Menuju konten utama

Benarkah Faktor Genetik Menentukan Peluang Menjadi Atlet?

Faktor genetik memberi modal fisik untuk jadi atlet, tetapi prestasi profesional juga ditentukan oleh latihan, lingkungan, pembinaan, dan akses kompetisi.

Benarkah Faktor Genetik Menentukan Peluang Menjadi Atlet?
Pembalap Mercedes asal Italia Andrea Kimi Antonelli bersiap di garasi menjelang Grand Prix Formula Satu Arab Saudi 2025 di Sirkuit Corniche Jeddah pada 20 April 2025. (Foto oleh Giuseppe CACACE / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Faktor genetik memberi seseorang modal fisik untuk berprestasi di bidang olahraga. Namun, tidak ada yang menjamin warisan biologis itu membuatnya bisa jadi atlet profesional.

Soal bagaimana bakat, lingkungan, dan latihan bertemu dalam perjalanan menuju puncak olahraga, salah satu contoh terdekat hadir dari perjalanan seorang Kimi Antonelli, pembalap Mercedes yang kini berusia 20 tahun.

Akhir pekan ini Antonelli berpeluang mengunci gelar juara dunia Formula 1 di GP Amerika Serikat, Austin, Texas. Selepas balapan di GP Singapura, ia memimpin klasemen dengan 340 poin, unggul 102 poin dari rekan setimnya, George Russell.

Untuk menyegel gelar juara dunia di Austin, Antonelli wajib menang, Russell finis di posisi ke-9 atau lebih buruk, dan Lewis Hamilton berada di posisi ke-5 atau lebih buruk.

Jika skenario itu terwujud, Antonelli bakal memecahkan rekor Sebastian Vettel sebagai juara dunia F1 termuda. Vettel meraih gelar pertamanya pada usia 23 tahun 134 hari pada 2010.

Adapun bakat dari Antonelli memang sudah menarik perhatian keluarganya sejak ia kecil. Sang ayah, Marco Antonelli, merupakan eks pembalap mobil sport GT sekaligus pemilik tim balap.

Grand Prix Formula 1 Kanada 2026

Pembalap Inggris dari McLaren, Lando Norris, memimpin rombongan saat balapan dimulai untuk Grand Prix Formula 1 Kanada 2026 di Sirkuit Gilles-Villeneuve di Montreal, Kanada, pada 24 Mei 2026. (Foto oleh Geoff Robins / AFP)

Kepada BBC Sport, Marco bercerita bahwa ia mulai melihat ada yang istimewa pada diri putranya ketika Kimi berusia 10 tahun. Saat itu Kimi memegang setir Lamborghini di Sirkuit Adria, Italia, sementara sang ayah mengendalikan rem dan perpindahan gigi.

"Saya memacu mobil seolah sendirian, lalu sampai di titik pengereman di ujung lintasan lurus, 320 km/jam, saya mengerem sangat keras hingga batas maksimal," ujar Marco.

"Mobil itu mengalami oversteer cukup parah. Kimi mengendalikan oversteer dengan sempurna, lalu saya menginjak pedal gas, Kimi menyelesaikan oversteer, mengganti gigi, dan melaju," imbuhnya.

Namun, kemampuan dan prestasi seperti yang dimiliki Kimi saat ini, apakah sepenuhnya berasal dari gen yang diwariskan orang tua?

Gen dan Lingkungan yang Mendukung

Gen memang berperan membentuk kemampuan fisik seseorang. Bicakci dan kolega dalam riset yang terbit di International Journal of Molecular Sciences (2024) menyebut faktor genetik memengaruhi sekitar 44-68 persen variasi VO2max antarindividu.

VO2max merupakan ukuran kemampuan tubuh dalam memakai oksigen saat berolahraga dengan intensitas maksimal, sekaligus salah satu indikator kebugaran kardiorespirasi.

Pengaruh gen, selain soal kapasitas penggunaan oksigen, juga memengaruhi komposisi serat otot dan kemampuan jantung memompa darah. Masing-masing menentukan bagaimana tubuh menghasilkan tenaga dan mempertahankan performa saat dipakai untuk berolahraga.

Sifat-sifat itu bisa diwariskan, sehingga anggota keluarga yang sama cenderung memiliki kemiripan dalam karakteristik fisik. Di sinilah lingkungan keluarga ikut berperan. Dalam konteks Kimi, ia tumbuh di keluarga yang menjalankan tim balap sendiri. Konsekuensinya ia juga punya kans mengenal mobil balap, mekanik, dan rutinitas lintasan sejak usia dini.

Mercedes kemudian merekrutnya ke program pembalap junior pada 2019 sebelum menunjuknya jadi suksesor Hamilton untuk musim 2025.

Orang tua yang berpengalaman di dunia olahraga umumnya lebih mengenal kebutuhan latihan, cara mengembangkan skill, dan jalur menuju kompetisi profesional. Pengetahuan itu membantu anak untuk menghindari kesalahan dalam proses pembinaan.

Namun, akses dan pengalaman keluarga tetap perlu diikuti perkembangan kemampuan anak itu sendiri.

Latihan Perdana Atletik di Stadion Madya

Sejumlah atlet pelatnas atletik berlatih di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (13/3/18). ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Latihan dan Kerja Keras Tetap Jadi Kunci

Modal genetik baru memberi gambaran tentang kemampuan yang berpotensi dikembangkan. Untuk mencapai level performa tinggi, seseorang tetap perlu berlatih dan menyesuaikan diri dengan tuntutan cabang olahraga yang ditekuninya.

Pandangan serupa disampaikan Joe Baker, Profesor Ilmu Olahraga Terapan di Queens University, dalam ulasan yang ditulis Phil Loomis di situs International Youth Conditioning Association(IYCA).

Baker menilai gen tidak menentukan hasil akhir perkembangan atlet secara mutlak. Interaksi antara faktor keturunan dan lingkungan latihan begitu kompleks, sehingga potensi seseorang baru bisa dinilai setelah ia memperoleh kesempatan untuk menjalani latihan secara optimal.

"Meski gen itu penting," kata Baker, "[Anda bisa] melupakannya, karena Anda tidak memiliki kendali atas itu." Kualitas latihan dan ketepatan teknik menentukan perkembangan skill.

"Jika seorang atlet berlatih 10.000 shoot bola basket per minggu selama lima tahun dengan teknik yang buruk, kemungkinan besar ia akan menjadi penembak yang buruk dan tidak konsisten," tulis Loomis.

Maka, kualitas latihan dan ketepatan teknik tidak bisa dikecualikan, dan bahwa bekal gen dan modal konsisten latihan saja, tidak cukup.

Perjalanan Antonelli sudah melewati proses itu. Ia hidup di keluarga pembalap, mendulang gelar di berbagai kejuaraan karting junior, lalu mendominasi sejumlah kelas formula junior sebelum mencapai F1. Musim ini, ia sudah 14 kali naik podium dan memenangi GP Italia setelah memulai balapan dari posisi ke-19.

Maka, selain faktor genetik, masih ada pengalaman tanding, kemampuan beradaptasi, latihan, serta kualitas mobil yang turut memengaruhi hasil balapan. Mercedes sendiri disebut memiliki mobil terbaik di grid, sehingga performa Antonelli juga berlangsung dalam konteks dukungan teknis timnya.

Alhasil, potensi fisik dan kemampuan awal hasil warisan genetik memang perlu dikembangkan melalui proses yang sesuai. Bahkan ketika seorang atlet memiliki bakat menonjol, hasil akhirnya tetap dipengaruhi oleh kualitas pembinaan dan kesempatan untuk berkompetisi.

 Coaching Clinic Basket

Ratusan siswa sekolah perwakilan dari sejumlah sekolah negeri di Jakarta mengikuti coaching clinic dari pelatih Jr.NBA di lapangan basket GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, Kamis (17/10/2019). tirto.id/Andrey Gromico

Faktor yang Membuat Anak Seorang Atlet Gagal Menjadi Profesional

Latar belakang keluarga atlet tidak menjamin seorang anak akan mengikuti jejak orang tuanya. Selain menghadapi tuntutan latihan, anak juga perlu menemukan motivasi yang membuatnya bertahan dalam proses pengembangan keterampilan.

Loomis mengingatkan bahwa dominasi dorongan eksternal, seperti kemenangan, beasiswa, dan trofi, bisa mengikis kesenangan anak dalam berolahraga.

Jika aktivitas olahraga terus-menerus dikaitkan dengan hasil dan penghargaan, anak berisiko mengalami kelelahan emosional. Tekanan semacam ini menjadi persoalan tersendiri bagi anak atlet terkenal yang harus menghadapi ekspektasi keluarga sekaligus sorotan publik.

Adapun dari sisi kesempatan untuk berkembang, Loomis menyoroti pengaruh lokasi tempat tinggal, biaya pembinaan, dan akses terhadap fasilitas olahraga.

Dalam contoh yang ia paparkan, kota-kota berpenduduk 50.000-100.000 jiwa hanya menampung sekitar 1 persen penduduk Amerika Serikat (AS), tetapi menghasilkan 16,8 persen pemain Liga Baseball AS, Major League Baseball (MLB).

Data tersebut menunjukkan bahwa lingkungan tempat seseorang tumbuh juga memengaruhi kansnya masuk ke olahraga profesional.

"Dari perspektif budaya, jika seorang atlet ingin menjadi pemain American Football, Amerika Serikat adalah tempat yang tepat. Sepak bola di Eropa dan hoki di Kanada juga contoh bagaimana budaya memengaruhinya," tulis Loomis.

Anak berbakat yang tidak memiliki akses terhadap pelatih, fasilitas, atau kompetisi berkualitas, berpotensi kesulitan mengembangkan kemampuannya. Sebaliknya, anak yang memperoleh dukungan sejak dini punya kans lebih besar untuk menjalani pembinaan berkelanjutan.

Antonelli sendiri masih harus menyelesaikan musimnya sebelum kepastian gelar juara dunia diketahui. Jika gagal menyegel gelar di Austin, ia masih punya kesempatan berikutnya di Meksiko, Brasil, Las Vegas, Qatar hingga GP terakhir di Abu Dhabi.

Baca juga artikel terkait FORMULA 1 atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Permadi Suntama