ice dilakukan dua kali sortie dalam sehari, yakni jelang siang dan sore hari. Sebab jarak pandang akan sangat mempengaruhi operasional helikopter water bombing dan pesawat penyemaian dry ice itu sendiri.
"Makanya ada dua kali sortie dalam sehari, jelang siang dan yang kedua sore hari, biasanya pukul 4 sore," kata Wandayantolis.
Kepala Stasiun Meteorologi Stasiun Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto menambahkan, pihaknya mencatat sudah 11 kali penyemaian dry ice sejak uji coba digelar hingga 19 Oktober 2026. Total dry ice yang telah disemai sebanyak 8,8 ton.
"Dalam sehari ada dua kali sortie, kadang juga tiga kali. Sekali sortie pesawat membawa 800 kilogram dry ice," kata Siswanto.
Dia mengatakan, penyemaian dry ice difokuskan di langit Palembang dan sekitarnya dengan ketinggian 7.000 feet. Sebab daerah ini menjadi titik asap terbanyak akibat pergerakan angin dari lokasi karhutla hebat seperti di Ogan Komering Ilir.
"Untuk lokasinya di wilayah timur dan tenggara area Palembang," kata Siswanto.
Masuk tirto.id


































