tirto.id - Ketika seseorang tengah dihadapkan situasi yang menyedihkan, tak jarang hal tersebut dapat memicu orang lain ikut sedih bahkan menangis.
Rasa sedih terkadang tidak hanya muncul dari apa yang dirasakan oleh diri sendiri. Tak jarang, kondisi tersebut bisa tiba-tiba hadir ketika melihat seseorang tengah bersedih atau menangis.
Bahkan, kondisi tersebut bisa terjadi kapan saja, meskipun situasi atau keadaan diri sendiri sedang baik-baik saja, atau tidak sedang dihadapkan momentum menyedihkan.
Meskipun cukup umum terjadi, tak banyak yang mengetahui mengapa perasaan sedih atau emosional bisa menular. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa kondisi tersebut erat kaitannya dengan faktor psikologis dan biologis.
Lantas, apa saja pemicu perasaan sedih bisa memicu orang lain ikut menangis?
Adanya Penularan Emosi
Perasaan sedih bisa memicu orang lain ikut merasa sedih bahkan menangis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya oleh penularan emosi atau emotional contagion. Mengutip Cleveland Clinic, penularan emosi merupakan fenomena ketika emosi dan perilaku orang lain memengaruhi emosi dan perilaku individu lainnya tanpa disadari.
Dalam kasus ini, orang-orang yang memiliki tingkat empatinya yang tinggi lebih mudah mengalami penularan emosi. Menurut psikolog Dr. Adam Borland, PsyD., kondisi tersebut bisa terjadi salah satunya oleh cara manusia awalnya belajar berinteraksi dengan orang lain.
"Ini berawal sejak kita masih bayi. Bayi sering kali membalas senyuman dengan senyuman. Kita belajar bagaimana merespons isyarat verbal dan nonverbal dengan mencocokkan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada suara orang lain," jelas Dr. Borland.
Dr. Borland juga memberikan gambaran ketika seseorang menguap di suatu ruangan, orang lain kemungkinan akan ikut menguap sebagai respons alami. Begitupun ketika seseorang tersenyum, individu lainnya akan membalasnya dengan senyuman tanpa terlalu memikirkannya.
Dalam hal ini, ia juga menekankan bahwa penularan emosi ini tidak selamanya bisa berdampak positif, melainkan berpotensi menjadi negatif jika secara langsung mengganggu kehidupan pribadi.
Dalam sebuah jurnal dengan judul "Intentional Sadness Contagion: Social Bonding with Neural Decoupling", emosi disebut memiliki sifat sosial yang melekat dan merupakan bagian integral dari aktivitas sosial manusia.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa penularan emosi terbagi menjadi dua bagian, yaitu emosi primitif yang mengacu pada fenomena konvergensi emosi yang terjadi secara otomatis, sinkron, serta tanpa disadari.

Sedangkan penularan emosi intensional mengacu pada fenomena konvergensi emosi yang dihasilkan dari asosiasi sadar. Kondisi ini biasanya memiliki interaksi sosial yang kuat, atau kerap terjadi di antara individu yang memiliki hubungan emosional cukup dekat.
Selain itu, studi ini juga mengungkapkan bahwa penularan emosional yang disengaja menjadi mekanisme komunikasi emosional yang membuat individu lainnya akan merasakan emosi yang sama lewat gestur, ekspresi wajah, maupun cerita sedih yang diungkapkan.
Dengan begitu, proses tersebut secara tidak langsung mendorong respons prososial sekalipun dari orang lain melalui reorganisasi neurokognitif yang adaptif.
Penularan emosi dapat terjadi pula sebagai akibat interaksi sosial antar individu yag menghasilkan sinkronisasi perilaku. Sesuai penelitian di National Library of Medicine berjudul "Emotional Contagion: A Brief Overview and Future Directions", kondisi tersebut dapat dipicu oleh ekspresi wajah, interaksi tidak langsung, atau dengan mengamati perilaku orang lain dalam interaksi langsung dan tidak langsung.
Dalam kasus ini, penularan emosi tanpa disadari dapat dipicu secara fisiologis atau neurologis dengan menyinkronkan keadaan emosional orang lain selama interaksi manusia. Selama interaksi antarmanusia, orang cenderung menyesuaikan diri dengan keadaan emosional orang lain, baik dalam hal empati secara emosional atau ekspresi wajah dan perubahan gestur tubuh.
Misalnya, saat seseorang tengah dilanda sedih atau menangis, ia cenderung akan menampilkan ekspresi wajah yang sedih. Hal tersebut jadi pemicu utama penularan emosi bisa sampai ke pengamat atau orang lain, meskipun di dunia sosialnya tidak memiliki hubungan emosional yang dekat.
Para peneliti menganalisis bahwa emosi, baik positif maupun negatif, dapat menular melalui pengamatan pengalaman orang lain, meski tanpa interaksi tatap muka, seperti membaca ulasan dan mengamati perilaku orang lain di jejaring sosial.
Adapun secara fisiologis, penularan emosi ini dikaitkan ketika interaksi sosial, pengamatan terhadap keadaan emosional orang lain secara otomatis mengaktifkan respons sistem saraf otonom dan representasi saraf dar keadaan afektif yang sama seperti pada pengamat.
Dengan kata lain, orang lain dapat terpicu ikut merasakan sedih atau menangis karena terpengaruh oleh penularan emosional dari orang yang sedang sedih lewat mekanisme fisiologis dan dorongan interpretasi terhadap ekspresi wajah ataupun gestur tubuh dalam interaksi sosial.
Empati dan Pengalaman Pribadi
Selain penularan emosi, empati juga dapat membuat kesedihan orang lain terasa lebih dekat, terlebih jika berkaitan dengan pengalaman emosional pribadi. Singkatnya, faktor inilah yang banyak jadi pemicu utama orang lain bisa ikut merasa sedih atau terharu, karena mengingatkan pada pengalaman pribadi masing-masing.
Seseorang yang memiliki empati emosional biasanya bisa dengan mudah merasakan apa yang dirasakan orang lain tidak hanya secara kognitif tetapi juga secara fisik dan mental, sekalipun tidak memiliki interaksi sosial sekalipun.
Selain itu, rasa empati juga akan mengaktifkan pusat rasa sakit di otak seolah-olah sedang mengalami sendiri, meskipun hanya menyaksikan penderitaan tersebut dari orang lain.
Sifat empati cukup erat kaitannya dengan kecenderungan manusia untuk meniru dan menyelaraskan ekspresi wajah, postur tubuh, bahkan emosional. Secara tidak sadar, kondisi tersebut juga akan memicu respons otonom pada tubuh yang membuat air mata ikut menetes ketika melihat seseorang tengah menangis.

Seseorang bisa ikut merasakan sedih atau menangis dapat disebabkan juga karena teringat pengalaman pribadi. Orang-orang dengan trauma mendalam dimungkinkan mudah menangis atau ikut merasakan sedih ketika menyaksikan kejadian yang mengingatkannya pada pengalaman emosional sendiri.
Kondisi tersebut bisa terjadi karena otak akan mengaitkan tangisan dengan pengalaman masa lalu, sehingga otak bereaksi lebih cepat ketika emosi muncul.
Dengan kata lain, memori emosional di masa lalu atau yang pernah dialami, berperan membuat seseorang jadi mudah tersulut ikut merasakan kesedihan seseorang. Sebab, saat melihat orang lain bersedih, sistem saraf dan memori akan mencari situasi serupa yang pernah dialami.
Lebih jauh lagi, endapan emosi yang tertahan pun bisa jadi pemicunya. Dalam kasus ini, tangisan atau kesedihan seseorang seringkali jadi pemicu utama bagi seseorang lainnya teringat akan luka lama atau emosi yang selama ini dipendam.
Kekuatan Air Mata
Dalam sebuah jurnal di National Library of Medicine berjudul "The Social Impact of Emotional Tears", air mata emosional memiliki dampak sosial, yang berkaitan dengan penderitaan dan kesusahan.
Penelitian mengungkapkan bahwa menangis memiliki dua fungsi utama, yaitu katarsis dan pemulihan emosional, serta memberi sinyal kepada orang lain tentang kebutuhan akan dukungan dan pertolongan. Fungsi kedua biasanya akan menyebabkan perubahan perilaku orang lain, serta mengarahkan perhatiannya kepada orang yang sedang menangis.
Selain itu, air mata juga dapat membuat orang yang menangis dengan orang lain merasa lebih terhubung. Saat kondisi tersebut berlangsung, individu lainnya akan ikut terpancing meneteskan air mata sebagai respons prososial.
Ini berkaitan dengan ekspresi wajah yang dapat menularkan emosional. Artinya, ketika seseorang sedang menangis dengan ekspresi sedih, kondisi tersebut akan sampai juga pada orang lain yang melihat karena adanya penularan atau transfer emosional.

Sementara menurut penelitian berjudul "The Power of Tears: Observers’ Brain Responses Show That Tears Provide Unambiguous Signals Independent of Scene Context" yang diterbitkan dalam jurnal NeuroImage: Reports pada 2022 menemukan bahwa air mata merupakan sinyal emosional yang kuat dan relatif mudah dikenali, bahkan ketika konteks visual di sekitarnya berbeda.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati aktivitas otak 13 partisipan menggunakan pemindaian fMRI saat mereka melihat gambar wajah dengan atau tanpa air mata, yang dipadukan dengan latar belakang positif, negatif, atau acak.
Hasilnya menunjukkan bahwa respons pada bagian otak yang disebut lateral occipital gyrus berkaitan dengan keberadaan air mata dan tidak banyak dipengaruhi oleh konteks latar belakang.
Temuan ini mendukung gagasan bahwa air mata berperan sebagai sinyal sosial yang dapat membantu orang mengenali kondisi emosional seseorang. Dalam konteks yang lebih luas, air mata juga dikaitkan dengan empati, pembentukan ikatan sosial, dan kecenderungan memberikan dukungan kepada orang lain.
Meski demikian, penelitian ini tidak secara langsung membuktikan bahwa melihat orang lain menangis akan membuat seseorang ikut menangis atau mengalami emosi yang sama.
Respons setiap orang dapat berbeda, dan konteks tetap dapat memengaruhi cara tangisan ditafsirkan serta respons yang muncul. Karena itu, air mata lebih tepat dipahami sebagai sinyal emosional yang berpotensi mendorong respons sosial, bukan sebagai pemicu tangisan atau empati yang berlaku secara universal.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






































