tirto.id - Lebih dari sebulan lalu, Kota Palembang dikepung asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di dalam kota sendiri maupun wilayah lain di Sumatra Selatan. Kabut asap dominan terjadi pada sore hingga pagi dan mulai menipis pada siang harinya.
Berdasarkan pengamatan konsentrasi polutan halus atau PM2.5 di Stasiun Talang Betutu Palembang, memburuknya kualitas udara di kota itu terjadi mulai sore hari dan berada di puncaknya pada dini hari hingga pagi harinya.
Pada waktu-waktu tersebut, kualitas udara berlevel hitam atau berbahaya karena berada di atas 250 hinga menembus 900 mikrogram meter per kubik.
Dalam kondisi ini, jarak pandang menurun drastis bahkan sempat hanya 50 meter yang menyebabkan penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang terganggu. Sementara siang harinya, PM2.5 cenderung turun meski masuk dalam level sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Kepala Stasiun Meteorologi Stasiun SMB II Palembang, Siswanto, menerangkan kecenderungan peningkatan konsentrasi PM2.5 menjelang malam hingga pagi hari dapat dijelaskan melalui perubahan kondisi meteorologi harian, terutama melemahnya turbulensi atmosfer, terbentuknya lapisan inversi suhu, dan menurunnya tinggi lapisan pencampuran (mixing layer height).
Pada saat itu, permukaan bumi mulai kehilangan panas sehingga suhu udara dekat permukaan menurun dan atmosfer menjadi semakin stabil.
"Kondisi ini menyebabkan pergerakan udara vertikal melemah sehingga partikel polutan halus, termasuk PM2.5 dari aktivitas transportasi, kegiatan masyarakat, maupun asap karhutla, cenderung terakumulasi di dekat permukaan," ungkap Siswanto, Selasa (20/10/2026).
Siswanto mengatakan apabila disertai kelembapan udara yang tinggi, partikel aerosol tertentu juga dapat menyerap uap air dan mengalami peningkatan ukuran. Alhasil konsentrasi atau respons pembacaan sensor partikulat dapat meningkat.
"Fenomena itu dapat semakin kuat ketika angin permukaan lemah dan tidak cukup efektif mengencerkan atau mengangkut polutan ke wilayah lain," kata dia.
Sebaliknya, pada pagi menjelang siang hingga siang hari, pemanasan matahari meningkatkan suhu permukaan dan memperkuat turbulensi konvektif sehingga lapisan pencampuran atmosfer berkembang semakin tinggi.
Akibatnya, polutan yang sebelumnya terkonsentrasi dekat permukaan dapat tersebar ke volume udara yang lebih besar menyebabkan konsentrasi PM2.5 di permukaan berangsur menurun.
"Namun, penurunan tersebut tidak selalu berarti sumber emisi telah berkurang karena pengenceran atmosfer juga berperan penting," kata dia.
Dalam konteks kondisi kabut asap di Palembang, pola harian ini dapat diperkuat oleh keberadaan asap karhutla yang terbawa angin dari wilayah lain dan terperangkap dalam lapisan atmosfer yang relatif stabil pada malam hari.
Dengan demikian, pola PM2.5 yang meningkat pada malam hingga pagi dan membaik pada siang hari mengindikasikan kemungkinan kuat adanya pengaruh dinamika atmosfer harian terhadap akumulasi dan dispersi polutan.
"Untuk memastikan penyebab dominannya, pola PM2.5 perlu dianalisis bersama data suhu, kelembapan relatif, kecepatan dan arah angin, curah hujan, serta informasi tinggi lapisan pencampuran dan titik panas di wilayah sekitar," kata dia.
Pada saat kualitas udara menurun dan berbahaya, masyarakat diimbau menjaga kewaspadaan dampak asap terhadap kesehatan. Masyarakat, terutama kalangan anak-anak dan lansia, sebaiknya menghindari aktivitas di luar rumah dan harus memakai masker jika mendesak.
"Kewaspadaan sama-sama kita lakukan karena asap dapat mengganggu kesehatan, terutama gangguan sistem pencernaan," pungkasnya.
Masuk tirto.id


































