Menuju konten utama

Kala "DNA Eropa" Manchester United Tak Berdaya Melawan Como

Ketika "DNA Eropa” Manchester United tak berdaya melawan Como. Iblis Merah disikat 4-1 oleh sang debutan UCL dalam laga yang sepenuhnya milik tuan rumah.

Kala
Youri Tielemans dari Manchester United menggiring bola melewati lawan bersama rekan setimnya Mason Mount melawan Anastasios Douvikas dari Como selama pertandingan Matchday 3 Liga Champions UEFA antara Como dan Manchester United di Stadio Giuseppe Sinigaglia pada 21 Oktober 2026 di Como, Italia. Reuters/ Alessio De Marco/Avens-images.com
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Como yang berstatus klub debutan di Liga Champions 2026/27, menenggelamkan Manchester United 4-1 dalam matchday 3 league phase UCL pada Kamis (22/10/2026) dini hari. Bukan cuma mencetak 4 gol ke gawang sang juara Liga Champions 3 kali sepanjang sejarah, I Lariani juga unggul dalam semua aspek pertandingan.

Laga Como versus Manchester United ibarat partai kurcaci lawan raksasa jika bicara sejarah. Ketika Iblis Merah meraih gelar juara Liga Champions ketiga kalinya pada 2008, I Lariani saat itu menjadi kampiun pula, tetapi juara Serie D, kompetisi level lima di Liga Italia.

Como bahkan sempat mengalami masa kelam akibat masalah finansial pada musim 2016/17 hingga dinyatakan bangkrut dan dilelang. Mereka harus memulai segalanya dari nol di Serie D musim berikutnya. Pada musim yang sama, Manchester United tercatat jadi runner-up di 3 kompetisi, yaitu Piala Super UEFA, Liga Inggris, dan Piala FA.

Namun, hanya dalam rentang 9 musim kemudian, Como yang bangkit berkat investasi Djarum Group, mampu menghancurkan Manchester United 4-1.Perbedaan nilai pasar I Lariani yang hanya Rp9,875 triliun versi Transfermarkt dengan Iblis Merah yang hampir dua kali lipatnya (Rp16,4 triliun) tidak terlihat.

Como tampak menari di atas derita Manchester United, yang terus saja merasakan krisis berkelanjutan. Dengan disikat oleh I Lariani, kubu Old Trafford tercatat sudah 7 laga beruntun tak pernah menang di semua kompetisi: seri 3 kali, dan kalah 4 kali.

Dominasi Total Debutan Como atas MU Sang Juara UCL 3 Kali

Dalam partai Como kontra Manchester United di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Como, Italia pada Kamis (22/10) dini hari, tuan rumah mencetak 4 gol lebih dahulu. Nico Paz sukses menjebol gawang Senne Lammens sebelum menit ke-2. Setelah itu, I Lariani mendominasi laga dengan mencatatkan 5 tembakan (3 shot on target) di babak pertama.

Memasuki babak kedua, Como menambah keunggulan lewat gol Anastasios Douvikas pada menit ke-49. Nico Paz mengemas gol keduanya pada menit ke-57, lalu Jacobo Ramon memperlebar keunggulan tuan rumah pada menit ke-76. Sementara itu, Man United hanya mampu mencetak satu gol hiburan lewat aksi Joshua Zirkzee pada injury time.

Perbedaan kualitas permainan Como dan United bukan saja terlihat dari skor akhir yang 4-1, tetapi juga terekam dari angka-angka statistik. Dipandu oleh Cesc Fabregas sebagai pelatih, I Lariani yang memang terkenal dengan permainan menyerangnya, punya penguasaan bola hingga 55 persen, berbanding 45 persen milik tim tamu.

Sebagai perbandingan, Como adalah tim dengan ball possessions terbanyak kedua di Liga Italia dengan rata-rata 60,9 persen per laga, hanya di bawah Inter (62,8 persen). Sementara itu, Manchester United cuma peringkat 7 soal penguasaan bola di EPL dengan 55,7 persen.

Soal jumlah shot, United memang unggul dengan 13 tembakan, sedangkan tuan rumah hanya 11. Namun, Como melepaskan 8 shot on target, dua kali lipat milik United yang hanya 4. Di samping itu, sampai gol kedua Como yang tercipta pada menit 49, Iblis Merah tidak bisa mengirim satu pun tembakan tepat sasaran.

Timnas Como

Timnas Como. instagram/comofootball

Dari segi rapor, perbedaan semakin mencolok. WhoScored memberikan rating 7,03 untuk Como, dengan rapor tertinggi jadi milik Nico Paz (nilai 10) berkat 2 gol dan 1 assist. Sementara itu, Manchester United hanya punya rata-rata 6,19. Di antara starting XI pilihan Michael Carrick, ada 4 pemain dengan rapor 5, termasuk kapten Bruno Fernandes (5,9).

Kemenangan atas Manchester United menjadi capaian bersejarah tersendiri bagi Como. Ini adalah tripoin kedua mereka di UCL 2026/27. I Lariani menjaga asa untuk lolos ke fase gugur.

Di samping itu, Como tercata sebagai tim debutan asal Italia pertama sejak Lazio musim 1999/2000, yang menyapu bersih 2 kemenangan kandang secara beruntun di Liga Champions. Sebelumnya, I Lariani mampu menaklukkan RB Leipzig dengan skor 4-1 pada matchday pertama.

Sementara Como menunjukkan kelas mereka, Manchester United justru sedang menderita. Luka di Giuseppe Sinigaglia, menambah panjang masalah Iblis Merah yang tak pernah menang dalam 7 partai terakhir di semua kompetisi.

Krisis MU Berlanjut, Apakah Michael Carrick Segera Out?

Kekalahan dari Como di ajang Liga Champions 2026/2027 menjadi pukulan telak bagi Manchester United. Padahal, dari segi sejarah, Iblis Merah unggul jauh dari klub debutan Italia itu.

Kubu Old Trafford tercatat jadi juara Liga Champions (sebelumnya bernama European Cup) 3 kali, yaitu pada 1968, 1999, dan 2008. Di samping trofi itu, United menang di Piala Winners 1991, Piala Super UEFA 1991, Europa League 2017, bahkan juga Piala Interkontinental 1999 dan Piala Dunia antarKlub 2008.

Namun, semua sejarah itu, termasuk pengalaman berlaga 31 musim di Liga Champions, tak terlihat di tepi Danau Como. United kalah kelas dari I Lariani, dan permainan mereka menunjukkan itu.

Ini bukanlah kebetulan. Dalam 11 partai di semua kompetisi musim ini, Manchester United hanya menang 2 kali, sisanya 4 kali seri dan 5 kali kalah. Kemenangan terakhir United terjadi saat menghadapi Sabah di UCL dengan skor 4-0 pada 10 September 2026. Setelah itu, 7 partai berlalu, isinya hanya 3 seri dan 4 kekalahan dalam rentang 1,5 bulan.

Padahal, United sudah ditangani Michael Carrick, sosok yang dianggap sebagai penyelamat mereka musim lalu. Namun, kubu Old Trafford tampak tidak bergigi. Dalam kondisi seperti itu, kapten Bruno Fernandes tampak hilang kendali.

Stadion Old Trafford

Pemandangan umum selama pertandingan The Hundred Men di Old Trafford, Karl Vallantine/reuters

Usai kekalahan dari Como, dan mendapatkan sorotan soal kurang padunya permainan United saat kehilangan bola, Fernandes justru menyalahkan jajaran pelatih.

"Ini adalah keputusan dari staf pelatih untuk tidak menerapkan press man-to-man (satu lawan satu) dan terkadang menyisakan sedikit ruang di belakang, kami tidak coba merebut bola pada momen pertama, menunggu lawan dan membiarkan mereka memegang bola," ujar sang kapten dikutip Sky Sports.

Michael Carrick tidak sependapat dengan Bruno Fernandes. Ia menyebut, penerapan taktik saja tidak cukup jika pemain tidak bekerja keras di lapangan. Carrick juga menambahkan para pemain harus aktif bergerak, baik saat menyerang maupun ketika membantu pertahanan.

"Kami sebenarnya melakukan pressing satu lawan satu secara parsial pada babak kedua, tetapi kemudian kebobolan dari situasi itu. Dengan sistem atau taktik apa pun, jika kalian tidak berlari, tidak bergerak maju, dan tidak berlari kembali, kalian tidak akan bisa menang," kata Michael Carrick dikutip dari laman ESPN.

Perbedaan pendapat antara kapten dan pelatih ini datang ketika Manchester United sedang dalam krisis. Tidak pernah menang dalam 7 pertandingan terakhir membuat Michael Carrick sedang dalam tekanan besar. Masa depan sang juru taktik di MU kini mulai dipertanyakan.

Michael Carrick sendiri menandatangani kontrak berdurasi dua tahun pada Mei 2026 lalu setelah membawa MU finis di posisi ketiga Premier League 2025/2026. Tapi, friksi dengan Bruno Fernandes, dan hasil yang terus negatif, tak akan bisa menjamin masa depan.

Saat ditanya soal kemungkinan pemecatan dirinya, Carrick mengaku belum memikirkan masa depannya. Dia lebih memilih menyoroti kekecewaan para pendukung setelah MU tampil buruk melawan Como.

"Saya belum memikirkan posisi saya sendiri. Saya sangat marah. Kami bisa menang atau kalah, tetapi cara kami bermain malam ini tidak bisa diterima. Saya ingin para suporter tahu bahwa saya memahami perasaan mereka," pungkas sang juru taktik.

Kalimat bernada getir Michael Carrick itu sekilas menyiratkan gejolak yang melanda Manchester United. Jika situasi tak kunjung membaik, kekalahan pahit di tepi Danau Como ini bisa menjadi awal dari akhir riwayat kepelatihannya di Old Trafford, menyusul jejak kelam para pendahulu seperti Louis van Gaal, Jose Mourinho, Erik ten Hag, hingga Ruben Amorim.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPION atau tulisan lainnya dari Ahmad Zidan Nahari

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Ahmad Zidan Nahari
Penulis: Ahmad Zidan Nahari
Editor: Fitra Firdaus