Menuju konten utama

Kenapa Orang Eropa Cenderung Jarang Mandi dan Kita Lebih Sering?

Kebiasaan mandi masyarakat Eropa dan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, turut dipengaruhi oleh iklim, perubahan musim, hingga budaya masyarakat.

Kenapa Orang Eropa Cenderung Jarang Mandi dan Kita Lebih Sering?
Ilustrasi Mandi. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Indonesia masuk dalam jajaran negara yang masyarakatnya paling sering mandi, yakni rata-rata 10 kali per pekan. Data tersebut dirilis oleh Seasia Stats pada Februari 2026.

Dalam pemeringkatan tersebut frekuensi mandi tertinggi ditempati oleh kelompok negara beriklim panas dan lembap. Sebaliknya, tak ada satupun negara beriklim dingin seperti Eropa yang masuk list.

Brasil tercatat menempati peringkat pertama dengan frekuensi 14 kali mandi per pekan, kemudian diikuti Kolombia dengan 12 kali mandi per pekan.

Di lingkungan beriklim tropis, mandi memberikan kesegaran menurunkan efek hawa panas, sekaligus membantu menjaga kebersihan diri. Akan tetapi mandi terlalu sering juga dapat merusak lapisan pelindung kulit. Oleh karenanya dibutuhkan mandi yang tepat, baik durasi waktu, penggunaan sabun, sampai pemilihan air.

Alasan Perbedaan Frekuensi Mandi di Banyak Negara

Kebiasaan mandi pada masyarakat Eropa dan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, cenderung berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor termasuk iklim, perubahan musim, hingga budaya masyarakat.

Secara geografis, Indonesia terletak di garis ekuator bumi. Posisi tersebut membuat Indonesia dapat menerima sinar matahari secara stabil sepanjang tahun.

Kondisi ini turut berkaitan signifikan terhadap tingkat kelembapan yang relatif tinggi. Akibatnya tubuh mudah capek dan berkeringat. Jika tetap dibiarkan maka tubuh akan terasa lengket dan menimbulkan bau badan. Guna menjaga kesegaran tubuh, maka orang Indonesia memilih sering mandi.

Ketersediaan sumber air di Indonesia yang melimpah turut mendorong kebiasaan mandi tiap hari. Sementara kepadatan perkotaan juga memengaruhi kebiasaan mandi. Di kota besar Asia Tenggara seperti Jakarta, Bangkok, dan Ho Chi Minh City, kemacetan lalu lintas yang parah, polusi, dan waktu perjalanan panjang kerap membuat penduduknya lebih sering mandi.

Ilustrasi pria mandi

Ilustrasi pria mandi. FOTO/iStockphoto

Masyarakat Indonesia dengan mayoritas Muslim juga cenderung lebih sering mandi, karena menjadi bagian dari bersuci dari hadas besar. Tanpa bersuci, maka ibadah yang dikerjakan secara fikih tidak sah.

Sebagian besar orang Indonesia akan mandi terlebih dahulu sebelum bertamu dan bepergian, hal ini relatif sudah menjadi budaya. Tujuannya tetap tampil bersih dan bagian dari menghargai diri sendiri.

Kebiasaan mandi bukan hanya soal iklim, tapi turut mencerminkan sikap budaya, kebersihan, kesehatan, dan norma sosial. Dalam banyak masyarakat Asia Tenggara, kebersihan diri sangat erat kaitan dengan kehormatan, keramahan, dan praktik keagamaan.

Di sisi lain, negara-negara di Eropa cenderung beriklim subtropis. Kelembapan udara di Eropa cenderung lebih rendah, suhu juga lebih dingin pada sebagian besar waktu dalam setahun.

Udara yang dingin dan kering cenderung menekan keluarnya jumlah keringat, kondisi kering bakteri tidak mudah berkembang.

Sebuah penelitian berjudul Sequence of Practices in Personal and Societal Rhythms – Showering as A Case (2020) karya Kirsten Gram-Hanssen dan tim yang dimuat Sage Journals, menjelaskan mandi sangat erat kaitan dengan ritme masyarakat dan struktur sosial.

Data berbasis waktu mengenai konsumsi air panas domestik pada 134 rumah tangga di Denmark menunjukkan pola sangat berbeda. Sebagian rumah tangga mencatat konsumsi air tertinggi pada pagi hari, sementara yang lain pada malam hari.

Sering Mandi vs Jarang Mandi, Mana yang Lebih Baik?

Lini masa media sosial kerap diwarnai dengan pedebatan yang berasumsi mandi setiap hari di Eropa dapat merusak kulit. Tapi asumsi ini sudah terbantahkan. Jika mandi dilakukan secara tepat, baik penggunaan produk mandi maupun durasi waktu yang digunakan, maka mandi tiap hari tidak menyebabkan kulit rusak.

“Mandi setiap hari bukan hal yang buruk, justru sangat dianjurkan. Terutama penting bagi mereka yang memiliki pekerjaan fisik atau rutin berolahraga, serta untuk membersihkan sisa keringat, klorin, pasir, residu garam, atau tabir surya, khususnya di musim panas,” jelas dokter kulit Mayte Truchuelo, dikutip dari laman English Elpais.

Mandi tiap hari, menurut Truchuelo, dapat menjaga kebersihan kulit, mengangkat sel-sel mati, serta mencegah penumpukan bakteri dan zat yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Sebaliknya, jika tidak dilakukan secara rutin bakal terjadi penumpukan kotoran, keringat, dan sel-sel mati pada kulit, yang dapat memicu bau badan tidak sedap, perubahan mikrobioma epidermis, serta perkembangbiakan jamur dan bakteri.

Mandi setiap hari harus dilakukan secara tepat dengan disertai penggunaan produk untuk menjaga kelembapan kulit. Jika mandi dilakukan asal-asalan, maka pelindung alami kulit atau skin barrier berisiko mengalami kerusakan.

Ilustrasi Mandi

Ilustrasi Mandi. foto/istockphoto

Truchuelo juga menyarankan penduduk Eropa untuk menggunakan air hangat, serta membatasi durasi mandi hingga kurang dari 7 atau 8 menit. Ia juga merekomendasikan penggunaan sabun atau sabun cair yang lembut.

Dokter kulit tersebut juga menyarankan untuk mengeringkan tubuh dengan cara menepuk-nepuk kulit menggunakan handuk lembut, terutama pada area yang sulit dijangkau atau bagian tubuh yang memiliki lipatan.

“Terakhir, lembapkan kulit Anda dengan produk emolien yang dapat memperbaiki pelindung kulit, serta menjaga kulit tetap sehat, lembut, dan elastis,” pungkasnya.

Melansir laman Harvard Health, semua alasan mengapa banyak orang memutuskan untuk mandi setiap hari atau tidak mandi tiap hari cenderung masuk akal. Tidak ada bukti jelas bahwa mandi tiap hari memberikan manfaat yang berarti.

Secara umum, kulit yang sehat dan normal memiliki lapisan minyak serta keseimbangan bakteri dan mikroorganisme. Namun menggosok kulit setiap hari dapat menghilangkan lapisan tersebut, terutama jika menggunakan air panas.

Sistem kekebalan tubuh manusia memerlukan stimulasi tertentu dari mikroorganisme normal, kotoran, dan paparan lingkungan lainnya untuk membentuk antibodi pelindung. Kebiasaan sering mandi atau berendam dapat mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam menjalankan fungsinya.

Tidak ada frekuensi ideal yang pasti terkait jumlah mandi dalam sehari atau sepekan. Tapi para ahli menyarankan bahwa mandi beberapa kali dalam sepekan sudah cukup bagi kebanyakan orang. Kecuali jika tubuh Anda kotor, berkeringat, atau ada alasan lain yang mengharuskan mandi lebih sering.

“Kita semua memiliki bakteri dan organisme alami yang hidup di kulit kita (flora normal), yang berfungsi melindungi kulit dari cedera atau gangguan,” jelas dokter kulit, Dr. Edidiong Kaminska, MD, dikutip dari Healthline.

Maka mana yang lebih baik? Terlalu sering mandi memiliki konsekuensi, begitu pula jarang mandi juga dapat menimbulkan masalah. Jawabannya bukan soal jumlah mandi, melainkan tergantung pada kondisi tubuh. Jika kebersihan tubuh terjaga tanpa membuat kulit kering dan iritasi, maka mandi setiap hari tidak masalah.

Panduan Durasi Waktu Mandi yang Baik untuk Tubuh

American Academy of Dermatology membagikan panduan mandi yang baik bagi masyarakat yang memiliki kulit kering. Melalui laman resmi www.aad.org, orang yang memiliki kulit kering disarankan mandi selama 5-10 menit dengan air hangat.

Gunakan sabun pembersih yang lembut dan secukupnya untuk mengangkat kotoran, terutama area ketiak atau selangkangan. Lakukan mencukur di akhir waktu mandi Anda. Air membuat kulit dan rambut menjadi lebih lunak, sehingga risiko iritasi akibat mencukur berkurang

Tutup pintu kamar mandi untuk menjaga kelembapan kulit lebih optimal. Setelah mandi, keringkan tubuh dengan menepuk-nepuk kulit secara lembut menggunakan handuk bersih kering. Hindari menggosok kulit karena dapat memicu iritasi. Segera oleskan pelembap yang tidak mengandung pewangi untuk menjaga kelembapan.

Secara umum tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua orang. Tapi secara umum durasi mandi yang disarankan sekitar 5–10 menit. Rentang waktu tersebut cukup untuk membersihkan tubuh secara efektif sekaligus menjaga penggunaan air dan energi tetap terkendali.

Ilustrasi Mandi Keramas

Ilustrasi Mandi Keramas. foto/istockphoto

Meski demikian durasi mandi tetap bisa bervariasi tergantung pada beberapa faktor, seperti rutinitas kebersihan, jenis rambut, dan upaya penghematan air.

Rata-rata perempuan cenderung menghabiskan waktu relatif lebih lama saat mandi, yakni sekitar 10–15 menit. Hal ini biasanya disebabkan oleh rutinitas mencuci rambut, eksfoliasi, dan langkah perawatan kulit lainnya.

Bagi laki-laki, durasi mandi biasanya berkisar 5–10 menit. Karena tidak memerlukan waktu tambahan untuk perawatan rambut atau rutinitas perawatan kulit yang rumit. Banyak pria memilih untuk mandi lebih cepat.

Gunakan suhu air hangat, bukan air panas. Air yang terlalu panas dapat menghilangkan minyak alami kulit dan memperburuk kulit kering. Gunakan pembersih lembut dan hindari menggosok kulit terlalu keras.

Orang yang beraktivitas di lingkungan panas, terpapar debu dan kotoran, mungkin perlu mandi lebih sering. Sebaliknya orang dengan kulit sensitif atau kondisi kulit tertentu, perlu menyesuaikan frekuensi mandi serta produk yang digunakan sesuai petunjuk dokter.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - GWS
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama