Menuju konten utama

Musik Bisa Mengubah Cara Mengingat Masa Lalu

Musik dapat berfungsi sebagai stimulus yang efektif untuk mengingat kembali peristiwa masa lalu, bahkan bertahun-tahun kemudian.

Musik Bisa Mengubah Cara Mengingat Masa Lalu
Ilustrasi seseorang mendengarkan musik. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Saat mendengarkan musik yang kita sukai, ternyata bukan hanya indra pendengaran yang bereaksi. Area otak yang mengatur emosi dan memori secara simultan turut bekerja memaknai lagu yang kita dengar.

Secara neurologis, otak bagian amigdala akan bekerjasama dengan hipokampus untuk memahami peristiwa-peristiwa yang melibatkan emosi lebih kuat dan intens. Selama proses penyimpanan, amigdala berinteraksi dengan hipokampus untuk merekonstruksi isi detail memori.

Ingatan memori ini dapat dipanggil kembali oleh otak jika ada stimulus pemicunya, termasuk alunan musik. Keterlibatan inilah yang melatarbelakangi ingatan di masa lalu muncul kembali, kadang ingatan itu tetap sama, namun tak sedikit pula maknanya berubah.

Musik dan Peristiwa Emosional yang Melekat di Masa Lalu

Musik bukan sesuatu yang hampa. Musik bisa memiliki ikatan emosional dengan masa lalu dan ingatan manusia. Terutama jika musik tersebut berkaitan dengan peristiwa emosional, baik senang maupun sedih.

Ketika mendengarnya beberapa tahun kemudian, ingatan tersebut langsung muncul kembali. Secara psikologis, fenomena ini disebut dengan Music-Evoked Autobiographical Memories (MEAMs).

Dalam psikologi kognitif, ingatan digambarkan sebagai proses informasi dari lingkungan lalu disimpan dan dikonsolidasikan di dalam jaringan saraf, kemudian bisa dipanggil kembali. Kemampuan mengingat akan lebih baik untuk informasi yang memiliki muatan emosional. Sementara peristiwa netral yang tanpa emosi cenderung lebih sering dilupakan atau sulit diingat.

Ilustrasi Mendengarkan Musik

Ilustrasi Mendengarkan Musik. FOTO/iStockphoto

Otak bagian amigdala akan memahami peristiwa-peristiwa yang meilbatkan emosi, penting, dan relevan. Pemrosesan neurobiologis ini cenderung lebih kuat dan intens jika dibandingkan peristiwa netral.

Selama proses penyimpanan memori, amigdala berinteraksi dengan hipokampus menyusun lebih detail sebuah episode di masa lalu tentang peristiwa, tempat dan waktu. Amigdala kemudian memodulasi hipokampus agar detail masa lalu tersimpan kuat. Maka tak heran, jika peristiwa emoisional sebuah musik terus diingat manusia.

Studi The Neural Architecture of Music-Evoked Autobiographical Memories (2009) karya Petr Janata yang dimuat di Cerebral Cortex menjelaskan mekanisme neurosains kognitif manusia terhadap musik yang memicu ingatan emosional.

Penelitian ini menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) dan prosedur baru untuk memicu ingatan autobiografis melalui potongan musik populer yang berasal dari masa kecil hingga masa remaja seseorang.

Hasilnya menunjukkan musik dan memori saling berhubungan di area Medial Prefrontal Cortex (MPFC). Wilayah dorsal MPFC terbukti merespons secara parametrik terhadap tingkat signifikansi autobiografis yang dirasakan selama pemutaran potongan musik berdurasi 30 detik.

Selain itu, dorsal MPFC juga merespons pada skala waktu yang lebih cepat, yang selaras dengan pergerakan khas potongan musik tersebut dalam ruang tonal. Hasil ini menunjukkan bahwa dorsal MPFC mengaitkan musik dengan ingatan seseorang tentang sebuah episodik bermakna secara emosional, yang dipicu oleh lagu-lagu familier dari masa lalu kita.

Ilustrasi mendengarkan musik

Ilustrasi seseorang mendengarkan musik. FOTO/iStockphoto

MPFC bekerja sama dengan korteks prefrontal lateral dan korteks posterior, baik dalam hal pelacakan tonalitas maupun respons keseluruhan terhadap lagu-lagu yang familier dan memiliki signifikansi ingatan.

Dengan demikian, MPFC menjadi wilayah anatomis kunci di otak yang bertindak sebagai titik temu antara memori personal dan musik. Hal ini menjelaskan mengapa sebuah lagu lama dapat seketika membawa seseorang kembali ke momen spesifik di masa lalu secara sangat mendetail dan emosional.

Mengacu temuan tersebut, mendengarkan potongan lagu yang akrab dari masa lalu otak bekerja secara otomatis menyetel ulang jaringan saraf yang memunculkan kembali detail episodik dari memori tersebut.

Ketika musik menarik perhatian kita, kemungkinan besar musik tersebut akan tersimpan dalam ingatan bersama dengan detail peristiwa kehidupan yang terjadi saat itu. Akibatnya, musik dapat berfungsi sebagai pemicu yang efektif untuk mengingat kembali peristiwa di masa lalu, bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa terjadi.

Memori Involunter, Pemicu Rekonstruksi Spontan

Ingatan bisa muncul secara tiba-tiba tanpa diduga. Kilasan spontan ini sering kali terasa sangat jelas dan memiliki muatan emosional yang kuat. Hal ini dipicu memori involunter yang sering muncul secara spontan. Bukan hanya musik, involunter juga sering muncul ketika kita melihat, mendengar atau merasakan hal yang berkaitan dengan masa lalu.

Involuntary memory merupakan subkomponen ingatan yang muncul ketika isyarat yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari memicu kenangan masa lalu tanpa adanya upaya sadar.

Ingatan ini dapat muncul dalam beberapa konteks, yaitu ingatan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, ingatan yang muncul selama proses mengingat, serta ingatan yang muncul sebagai bagian dari sindrom psikiatris.

Ingatan tak disengaja yang muncul dalam aktivitas mental sehari-hari disebut dengan fragmen berharga (precious fragments). Ingatan tiba-tiba muncul ke dalam kesadaran secara spontan.

Memori Baik

Memori Baik. youtube/Sheila on 7 Tv

Hal ini sering kali dipicu oleh pengalaman sehari-hari yang biasa, misalnya saat menyantap sepotong kue, kemudian membangkitkan kenangan masa lalu melalui rasanya. Atau mendengarkan musik romantis yang mengingatkan saat pertama kali kencan dengan kekasih.

Studi berjudul Involuntary and Voluntary Memory Retrieval Relies on Distinct Neural Representations and Oscillatory Processes (2025), karya Malte Kobelt dan tim yang dimuat di jurnal PLOS Biology menjelaskan memori tidak sengaja ditandai oleh proses pemanggilan yang sangat cepat, kurang lebih 170 milidetik setelah munculnya isyarat atau stimulus.

Memori involunter bersifat sensorik, walau kadang terdapat jeda waktu yang cukup lama antara penyandian (encoding) dan pemanggilan kembali (retrieval). Memori ini cenderung mudah dipicu oleh isyarat apapun.

Involuntary Memory terdiri dari pemutaran ulang (replay) sekuensial yang berkepanjangan secara temporal dari pengalaman sebelumnya. Terakhir, memori tidak sengaja terjadi secara cepat dan otomatis saat mempersepsikan suatu isyarat, tanpa mekanisme kontrol penuh usaha dan berorientasi tujuan.

Kemunculannya yang bersifat intrusif dapat mengganggu tujuan kognitif dan tuntutan tugas yang sedang berjalan. Maka tak heran jika seseorang tengah mendengarkan musik yang memiliki kedekatan personal akan membangunkan ingatan kembali tentang peristiwa lampau. Sebab, proses mengingat ini terjadi secara spontan tanpa adanya kontrol dari otak.

Bagaimana Musik Menata Ulang Kenangan Kita?

Musik tidak hanya sebatas alunan melodi dan lirik yang didengarkan oleh telinga. Melainkan menciptakan proses yang kompleks di area otak yang mengatur emosi, memori, dan motorik.

Potongan lagu bekerja sebagai bottom-up cue yang memicu reaktivasi pola neural (pattern reinstatement) di hipokampus dan korteks sensorik tanpa perlu persiapan kognitif yang rumit. Dengan sendirinya, ingatan dan kenangan lama tiba-tiba muncul begitu saja secara instan.

Saat terjadi peristiwa yang emosional, amigdala pada manusia juga berinteraksi dengan wilayah kortikal untuk memediasi aspek-aspek lain dalam memori emosional. Aspek-aspek ini mencakup kode dan konsolidasi peristiwa yang menggugah emosi ke dalam memori jangka panjang yang sewaktu-waktu dapat dipanggil ulang oleh otak.

Proses inilah yang membuat sebuah lagu memiliki kenangan yang berbeda bagi setiap orang. Lagu bahagia yang Anda dengarkan setiap jeda kerja bisa jadi bermakna sedih karena ada peristiwa emosional yang dialami oleh pendengar lain. Begitu pula sebaliknya, lagu sedih bisa memberi kenangan indah. Seiring berjalannya waktu, pengalaman, pengetahuan dan peristiwa dalam hidup dapat mengubah memori pendengarnya tentang lagu tertentu.

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Permadi Suntama