tirto.id - Menggoyangkan kaki tanpa sadar kerap dilakukan saat sedang duduk, dalam keadaan santai, atau ketika sibuk bekerja. Aktivitas ini ternyata sudah ada penjelasannya dalam sains.
Menggoyangkan kaki secara tidak sadar bisa terjadi pada siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Ini termasuk dalam restless legs syndrome (RLS) atau sindrom kaki gelisah.
Orang yang menggoyangkan kaki secara tidak sadar saat duduk tampak seperti orang yang gelisah. Kerap tidak terkontrol dan bisa terjadi saat sedang beristirahat atau berbaring.
Dalam sains, RLS bisa menyebabkan gangguan tidur. Pada kondisi yang parah, penderita yang mengalami gejala sindrom dapat mengalami gangguan ketika menjalani aktivitas sehari-hari.

Apa Itu Restless Legs Syndrome atau Sindrom Kaki Gelisah?
RLS atau sindrom kaki gelisah merupakan masalah gangguan yang memengaruhi sistem saraf dan otot. Orang dengan sindrom ini memiliki keinginan tidak terkontrol untuk menggerakkan kaki.
Sebagaimana dijelaskan melalui laman Cleveland Clinic, ada 2 jenis utama RLS. Pertama adalah tipe onset dini, primer, atau idiopatik. Gejala ini mulai muncul sebelum usia 45 tahun. Umumnya diturunkan dalam keluarga biologis dan tidak memiliki penyebab lain yang diketahui. Kondisi ini berkembang perlahan.
Sedangkan yang kedua merupakan inset lanjut atau sekunder. Gejala mulai muncul setelah usia 45 tahun dan perkembangannya lebih cepat. Ini terkait dengan kondisi mendasar, seperti multiple sclerosis atau penyakit ginjal.

Lebih lanjut, mengacu informasi di laman John Hopkins Medicine, RLS bisa saja menyebabkan sensasi tidak menyenangkan di kaki. Sensasi ini digambarkan sebagai merayap, merangkak, atau perasaan geli.
Umumnya, sensasi tersebut dirasakan di betis. Namun, sensasi ini juga bisa dirasakan di mana saja, mulai dari paha hingga pergelangan kaki. Beberapa orang juga mungkin saja merasakannya di bagian lengan.
RSL juga dikenal sebagai penyakit Willis-Ekbom. Sindrom ini disertai dengan berbagai macam gejala. Dikutip dari laman Mayo Clinic, gejala yang muncuk seperti rasa tidak nyaman pada kaki yang dimulai saat beristirahat. Gejala RLS sering dimulai setelah berbaring atau duduk. Tak hanya saat sendiri, hal ini juga bisa terjadi di dalam mobil, pesawat, atau bioskop.
Selanjutnya adalah gejala mereda dengan gerakan. RLS berkurang dengan gerakan, seperti peregangan, menggoyangkan kaki secara teratur atau terkendali, mondar-mandir, atau berjalan.
Lainnya, gejala memburuk pada malam hari. Orang dengan sindrom ini mengalami keinginan menggerakkan kaki secara tak terkendali terutama pada malam hari.
Kedutan kaki pada malam hari juga termasuk gejal yang dialami. RLS mungkin saja berkaitan dengan kondisi lain, yang lebih umum disebut gerakan anggota tubuh periodik saat tidur. Kondisi ini menyebabkan kaki berkedut dan menendang saat tidur, yang mungkin terjadi sepanjang malam.
Sering kali, gejala RLS bisa membaik dan memburuk. Namun, terkadang gejala itu bisa menghilang untuk jangka waktu tertentu, lalu muncul kembali.

Kenapa Sering Menggoyangkan Kaki Tanpa Sadar?
Sebuah studi yang dilakukan Trotti dan Becker (2019) berjudul “Iron for the Treatment of Restless Legs Syndrome” menjelaskan, RLS dikaitkan dengan defisiensi zat besi perifer.
Dorongan untuk menggerakkan kaki biasanya terjadi pada sore dan malam hari. Pada kondisi lanjut, sindrom bisa membuat penderita sulit tidur nyenyak. Kadar zat besi dalam darah yang rendah sering terlihat pada penderita RLS. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab sindrom.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa zat besi lebih baik daripada plasebo dalam mengurangi keparahan gejala RLS, meski manfaatnya rendah hingga sedang. Hal ini sebagian besar didasarkan pada penelitian yang menggunakan suntikan zat besi, bukan pil zat besi.

Selaras dengan hal tersebut, laman Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa para peneliti telah menemukan kadar zat besi otak yang rendah pada orang dengan RLS. Kendati demikian, para peneliti belum mengetahui penyebab pasti sindrom kaki gelisah dan menduga penyebab sindrom ini melibatkan banyak faktor lain.
Salah satunya genetika. Sekitar setengah dari penderita RLS idiopatik memiliki kerabat tingkat pertama (saudara kandung atau orang tua biologis) yang mengidapnya. Gen spesifik mungkin terkait dengan RLS, termasuk gen yang berperan dalam perkembangan sistem saraf dan kesimbangan zat besi dalam tubuh.
Jalur dopamin yang disfungsional di otak juga turut memberikan pengaruh. Dopamin merupakan neurotransmiter yang penting untuk hal-hal seperti gerakan dan tidur.
Lebih lanjut, ada faktor-faktor lain yang meningkatkan risiko terkena RLS, seperti berusia 50 tahun atau lebih, perempuan, memiliki kerabat biologis yang mengidap RLS, atau menggunakan obat-obatan tertentu (antihistamin atau antagonis dopamin).
Tak hanya itu, RLS yang muncul di usia lanjut atau sekunder juga dikaitkan dengan beberapa kondisi. Penderita mungkin mengalami gejala jika juga memiliki gejala putus obat opioid, sklerosis ganda, penyakit ginjal stadium akhir, anemia defisiensi besi, kehamilan, neuropati perifer, penyakit parkinson, atau apnea tidur obstruktif.

Apakah RLS Berbahaya & Harus Bagaimana?
Secara umum, RLS biasanya membuat penderita sulit tidur sehingga memegaruhi aktivitas sehari-hari. Orang dengan sindrom ini disarankan ke dokter jika gejala memburuk hingga mengganggu dalam keseharian.
Pada dasarnya, sebagaimana disebutkan di laman Cleveland Clinic, tidak ada obat untuk RLS. Namun, beberapa pilihan pengobatan bisa membantu dalam mengelola gejalanya.
Dokter akan meresepkan obat yang tepat. Namun, sebelum itu dokter mungkin akan memeriksa obat-obatan lain yang telah dikonsumsi karena beberapa obat bisa memperburuk gejala RLS.

Melansir laman John Hopkins Media, penderita RLS perlu mengobati kondisi kronis yang mendasarinya. Obat-obatan ini termasuk obat-obatan dopaminergik. Obat-obatan ini berfungsi meningkatkan dopamin dan sebagian besar digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson.
Benzodiazepin menjadi pilihan berikutnya. Jenis obat ini, misalnya klonazepam dan diazepam. Lalu opioid yang mencakup kodein, propoksifen, dan oksikodon, hanya digunakan dalam kasus yang parah. Opsi lain adalah obat antikonvulsan. Contohnya adalah gabapentin dan pregabalin.
Jika penderita RLS masih mengalami gejala yang ringan, rekomendasi untuk mengurangi gejala adalah terapi rumahan, sebagaimana dikutip dari laman Cleveland Clinic. Salah satu kegiatan yang direkomendasikan mencakup olahraga teratur di siang hari yang melibatkan kaki, seperti berjalan kaki, atau latihan beban untuk tubuh bagian bawah.
Orang dengan sindrom ini juga disarankan melakukan peregangan, terutama pada kaki, serta merendam kaki dalam air hangat sebelum tidur. Hindari minum kopi atau bentuk kafein lainnya, serta alkohol yang bisa memperburuk gejala.
Penderita juga bisa mengatur kebiasaan tidur yang baik, seperti waktu tidur dan bangun yang konsisten. Ini bisa membantu mengatasi sulit tidur yang menjadi gejala utama sindrom ini.

Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id







































